Brother, I Love You

Brother, I Love You
142. Kagum



"Reyhan ! ini pasir, semen sama batako untuk apa ?" tanya sang ratu sejagat. Melihat truk berhenti di halaman rumah mereka, menurunkan bahan bahan bangunan.


"Buat bangun rumah kucing Ma !" jawab Reyhan lemah, berdiri di samping mama Bunga.


"Rumah kucing ?" ulang Mama Bunga, semenjak kapan anaknya itu suka kucing.


"Yumna mau membawa kucing kucingnya pindah kesini Ma..!" ucap Reyhan. Menyandarkan kepalanya ke lengan ratu sejagat dengan wajah sedih. Karna Reyhan sangat tidak suka kucing, tapi ia harus rela demi kesenangan calon bidadari menyebalkannya.


"Emang kucingnya berapa banyak ?, sampai harus di bangun rumah khusus" tanya ratu sejagat lagi.


"Lima ekor, dua jantan, tiga betina yang lagi bunting. Mama bisa bayangin, jika ketiga betina itu melahirkan, berapa banyak nanti jumlah anak anaknya. Apa lagi kucing bisa melahirkan dua atau tiga kali dalam setahun" jawab Reyhan.


"Yumna juga meminta Reyhan mencari pengasuh khusus kucingnya. Cari dimana coba Ma ?" manja Reyhan, kini sudah memeluk sang ratu, mengecup ngecup pipi wanita yang paling ia sayangi itu dari samping.


"Nanti biar mama yang akan carikan sayang !" Ratu sejagat pun mengusap kepala anak manjanya itu dengan sayang.


"Gimana ? apa kamu sudah hapal hapalannya ?" tanya Mama Bunga.


"Sudah Ma ! tinggal memperindah murotalnya" jawab Reyhan.


"Yumna itu wanita yang religius, nanti sebagai suami, kamu harus bisa mengimbanginya. Kamu sebagai laki laki harus menjadi peminpin baginya. Dan kurangin manjanya sama Mama, jangan sampai dia cemburu merasa kalau mama adalah wanita saingannya. Apa lagi dia adalah perempuan satu satunya di keluarganya. Mungkin dia sudah biasa mendapat perhatian lebih dari orang tua dan saudara saudaranya. Kamu membawanya kesini, berarti kamu siap dan harus bisa menggantikan apa yang dia tinggalkan di keluarganya. Kamu harus bisa menggantikan sosok ibunya, Papanya, abang abang dan adik adiknya. Sosok teman dan sahabatnya. Supaya dia tidak merasa kesepian nantinya" Nasehat ratu sejagat kepada Reyhan yang sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain.


"Iya Ma !" patuh Reyhan.


Mama Bunga mengulas senyumnya, mengusap kepala Reyhan yang kini berada di atas pangkuannya, duduk di sofa ruang tamu.


"Papamu juga dulu melakukan itu kepada Mama. Papamu adalah sosok yang bertanggaung jawab, sangat sayang dan perhatian kepada Mama" ucap Mama Bunga lagi. Senyumnya semakin merekah, mengingat selama ini bagaimana guru galaknya itu memperlakukannya.


"Tuntun Reyhan ya Ma ! tegur Reyhan nanti jika Reyhan berbuat salah kepada istri Reyhan. Jujur hati Reyhan gentar untuk memulai hidup baru Reyhan. Mengambil keputusan menikahi gadis yang baru Reyhan kenal" ucap Reyhan, tangannya mengusap usap perut buncit ratu sejagat.


Merasakan bayi yang bergerak gerak di dalam perut mamanya. Reyhan sudah tak heran lagi, karna sudah terbiasa melihat ibunya hamil, dan sering mengelus perutnya.


"Itu pasti sayang !" balas Mama bunga.


.


.


"Ma ! apa kabar !" tanya Sirin kepada Ibunya Shasa. Pulang dari rumah orang tuanya, Sirin melanjutkan perjalanannya ke kantor polisi tempat ibunya di tahan. Setelah menyalam dan memeluk Ibunya, Sirin pun meletakkan kota makan yang di belinya khusus untuk Ibunya. Ini pertama kalinya Sirin mengunjungi Ibunya ke lapas.


Shasa mengulas senyumnya, sambil tangannya terulur mengusap perut Sirin. Dan menuntun Sirin untuk duduk di kursi ruang khusus menerima tamu itu.


"Mamabaik baik saja !" jawabnya.


"Ini Sirin bawa makanan untuk mama, kita makan ya !. Sirin kangen di suapi sama Mama" ucap Sirin, mengeluarkan satu kotak makan dari dalam plastik, dan langsung membukanya.


Shasa mengusap kepala putrinya itu dengan sayang. Air matanya menetes, menyesali perbuatannya.


