
Reyhan mengeluarkan handphon dari saku celananya. Kemudian menghidupkan layarnya, melakukan panggilan kepada seseorang.
"Halo ! assalamu alaukum !" sapa dari sebrang telephon.
"Walaikum salam !, saya Reyhan !, Papa saya memberikan no ini kepada saya, dan meminta saya untuk menemui anda" balas Reyhan.
"Papa anda siapa ?, apa saya mengenalnya ?" tanya wanita itu dari sebrang telephon.
"Saya gak tau !, kata Papa saya, Papamu adalah temannya waktu sekolah !" jawab Reyhan.
"Oh ! begitu ya !" balas wanita itu.
"Kira kira kapan anda punya waktu untuk kita bisa bertemu ?" tanya Reyhan.
"Hmmm....kapan ya ?" wanita di sebrang telephon itu pun berpikir." Sekarang juga boleh !" jawabnya kemudian.
"Dimana ?, kirim saja alamatnya, saya akan kesana sekarang juga"ucap Reyhan.
"Baiklah !" balas wanita itu.
"Kalau begitu saya akhiri telephonnya, assalamu alaikum !" ucap Reyhan.
"Walaikum salam !" balas wanita itu dari sebrang telepon.
Reyhan pun, mengahiri sambungan teleponnya. Tak lama kemudian, handphon di tangannya itu berbuyi, pertanda ada pesan masuk. Reyhan segera membacanya, kemudian memasukkan handphonnya ke dalam saku celananya. Reyhan pun melangkahkan kakinya ke arah mobilnya, lalu meninggalkan kampus.
.
.
Di tempat lain
"Yumna ! apa kamu yakin ? mau menemui pria itu ?" tanya Shahia kepada adik sepupunya.
"Cuma menemuinya aja 'kan ?, gak masalah lah !. Lagian aku mengajaknya bertemu di restoran bang Daanish, jadi aman !" jawab Yumna. Kemudian mengikatkan sebuah kain berwana hitam ke kepalanya.
"Kamu yakin ! menemui cowok itu dengan memakai nikap ?" tanya Shahia lagi, mengerutkan keningnya kepada Yumna.
"Aku tidak mau !, laki laki yang akan di jodohkan denganku itu, menyukaiku karna kecantikanku !" jawab Yumna lagi.
Shahia menggeleng gelengkan kepalanya," Kalau dia tidak mengenal wajahmu, bagaimana bisa cowok itu tau menyukaimu atau tidak ?. Dia mengajakmu bertemu untuk mengenalnya."
Yumna menghela napas beratnya," Papa ada ada saja !, kita kesini untuk berlibur, malah mau menjodohkanku dengan anak temannya!" ucap Yumna mengerucutkan bibirnya di dalam nikapnya.
"Coba saja dulu bertemu dengan cowok itu !, mana tau cocok !" ucap Shahia.
"Bagaimana kalau kak Shahia aja yang bertemu dengan cowok itu !" rajuk Yumna.
"Ih ! kamu ada ada aja, Kakak 'kan sebentar lagi akan menikah dengan Fais !" jawab Shahia.
"Ya udah deh ! Yumna coba aja !, mana tau cowoknya guaenteng bin tampan" ucap Yumna pasrah.
"Ya sudah ! sana berangkat !, entar cowoknya menunggunya kelamaan" usir Shahia.
"Iya deh ! kakak ku yang cantik !" ucap Yumna, mencubit kedua pipi kakak sepupunya dengan gemas. Kemudian meninggalkan kamar yang mereka tempati selama di kota itu.
Sampai di restoran milik Abangnya, Yumna pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam resroran, sambil menelephon cowok yang akan di jodohkan dengannya itu.
"Saya berada di meja no 30" jawab Reyhan dari sebrang telephon.
"Walaikum salam !" balas Yumna, karna Reyhan tidak mengucapkan salam saat mengangkat telephonnya. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah meja no 30.
Reyhan meletakkan handphonnya di atas meja, kemudian menyesap minuman di depannya sampai habis setengah. Karna ia begitu haus, setelah dari kampus tadi. Di tambah jantungnya yang dag dig dug serrr... karna akan menemui wanita yang di jodohkan Papa Arya kepadanya.
"Assalamu alaikum !"
