
"Hai cewek !" sapa Bilal kepada murid tercantik di SD harapan itu.
"Hei gendut ! ngaca dong ! sebelum kamu itu mau mendekatiku !. Kamu itu jelek tau ! ikh ! amit amit dah berteman sama kamu !" gadis kecil berwajah imut itu bergidik ngeri, ilfil melihat tubuh Bilal yang semakin hari semakin besar.
Bilal terdiam menatap marah gadis sombong itu, apa salahnya jika ia ingin berteman dengan gadis itu ?.
"Gendut! ngaca dong !" ejek teman laki laki gadis kecil itu." dan juga yona itu cewekku ! kamu jangan mendekatinya lagi" ucapnya lagi.
"Cih ! masih kecil aja udah pacaran pacaran !, Dosa tau !" ujar Bilal.
"Hahaha....! kaya tau aja kamu apa itu dosa !" tawa cowok itu.
"Kata Kaka iparku ! pacaran itu berdosa !" Bilal mencoba menjelaskan meski ia sendiri tidak tau apa itu dosa.
"Gak usah sok alim deh !" cowok itu mendorong kuat dada Bilal, sampai tubuh Bila mundur satu langkah.
"Kamu mau ngajak berantem ? ayok !" marah Bilal, dan langsung memukul wajah cowok itu dengan tinjunya.
.
.
Papa Arya yang sedang menjelaskan di papan tulis, langsung menghentika kegiatannya, karna mendengar handphonnya berbunyi.
"Maaf ! sebentar !" ucap Papa Arya, berjalan ke arah mejanya melihat siapa yang menghubunginya.
Kepala Sekolah SD Harapan !, batin Papa Arya langsung mendial tombol hijau di layar phonselnya.
"Selamat siang Pak ! Ya ! ada apa ?" tanya Papa Arya.
"Selamat siang juga Pak Arya !, begini Pak Arya !, Bilal berkelahi di sekolah, memukul temannya sampai babak belur !" lapor kepala sekolah itu.
Papa Arya pun memijat pangkal hidungnya, Karna kepalanya mendadak pusing.
"Saya akan segera kesana Pak !" ucap Papa Arya, lalu menghela napasnya.
"Baik Pak Arya, kalau begitu saya akhiri telepon !" balas dari sebrang telepon, dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Papa Arya pun melanjutkan, menjelaskan materi pelajaran di papan tulis dengan sedikit agak cepat. Karna ia harus segera ke sekolah Bilal, untuk mengurus masalah anak istimewanya itu.
"Silahkan kalian kerjakan tugas di halaman 155. Nanti ketua kelas, kumpul tugasnya semua. Bapak harus pergi, karna ada urusan mendadak" ucap Papa Arya, sambil merapikan buku buku di mejanya dan membawanya keluar kelas.
.
.
Sampai di sekolah Bilal, Pak Arya langsung ke ruangan Pak kepala sekolah. Di sana sudah ada Bilal bersama gadis kecil, dan murid yang dipukulinya bersama orang tuanya.
"Selamat siang Bu !" sapa Pak Arya menyalam tangan orang tua murid itu.
"Selamat siang juga Pak Arya !" balas orang tua murid itu menerima jabatan tangan Pak Arya.
"Saya sebagai orang tua Bilal, meminta maaf atas tindakan kekerasan anak saya Bu !" ucap Papa Arya, mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan orang tua murid itu.
"Saya memaafkannya Pak !, tapi saya kawatir jika anak saya sekolah di sini lagi, anak Bapak memukuli anak saya lagi. Apa lagi melihat badan anak Bapak sangat besar, dan tidak mungkin bisa di tandingi anak saya !" ujar Ibu itu.
"Kalau dia tau badannya kecil kenapa berani melawanku ?. Dia yang mendorong tubuhku duluan !. Kalau dia takut sekolah di sini, keluar aja dia dari sini !" sambar Bilal.
"Bilal !" tegur Papa Arya karna anaknya itu tak sopan.
"Dia yang cari masalah duluan Pah !" ujar Bilal lagi.
"Bilal !" tekan Papa Arya, supaya anaknya itu tidak bicara lagi.
Papa Arya pun memperhatikan wajah anak yang menjadi korban kekerasan anak gajahnya itu. Papa Arya menghela napasnya, perasaan dulu masih anak anak dia adalah anak yang baik dan manis, ini kenapa anak anaknya bandel dan nakal semua seperti istrinya ?.
