
Arsenio menepikan mobilnya di depan penjual sarapan pagi.
"Mau makan di sini atau di bungkus ?" tanya Arsenio.
"Bungkus, aku makannya di mobil aja" jawab Sirin. Arsenio mengangguk dan langsung membuka pintu di sampingnya.
Arsenio berjalan ke arah stand penjual pecal di pinggir jalan itu, kemudian memesan satu bungkus mie kuah pecal, sesuai keinginan Sirin. Setelah mendapatkan pesanannya, Arsenio kembali ke dalam mobil. Memberikan kantok plastik yang berisi mie kuah pecal kepada Sirin.
"Belinya satu aja ?, untukmu mana ?" tanya Sirin.
"Nanti aku bisa sarapan di kantin, makanlah !" ujar Arsenio, satu tangannya mengusap kepala Sirin. Dan kemudian melajukan kenderaannya kembali.
Sirin menipiskan sedikit bibirnya, kemudian mengeluarkan kotak makanan dari dalam plastik. Setelah membukanya, Sirin langsung menyendok mie ke mulutnya.
Sambil mengunyah mie di dalam mulutnya, Sirin menyendok mie nya lagi. Kemudian mengarahkannya ke mulut Arsenio yang lagi sibuk menyetir.
"Aku tau kamu membelinya satu untuk menghemat uang" ucap Sirin.
Arsenio langsung saja melahap makanan yang sudah menempel di bibirnya. Setelah mengunyah dan menelannya, Arsenio pun berbicara." Makanlah yang banyak, gak usah terlalu memikirkan aku, yang penting bagiku kamu dan bayi kita kenyang dan sehat."
"Hei ! kalau kamu tidak ikut makan, bagaimana bisa kamu mencari uang yang banyak untuk kami ?" balas Sirin tersenyum, ia sangat senang dan bangga, karna Arsenio lebih mengutamakannya dan anak mereka. Sirin tidak menyangka sekelas cowok preman yang suka brantem dan ngelayapan seperti Arsnio, bisa bicara semanis itu.
"Kalau aku lapar, nanti aku pasti makan. Lagian aku tidak terlalu suka makan mie" jawab Arsenio, sibuk dengan jalan di depannya.
"Tapi ini permintaan anakmu, dia ingin Papanya ikut makan bersama."
"Baiklah kalau kalian memaksa, aku akan ikut makan bersama kalian" Arsenio tersenyum, sambil mengulurkan tangannya mengusap perut Sirin.
Sirin mengembangkan senyumnya, kemudian menyuapkan mie lagi ke mulut Arsenio.
.
.
"Selamat pagi Ma ! Pa !" sapa Queen, setelah berada di ruang makan.
"Selamat pagi sayang ! Orion mana ?" balas Mama Bunga.
"Sebentar lagi datang Ma !" jawab Queen, sambil menyendokkan nasi goreng ke piring kosong untuk Orion." Arsen sama Sirin belum keluar kamar Ma ?." tanya Queen, melihat keluarga Alfarizqi itu belum lengkap pormasinya.
"Tadi malam bang Arsen sama kak Sirin 'kan pergi dari rumah !" celetuk Bilal.
"Kemana ?" tanya Queen.
"Papa memberi mereka hukuman !" jawab Papa Arya.
"Selamat pagi Ma ! Pa !" sapa Orion yang baru datang.
"Selamat pagi juga sayang !" balas Mama Bunga, Papa Arya hanya diam saja.
Orion pun mendudukkan tubuhnya di samping Queen, dan langsung memakan nasi goreng di depannya.
"Arsen sama Sirin mana ?" tanya Orion, tidak melihat pasangan pengantin baru itu di meja makan.
"Di usir Papa !" kini Elang yang menjawab.
"Diusir ?" ulang Orion mengerutkan keningnya ke arah Papa Arya.
"Lebih tepatnya menghukum mereka !" jelas Papa Arya.
"Dengan keadaan mereka yang sama sama kurang baik Pa ?" tanya Orion.
Orion tidak akan heran lagi, dengan Papanya yang suka memberi hukuman bagi siapa yang melanggar peraturan atau melakukan kesalahan. Tapi Orion tidak menyangka, Papanya itu tega mengusir Arsenio dan Sirin yang sama sama masih sakit.
"Papa tidak mengusir mereka, Papa menyuruh mereka untuk tinggal di rumah uyut kalian yang ada di daerah XX. Arsenio saja yang salah tanggap. Dan Papa juga tidak melepas mereka tanpa memberikan uanga. Hanya Arsenio saja yang tidak menerimanya. Dan Papa juga sudah menyuruh orang membereskan rumah itu, dan mengisi perabotnya." jelas Papa Arya, membela diri.
"Seharusnya Papa memberi mereka sedikit waktu" balas Orion.
Papa Arya menghela napasnya, seharusnya seperti itu. Tapi ia sudah sangat malu dengan para tetangga, menikahkan anaknya yang masih sekolah. Tidak perlu di jelaskan, para tetangga sudah pasti bisa menebak apa yang terjadi dengan pernikahan mendadak Arseni dan Sirin.
