
"Aku minta maaf !" ucap Bunga, langsung memeluk Vani sahabatnya." Aku juga berharap Queen menjadi menantuku, tapi aku gak mau memaksa Orion harus memilih Queen. Aku gak mau anak anakku merasakan apa yang kurasakan dulu" ucapnya lagi.
Meski Bunga pada akhirnya bahagia menikah dengan Arya. Tapi Bunga tidak akan lupa, bagaimana dulu hancurnya perasaannya, ketika harus berpisah dengan Aldo, laki laki yang sudah dekat dengan dia semenjak kecil, laki laki yang memahaminya, laki laki yang di cintainya dan tentu mencintainya juga. Dan bagaimana dulu susahnya menjalani kehidupan, merasa hidup sendiri, satu pun keluarganya tidak ada yang berpihak padanya, tidak ada yang mengerti dirinya, dan merasa terbuang.
Bunga tidak mau anak anaknya mengalami hal yang serupa dengannya. Di paksa menikah dengan orang yang tidak di cintainya.
"Itu harapan kita, tapi kebahagiaan anak anaklah yang lebih penting. Orion juga anakku, tentu aku ikut bahagia jika dia bahagia !" Vani membalas pelukan Bunga. Kembali Vani menitihkan air matanya, karna Bunga sahabatnya menangis terlebih dahulu.
Vani melepas pelukan mereka, kemudian menuntun Bunga untuk duduk di sofa ruang tamu rumahnya.
Bunga sengaja datang ke rumah Vani dan Gandi sahabatnya, setelah semua anak anak sudah berangkat ke sekolah. Supaya Queen tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Ternyata kita sudah tidak muda lagi !. tak terasa anak anak kita sudah besar" ucar Vani sembari menghapus air matanya.
"Iya !, anakku sudah besar, dan sebentar lagi punya mantu dan cucu" balas Bunga.
"Kapan rencana pertungan Orion dengan pacarnya itu akan di langsungkan ?" tanya Vani.
"Mungkin dua Bulan lagi !" jawab Bunga, Vani mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kalian sudah pernah bertemu keluarga ?" tanya Vani lagi.
"Belum !, tapi Orion sudah memberikan Papanya berbicara dengan Orang tua Kezia melalui telephon. Semuanya sudah di bicarakan lewat telephon. Dan ternyata Aaryan mengenal orang tua Kezia, ternyata tetangga Aaryan dulu sebelum dia dan neneknya pindah ke sini" jawab Bunga.
Vani pun mengangguk anggukkan kepalanyanya lagi.
.
.
Kedua sepasang kekasih itu berjalan bergandengan tangan memasuki sebuah mall. Orion menarik tangan Kezia ke sebuah toko perhiasan, untuk membeli cincin pertunangan mereka.
" Orion !Mau beli apa ?" tanya penjaga toko perhiasan itu tersenyum ramah. Tentu penjaga toko itu mengenal Orion, karna Orion juga memiliki counter HP di pusat perbelanjaan itu.
"Cincin pertunangan kak !, bisa lihat koleksinya ?" jawab Orion sekalian bertanya.
"Tentu bisa dong ! sebentar ya ! saya ambilkan !" balas penjaga toko itu, kemudian mengeluarkan mengeluarkan koleksi koleksi cincin copel.
"Ini dek ! ini model baru semua, setiap model hanya di buat tiga pasang saja. Jadi modelnya tidak pasaran" jelas penjaga toko itu, menunjukkan ada sepuluh koleksi cincin copel.
Kezia dan Orion pun melihat satu persatu model cincin itu.
"Kezia ! kamu pengen yang mana ?" tanya Orion. Kerna menurut Orion semuanya bagus, mungkin berbeda dengan penilaian Kezia.
Kezia menggelengkan kepalanya.
"Kalau model ini tidak ada yang cocok, bisa pesan model lain kok !" ucap pelayan toko itu.
"Orion ! aku ingin cincinnya di buatin modelnya khusus untuk kita. jangan ada memakai cincin yang sama dengan kita nantinya, dengan siapa pun !" rengek Kezia manja, bergelayut di lengan Orion.
"Bisa !, tapi harganya naik tiga kali lipat !" selah penjaga toko wanita yang terlihat usianya dua puluhan tahunan itu.
Orion terdiam berpikir, menurutnya memesan cincin pertunangan yang hanya di produksi satu saja dengan harga yang berkali lipat, itu terlalu berlebihan. Bagaimana nanti untuk cincin pernikahan, cincin seperti apa lagi yang di inginkan Kezia. Meski keluarganya bisa disebut orang kaya. Tapi mereka bukanlah orang kaya yang mempunyai duit triliunan. Bisa membeli barang barang serba mahal.
Arya orang tua Orion, orang yang sangat peduli dengan yang namanya pendidikan. Ia lebih memilih mendonasikan sebagian kekayaan mereka, untuk membantu pendidikan orang orang yang kurang mampu di daerah mereka tinggal, terutama kepada murid murid berprestasi, Dari pada dipakai untuk berpoya poya.
"Ya ya ya ya..!" bujuk Kezia kepada Orion.
Kezia cemberut, menurutnya Orion berbohong, atau pelit.
Penjaga toko itu pun tersenyum, memperhatikan sepasang kekasih muda di depannya itu, terlihat lucu. pikirnya
"Bagaimana kalau aku beri kelonggaran, karna kita kenal,sesama penjual di mall ini, kamu boleh menyicilnya, lima kali bayar !" tawar penjaga toko itu kepada Orion.
"Pemilik tokonya sudah kasih nyicil !"rengek Kezia lagi.
