
Di depan kamar Operasi, seorang wanita paru baya dan suaminya, menangis mengkawatirkan anaknya yang lagi berjuang untuk hidup.
"Ibu gak terima Yah ! anak kita di tembak !" ucap wanita paru baya itu dalam tangisnya.
"Ayah juga Bu !" balas suaminya. Nampak wajahnya menyiratkan kemarahan. Meski Polisi sudah menjelaskan, kronologinya, tetap saja kedua orang tua itu tidak terima kenyataan, anaknya tertembak karna kesalahan anaknya sendiri."Ayah akan menuntut habis orang yang sudah menembak anak kita. Ayah akan memenjarakan orang itu seumur hidup" ucapnya lagi.
Kedua orang tua itu menolehkan kepala mereka ke lorong rumah sakit, mendengar derap langkah kaki begitu terdengar sangat ramai mendekati mereka. Kedua orang tua itu terdiam, sama sama mengerutkan kening mereka, melihat sekelompok orang yang datang dengan pandangan pokus kepada mereka.
Bunga, Arya, Vani, Gandi, Dokter Aldo,Tari dan Leo, memperlambat jalan mereka. Sepertinya mereka mengenal wanita paru baya yang berada di pelukan pria paru baya itu, duduk di bangku tunggu di depan ruang operasi itu. Setelah tepat di depan kedua orang tua yang menunggu anaknya di operasi itu, mereka pun menghentikan langkah mereka.
Bunga melangkahkan kakinya ke arah wanita paru baya yang sangat di kenalnya itu. Bunga tidak akan pernah lupa dengan wajah itu. Wajah yang membuat dia harus kehilangan calon anaknya dulu, buah cinta pertamanya dengan Arya.
"Kamu Ibu dari bocah brengs*ek itu ?" tanya Bunga, dengan rahang mengeras.
Orion yang duduk di kursi roda, mengerutkan keningnya. Mendengar pertanyaan Mama Bunga, sepertinya Mamanya mengenal Ibu dari bocah brengs*k itu.
Wanita yang di dalam pelukan suaminya itu pun, melepas tangan suaminya dari tubuhnya, dan langsung berdiri.
"Jika anakku tidak selamat, maka aku juga akan membunuh anakmu !" ancam wanita sebayaan dengan ratu sejagat itu.
Tangan Bunga langsung saja mengepal." Kamu benar sekali, nyawa di bayar dengan nyawa. Apa kamu sudah lupa ?, kamulah yang menyebabkan nyawa janim di dalam kandunganku dulu melayang. jika anakmu tidak bisa di selamatkan, berarti kita impas !" ucap Bunga mengeraskan rahangnya.
"Mungkin itu karma untukmu Dewi !" ucap Bunga lagi.
Ya , Dewilah Ibu dari bocah brengs*ek yang mencuri menantu ratu sejagat itu. Wanita yang dulu menyeret Bunga dari dalam toilet sekolah. Memperlakukan Bunga seperti wanita sampah. Sampai sekarang Bunga tidak lupa itu,
"Sayang !" Arya mendekati Bunga, dan langsung memeluknya, ia kawatir psikolog istrinya terguncang lagi.
"Aku akan menuntut kalian, aku pasti akan menjebloskan anak kalian ke penjara" ujar suami Dewi itu, berdiri dari tempat duduknya.
"Dan aku juga pasti akan menjebloskan anak kalian ke penjara, karna sudah melakukan pembegalan, penculikan, melukai putriku, membahayakan nyawa putriku, dan melakukan pelecehan kepada putriku !. Tidak peduli seperti apa pun keadaan anak kalian. Dan saya juga akan menuntut ganti rugi anak kalian, sudah membakar mobil putriku seharga satu milliar." balas Gandi, berbicara mengeraskan rahangnya, menahan emosinya supaya tidak meledak di lorong rumah sakit itu.
Kenapa kedua orang tua itu, begitu egois, tidak sadarkah mereka, anak merekalah yang bersalah. Apa cuma mereka yang menyanyagi anak mereka, orang lain tidak. Jika anak mereka tidak melakukan kesalahan, tidak mungkin juga anak mereka di tembak Orion.
Dewi dan suaminya terdiam, mereka lupa, siapa yang mereka lawan, Gandi seorang pengusaha minyak kelapa sawit terbesar di kota mereka. Arya dan Bunga, selain memiliki bisnis di bidang pendidikan yang sudah berkembang, mereka juga memiliki perkebunan kelapa sawit yang sangat luas, dan juga memiliki beberapa cabang counter penjualan HP dan laptop. Dan para anak anaknya juga sudah berhasil membangun bisnis baru mereka, di bidang penjualan mobil dan sepeda motor. Sedangkan Aldo, dia adalah seorang Dokter, dan pewaris tunggal Rumah Sakit terbesar di kota mereka. Dan Leo, meski tak sekaya para sahabatnya, sekarang ia juga sudah menjabat sebagai manager di perusahaan yang di pinpin Gandi, yang ia dapat dari kerja kerasnya selama ini.
Sedangkan Mereka hanya orang biasa, mereka hanya memiliki usaha toko kelontong di sebuah pasar, itu pun tidak besar. Mereka membutuhi kebutuhan mereka hanya dari toko itu. Jika para sahabat itu bersatu, tidak ada yang bisa melumpuhkannya. Mereka adalah termasuk orang orang hebat di kota mereka.