Biarlah dia dikatakan orang tua egois dan tak berperasaan. Arya juga melakukan itu, untuk mengingatkan anak anaknya yang lain, supaya berpikir sebelum bertindak. Karna menikah itu tidak seindah yang di bayangkan orang yang lagi jatuh cinta. Sangat sulit, apa lagi tidak memiliki persiapan yang matang.
Ruang makan itu menjadi hening, tidak ada yang bersuara lagi, kecuali sendok dan garpu yang berdeting. Semua sibuk menikmati makanan dari piring masing masing, dengan pikiran masing masing.
.
.
"Sirin !!!" Seru Queen saat turun dari dalam mobil, dan langsung menghampiri Sirin yang juga baru keluar dari mobil Arsenio.
Queen pun memeluk Sirin sambil menangis." Kalian tinggal dimana sekarang ?" tanya Queen.
"Kenapa kamu menangis ? aku baik baik saja" tanya balik Sirin, menahan dirinya supaya tidak menangis, meski matanya sudah nampak berkaca kaca.
"Kalian tinggallah di rumah kami !" tawar Queen.
"Gak Queen !, kami harus berlajar hidup mandiri" tolak Sirin. Ia tau Arsenio tidak akan mau jika harus tingal di rumah abangnya.
"Kalian tinggal dimana ?" tanya Queen lagi, karna Sirin belum manjawabnya.
"Di rumah kontrakan" jawab Sirin.
Orion yang baru turun dari dalam mobil pun mendekati Arsenio adik ke tiganya, dan memukul pelan bahunya." Jangan di masukkan ke hati apa yang di lakukan Papa" ucapnya.
"Aku pantas menerimanya " balas Arsenio dengan wajah tanpa ekspresi.
Orion menghela napasnya, melihat Arsenio tampak kesal dan marah kepada Papa mereka.
"Bekerjalah di soorum milik Reyhan, atau di tempat penjualan motor milik Elang" tawar Orion lagi. Mengingat Arsenio yang tak mungkin bekerja dengan menggunakan tenaga. bekerja sebagia marketing cocok untuk Arsenio.
"Aku tidak butuh bantuan kalian, jangan mengasihaniku. Lebih baik aku hidup miskin daripada hidup enak dari belaskasihan orang" balas Arsenio.
"Kami bukan orang lain, kami abangmu, saudaramu. Aku tau kamu kecewa dan marah dengan Papa. Tapi pikirkanlah Sirin dan anakmu, mereka butuh biaya hidup" ucap Orion lagi.
"Aku tau itu, jangan kawatir, aku bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Lagian kenapa kamu begitu peduli ?, Papa saja tidak peduli denganku."
Orion menghela napasnya lagi, adiknya yang satu itu, sangat keras kepala, dan memiliki gengsi yang tinggi.
"Terserah kamu saja !, jika butuh bantuan, jangan sungkan meminta bantuan abang. Kamu adikku, selamanya akan seperti itu." setelah menepuk pundak Arsenio, ia pun segera meninggalkannya.
Arsenio hanya diam menatap kepergian Orion.Aku akan buktikan sama papa, kalau aku mampu menghidupi rumah tanggaku tanpa bantuan kalian. Batin Arsenio
Arsenio melangkahkan kakinya ke arah kelasnya, karna Sirin sudah pergi di bawa Queen masuk ke kelas mereka.
Sirin tersenyum getir, apa yang bisa ia katakan, mereka pergi meninggalkan rumah mertua mereka, dengan tidak baik.
"Setelah tadi pagi aku tau, aku sangat kawatir sama kamu" ucap Queen lagi.
"Aku gak apa apa Queen !" balas Sirin.
"Nanti pulang sekolah, aku mau ikut ke rumah kontrakan kalian. Aku harus tau dimana kalian tinggal" ucap Queen lagi.
"Aku harus menayakan Arsen dulu"
"Kenapa harus menanyakan Arsen dulu ?, apa dia melarang orang bertamu ke rumah kalian ?" heran Queen.
"Aku belum tau ! nanti pulang sekolah, apakah kami mau pergi keluar atau tidak" jawab Sirin, Queen langsung mengerucutkan bibirnya. Sepertinya sahabatnya itu enggan menerima kedatangannya ke rumah mereka.
"Hai Sirin ! hai Queen !" sapa Kania dan Diana yang baru datang.
"Hai juga !" balas Queen, Sirin ia hanya diam dan menyunggingkan senyumnya.
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, pertanda belajar mengajar akan segera di mulai.
Dua jam berlalu, satu mata pelajaran sudah selesai, dan kini waktunya istirahat. Semua murid murid berhamburan keluar dari kelas menuju kantin.
"Sayang !"
"Arsen !" Wajah Sirin berbinar senang, untuk pertama kalinya Arsen menemuinya ke kelas mereka.
"Kalian gak ke kantin ?" tanya Arsen, karna empat serangkai itu berdiam diri di kelas saat istirahat, itu tidak biasanya.