"Maafin Mama ya !" ucapnya.


Sirin mengulurkan tangannya menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita yang melahirkannya itu.


"Sirin kesini minta di suapin sama Mama. Ayo Ma ! nanti waktunya keburu habis" ujar Siri. Menelan air ludahnya beraudah payah, karna merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya.


"Apa Arsen belum mau memaafin Mama ?" tanya Shasa lagi. Mengambil sendok berbahan pelastik dari tangan, kemudian menyuapi Sirin makan.


"Sudah Ma !" bohong Sirin tersenyum." Arsen belum sempat untuk menjenguk Mama. Dia sangat sibuk Ma !. Karna Dia harus sekolah dan mengurus usaha kami" ucap Sirin lagi.


"Sampaikan permintaan maaf Mama sama mertuamu ya !. Mama sangat menyesal sayang, karna kebodohan mama, mama menjadi kehilangan semuanya."


Sirin menganggukkan kepalanya," nanti Sirin akan sampein Ma !. Sekarang Sirin dan Arsen lagi menginap di rumah Mama bunga."


Shasa kembali mengelus kepala Sirin sembari tersenyum.


"Ma !" panggil Sirin menajamkan pandangannya ke wajah Shasa yang duduk di sampingnya." Apa Mama berencana akan kembali sama Papa setelah keluar dari sini ?" tanya Sirin.


"Apa mungkin Papamu masih menerima Mama ?" tanya balik Shasa.


"Ma ! Sirin sangat menyayangi Mama. Tapi Sirin juga menyayangi Papa. Tapi Sirin mohon sama Mama, untuk tidak merusak kebahagiaan Papa Ma !. Biarkan Papa bahagia Ma !" mohon Sirin dengan pandangan meneduh.


Shasa membelai sisi wajah Sirin yang semakin berisi bawaan kehamilannya. Meski nampak gendut, tapi aura kecantikan putrinya itu semakin terpancar. Wajahnya lembut sangat banyak mirip dengannya.


"Mama sudah kehilangan Papamu. Sekarang Mama tidak ingin kehilangan putri mama ini lagi" ucap Shasa.


Sirin langsung mengembangkan semyumnya, kemudian memeluk Ibunya itu." Trimakasih Ma !" ucapnya." Sirin sangat menyayangi Mama, Sirin gak mau, mama melakukan kesalahan yang merugikan Mama lagi" ucap Sirin lagi.


"Iya sayang !, Mama janji akan berubah, yidak membuat anak anak mama kecewa lag" tangis Shasa, membalas pelukan Sirin, dan mengecup ujung kepala putrinya itu. Putri yang sudah sangat ia nanti dan rindukan kehadirannyan akhirnya datang menemuinya.


Sirin dan Shasa lansung melepas pelukan mereka dan menghapus air mata masing masing, setelah mendengar pemberitahuan waktu besuk sudah habis.


"Ma ! Sirin pergi dulu Ma !, besok Sirin kesini lagi mengantar makanan buat Mama. Jangan lupa Mama jaga kesehatan. Ini makanan buat mama, mana tau nanti lapar lagi" pamit Sirin. setelah berdiri dari kursinya.


"Trimakasih sayang !, sampaikan salam mama sama abangmu Ghissam. Mama sangat merindukannya" balas Shasa.


"Iya Ma !, kalau begitu Sirin pulang dulu Ma !" pamit Sirin sekali lagi, menyalam tangan wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu.


"Hati hati sayang !" balas Shasa, Sirin menganggukkan kepalanya, kemudian keluar dari ruangan itu. Sampai di gerbang kantor polosi, Di sana Arsen sudah menunggunya.


"Mama menitip salam untukmu, dia meminta maaf" ucap Sirin setelah berdiri tepat di depan Arsenio yang bersandar di body mobilnya.


"Aku belum siap untuk menemuinya" balas Arsenio, membukakan pintu untuk Sirin, dan membatunya untuk duduk.


Sirin menghela napasnya, karna Arsenio belum bisa memaafkan kesalahan Ibunya. Sirin tidak bisa memaksa, karna perbuatan ibunya memang sudah keterlaluan.


Setelah Arsenio masuk ke dalam mobil, ia pun melajukannya, untuk mengantar Sirin ke rumah orang tuanya. Setelah itu Arsenio akan pergi lagi untuk mengurus toko mereka.


Sampai di kediaman keluarga Alfarizqi, Arsenio memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk rumah orang tuanya itu. Sirin pun langsung turun setelah menyalam tangan Arsenio, tanpa bicara.