Sapaan suara wanita itu mengalihkan pandangan Reyhan ke arah wanita berpakaian tertutup yang berdiri di depannya.
"Walaikum salam !" balas Reyhan, ia hanya bisa melihat mata cewek berhijab di depannya itu, tanpa bisa melihat wajahnya.
"Apa benar anda bernama Reyhan ?, orang yang akan saya temui di sini ?" tanya wanita berpakaian serba hitam itu kepada Reyhan.
"Kalau ukhti bernama Yumna Yudhia Putri Tama. Benar ! saya lah yang akan anda temui" ucap Reyhan. Menahan kekesalan di dalam hatinya. Karna wajah wanita yang di perkenalkan dengannya itu, tidak bisa di lihatnya.
Untuk apa berkenalan, kalau aku gak bisa mengenal wajahnya ?. Ini sama saja akan membeli kucing dalam karung namanya. Kita tidak tau kucing jantan atau betina, belang apa tidak !. Gerutu Reyhan dalam hati.
Yumna tersenyum di dalam nikapnya, melihat ada kekesalan di wajah Reyhan. Yumna pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersebrangan dengan Reyhan.
"Apa anda ingin makan atau minum sesuatu ?" tanya Reyhan.
"Tidak ! saya lagi berpuasa !" jawab Yumna.
"Oh ! maaf !" ucap Reyhan.
"Tidak masalah !" balas Yumna, tersenyum, Reyhan bisa melihatnya dari sudut mata Yumna yang menyipit.
"Perkenalkan ! nama saya Reyhan Rasyafariq Alfarizqi !, anak kedua dari enam bersaudara, sebentar lagi dari tujuh bersaudara, karna ibu saya sedang mengandung anak ke tujuh sekarang !" jelas Reyhan.
"Saya sudah tau !" balas Yumna.
Ini kan cowok yang pernah ku tabrak, di restoran ini !,batin Yumna, menelisik wajah Reyhan seksama.
Cewek ini ! menyebalkan juga !, batin Reyhan. Menatap Yumna dengan penuh rasa penasaran, seperti apa wajah gadis di depannya itu. Cantik kah ? atau tidak ?.
"Bagaimana ? apa kamu menerima perjodohan kita ?" tanya Reyhan.
"Saya belum tua, gak usah di panggil Pak !" sanggah Reyhan tak suka.
Yumna mengulum senyumnya, melihat kekesalan di wajah Reyhan." Maaf ! bagaimana dengan anda ?" ralat Yumna.
"Karna saya penasaran dengan wajahmu yang kamu tutupi itu. Saya setuju !" jawab Reyhan.
"Karna itu ?" tanya Yumna.
"Karna apa lagi ?, karna cinta ! tidak mungkin, kita baru kali ini bertemu !" jawab Reyhan.
"Kalau saya, berpikir dulu, tidak bisa langsung menjawabnya" balas Yumna.
"Baiklah !, berikan saya jawaban secepatnya !" ucap Reyhan." Saya tidak bisa berlama lama !, saya harus segera pergi. Kalau berkenan !, mari saya antar pulang !" tawar Reyhan.
"Oh ! tidak perlu !, kebetulan restoran ini milik saudara saya. Saya sekalian akan membantu bantu di sini. Seringlah mampir makan atau minum ke sini" ramah tamah Yumna.
"Baiklah ! kalau begitu, saya pergi dulu, lain kali saya akan mampir ke sini !" balas Reyhan." Assalamu alaikum ukhti !" ucap Reyhan lagi.
"Walaikum salam !" balas Yumna.
Reyhan pun pergi meninggalkan restoran itu.
Orangnya ganteng, meski wajahnya terlihat kesal, sepertinya orangnya baik. !, Puji Yumna dalam hati. Kemudian memutar tubunya, melangkah ke arah belakang restoran.
"Astagfirullohal azim..!" guman Yumna, tersadar karna pikirannya terlalu melayang kepada ketampanan Reyhan
Sedangkan Reyhan yang sudah duduk di dalam mobilnya, tersenyum. Meski cewek yang di temuinya itu menutup wajahnya, dari pancaran mata Yumna, ia bisa menebak kalau wanuta itu memiliki paras yang cantik.
