Brother, I Love You

Brother, I Love You
252. Waktu yang tepat



Tiak lama Hani di pindahkan ke ruang perawatan. Nampak wajahnya mengernyit, mulai merasakan sakit, nyeri dan perih bekas sayatan di perutnya. Sepertinya efek obat bius di dalam tubuhnya sudah habis.


"Kenapa sayang?" tanya Bilal.


"Sakit !" ringis Hani.


"Selesai operasi memang seperti itu, akan terasa sakit di bekas sayatannya" ucap Yumna yang berada di ruangan itu dengan anggota keluarga lainnya.


Hani menangis, karna sayatan di perutnya terasa semakin sakit, dan tubuhnya pun mulai kedinginan sampai menggigil.


"Aku akan menghubungi Gaia!" Sirin mengeluarkan handphonnya dari tas kecilnya, dan langsung menghubungi putrinya.


"Abang !" tubuh Hani sampai bergetar karna menahan rasa sakit.


Melihat itu, Bilal pun menambah selimut Hani, namun itu tidak berpengaruh bagi Hani. Karna rasa dingin itu berasal dari dalam tubuhnya.


"Masih dingin ?" tanya Bilal


Hani menganggukkan kepalanya pelan.


Bilal naik ke atas brankar membaringkan tubuhnya di samping Hani, memeluk tubuh Hani dengan erat.


"Sudah mendingan ?" tanya Bilal lagi.


Hani menganggukkan kepalanya, namun bibirnya terlihat bergetar.


Siapa bilang, melahirkan secara cesar itu tidak sakit. Memang pada saat pengangkatan bayi dari dalam perut, tidak terasa sakit sama sekali. Tapi setelah pasca operasi, bekas sayatan itu terasa sangat perih dan nyeri bahkan membuat tubuh sampai menggigil.


Hani terus meringis kesakitan di dalam pelukan Bilal. Bilal kasihan melihatnya, namun ia tidak bisa berbuat apa apa selain memeluknya dan mengucapkan kata sabar. Sesekali Bilal mengecup pipi Hani dari samping dengan mata berkaca kaca.


Seandainya rasa sakit itu bisa di pindah. Bilal akan memintanya untuk di pindahkan ke tubuhnya. Tapi kembali lagi ke kodratnya, laki laki tidak bisa mengandung dan melahirkan.


"Kata Gaia sebentar lagi dia akan kesini" ucap Sirin setelah menghubugi putrinya.


Jean berdiri dari sofa, berjalan ke arah kaki Hani. Ia pun memijat mijat kaki Hani dan sedikit meremasnya. Untuk membantu menghangatkan dan melancarkan peredaran darah di kakinya.


"Kak Jean !" Hani menatap istri dari Darren itu. Hani merasa tidak enak hati Jean memijat kakinya.


"Gak apa apa !, biar kakimu enakan !" Jean mengulas senyumnya kepada Hani.


"Trimakasih Kak !" ucap Hani, matanya berkaca kaca karna terharu.


"Tidak perlu berterima kasih, kita ini sudah menjadi saudara" balas Jean lagi.


"Selesai memijat kaki Hani, tolong pijat punggungku!" ujar Yumna kepada Jean.


Di antara menantu keluarga Alfarizqi itu, Yumna umurnya yang paling tua. Meski dia adalah menantu yang kedua.


Jean hanya diam saja dan mengulas senyumnya. Dia tau kalau Yumna hanya bercanda.


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dari luar. Gaia datang bersama satu orang perawat membawa obat obatan. Gaia mendekati brankar, dan langsung menyuntikkan obat ke selang infus Hani.


"Paman ! Tante Hani di kasih banyak minum air hangat ya !" ucap Gaia kepada Bilal.


"Mana bayi nya ?, kami ingin melihatnya"potong Sirin langsung, belum sempat Bilal mengiyakan ucapan Gaia.


"Bersama Annisa di ruanganku !" jawab Gaia tersenyum.


Mereka tidak tau, dari tadi Gaia dan Annisa sibuk bermain main dengan bayi tampan menggemaskan itu di ruangannya.


"Kami dari tadi menunggu di sini, ternyata bayi itu kalian sandra. Makanya menikah, biar memiliki bayi sendiri" oceh Queen, mencibir putri sahabatnya itu.


"Oh Momy Queen !, aku pun sudah menginginkan menikah, tapi aku belum menemukan calon yang tampan dan mapan" balas Gaia.


"Jangan terlalu milih milih, ntar kamu jadi perawan tua!" cibir Queen lagi.


Puk !


Satu pukulan mendaran di bahu Queen.


"Sakit tau Sirin !" kesal Queen, kaget dengan pukulan Sirin yang tiba tiba.


"Kau suka sekali mengatai putriku perawan tua!. Gak sadar? anakmu yang sudah menjadi perjaka tua !" cetus Sirin mencibir.


