
Sampai di dalam kamar Arsenio dan Sirin. Dokter Aldo langsung mengambil baby Arsi dari dalam box bayi, membawanya ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana. Sedangkan Diana ia naik ke atas tempat tidur, mendudukkannya di depan Sirin yang lagi makan di suapi Arsenio.
"Makanannya enak !" ucap Diana menelan air liurnya, melihat sayur daun katuk yang di rebus dengan jantung pisang. Sontak Dokter Aldo menoleh ka arah ranjang.
"Mau ?" tanya Arsenio.
Diana menganggukkan kepalanya
"Suruh di masak suamimu !" ujar Arsenio
Diana langsung terdiam dan pandangannya berubah teduh, dan hampir menangis.
"Arsen !" tegur Sirin.
"Sayang !" panggil Dokter Aldo berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah ranjang.
"Mau ?" tanyanya kepada Diana yang sudah menundukkan pandangannya.
Diana menganggukkan kepalanya.
"Di dapur masih ada Papa mertua !" ucap Arsenio, menyesali perkataannya kepada Diana sebelumnya. Karna melihat Diana bersedih.
"Tunggu sebentar sayang ! biar aku ambilkan" ucap Dokter Aldo, meletakkan baby Arsi di dalam box bayi.
Diana pun mengangguk patuh, Dokter Aldo pun segera keluar dari kamar itu.
"Maaf mama mertua kecil, tadi aku hanya bercanda" ucap Arsenio kepada Diana.
"Gak apa apa !" balas Diana menunduk.
Sirin mengambil piring dari tangan Arsenio. Kemudian menyendok nasi beserta sayurannya, menyuapkannya ke mulut Diana.
"Adikku ingin makan satu piring dengan kakaknya 'kan ?" tanya Sirin, karna Diana diam menatapnya dan tidak membuka mulutnya." Ayo buka mulutnya !"ucap Sirin tersenyum, memahami sifat Diana yang lagi sensitif.
Perlahan Diana pun membuka mulutnya, menerima suapan dari Sirin.
"Adikku itu sepertinya sangat manja" ucap Sirin lagi.
"Iya !, Sama Ghissam juga dia seperti itu. Suka meminta makanan yang di makan Ghissam." wajah Diana berubah cerah seketika, sambil tangannya mengusap perutnya yang mulai nampak menonjol.
"Dia adik kami, wajar dia manja sama kami !" balas Sirin menyuapkan makanan ke mulut Diana lagi.
Tak lama kemudian Pintu kamar itu terbuka, Dokter Aldo masuk membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air minum di atasnya. Di ikuti Papa Arya dan seorang laki laki paruh baya, memakai baju koko, sarung dan kopiah di kepalanya. Bersama Mama Bunga, Queen, Elang, Reyhan dan Yumna dari belakang.
"Pak Ustadz !" sapa Arsenio berdiri dari tempat duduknya menyalam tangan seorang ustadz yang bertugas menjadi imam di masjid lingkungan mereka itu." Silahkan duduk Pak Ustadaz !." Arsenio mempersilahkan ustadz yang akan menikahkannya itu lagi dengan Sirin.
"Trimakasih !" balas Ustadz itu tersenyum ramah.
"Sayang ! tolong suapin Mama kecilnya ya !. Papa harus menikahkanmu dengan Arsen lagi." Dokter Aldo memberikan nampan di tangannya kepada Sirin yang menyuapi Diana makan.
"Iya Pah !" Sirin menerima nampan dari Dokter Aldo.
Dokter Aldo melangkahkan kakinya ke arah sofa, dan mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong.
"Bagaimana ?, apa kita sudah bisa memulainya ?" tanya Ustadz itu.
"Sudah Pak Ustadz !" jawab Arsenio
"Gak usah buru buru !, ingat kamu lagi puasa !" ujar Queen.