Mungkin ini yang di katakan, terpesona pada pandangan pertama. Batin Reyhan
Seketika Diana terlintas di pikiran Reyhan. Reyhan pun menghela napasnya kasar. Sepertinya ia belum berhasil move on dari Diana. Tapi perlahan Reyhan akan berusaha melupakan Diana, dengan menghadirkan wanita baru dalam hidupnya.
Aku harus bisa menghapus rasa cintaku kepada Diana. Karna tak pantas lagi aku mencintainya, terlebih dia sudah menjadi istri Om Aldo.Batin Reyhan, kemudian melajuka kenderaannya meninggalkan parkiran restoran.
.
.
Papa Arya memarkirkan kenderaannya di halaman rumah Orion. Ia ingin menemui Orion, dan harus berbicara dengan Orion. Supaya Orion mau membujuk Queen lagi. papa Arya melangakahkan kakinya masuk ke dalam rumah Orion.
"Kakek !" seru Boy ! berlari ke arah Papa Arya.
Papa Arya membungkukkan tubuhnya, meraih tubuh Boy, membawanya ke gendongannya, dan langsung mencium kedua pipi Boy bergantian.
"Apa kabar cucu kakek ?" tanya Papa Arya
"Baik kek !" jawab Boy tersenyum.
"Papa mana ?, Kakek mau ketemu Papa !" tanya Papa Arya lagi.
"Pak Oriob di ruang kerjanya Pak !" jawab Bi sumi, pengasuh Boy.
"Kakek ketemu Papa dulu ya !, habis itu baru kita main !" ucap Papa Arya, menurunkan Boy dari gendongannya.
"Iya kek !" patuh Boy.
"Tolong jaga Boy ya Bi !" ucap Papa Arya, melangkahkan kakinya ke arah tangga.
Sampai di lantai dua rumah anaknya itu. Papa Arya mengetuk pintu ruang kerja Orion.
Tok tok tok !
"Orion ! ini Papa !" sahut papa Arya.
"Masuk Pah !" sahut Orion dari dalam.
Papa Arya pun membuka pintu di depannya, dan melangkahkan kakinya masuk. Di lihatnya ruang kerja Orion sudah rapi, dan barang barangnya sudah di parking. Papa Arya menghela napasnya, lalu berbicara.
"Orion ! cobalah bujuk Queen lagi, pertahankanlah rumah tangga kalian !."
"Orang kotor sepertiku tidak pantas dengan orang suci sepertinya Pah !" jawab Orion tanpa melihat ke arah Papa Arya. Ia sibuk memperhatikan layar laptop di depannya.
Mendengar jawaban Orion, Papa Arya menghela napasnya lagi.
"Queen lagi hamil Orion !. Bisa saja itu bawaan kehamilannya, tidak bisa mengontrol emosinya."ucap Papa Arya.
"Sampai segitunya Pah ?, sampai tidak mau melihat suami sendiri ?. Tidak mau bertemu suami sendiri ?. Jika dia hanya marah marah dan memaki maki aku, aku masih memakluminya pah !. Tapi dia meninggalkan suaminya Pah !, aku sudah mencoba beberapa kali menemuinya pah !, untuk membawa dia pulang ke rumah ini !. Tapi sama sekali dia tidak mau menemuiku !" balas Orion.
"Dulu Orion sudah memenuhi permintaan Papa untuk aku menikahi Queen di usianya yang masih SD Pah !. Sekarang jangan meminta aku lagi Pah !. Dulu aku masih bisa memaklumi segala sifat dan tingkahnya yang masih anak anak. Sekarang dia sudah besar pah !, sudah bisa berpikir !. Dia hanya selalu ingin menang sendiri, aku juga capek pah !, jika harus terus mengalah !" cerca Orion.
"Lakukanlah demi anak yang masih di dalam kandungannya Orion !" bujuk Papa Arya lagi.
"Kalau Queen tidak mau merawat anak itu, biar aku saja nanti merawatnya !." balas Orion
"Sudahlah Pa !" tak dapat menahan kesedihannya, air mata Orion pun tumpah tak tak terbendung lagi." Aku dan Boy adalah orang yang hina, biarkan kami mencari kehidupan kami yang baru di tempat yang lain" lirih Orion.
.
.
.
.