
Pagi hari, Dokter Aldo masih berada di rumah Diana. Karna mobilnya yang masih mogok, dan tidak bisa di perbaiki, karna hujan tak kunjung reda. Semalaman ini Dokter Aldo, Pak Basri, Diana dan Ibunya tidak tidur. Memikirkan pernikahan yang terjadi secara mendadak.
"Kedua kakak Diana selalu cemburu kepadanya, karna kami terlalu memperhatikan Diana sejak kecil. Kedua Kakaknya selalu beranggapan kalau Diana lebih kami istimewakan, padahal sebenarnya tidak seperti itu. Waktu masih balita Diana sering mengalami step, sampai tidak bisa berjalan saat usianya empat Tahun" cerita Pak Basri, mengusap usap kepala Diana yang tertidur di atas pangkuannya.
"Sebelum memgalami step, Diana adalah anak yang pintar, dia sudah bisa membaca, berhitung dan menulis saat usianya tiga Tahun. Tapi semenjak mengalami step terakhir, yang membuatnya sampai tidak bisa berjalan, kecerdasan otaknya juga berkurang. Semenjak itu kami lebih memperhatikan Diana. Karna menurut kami, memang Diana membutuhkan perhatian lebih, yang membuat kedua kakak cemburu."
"Saya minta maaf karna sudah memaksa anda menikahi putriku tadi malam. Saya percaya dengan anda, tidak melakukan apapun kepada putriku. Tadi malam saya hanya tidak ingin masalah berkepanjangan, dan terjadi ribut ribut. Saya berpikir lebih baik menuruti keinginan masyarakat di sini untuk sementara waktu. Sekarang saya tidak akan memaksamu dengan pernikahanmu dengan Diana. Terserah anda, apakah anda mau lanjut atau tidak" ucap Pak Basri, lalu menghela napasnya.
Tok tok tok !
"Assalamu alaikum !"
"Walaikum salam !"
"Papa ! apa yang terjadi ?, kenapa bisa seperti itu ?" cerca Dokter Ghissam.
Setelah mendapat kabar tadi malam dari sang Papa. Paginya, Dokter Ghissam langsung bergegas dari rumah sakit, menyusul Papanya ke rumah Diana.
"Dia adalah anak pertama saya Pak Basri" ucap Dokter Aldo.
"Silahkan masuk nak !" ucap Pak Basri kepada Dokter Ghissam yang masih berdiri di pintu.
"Trimakasih Pak !" Dokter Ghissam pun melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu rumah Pak Basri, dan mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong setelah di persilahkan duduk.
Pak Basri pun menceritakan kepada Dokter Ghissam kenapa Dokter Aldo bisa menikah dengan Diana, hanya karna kesalah pahaman warga saja.
"Bagaimana menurutmu nak ?" tanya Dokter Aldo kepada anak sulungnya. Dia juga bingung mengambil keputusan. Apakah dia akan melanjutkan pernikahannya dengan Diana atau tidak. Terlebih Dokter Aldo belum lama menjatuhkan talak kepada Shasa istrinya. Dan sekarang apakah dia akan menjatuhkan talak kepada wanita yang baru hitungan jam dia nikahi ?.
"Terserah Papa saja, tapi bagaimana dengan Diana sendiri ?. Eh ! maksudnya mami kecil hehehe...!" cengir Dokter Ghissam, menggaruk leher belakangnya yang mendadak gatal.
Sontak membuat Dokter Aldo, Pak Basri dan Ibunya Diana mengulum senyum, dengan kekonyolan Dokter Ghissam.
Tidak masalah bagi Dokter Aldo kalau Papanya menikah lagi. Yang penting Papanya bahagia. Dan melihat Papanya masih gagah dan tampan, tidak mungkin Papanya selamanya akan menyandang status duda. Papanya pasti membutuhkan sosok wanita di sampingnya.
Terdengar suara deru mobil berhenti di halaman rumah Pak Basri, mereka semua pun memgalihkan pandangan mereka ke arah kaca jendela, melihat siapa yang datang. Dan ternyata ada tiga mobil yang datang. Dokter Aldo dan Dokter Ghissam sudah mengenal ketiga mobil itu.
Reyhan bergegas turun dari dalam mobilnya, melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam rumah orang tua Diana tanpa mengucap salam. Tanpa aba aba..
Bukh ! bakh ! bukh !
Reyhan memberikan pelajaran kepada Dokter Aldo, tanpa bertanya apa duduk perkaranya.
"Apa yang Om lakukan kepada Diana ? Ha !!!" marah Reyhan.
Bukh !