Arsenio menghela napasnya, melihat Sirin yang hanya diam dari tadi. Sirin mengharapkan ia berdamai dengan wanita yang sudah menjadi mertuanya itu. Tapi hati Arsen masih sakit, belum bisa memaafkan wanita yang hampir merenggut nyawanya itu. Entah sampai kapan luka itu akan sembuh, Arsenio pun tak tau.


.


.


"Di jalan gerbang masuk kampus ini, kiri kanannya di taman lima pohon palem. Kemudian di bawahnya ditanami bunga berwaran merah di sekeliling batangnya. Dan di bundaran depan gerbang masuk gedung kampus, ditanami bunga tulip berwaran merah di bagian tengahnya dan di pinggirnya di lingkari tulip berwarna putih. Pohon cemaranya tanam di bagian tanah yang berlereng. Bunga Oliananya, tanam berbaris di dekat pagar bagian samping kampus ini. Bunga lidah mertuanya taman di media yang sudah di sediakan di depan teras setiap ruangan, dan bla bla......!"


Sekarang Queen dan Orion sedang berada di bagian depan gedung kampus. Queen terus berbicara dari tadi, menjelaskan gambar akan seperti apa taman kampus itu di buat. Dan bunga apa saja yang akan di tanam dan di bagian mana.


Orion yang melihat keseriusan istrinya, tersenyum dan kagum. Orion tidak menyangka gadis kecil itu sangat gigih dalam bekerja. Pekerjaan yang di kerjakan istrinya itu bukannlah pekerjaan gampang, dan termasuk proyek besar di bidang pertamanan. Tapi Orion membiarkannya begitu saja, untuk istrinya berkreasi.


Setelah Queen selesai menjelaskan kepada pemborong taman itu. Tenaga ahli itu pun meninggalkan Queen dan Orion. Orion langsung mendekati Queen, dan langsung menghapus keringat yang membasahi kening dan wajah istrinya itu dengan sapu tangannya.


"Bekerjanya jangan terlalu di buru sayang !" ucap Orion, melihat wajah Queen nampak lelah. Kemudian Orion pun memberikan Queen minum dengan botol air minum di tangannya.


"Biar cepat selesai !" balas Queen, setelah meneguk air minum di tangannya.


"Ayo istirahat dulu, untuk hari ini pekerjaanmu sudah cukup." Orion menarik tangan Queen untuk masuk kembali ke dalam ruangannya.


Sampai di ruangan Khusus Orion, Orion mendudukkan Queen di sofa, membuka sendal jepit yang di pakai Queen dari kakinya. Kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Queen, menarik kaki Queen ke atas pangkuannya, lalu memijat mijatnya.


"Ternyata bekerja itu melelahkan ya bang Orion !" ucap Queen manyandarkan tubuhnya ke sudut sandaran sofa, sambil tangannya mengelus elus perut besarnya.


"Baru tau ?"


"Nggak !"


"Tapi bagus dong ! istri abang sekarang sudah bisa bekerja, cari duit sendiri. Duit abang gak terkuras lagi" ucap Orion tersenyum.


Queen mendengus lalu mengerucutkan bibirnya."Duit istri ya duit istri, duit suami hak istri" balas Queen.


Orion yang gemas pun mencomot bibir Queen yang mengerucut."Itu namanya tidak adil sayang !"ucap Orion.


"Seorang suami wajib menafkahi istri. Seorang istri tidak wajib menafkahi suami" jelas Queen, sok bijak.


"Seorang istri mencari duit, membutuhkan ridho suami. Seorang suami berhak menyuruh istrinya berhenti bekerja" balas Orion.


"Itu tidak adil !" ucap Queen.


Orion menjauhkan tubuhnya ke sudut sofa sebelahnya, kemudian menarik tubuh Queen, membaringkannya di pangkuannya. Kemudian mengusap usap kepala Queen dengan sayang.


"Tidak ada yang terasa adil antara hak dan kewajiban suami istri sayang, jika saling menuntut. Menikah itu ibadah, kita menjalaninya untuk agama kita. Dan jika kita tidak membumbui pernikahan kita dengan kasih sayang. Maka menjalani rumah tangga itu akan terasa berat. Karna hanya menjalankan kewajiban masing masing, yaitu hak dan kewajiban" jelas Orion.


"Seorang suami memang tidak berhak menuntut nafkah dari istri. Tapi tidak salah jika seorang istri membantu perekonomian keluarga, jika suaminya dalam keadaan susah" jelas Orion lagi.


"Queen hanya bercanda bang Orion !" ucap Queen.


"Abang tau sayang !, istri abang ini adalah istri yang baik hati"balas Orion, tangannya sudah berpindah mengelus elus paha Queen perlahan lahan naik ke atas.


"Udah deh tangannya bang Orion !." Queen mencebikkan bibirnya, melihat tingkah mesum suaminya itu.


.


.