"Kami datang kesini untuk berdamai !. Meski bukan anak kami yang melakukan kesalahan terlebih dahulu !" ucap Papa Arya dengan wajah datar." Tapi jika kalian ingin melanjutkan kasus ini ke jalur hukum, silahkan !, kami tidak takut. Kita lihat nanti keputusan pengadilan, siapa yang akan masuk penjara. Anak saya atau anak kalian !" ucap Arya lagi. Kemudian memutar tubuhnya, menuntun istrinya berjalan meninggalkan kedua orang tua bocah brengs*ek itu.
Jika yang salah dapat di benarkan, yang benar pasti akan lebih mudah di benarkan. Pikir Papa Arya. Sebagai seorang Ayah, ia akan mati matian melakukan pembelaan kepada anaknya yang tidak bersalah.Ya ! anaknya tidak salah, menghabisi pria yang melukai fisik dan kehormatan istrinya, itu adalah tindakan yang benar.
"Dan saya tak ingin berdamai !, hidup atau mati, saya akan tetap menuntut anak kalian !" sambung Gandi. Setelah berbicara ia pun membalik tubuhnya, lalu pergi.
"Kamu juga tau saya bisa berbuat jahat Dewi. Jika dulu saya tega berbuat jahat kepada Bunga sahabat saya, maka saya juga tidak segan berbuat jahat dengan orang yang bukan siapa siapa bagi saya. Jadi.. jangan membuat masalah baru lagi" ucap Leo, kemudian memutar arah kursi roda Orion, pergi dari depan ruang operasi itu.
Dokter Aldo, ia tidak mengucapkan apa apa, karna ia harus menjaga nama baiknya sebagi Dokter dan rumah sakit itu, ia hanya memandangi suami istri itu dengan tatapan mengancam. Ia pun pergi dari hadapan kedua orang tua yang tak tau diri itu, mengikuti lagkah para sahabatnya.
"Bu ! apa maksud dari perkataan istri dari Pak Arya tadi ?. Benar kamu yang membunuh janim di dalam kandungannya ?" tanya suami Dewi.
"I..itu dulu aku gak sengaja, aku gak tau kalau Bunga lagi hamil" jawab Dewi gugup.
.
.
Di ruang perawatan Queen, para anak muda mudi itu mengobrol saling bercanda, bersenda gurau, seperti tidak ada terjadi masalah, untuk mengalihkan pikiran Queen dari apa yang baru di alaminya. Dan di sana juga sudah ada Ghissam anak pertama dari Aldo dan Shasa.
"Queen ! besok gak jadi dong kita ke pesta ulang Tahunnya Nala ?" tanya Kania.
"Kamu 'kan lagi sakit !" ujar Kania
"Aku udah gak apa apa !" balas Queen." tapi kita perginya rame rame !" ujar Queen lagi. Mulai sekarang ia harus hati hati.
"Tapi kami besok gak punya pasangan !" ujar Diana.
"Nah ! kebetulan aku dan Ghissam jomlo, bagaimana kalau kami berdua jadi pasangan kalian ?" sambar Reyhan tiba tiba.
"Gak ! kalian ketuaan !" tolak Kania.
Reyhan memanyunkan bibirnya sok imut." ih..! masa di bilang tua !" ucapnya.
"Masa kalian gak mau sama kami ?, kami 'kan tampan dan mapan !" sambung Ghissam, juga memanyunkan bibirnya.
"Idih ! bang Ghissam sok imut !, kaya marmut !" ejek Sirin kepada abangnya.
"Kalian sama bang Elang aja !, gak ketuaan !" tawar Elang, mempromosikan dirinya.
"He ! kamu mau jadi adik durhaka seperti Arsen ?, menikung abangnya sendiri !" sergah Reyhan.
Arsen langsung saja memutar bola matanya malas. Sirin yang tidak menyukai abangnya, kok malah dia di bilang menikung.
"Bang Reyhan jelek, Sirin gak suka !" ujar Sirin tak berperasaan.
"Mama ! Papa !" adu Reyhan manja padahal kedua orang tuanya tidak ada di ruangan itu, Sirin selalu saja mengejeknya dari dulu.
"Abang Reyhan paling Jelek !" ikut ikutan Bilal si bontot yang sudah berusia sepuluh Tahun.
"Hei ! burung cicit !, jatah kuota main game abang potong !" ancam Reyhan kepada Bilal.
"Bilal minta sama Papa, sama bang Orion, sama bang Elang, sama bang Arsen, uwek !" Bilal memeletkan lidahnya kepada Reyhan.
"Dasar adik durhaka !" kesal Reyhan pura pura. Setiap berkumpul, ia selalu saja menjadi bahan ejekan saudara saudara dan anak anak sahabat orang tua mereka.
"Calix dari tadi diam aja !, besok pergi sama siapa ?" tanya Queen.
"Gak ada !, aku tak perlu ada gandengan kesana, di sana aku bisa mencari cewek !" jawab Calixto.
"Sombong !" cibir Queen.
"Lihat aja besok !, aku pasti dapat cewek !" ucap Calix percaya diri.
"Alah ! paling juga kamu dapat si cewek yang culun teman satu mejamu itu !" cibir Queen.
"Dia itu gayanya aja yang culun, sebenarnya anak itu manis" puji Calixto, kepada teman satu mejanya di sekolah.
"Sepertinya kamu naksir sama cewek itu !" tebak Queen.
Ceklek !
Pintu ruangan perawatan Queen terbuka, para orang tua mereka masuk.
.
.