"Assalamu alaikum Para Tante !" seru suara nyaring itu.


Sontak menghentikan perdebatan Queen dan sirin. Dan para wanita lansia itu pun menoleh ke arah pintu. Terlihat Annisa mendorong brankar bayi masuk ke ruang perawatan itu. Mereka semua langsung berdiri dari tempat duduk masing masing, mendekati Bayi itu dan Annisa. Semua tersenyum melihat bayi laki laki berwajah tampan yang memiliki kemiripan dengan sang Kakek.


"Abang ! pengen bayi nya !" rengek Hani dari atas brankar, seketika rasa sakitnya mereda melihat bayi nya di bawa masuk ke ruang peraqatannya. Tadi dia hanya sebentar melihat bayi itu saat di ruang operasi.


"Iya sayang !" Bilal tersenyum, ia pun sudah merindukan bayi mereka itu.


Bilal turun dari atas brankar, melangkahkan kakinya ke arah bayi mereka. Bilal mengambil bayi itu tanpa permisi kepada wanita wanita tua itu. Membuat mereka gemas bersamaan.


"Bilal !!!" pekik ke lima menantu ratu sejagat itu. Mereka ingin mengambil bayi itu, menggendongnya secara bergilir, malah Bilal mengambilnya duluan.


"Oe oe oe oe ....!" bayi yang belum di ketahui namanya itu sontak menangis karna terkejut di gendongan Bilal.


"Sayang ! jagoan Ayah !" Bilal menimang nimang bayi nya di dalam dekapannya.


Bayi itu adalah ahli waris Bilal. Penerus darah keturunannya kelak. Setelah sekian lama, Bilal tidak menyangka, dia akan di berikan anak laki laki. Bilal berharap bayi itu nanti menjadi penerus dakwahnya di masa depan.


Bayi di gendongannya akhirnya diam, Ia pun membaringkannya di samping Hani.


Hani tersenyum, wajahnya berbinar melihat bayinya. Tangannya terulur menyentuh pipi cabi bayi itu, sangat lembut. Kemudian Hani menyentuh ujung hidungnya, berpindah menyentuh kedua alisnya bergantian. Kemudian Hani mengangkat kepalanya untuk mencium kening dan pipi bayi nya.


"Dagunya mirip denganmu !" ucap Bilal tersenyum memperhatikan wajah bayi mereka.


"Bibirnya, alisnya, pipinya, hidungnya mirip Abang" Hani mengerucutkan bibirnya. Karna anak mereka dominan mirip Bilal.


"Yang mirip Annisa gak ada. Pasti nanti orang mengira aku Tante nya" Annisa menimpali, ikut memperhatikan wajah bayi mungil itu.


"Dia ada miripnya dengan Yasmin !" tambah Hani, bermaksud menggoda Annisa.


"Aku memang cucu Nenek!" Annisa mengerucutkan bibirnya.


"Kamu dan Gaia memang wajahnya paling mirip dengan Mama Bunga!" Queen ikut menimpali obrolan keluarga kecil itu.


"Aku dan Kak Gaia cucu kesayangan Kakek !" Annisa mengembangkan senyumnya. Mengingat sang Kakek yang lebih sayang dan perhatian kepada mereka di banding kepada cucu cucu yang lainnya.


"Itu karna wajah kalian berdua duplikat dari wajah Mama Bunga" ucap Sirin dari sofa yang di dudukinya.


"Namanya siapa Yah ?" tanya Annisa mengelus lembut kening adiknya yang baru lahir itu.


Semua para Ibu yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Bilal, termasuk Hani. Menunggu jawaban Bilal, siapa kira kira nama bayi yang baru lahir itu?.


"Muhammad Hanif Rhamadan Alfarizqi" jawab Bilal." Panggilannya..Han !" lanjutnya.


Hani tersenyum, menyetujui nama anak mereka itu. Malah Hani sangat senang dengan nama yang di berikan Bilal, karna ada namanya terselip di dalamnya.


"Hai dedek Han !" sapa Annisa kepada adik beda Ibunya itu tersenyum ramah.


.


.


Malam hari, di ruang perawatan itu hanya tinggal Bilal dan Hani, karna semua anggota keluarga mereka sudah pulang ke rumah masing masing, termasuk para Paman baby Han dan sepupu sepupunya.


Tok tok tok !


"Masuk !" sahut Bilal, mendengar pintu di ketok dari luar.


Pintu itu langsung terbuka, nampak seorang perawat mendorong brankar bayi. Bilal yang duduk di samping brankar langsung berdiri.


"Pak ! Bu !, bayi nya waktunya menyusu ya !" ucap Perawat itu, mengambil bayi itu dari atas brankar memberikannya kepada Bilal.


"Iya Sus ! terimakasih!" Bilal tersenyum menerima bayi itu, kemudian memberikannya kepada Hani yang duduk bersandar di kepala ranjang dengan menggunakan bantal.


