Brother, I Love You

Brother, I Love You
63. Hari ini kita putus



Sepeninggal Queen dan Reyhan ke sekolah, Orion juga meja makan, melangkahkan kakinya ke arah tangga. Sampai di lantai atas, Orion membuka pintu ruangan kerjanya dan langsung masuk.


"Katakan !" ucap Orion bernada perintah kepada seseorang lewat sambungan telepon, sembari mendudukan tubuhnya di kursi.


"Kami sudah berhasil menangkap nyonya Zoya bos. Dan kami sudah mengurungnya di gudang bawah tanah" jelas orang itu.


"Bagus !" ucap Orion menyeringai." kalian berikan dia pelajaran dan kurung dia di tempat itu sampai kewarasannya menghilang" perintah Orion.


Ternyata kamu salah satu wanita yang menyebabkan Ibuku mengalami defresi. Dan kamu jugalah di balik kecelakaan yang menimpaku, dan apa yang sudah menimpa adikku. Geram Orion dalam hati


"Kalian berhati hatilah, jangan sampai ada yang mengetahuinya" ucap Orion, dan langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu balasan dari sana.


Segera Orion membuka laptopnya yang terletak di atad meja. Dan langsung meretas jejak pembicaraannya barusan dengan orang suruhannya, jangan sampai Papa Arya atau siapa pun mengetahui apa yang sudah ia lakukan.


Aku akan membuatmu menyesal telah menyakiti keluargaku dari dulu nyonya Zoya. Jangan kamu pikir aku sama seperti Papaku yang hanya membereskan masalah dengan menyerahkannya saja kepada pihak polisi, kamu salah !. Aku akan memberimu pelajaran, sampai kamu tak ingin hidup lagi di Dunia panah ini. Batin Orion, memicingkan matanya ke arah layar laptop yang menyala di hadapannya.


Jari tangan Orion terus menari nari di atas keyboart laptopnya. Orion menyeringai lebar saat ia menemukan apa yang dia cari. Dengan mudah Orion berhasil meretas data data rahasia perusahaan milik Zoya, perusahaan yang di wariskan orang tuanya kepadanya.


Baiklah !, batin Orion.


.


.


Reyhan memarkirkan mobilnya di parkiran SMA HARAPAN yang di bangun kakek uyutnya itu.


"Trimakasih bang Orion !" ucap Queen sembari membuka pintu di sampingnya.


"Sama sama kakak ipar kecil !" balas Orion, menyusul Queen ikut turun dari dalam mobilnya.


"Bang Orion mau kemana ?" tanya Queen.


"Mulai hari ini, dede Reyhan akan menjadi guru di sini, menggantikan Papa. Karna ratu sejagat yang terus bergelayut manja, gak mau jauh dari Papa" jawab Reyhan panjang lebar.


"Bilang saja biar punya alasan ketemu Diana setiap hari" cibir Queen, kemudian melangkahkan kakinya ke arah kelas meninggalkan Reyhan begitu saja.


Reyhan yang di tinggalkan Queen pun mengerucutkan bibitnya sok imut kaya marmut. Reyhan memutar pandangan ke seluruh penjuru parkiran sekolah, harap harap Diana sang pujaan hati lewat.


"Hm ! baiklah ! selamat bertemu di kelas" monolok Reyhan,melangkahkan kakinya ke arah kantor guru, karna tidak melihat Diana melintas di parkiran sekolah.


Orang sudah tidak bertaya tanya melihat kehadiran Reyhan di sekolah keluarganya itu. Para guru dan semua murid, sudah tau kalau ke hadirannya di sekolah, pasti untuk menggantikan orang tuanya mengajar. Meski tak berbakat jadi guru, tapi Reyhan sebagai anak yang taat dan patuh kepada orang tua, tidak bisa menolak perintah sang raja Arya.


Queen yang sudah sampai di dalam kelasnya, mendudukkan tubuhnya di bangku yang biasa ia duduki. Ketiga sahabatnya belum ada yang datang, dan kelas pun masih terlihat sunyi. Seketika Queen teringat dengan mendiang Ismail Marjuki, laki laki yang sempat mencurinya dan melecehkannya. Mendadak Queen ketakutan sendiri.


Queen bergidik ngeri, kemudian langsung keluar dalam kelas. Takut takut gentayangan Ismail mendatanginya. Secara 'kan meninggalnya ismail tak wajar.


"Hai Queenara Hamiska !, apa kabar ?, sudah lama tak kelihatan" sapa Dhikra si ketua Osis baru.