Orion mendesah pasrah," ya udah ! aku nyicil !" ucap Orion.
"Trimakasih sayang !" Kezia langsung memeluk Orion di depan pemilik toko itu. Orion pun mengusap kepala Kezia, asalkan wanita yang di cintainya itu senang dan bahagia, tak apa !,pikir Orion. Sepertinya mulai saat ini ia harus lebih giat lagi mencari duit.
.
.
Queen keluar dari dalam kamarnya, turun ke lantai bawah rumahnya. Ia akan pergi ke rumah yang ada di sebrang jalan rumahnya.
"Mau kemana lagi Queen ?. Ini sudah jam sembilan malam, kenapa belum tidur ?" tanya Gandi pas keluar dari ruang kerjanya. Gandi sekarang adalah seorang direktur utama di pabrik minyak kelapa sawit milik keluarganya yang berada di kota tempat mereka tinggal. Dan dia adalah cucu laki laki satu satunya dari keluarga Ayahnya, sepupu sepupunya semua adalah perempuan. Yang sudah pasti sibuk mengurus rumah tangga masing masing. Dan hanya dialah yang bisa mengelola perusahaan itu.
"Ke rumah Bang Orion !" jawab Queen.
"Masuk kamar Queen !, jangan keluar rumah lagi. Mulai sekarang kamu tidak boleh dekat dekat dengan Orion lagi. kamu masih anak anak, bertemanlah dengan anak anak seusiamu !. Dan Papa sudah jelaskan kepadamu, Orion itu orang dewasa, dan kamu masih anak anak !. Orion itu butuh orang dewasa untuk mendampinginya. Bukan anak anak sepertimu !" tegas Gandi.
Queen mengerucutkan bibirnya, matanya berkaca kaca, berbalik badan berjalan ke menaiki anak tangga. Queen tidak akan berani membantah Papa Gandi. Karna Papa Gandi nanti akan sangat marah, akan menyeretnya dengan kasar masuk ke dalam kamar.
Queen sudah tau Orion yang akan bertunangan dalam waktu dekat. Tapi Queen tak ingin memyerah, untuk menaklukkan cinta Orion. Entah sampai kapan ?, mungkin sampai lelah itu menyinggahi hatinya.
Queen masuk ke dalam kamarnya, lalu keluar ke teras balkon kamarnya. Ia memandangi rumah sahabat otang tuanya itu dari sana. Sudah seminggu Queen tidak melihat Orion, entah dimana laki laki itu sekarang tinggal. Queen merasa Orion menghindarinya, dan menjauhinya.
Aku memang masih kecil Bang Orion, dan aku juga tidak mengerti apa itu cinta. Yang aku tau, aku menyayangi bang Orion, aku selalu rindu, aku selalu ingin di dekatmu, selalu ingin bersamamu, takut kehilanganmu. batin Queen, menghapus air matanya.
Papa Gandi sangat keras kepadanya, tidak membolehkannya sama sekali pergi ke rumah Orion. Queen sangat di jaga ketat, untuk ke sekolah dan pulang sekolah pun, Papanya yang mengantar jemputnya.
"Sayang ! jangan terlalu keras sama Queen !" tegur Vani yang melihat Gandi berbicara keras kepada Queen.
"Kalau tidak seperti itu, Queen tidak akan berhenti mengganggu Orion sayang !.Tidak akan berhenti mengharapkan Orion. Dan aku tidak mau putri kita terus menerus seperti pengemis mengejar ngejar laki laki. Putri kita harus punya harga diri yang tinggi sebagai perempuan, apa lagi terhadap laki laki !" balas Gandi. Kemudian masuk ke dalam kamar, bagaimana pun juga, Gandi sebagai Ayah, sedikit tersinggung atas penolakan Orion kepada putrinya.
Orion dan kedua Orang tuanya, sudah tau dari dulu, kalau Vani istrinya sudah mengatakan menginginkan Orion menjadi menantunya. Tidak bisakah Bunga dan Arya membujuk Orion, untuk menerima putrinya, menunggu Queen setidaknya lulus SMA. Apa persahabatan yang sudah seperti keluarga itu tidak ada artinya buat mereka ?. pikir Gandi
Tidak ingatkah mereka bagaimana dulu Vani yang masih seorang gadis, mengasuh Orion. Memperlakukan Orion seperti anak sendiri. Tak bisakah mereka membujuk Orion, supaya tidak keras kepala.
Gandi bukan mengharap balas jasa, tapi tidak bisakah mereka memikirkan bagaimana perasaan putrinya yang sudah mereka anggap sebagai putri mereka juga. Tegakah mereka melihat hati Queen hancur, di usianya yang masih sangat muda ?.
Meski Gandi memberi restu kepada Orion, tapi Gandi masih berharap, Orion merubah keputusannya. Jika tidak bisa untuk putrinya, tidak bisakah Orion melalukannya demi Vani yang yang sudah menganggapnya anak. Bagaimana dengan Bunga dan Arya, tidak bisakah mereka mengendalikan anak mereka sendiri. Dan seharusnya mereka tidak membiarkan Orion berlacaran dengan wanita manapun.
"Minggu depan kita harus pindah dari sini !, kita pindah ke rumah Papa !. Kita harus menjauhkan Queen dari Orion. Dan kamu juga !, jangan sekali sekali menemui keluarga itu lagi. Kita bisa mencarikan jodoh yang lebih dari Orion untuk Queen." ujar Gandi
Jangan salahkan Gandi, ia hanya seorang kepala rumah tangga yang harga dirinya di injak injak.
.
.