Lagi Reyhan melayangkan tinju ke wajah mantan kekasih ratu sejagat itu.
"Reyhan !" tegur Mama Bunga, yang menyusul masuk ke dalam rumah.
Tadi malam, Dokter Aldo juga mengirim pesan kepada Mama Bunga. Menceritakan sedikit masalah yang di hadapinya. Dan menyuruh Mama Bunga dan Papa Arya, datang ke rumah Orang tua Diana. Untuk menyelesaikan masalah yang di hadapinya. Karna perlu di bicarakan secara kekeluargaan. Mengingat Diana yang di nikahinya adalah kekasih dari Reyhan. Dokter Aldo tidak mau, keluar sahabat kecilnya itu, berprasangka buruk kepadanya.
"Reyhan ! kamu tenang dulu !!!, Om bisa jelaskan semuanya !!!."
Bukh !
Dokter Aldo yang tidak terima di pukuli, laki laki yang sudah di anggap keponakannya itu, membalas memukul Reyhan.
"Om tau ! kalau Diana pacar Reyhan Om !, kenapa Om menikahinya ?" tangis Reyhan menjatuhkan tubuhnya di lantai. Menangis terisak, tubuhnya terlihat lemah tak berdaya.
Diana yang sudah terbangun karna mendengar ribut ribut, pun hanya bisa terdiam, menatap nanar ke arah Reyhan dengan mata berkaca kaca. Ingin rasanya ia berlari ke arah Reyhan dan memeluknya, tapi sudah tak pantas ia melakukan itu, karna dia sudah berstatus istri.
Mama Bunga yang kasihan melihat anaknya menangis terduduk di lantai. Langsung mendekatinya, dan memeluknya.
"Sabar sayang !" ucap Mama Bunga ikut menangis. Kenapa anaknya mengalami hal yang serupa dengannya ?.
Ya Tuhan ! apa ini karma. Karna dulu aku merampas Bunga dari Aldo, tanpa memilirkan perasaannya sedikitpun. Kenapa anakku yang mendapat karmanya ?. Batin Papa Arya yang diam berdiri dari tadi. Melihat betapa hancurnya hati anaknya Reyhan, kehilagan harapan dapat memiliki kekasihnya.
"Om menyuruh kalian datang kesini, untuk menjelaskan semuanya. Karna Om tidak mau kalian berprasangka buruk terhadap Om !" ucap Dokter Aldo, melap cairan merah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Papa !" sapa Sirin, mendekati Dokter Aldo, kasihan melihat Papanya yang terluka, karna mendapat bogeman dari Reyhan. Sirin mengusap pipi Dokter Aldo yang sudah memar dan mulai bengkak.
Dia datang bersama Arsenio, setelah tadi subuh mendapat kabar dari Dokter Ghissam, abangnya.
"Sakit ya Pa ?" tanya Sirin.
"Papa gak apa apa !, itu hanya luka kecil" jawab Dokter Aldo, memeluk Sirin putri kesayangannya, kemudian mencium ujung kepala Sirin.
"Om tidak melakukan apa apa kepada Diana..." Dokter Aldo pun menceritakan dari A sampai Z, kenapa bisa bersama diana di dalam mobil. Dan sampai mereka harus di nilahkan.
Arsenio yang merasa di sindir, pun mendengus.
"Sudah sayang ! jangan menangis terus, ikhlaskan saja. Kamu dan Diana tidak di takdirkan berjodoh" ucap Mama Bunga megusap usap kepala anak paling manjanya itu.
"Tapi Reyhan mencintai Diana Ma !" tangis Reyhan.
"Dulu juga Mama mencintai Aldo, Setelah menikah dengan Papamu, buktinya Mama bisa melupakannya" balas Mama Bunga. Tanpa ia sadari ada hati yang meradang, cemburu mendengar pengakuan cintanya. Karna tidak mungkin mama Bunga meminta Dokter Aldo menceraikan Diana saat itu juga, untuk Rehyan.
Pernikahan sudah terjadi, apa pun alasannya, pernikahan bukanlah perkara main main. Itu berurusan langsung dengan Tuhan.
"Diana !" panggil Reyhan lirih, menatap Diana yang juga menangis di dalam pelukan Pak Basri.
Diana membalas tatapan Reyhan tanpa bisa berucap apa apa. Seandainya ia tidak pergi dari rumah dan bersembunyi. Mungkin pernikahan dengan Ayah dari sahabatnya itu tidak terjadi.
"Apa kita sudah tidak bisa bersama lagi Diana ?" tanya Reyhan. Sesaknya dada Reyhan, rasanya ingin pecah mengeluarkan semua yang menyumbat di dadanya. Mengingat Diana sudah menjadi istri dari Om Aldonya.