"Hai juga, dan kabar baik !" balas Queen tersenyum ramah.


"Kamu tambah cantik dan juga berisi aja !" gombal Dhikra, mengedipkan sebelah matanya ke arah Queen.


"Harus dog...!" balas Queen, jiwa angkuhnya muncul.


Cih ! cantik cantik dapat cowok yang pincang, batin Nala mencela, yang kebetulan lewat di samping Queen dan Dhikra.


"Queen !" Dhikra menggaruk leher belakangnya, kelihatan seperti orang bingung.


Queen yang melihatnya mengerutkan keningnya, Queen sudah bisa menebak kalau adik kelasnya itu ingin mengajaknya jalan dan akan menembaknya.


"Ada apa ?"


"Emm.. nanti pulang sekolah jalan yuk !" ajak Dhikra.


"Gak ah !" tolak Queen, tebakannya benar, Queen pun membalik badannya, saat hendak melangkah, langkahnya terhenti.


"Aku menyukaimu !" ujar Dhikra cepat.


"Lepaskan tanganku Dhik !" Queen berusaha berbicara dengan baik, menahan amarahnyan karna berani beraninya Dhikra menarik tangannya.


"Maaf !" Dhikra langsung melepas tangan Queen dari genggamannya."Tapi aku benar menyukaimu !."


"Aku sudah memiliki cowok!" balas Queen, dan langsung masuk ke dalam kelasnya.


"Brengs*k !" geram Orion mengepalkan tinjunya, melihat Queen dari layar laptopnya di ganggu pria lain. Dada Orion bergemuruh, Orion cemburu.


Selesai melakukan pekerjaannya, tadi ia langsung beralih mengecek cctv sekolah SMA HARAPAN, ingin memantau Queen dari jauh.


Awas kamu nanti malam Queen, abang akan kasih kamu hukuman, gemas Orion membatin. Nanti malam niatnya, tidak akan menerima penolakan Queen lagi. Orion pun keluar dari ruang kerjanya, masuk ke dalam kamarnya dan Queen.


Tak lama Queen mendudukkan tubuhnya, teman teman satu kelas Queen mulai berdatangan, kelas menjadi tampak rame.


"Queen !!" seru Diana dan Kania bersamaan berlari ke arah Queen dan langsung memeluknya.


"Kami kangen tau !" ucap Diana


"Kamu lama sekali meliburkan dirinya?" sambung Kania.


Queen mencebikkan bibirnya, meski sudah sebulan Queen tidak sekolah, tapi hampir setiap hari mereka bertemu. Diana dan Kania selalu datang ke rumahnya setelah pulang sekolah dan hari libur.


"Bagaimana keadaan Arsen ?" tanya Diana, mendudukkan tubuhnya di bangku yang berada di belakang Queen.


"Masih belum sadar !" jawab Queen, memghela napas pasrah.


"Sirin belum sekolah juga ?" tanya Diana lagi, Melihat Sirin belum menampakkan batang hidungnya.


"Katanya sekolah !" jawab Queen.


Tak lama kemudian yang di bicarakan pun datang.


"Sirin ! kamu kenapa ?, kok gak semangat gitu ?" tanya Kania, melihat Sirin datang dengan wajah layu bagaikan kerupuk tersiram air, gak ada semangatnya.


"Gak napa napa !" jawab Sirin sebari mendudukkan tubuhnya di samping Queen. Bagaimana mau semangat, kekasih pujaan hati masih setia di alam mimpi.


"Sabar ya Sirin !" ucap Diana, iba melihat sahabatnya yang jatuh tertimpa tangga itu.


Sirin mengangguk, wajahnya nampak sendu, dan matanya berkaca kaca


Queen menarik Sirin ke dalam pelukannya," jangan sedih trus dong !, percayalah ! Arsen pasti sembuh !" ucap Queen menenangkan. Malah Sirin menangis terisak di dalam pelukan Queen.


"Sssttt...!!!" Queen mengusap usap punggung Sirin dari belakang.


"Selamat pagi !"


"Selamat pagi..juga Pak...!" balas semua murid bernada ragu. Melihat guru yang masuk ke dalam kelas mereka, tampak asing tapi wajahnya sangat pamiliar.


Queen dan Sirin langsung melepas pelukan mereka. Dan Sirin pun menghapus air matanya.


"Bang Reyhan !" gumam Diana, senyum senyum tak jelas dari bangkunya.