"Nak ! kenapa kamu mendorong Bilal ?" tanya Papa Arya lembut kepada murid sekolahnya itu.
Murid laki laki itu pun menundukkan kepalanya." Bilal menggangguku !" jawabnya.
Papa Arya menghela napasnya, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Bilal yang berdiri di samping sofa." Bilal ! kenapa kamu mengganggunya ?" tanya Papa Arya kepada anaknya.
"Bilal gak mengganggunya ! Bilal hanya menyapa Yona !" ketus Bilal, menatap marah ke arah Papa Arya.
Kenapa dia yang menjadi pihak yang salah, padahal lawannya itu yang menantangnya duluan.
Papa Arya mengalihkan pandangannya ke wakah anak gadis yang berdiri di samping Bilal. Papa Arya tersenyum melihat wajah imut gadis kecil itu. Papa Arya bisa menebak, sepertinya anak gajahnya naksir dengan gadis imut itu.
"Benar begitu nak Yona ?" tanya Papa Arya, tentu Papa Arya mengenal gadis imut itu, karna gadis itu adalah putri dari salah satu guru di SMA HARAPAN.
"Mereka katanya Pacaran Pa !" adu Bilal lagi." Pacaran 'kan berdosa !" ucap Bilal lagi polos.
"Kami berteman aja ! kami gak pacaran !" sela cewek itu menunduk. Dasar anak manja ! suka makan, gendut, jelek !, makinya di dalam hati.
"Nak Yona ! kamu sebagai saksinya, siapa dianatara mereka yang lebih dulu membuat keributan ?" tanya Papa Arya lagi.
"Bilal Pak !" jawab gadis kecil itu menunduk.
Papa Arya menghela napasnya," kalau begitu, biar Bilal yang keluar dari sekolah ini !" ucap Papa Arya mengambil keputusan, demi kebaikan nama sekolah itu.
Yona dan murid laki laki itu pun, mengulas senyum mereka dan saling melirik.
"Saya rasa masalah anak anak sudah selesai Bu !. Ibu tidak usah kawatir lagi, karna Bilal akan saya pindahkan dari sekolah ini. Dan untuk luka luka anak ibu, saya akan menanggung biaya pengobatannya. Kalau begitu saya permisi !" ucap Papa Arya sekalian pamit, karna harus mengejar Bilal.
Papa Arya keluar dari ruangan itu, mengejar Bilal yang berlari ke arah gerbang sekolah. Tentu sangat mudah bagi Papa Arya mengejar anak gajahnya itu. Karna Bilal tidak bisa berlari cepat karna tubuhnya yang berat.
"Bilal ! maafin Papa !" ucap Papa Arya, memeluk tubuh Bilal dari belakang.
"Papa jahat !!! Papa lebih percaya sama mereka dari pada sama Bilal !." Bilal meronta ronta di pelukan Papa Arya yang menyeretnya ke arah mobil.
Papa Arya pun memasukkan Bilal ke dalam mobil miliknya, dan langsung mengunci pintunya supaya Bilal tidak kabur. Kemudian Papa Arya menyusul masuk, duduk di kursi kemudi.
"Papa tau kalau anak Papa tidak berbohong !, tapi Papa tidak ingin membuat masalah menjadi panjang. Kamu bisa sekolah di sekolah lain" ucap Papa Arya, melajukan mobilnya keluar dari pekarangan sekolah.
"Kenapa bukan mereka yang di keluarkan ?, Papa tidak adil !!!." Bilal tidak terima dengan keputusan Papanya.
"Terkadang kita harus mengambil keputusan yang tidak adil untuk kebaikan semua orang nak !. Nanti jika kamu sudah besar, kamu yang akan mengurus sekolah itu. Kamu akan tau bagaimana berada di posisi Papa. Saat itu baru kamu mengerti kenapa Papa bersikap tidak adil padamu !" jelas Papa Arya lembut, mengusap kepala Bilal dari belakang.
"Papa pasti ingin memindahkan Bilal ke pesantren 'kan ?" tanya Bilal.
"Sekolah di pesantern itu bagus, disana kamu bisa banyak belajar ilmu Agama" jawab Papa Arya.
"Terus kenapa Papa tidak membuat sekolah pesantern aja ?" tanya Bilal.
"Ilmu Agama Papa tidak sampai di sana untuk mendirikan pesantren. Itu tidak mudah nak !, dan juga dulu Papa hanya melanjutkan pengelolaan SMA HARAPAN yang dibangun uyut kalian untuk Mama kalian dan untuk masa depan kalian cicit cicitnya. Dan Papa hanya mengembangkannya membangun sekolah SD dan SMP" jawab Papa Arya.