Diana diam tidak bisa menjawab, karna ia sudah tidak punya hak untuk mengambil keputusan itu. Sudah ada laki laki yang lebih berhak terhadap dirinya melebihi Ayahnya.
"Aku akan menceraikan Diana jika itu yang terbaik !" ucap Dokter Aldo.
"Jangan !"
Semua orang yang berada di ruangan itu mengarahkan pandangan mereka ke arah Mama Bunga. Karna melarang Aldo ingin menceraikan Diana.
"Kenapa ?"tanya Aldo.
"Bukankah kamu juga membutuhkan seorang wanita di sampingmu ?. Tuhan sudah memberikannya, kenapa kamu meski menolaknya ?" tanya Mama Bunga tersenyum kepada Dokter Aldo.
"Karna aku menunggu jandamu !" jawab Dokter Aldo enteng.
"Hei ! kamu mendoakanku cepat mati ?" cetus Papa Arya." Meski pun aku mati, aku yakin istriku tidak akan mau kembali kepadamu !."
Enak saja mantan muridnya itu mengharapkan janda istrinya.
Sirin yang dari tadi duduk di samping Papanya berpindah mendekati Diana sahabatnya.
"Diana !" panggil Sirin, Diana mengalihkan pandangannya ke wajah Sirin.
Sirin mengulas senyumnya mengambil sebelah tangan Diana." Papaku sudah lama kesepian, apakah kamu mau menemani Papaku menghabiskan sisa usianya ?. Selama ini Papaku adalah pria yang kesepian, maukah kamu menjadi wanita yang selalu berada di sampingnya ?. Aku yakin Papaku akan memperlakukanmu dengan baik. Memang sih ! Papaku sudah tidak muda lagi. Tapi 'kan wajahnya masih terlihat tampan. Mau ya ?"
Diana diam dan menajamkan netranya ke wakah Sirin yang tersenyum kepadanya. Begitu juga dengan yang lainnya, semua diam memandang kedua sahabat itu.
Sirin mengarahkan pandangannya ke arah Reyhan, kemudian berbicara lagi."Bang Reyhan ! Sirin mohon, ikhlaskan Diana kepada Papa ya !. Sirin yakin, di luar sana ada wanita yang menunggu cinta pria sebaik bang Reyhan."
"Kamu dan Papamu sama saja, sama sama menyakitiku !" tangis Reyhan lagi.
Dulu Sirin yang terus meolaknya, dan malah di tikung adik sendiri. Setelah ia berhasil move on setelah bertemu Diana. Kini Papanya Sirin yang menikungnya. Kalian bisa bayangin seberapa sakit dan hancurnya hati Babang Reyhan 'kan ?.
"Sssstttt....!, ikhlas sayang !, semuanya akan indah pada waktunya" ucap Mama Bunga, menenangkan anaknya yang lagi hancur perasaannya.
Sirin berdiri dari samping Diana, berjalan mendekati Reyhan dan Mama Bunga. Sirin menurunkan tubuhnya, kemudian menarik Reyhan ke dalam pelukannya.
"Sirin memang tidak mencintai bang Reyhan. Tapi Sirin sangat menyayangi bang Reyhan."
"Hei hei hei ! sudah pelukannya. Enak saja kamu memeluk laki laki lain di depan suamimu sendiri. Aku cemburu Sirin !" Arsenio menarik Sirin supaya pelukannya lepas dari Reyhan.
Mama Bunga menggeleng gelengkan kepalanya, melihat anaknya yang sama cemburuannya dengan suaminya si burung gagak.
"Jadi bagaimana keputusan Papa ?" tanya Dokter Ghissam kepada Sang Papa.
Dokter Aldo menghela napasnya, menatap Diana yang masih menangis.
Dug dug dug dug......!
Tiba tiba detak jantung Dokter Aldo memburu melihat Diana, yang sudah sah menjadi istrinya. Membayangkan Diana tinggal dan tidur satu kasur dengannya. Lama Dokter Aldo terdiam sambil berpikir akhirnya ia pun bersuara.
"Saya akan membawanya pulang !" jawab Dokter Aldo.
Hitung hitung balas dendam kepada pria yang merebut kekasihnya dulu. Masalah cinta atau tidak cinta, biar urusan belakangan. Dokter Aldo yakin, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya sejalan seiring waktu.
"Saya sudah menikahkannya dengan anda, hak anda membawa putriku bersama anda Dokter Aldo" ucap Pak Basri. Sedangkan Istrinya dari tadi hanya bisa menangis saja tanpa bisa berkata apa apa.
.
.