"Ketua kelas ! kumpulkan semua PR kalian. dan semuanya buka buku masing masing, kita lanjut pelajaran kalian" perintah Reyhan, menghiraukan Diana yang senyum senyum tak jelas ke arahnya.


"Baik Pak Reyhan !" balas Queen sebagai ketua kelas. Queen berdiri dari bangkunya, mengutip satu persatu buku PR anggotanya.


"Cie...! yang sudah di lamar, senyum senyum sendiri ni yee.. !" goda Kania yang duduk di samping Diana.


"Bang Ghissam juga gak kalah keren !" Tidak mau kalah, Kania juga memuji kakasih pujaan hatinya, yang berprofesi sebagai Dokter Kandungan.


Sirin yang duduk di depan meraka, hanya diam termenung. Apakah dia mendengarkan Reyhan menjelaskan pelajaran atau tidak, tidak ada yang tau. Pikirannya hanya terpokus kelada Arsenio yang masih terlelap di atas brankar rumah sakit.


"Diana ! Kania ! mana buku PR kalian ?" tanya Queen, membawa banyak buku di tangannya.


Diana menggaruk kepalanya sambil menyengir kuda." belum selesai !"jawabnya.


"Kania ?"


"Hehehehe....! sama belum selesai juga !" cengir Kania.


Queen mengedikkan bahunya, lalu melangkahkan kakinya ke depan kelas. Queen tau, kedua sahabat bodohnya itu tidak mengerti mengerjakan PR mereka. Selama ini Diana dan Kania selalu mencontek jawaban Queen.


"Pak Reyhan ! Diana dan Kania tidak mengumpul PR!" seru Queen, sambil meletakkan buku buku yang dia kumpulkan di atas meja. Dan langsung kembali ke bangkunya.


"Yang tidak mengerjakan PR, maju ke depan" perintah Pak guru Reyhan, masih menghadap papan tulis, melanjutkan proses mengajarnya.


Diana dan Kania pun langsung maju ke depan berdiri di sudut ruangan. dengan bibir sama sama manyun.


"Ketahuan sekali mereka selama ini ngerjain tugas, dari nyontek !" ujar seorang siswi kelada temannya.


"Biarkan sajalah !" balas temannya yang tidak peduli dengan urusan orang lain.


"Iya sih !"ucap siswa itu lagi, yang iri melihat Diana dan Kania, yang berasal dari keluarga sederhana tapi bisa dekat dengan Queen dan Sirin.


"Ambil buku kalian, dan kerjakan PR kalian dengan berdiri" perintah Reyhan memasang wajah datar kepada Diana dan Kania.


"Baik Pak !" patuh Diana dan Kania.


*Mulai hari ini kita putus bang Reyhan !, kamu mem*buatku malu!, Batin Diana, menajamkan pandangannya ke arah Reyhan yang melihatnya.


Reyhan tersenyum dalam hati melihat wajah Diana yang cemberut kepadanya, gemas !, pikir Banbang Reyhan.


"Kita lanjut pelajarannya lagi !" ucap Pak guru Reyhan, kembali melanjutkan tugas mengajarnya.


Waktu berlalu, bel istirahat pun berbunyi.


"Silahkan istirahat !" ucap Reyhan, sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam kelas dengan membawa banyak buku di tangannya, tanpa menegur Diana sama sekali.


"Sirin ! kamu sakit ?" tanya Queen, melihat wakah Sirin loyo tak ada semangat.


"Iya Sirin ! kamu kenapa ?, masih sedih ya ?, sabar ya Sirin, aku yakin Arsen pasti sembuh !" sambung Kania yang sudah duduk di kursinya.


"Iya Sirin !, Arsen pasti sembuh, yakinlah !" timpal Diana, kasiha dengan apa yang menimpa sahabatnya itu. Pacar sendiri di celakai Ibu sendiri, miris !.


"Kantin yuk !" ajak Queen, meraskan perutnya lapar lagi, meski susah makan banyak dari rumah.


"Ayok !" seru Diana dan Kania bersamaan.


"Ayo Sirin !" ajak Queen kepada Sirin sahabat yang sudah seperti saudari baginya itu.


"Aku gak ikut Queen" tolak Sirin, dengan nada tak bersemangat.


Queen menghela napasnya," aku yakin kamu belum makan apa apa dari pagi" ucap Queen.


"Ayok..!" Diana dan Kania pun menarik Sirin supaya berdiri dari bangkunya. Sehingga Sirin tidak bisa menolak ajakan ketiga sahabatnya, dan terpaksa ia pun ikut.