"Sirin gak mau ke kantin !, katanya takut mual cium aroma makanan di kantin" jawab Kania.
Arsenio yang sudah berdiri di samping Sirin, mengusap kepalanya."Kalian pergi aja, biar aku yang menemani Sirin di sini" ucap Arsenio.
Arsenio sudah menduga itu, makanya ia sengaja datang untuk menemani Sirin.
"Kalau begitu kami pergi dulu, dede bayiku juga sudah lapar" ucap Queen sambil mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol. Untung Orion membeli baju yang agak besar kemarin, sehingga tertutupi dan tidak nampak kalau dia lagi hamil. Queen pun berdiri dari kursinya berjalan ke arah pintu, di ikuti Diana dan Kania.
"Kalian pergilah ! jangan sampai keponakanku itu kekurangan asupan giji" balas Arsenio tersenyum, mendudukkan tubuhnya di bangku yang di duduki Queen tadi.
"Hm..! nanti kami mau ikut pulang ke rumah kalian !" ucap Queen, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
Setelah mereka berdua ada di kelas itu, Arsenio menarik tubuh Sirin supaya bersandar di dadanya.
"Apa kabar anak Papa ?, apa dia nakal saat mamanya belajar ?" tanya Arsenio, mengusap usap perut Sirin lembut.
"Sedikit Papa !, tadi dia nakal saat mencium aroma varfium yang menyengat. Untung aku ada minyak kayu putih, jadi aku gak jadi muntah" jawab Sirin manja.
Arsenio mengusap kepala Sirin lalu mengecupnya." kamu sangat nikmat tadi malam sayang !" bisiknya ke telinga Sirin sembari tersenyum.
Blush !
Seketika wajah Sirin langsung merona salah tingkah. Kenapa Arsen menjadi berobah manis dan suka menggoda semenjak mereka di nikahkan. Selama ini kelihatan cuek cuek bebek, dan gak ada romantis romantisnya.
Cup !
"Arsen ! nanti ada yang lihat !" tegur Sirin, karna Arsenio mencium pipinya.
"Kita sudah kenal sejak bayi, masih saja kamu malu malu" ucap Arsenio. Sirin diam saja, ia juga tidak tau, kenapa ia harus malu.
.
.
"Wah ! Queen ! makanmu banyak sekali, dan badanmu terlihat gemukan" ujar Nala saingan berat Queen di sekolah. Saingan berat memperebutkan miss beautyfull SMA HARAPAN tentunya.
Queen menghentikan kunyahan makanan di mulutnya, mengarahkan tatapannya ke arah Nala yang berdiri di sampingnya.
"Apa kamu gak takut posisimu akan bergeser ?" tanya Nala lagi tersenyum mengejek.
"Dua hari lagi kita akan ujian, kita ujian tidak sampai seminggu, setelah itu kita sudah out dari sekolah ini. Itu artinya aku bisa mencari gelar di tempat baru" balas Queen, kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kau terlalu percaya diri !" cibir Nala
"Harus dong !" balas Queen, sombong !.
"Tapi sayang ! dapat cowok yang pincang" cela Nala.
Berhasil membuat Queen menatap tajam ke arahnya." Lebih baik cacat fisik daripada cacat hati sepertimu. Iri bilang kawan !" balas Queen, berusaha menahan emosi, jangan sampai ia menarik rambut Nala sampai lepas dari kulitnya.
"Oh ! aku tidak iri, aku hanya kasiahan padamu, yang cantiknya kebangatan tapi dapat cowok yang kakinya pincang"uvap Nala lagi, menarik sebelah sudut bibirnya ke samping.
"Udah Queen ! gak usah di ladeni. begitu kalau orang yang serba nanggung, irinya banyam karna tak mampu bersaing dengan orang orang yang lebih hebat darinya" ucap Diana, untuk meredakan emosi Queen yang bergejolak di dadanya.
"Iya Queen, yuk lanjut makan lagi, anggap saja dia itu setan" sambung Kania.
"He um !" Diana menganggukkan kepalanya, setuju.
"Hm..!" balas Queen, melanjutkan makannya, mencueki Nala yang mengeram kesal di sampingnya.
.
.
Di ruangan Papa Arya, Orion terlihat berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam di tangannya. Wajahnya nampak berbinar senang.
"Daddy ! kapan datang menjemputku?" tanya seorang anak laki laki dari sebrang telepon, dengan menggunakan bahasa inggris.( karna othornya gak bisa berbahasa inggris, anggap saja mereka berbicara bahasa inggris ya !).
"Daddy harus menundanya Boy !, tunggu momy Queen selesai ujian. Momy Queen ingin ikut menjemputmu" jawab Orion.
"Serius Dad ?" girang anak bocah tiga Tahun itu.
"He um !" balas Orion, tersenyum.
"Hore...! boy akan bertemu dengan momy...!" seru Boy dari dalam telephon.
Semoga Momy Queenmu bisa menerimamu Boy, Batin Orion.
.
.