Arsenio memutar bola matanya malas, dia tidak buru buru, dia memikirkan pak ustadz yang sengaja mereka undang, mana tau ustadznya mempunyai urusan lain, tidak bisa berlama lama.
"Kalau begitu kita mulai saja !" ucap Ustadz itu lagi.
"Baik Pak Ustadz !" balas Arsenio.
Ijab kabul pun segera di mulai, Dokter Aldo mengulurkan tangannya ke arah Arsenio yang duduk di depannya. Yang langsung di terima Arsenio. Sekali lagi, Dokter Aldo menyerahkan Sirin putrinya kepada Arsenio.
"Alhamdulillah !" ucap semua orang yang ada di ruangan itu, setelah selesai ijab kabul dan berdoa.
Selesai acara ijab kabul, Papa Arya dan Dokter Aldo, pun mengantar Pak Ustadz yang mereka undang ke depan rumah.
"Trimakasih Pak Ustadz !" ucap Papa Arya tersenyum, menyalam tangan ustadz tersebut, menyelipkan sebuah aplop berisi duit ketangan ustadz teraebut.
"Sama sama Pak Arya !" balas ustadz itu tersenyum ramah." Tapi ini sepertinya tidak perlu Pak Arya !" ucapnya lagi melihat amplop di tangannya.
"Itu rejekinya pak Ustadz !" balas Papa Arya.
"Saya merasa tidak enak hati !, mengurus masalah keagamaan di lingkungan ini memang sudah menjadi tugas saya. Dan saya sudah mendapatkan upah saya dari pengurus masjid !" ucap Pak Ustadz itu lagi.
"Pak ustadz lebih tau hukum menolak rezeky !" ujar Pak Arya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu !, saya terima rezeky dari Pak Arya. Saya do'akan semoga rezekynya semakin melimpah dan berkah" balas Pak Ustadz tersebut, memasukkan amplop pemberian Pak Arya ke saku baju kokonya.
"Amin !" ucap Pak Arya.
Dokter Aldo pun menyalam Pak Ustadz tersebut, dan mengucapkan trimakasih.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu !, Assalamu alaikum !" pamit Ustadz itu kemudian mengucap salam.
"Walaikum salam !" balas Pak Arya dan Dokter Aldo bersamaan.
Ustadz itu pun pergi.
Pak Arya dan Dokter Aldo sama sama memutar tubuh mereka kembali masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana ?, apa kita akan mensegerakan resepsi pernikahan Sirin dan Arsenio. Sekalian saja kita membuat acara akhikah Arsi, Sabina dan Syauqi !" tanya Pak Arya, mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Jika menunggu Arsen lulus SMA sepertinya itu kelamaan " ucap Papa Arya lagi.
"Apa tidak berpengaruh dengan sekolah Arsen ?, jika orang orang tau kalau dia sudah menikah ?" tanya balik Dokter Aldo, mendudukkan tubuhnya di sofa berseberangan dengan Papa Arya.
"Tidak usah mengundang pihak sekolah !" jawab Papa Arya.
Dokter Aldo hanya menghela napasnya.
"Orion dan Queen sudah di buatkan resepsi, begitu juga dengan Reyhan dan Yumna. Aku tidak mau anak anak sampai menilaiku bersikap tidak adil" ucap Papa Arya lagi.
"Bagaimana baiknya saja !, aku setuju setuju saja !" balas Dokter Aldo, menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dan merentangkan kedua tangannya.
"Bagaimana denganmu dan Diana ?, apa kamu tak ingin membuat resepsi ?" tanya Papa Arya, mengingat mantan terindah istrinya itu belum mengadakan resepsi pernikahan dengan istri cabe cabeannya.
"Membuat !, tapi sepertinya tunggu Diana agak sehat dulu. Kalau sekarang pasti dia tidak kuat untuk mengadakan resepsi" jawab Dokter Aldo.
"Atau sekalian saja semua acaranya di satukan !" usul Papa Arya.