Sampai di kantin, mereka berjalan ke arah meja langganan mereka.


"Bang Reyhan !" sapa Queen


Diana yang melihat Reyhan dengan cepat berbalik badan, dan meninggalkan kantin. Ia malu melihat Reyhan, karna Reyhan menghukumnya.


"Dianan !" panggil Reyhan, langsung mengejar Diana.


"Mereka berantem ?" tanya Queen kepada Kania.


"Gak tau !" jawab Kania, bingung.


Mereka pun mendudukkan tubuh mereka di bangku, dan langsung melahap makanan di atas meja, yang di pesan Reyhan untuk mereka.


"Diana ! kamu kenapa ?" tanya Reyhan yang sudah berhasil menangkap Diana. Reyhan tak peduli, orang orang di sekolah memperhatikan mereka. Itu sekolah milik uyut mereka, dan dia juga hanya guru pengganti sementara. masa bodoh ! jadi bahan tonyonan, pikir Reyhan.


Reyhan menarik tangan Diana masuk ke salah satu ruangan di sekolah itu.


"Pak Reyhan ! lepasin !" ujar Diana, menarik kuat tangannya, namun Reyhan semakin mengencangkan pegangannya.


Reyhan mengunci pintu ruangan Osis itu, kemudian mendorong pelan tubuh kurus Diana sampai bersandar ke dinding di dekat pintu.


"Kamu kenapa ? Hm..!"


Reyhan menaikkan satu tangannya menyentuh pipi mulus Diana, dan mengelusnya dengan jempolnya.


Diana tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Di..!" panggil Reyhan, namum Diana diam saja.


"Putri Diana..!" panggil Reyhan lagi.


"Aku malu, bang Reyhan tadi menghukumku !." Diana menjawab tanpa melihat Reyhan.


Reyhan mengembangkan senyumnya, tangannya meraih dagu Diana, supaya Diana melihatnya.


"Kenapa ?, bukankah guru lain juga pernah menghukummu ?" tanya Reyhan.


"Aku malu sama bang Reyhan" jawab Diana, memundukkan pandangannya.


"Aku sudah tau kok, kalau kamu bodoh !" ucap Reyhan tersenyum." Dan kamu selalu mendapat peringkat 20 ke atas" lanjut Reyhan.


"Aku sudah berusaha, tapi kemampuan otakku mentok di situ" jawab Diana.


"Kamu juga anak seorang guru, bagaimana bisa kamu menjadi bodoh ?" tanya Reyhan. seharusnya 'kan Diana pintar, karna pasti orang tuanya mengajarinya setiap malam di rumah.


"Aku gak tau !" jawab Diana dengan mata berkaca kaca. Kata bodoh itu adalah kutukan baginya. Sekeras apa pun dia belajar, tetap saja ia tidak mampu menguasai semua materi pelajaran. Bisa masuk di sekolah bergengsi, seperti SMA HARAPAN, menurut Diana itu sudah menjadi pencapaian tertinggi baginya. Meski pada akhirnya ia termasuk murid bodoh.


"Gak usah malu denganku !" ucap Reyhan, dengan suara lembutnya. Seperti ada yang memerintah,Reyhan mendekatkan wajahnya ke wajah Diana.


Cup !


Diana terlonjak kaget dan membolakan matanya, merasakan benda kenyal milik Reyhan menempel di keningnya. Ya ! Reyhan mencium keningnya untuk pertama kalinya.


Jantung Diana seketika melompat lompat serasa mau copot. Oh ! Tuhan !, batin Diana


Begitu juga dengan Reyhan, ia juga merasakan hal yang sama. Merasa dirinya mendadak jantungan. Entah ! Reyhan juga tidak tau, kenapa tiba tiba ia mencium Diana.


"Selagi orang itu mau belajar, itu bukanlah termasuk orang yang bodoh" ucap Reyhan." Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda beda. Aku yakin kamu pasti punya ke ahlian, mungkin di bidang lain. Bisa saja di bidang seni atau yang lainnya. Mungkin kamu pintar di bidang memasak, melukis atau menggambar contohnya. Atau bisa saja di bidang menulis, seperti menulis cerita, novel dan yang lainnya" ucap Reyhan lagi, memberi semangat Diana, cewek cabe cabeannya itu, yang melepaskannya dari status jomlo dari lahir.


Diana terdiam mendengarkan ceramah Reyhan, dengan netra yang tak putus dari wajah Reyhan.


.


.