Perawat itu pun keluar dari dalam ruang perawatan Hani.


Hani pun langsung memberinya Asi. Hani tersenyum melihat mulut baby Han mencari cari sumber nutrisinya.


"Anak Umi haus ya ?, lapar ya ?." Hani membatu baby Han untuk mendapatkan sumber nutrisinya. Baby Han langsung melahapnya rakus.


Cup !


Langsung Hani mendongakkan kepalanya, karna mendapatka satu kecupan di keningnya. Hani semakin mengulas senyumnya dengan mata berbinar bahagia.


Saat ini Hani terlalu bahagia, dengan limpahan rahmat, rhido dan karunia yang Tuhan berikan kepadanya.


Bilal yang tersenyum kepadanya pun, menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Hani. Kemdian menciup kening Hani, turun mencium kedua kelopak matanya, kedua pipinya, hidungnya, terakhir Bilal mengecup bibir Hani. Kembali Bilal memandang wajah Hani.


"Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan Hani ?." Bilal mengecup bibir Hani lagi, tapi tidak hanya sekedar mengecupnya, melainkan menciumnya mesra.


Setelah melepas ciuamannya Bilal berkata sambil tangannya melap bibir Hani yang basah." Aku mencintaimu !."


Hani tersenyum," Aku tau itu !, aku bisa melihat dari wajahmu, tatapan matamu, kalau.." Hani menggantung kalimatnya, meletakkan telapak tangannya di dada Bilal.


"Kalau aku ada di dalam sini !" lanjutnya.


.


.


Kilas balik


"Ustadz Bilal !"


Bilal yang di teriaki santriwati sanawiah itu langsung membalik badannya.


"Ada apa Ukhti ?" mata Bilal menyipit karna ia pas di bawah terik mata hari, memperhatikan gadis bertubuh kurus itu berlari ke arahnya.


"Kalau kamu tidak mau menembakku sekarang. Aku yang akan menembakmu !. Aku akan mengakui cintaku kepadamu di depan para santri di sini!" jawab Hani.


"Lakukan saja !" Bilal menahan senyumnya, dia ingin melihat sampai dimana keberanian Hani.


"Okeh !" Hani kesal karna Bilal tidak melarangnya untuk mempermalukan dirinya. Hani memandang Bilal marah.


Namun Bilal hanya tersenyum tipis.


Melihat itu, Hani menghentakkan satu kakinya ke tanah.


"Cepat lakukan Hani, di sini panas !. Lama lama aku bisa kekeringan dan menghitam di sini !" ucap Bilal.


"Dasar cowok menyebalkan !" cetus Hani kepada laki laki yang duduk di kelas satu Aliah itu.


Bilal memeletkan sedikit lidahnya kepada Hani, setelah melihat ke sekitar mereka tidak ada orang yang memperhatikan mereka, lalu mengulum senyumnya.


"Ustadz Bilal Al Biruni Aaryan Putra Alfarizqi !!!"


Mendengar teriakan Hani, sontak para santriwan dan Santriwati beserta para Ustadz dan Ustadzah yang sedang berada di sekitar pembatas santri putra dan putri menoleh ke arah Hani dan Bilal.


"Aku mencintaimu !!!"


"Katakan !!! kalau kamu juga mencintaiku Ustadz !!!"


Bilal terdiam, memperhatikan wajah Hani yang nampak merah saat berteriak teriak. Bilal tidak tau harus berbuat apa, sekarang mereka sudah di kerumuni orang orang.


"Aku tau kalau kamu juga mencintaiku !!!"


"Ngaku Ustadz !!!"


Aku juga mencintaimu Hani, tapi hubungan apa yang pas untuk kita, jika aku mengakui cintaku kepadamu sekarang. Aku takut nanti, aku di keluarin dari sekolah ini Hani. Aku gak mau itu terulang kedua kalinya. Batin Bilal, membungkam bibirnya rapat rapat tanpa melepas netranya dari wajah Hani.


"Katakan !!! kalau kamu juga mencintaiku Ustadz !!!" Teriak Hani lagi, karna Bilal hanya diam saja.


"Hani ! apa yang kamu lakukan ?. Kenapa kamu mempermalukan dirimu ?" Amar yang berhasil menerobos kerumunan, menarik tangan Hani. Membawanya dari keruman para santri.


"Kenapa ? apa salah mengakui cinta sama laki laki ?" Hani mengerucutkan bibirnya, mengikuti langkah Amar karna terur di tarik.


"Tidak ada yang salah mengakui cinta. Yang salah itu caramu !. Kamu membuat malu dirimu" terang Amar.


"Aku gak malu !" ujar Hani.


Bilal memutar tubuhnya setelah semua orang bubar, melanjutkan langkahnya menuju asrama putra.


Tunggulah waktu yang tepat Hani, aku akan mengakui cintaku kepadamu !.


Off


.


.


.


.


.