"Tidak !, Itu nanti akan sangat melelahkan, sedangkan Diana tubuhnya masih lemah. Biarkan Sirin dan Arsen dulu !" ujar Dokter Aldo.
Perbincangan kedua pria yang tidak lagi muda itu pun terus berlanjut hingga malam hampir larut.
"Papa mertua ! mertua kecil ketiduran di kasurku !."
Sontak Dokter Aldo dan Papa Arya menoleh ke arah Arsenio yang tiba tiba datang.
"Aku sudah lelah dan ngantuk ! mau tidur !" ujar Arsenio lagi, lalu memutar tubuhnya kembali ke arah kamarnya dan Sirin.
"Sepertinya aku dan istriku harus pulang !" ujar Dokter Aldo, berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya masuk ke kamar Arsenio dan Sirin, di ikuti Papa Arya, karna istrinya juga masih di dalam kamar itu.
"Tidurlah di sini !, kamu dan istrimu bisa menempati kamar Darren" tawar Papa Arya, melihat malam sudah menunjukkan jam sebelas malam.
"Tidak usah !, kami pulang saja !" tolak Dokter Aldo.
"Iya Al ! kasiahan istrimu, nanti tidunya bisa terganggu. Dan juga sepertinya akan turu hujan, bahanya kalau kalian pulang larut malam begini" timpal Mama Bunga.
"Ya udah !" Dokter Aldo menghela napasnya, melihat istrinya yang tertidur pulas di atas kasur. Dokter Aldo pun mengangkat tubuh Diana, menggendongnya keluar kamar Arsenio dan Sirin, membawanya masuk ke kamar sebelahnya.
"Darren ! kamu pindah gih ! ke kamar Elang !, om sama tente mau tidur di sini" ucap Dokter Aldo, meletakkan tubuh Diana di atas kasur.
"Tumben Om nginap di sini ?" Darren langsung turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya.
"Satu malam empat juta Om !" ujar Darren kemudian menutup pintu kamarnya dari luar.
"Cih ! kamar seadanya begini sewanya empat juta !" gumam Dokter Aldo mencibir. Kemudian merebahkan tubuhnya di samping Diana yang tidak sadar tubuhnya sudah pindah kamar.
Dokter Aldo pun merapatkan tubuh mereka, memeluk Diana erat, lalu mengecup pipinya dari samping.
.
.
Di tempat lain, Orion yang baru pulang, memarkirkan mobilnya langsung ke garasi. Orion turun dari dalam mobil langsung masuk ke dalam rumah. Rumah nampak sudah sunyi, pertanda semua penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamar. Orion melangkahkan kakinya menaiki anak tangga ke lantai dua rumahnya dan Queen. Sampai di lantai dua, Orion membuka pintu kamarnya denga pelan. Melihat jam sudah larut mala, Orion mengira Queen dan kedua anaknya sudah tidur.
Saat Orion melangkah masuk ke dalam kamar, Orion tidak melihat Queen dan kedua anaknya di dalam kamar, dan tempat tidur terlihat rapi.
Kemana mereka ?, batin Orion menghela napasnya.
Orion pun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Orion langsung keluar hanya dengan memakai handuk di lilit di pinggangnya. Orion berjalan ke arah lemari, memgambil mengambil pakaian lalu mengenakannya. Setelah itu, Orion pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, karna tubuhnya yang terasa sangat lelah. Orion pun memejamkan matanya untuk tidur, berpikir kalau Queen dan anak anaknya pergi ke rumah mertuanya.
.
.
Pagi hari, Orion yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, keluar dari dalam kamar menuruni anak tangga turun ke lantai bawah. Orion langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar.
"Pak !, saya sudah siapin sarapan di meja makan !" ujar ibu Uul kepada Orion yang lagi sibuk menyapu di ruang tamu.
"Ibu saja yang memakan, saya buru buru gak sempat untuk sarapan Bu !" balas Orion, langsung keluar rumah.