"Nanti kalau Bilal sekolah di pesantren, Bilal harus tinggal di asrama. Bilal gak bisa lagi tidur sama Papa sama Mama !" ujar Bilal.
"Kalau pas hari libur 'kan Bilal boleh pulang ke rumah !. Bilal bisa tidur di kamar Papa sama Mama lagi" balas Papa Arya, membujuk Bilal.
Semoga caranya mengirim Bilal ke pesantren berhasil merobah anaknya itu lebih dewasa. Dan tidak menghalanginya lagi untuk bercinta dengan Bunga Adelwisnya setiap malam. Hm ! Papa Arya tersenyum dalam hati. Anak gajahnya itu, sudah berusia sebelas Tahun, masih saja sering minta tidur dikamarnya.
.
.
Turun dari dalam taxi online, Sirin melangkahkan kakinya masuk ke gerbang kantor polisi tempat Ibunya di tahan, dengan membawa baby Arsi di dalam gendongannya. Ini pertama kalinya ia untuk mempertemukan anaknya kepada sang nenek semenjak lahir.
Setelah mendapat ijin dari petugas piket, Sirin pun menuggu sang Mama di ruangan khusus menerima tamu.
Tak lama kemudian, seorang wanita paru baya datang dengan senyum bahagianya. Sirin langsung berdiri menyambut Shasa ibunya.
"Mama !" sapa Sirin menangis memeluk Mamanya.
"Putri mama kenapa menangis sayang ?" Shasa mengusap kepala Sirin dengan lembut.
"Kangen sama Mama !" jawab Sirin menghapus air matanya.
"Mama juga kangen sayang !, ayo duduk, Mama sudah penasaran untuk melihat wajah cucu Mama." Shasa pun menuntun Sirin untuk duduk kembali di kursi yang tersedia di ruangan itu.
Wajah Sirin kembali tersenyum, lalu membuka gendongannya, dan memberikan baby Arsi kepada Shasa.
"Ya ampun ! besar sekali !" kaget Shasa melihat tubuh gemuk bayi yang baru berusia seminggu itu." Nama cuccu mama ini siapa ?" tanyanya.
"Arsi Ma !" jawab Sirin." Arsi Haidar Alfarizqi " lanjutnya.
Shasa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Nama yang bagus" ucapnya." Apa Arsen yang memberi namanya ?" Shasa mengarahkan tatapannya sebentar ke wajah Sirin, kembali lagi menatap wajah baby Arsi.
"Iya Ma !" jawab Siri lagi.
"Sepertinya Arsen menginginkan anak kalian menjadi jagoan seperti dirinya" ucap Shasa.
"Sepertinya begitu !, lebih tepatnya menjadi laki laki hebat Ma !"balas Sirin tersenyum.
"Apa Arsen sangat sibuk ? kenapa dia tak ikut ?" tanya Shasa.
"Iya Ma ! Arsen sangat sibuk, apa lagi sekarang bang Orion menyerahkan counter HP sama Arsen. Dia jarang sekali punya waktu untuk kami !" adu Sirin cemberut.
Shasa tersenyum mengusap kepala Sirin dari belakang." Kamu harus bersabar sayang !, Arsen juga sibuk mencari uang untuk kalian" ucapnya.
"Ma ! apa benar Mama menyuruh tante Melia menjabut saham Mama dari rumah sakit Papa ?" tanya Sirin.
Shasa menghela napasnya," Mama tidak menyuruhnya sayang, tantemu sendiri yang menginginkan saham Mama itu" jawab Shasa.
"Bisa Mama minta tolong !, tolong bilang sama Papa kamu untuk tidak mengabulkannya. Mama tidak punya apa apa lagi selain saham itu. Tantemu sudah menguasai semua harta peninggalan kakek dan nenekmu. Mama malas untuk melawan tantemu" pinta Shasa.
"Iya Ma !, Sirin akan membantu Mama. Dan Juga kenapa Mama tidak memindahkan saham Mama atas nama Sirin aja. Supaya tante Melia tidak punya kuasa untuk menggugatnya ?" usul Sirin.
Shasa tersenyum, bangga dengan putrinya yang pintar." Ide bagus sayang !, Mama tidak kepikiran kesana" ucapnya.
.
.
#Othor udah baik hati hari ini, up tiga kali sehari, sudah kaya minum obat Dokter.