Orion yang sudah masuk ke dalam mobilnya, langsung melajukannya keluar dari pekarangan rumahnya, melajukannya menuju kampus. Pekerjaannya sangat banyak, setelah ke dari kampus nanti, ia harus menemui orang yang akan menanam saham di perusahaan yang akan ia rintis. Sehingga untuk menemui istri dan anak anaknya ia tak sempat.
.
.
"Habib !" panggil Yumna, masuk ke dalam kamar mereka. Yumna melangkahkakinya ke arah pintu kaca yang terbuka ke arah balkon kamar mereka, dengan membawa segelas jus anggur di atas nampan.
"Ini minumnya habib !" ucap Yumna, meletakkan nampan di tangannya di atas meja.
"Letakin di atas meja aja sayang !" balas Reyhan yang lagi sibuk pus up di atas matras.
Yumna tersenyum, melihat Reyhan sangat seksi dengan tubuh berkeringat. Yumna melangkahkan kakinya ke arah Reyhan, kemudian mendudukkan tubuhnya di atas punggung Reyhan, bersila di atasnya.
"Sayang !" suara Reyhan terdengar mengeram, menahan beratnya tubuh Yumna di atas tubuhnya.
" Ayo habib pasti bisa !" ucap Yumna tersenyum, sambil memakan cemilan kuaci di atas tubuh Reyhan yang lagi pus up.
"Apa kamu ingin menguji kekuatanku Almira ?."
"Hm..!"
"Ah ! sayang ! kamu sangat berat, bisa bisa nanti malam aku gak punya tenaga untuk memanjakanmu !" ucap Reyhan. Tubuhnya nampak sudah gemetar, menahan istrinya yang duduk santai menikmati cemilan di atas tubuhnya.
"Aku yang akan memanjakan habib !" balas Yumna. Yumna meletakkan cemilannya di lantai, kemudian merebahkan tubhhnya dengan posisi tengkurap di atas tubuh Reyhan. Yumna memeluk tubuh Reyhan, meremas mesra kedua dada Reyhan.
"Sayang ! Aa !!" teriak Reyhan, menjatuhkan tubuhnya ke atas matras. Karna merasakan geli di dadanya.
Kemudian Reyhan membalik tubuhnya, membiarkan Yumna jatuh ke lantai. Kemudian memindahkan Yumna ke atas tubuhnya dengan posisi tengkurap juga.
"Ini masih pagi sayang, kamu sudah menggodaku !" ucap Reyhan, merapikan anak anak rambut Yumna yang berantakan di wajahnya.
"Aku tidak tahan melihat tubuh habib yang seksi ini !" balas Yumna, kemudian mengecup bibir Reyhan dan langsung melepasnya.
"Aku tau itu !, dari awal bertemu kamu sudah naksir melihatku yang tampan, manis dan macho ini !." Reyhan memuji dirinya sendiri dengan percaya dirinya.
"Aku juga cantik habib !" Yumna mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pikir aku menyuakimu karna apa ? Hm..!. Kalau bukan karna kamu cantik Almiraku sayang !" ucap Reyhan, mengecup bibir Yumna kilas.
"Darimana habib tau dulu aku cantik ?, sedangkan dulu aku memakai cadar" tanya Yumna, wajahnya nampak berbinar.
"Batinku mengatakan seperti itu sayang !" jawab Reyhan, mengecup bibir Almira lagi, melepasnya lagi dan mengecupnya lagi.
Perlahan Reyhan mengulurkan tangannya ke leher belakang Yumna, meremas pelan rambutnya. Kemudian Reyhan mengecup bibir Yumna lagi, menciumnya mesra yang langsung di balas Yumna tidak kalah mesra. Sampai ciuman itu berlangsung lama, hingga bibir keduanya terasa panas dan kebas, baru Reyhan melepasnya pagutan mereka.
"Jangan pernah meninggalkanku Almira !" ucap Reyhan memandang wajah Yumna penuh cinta.
Yumna mengulas lembut senyum di bibirnya, senyum yang selalu berhasil menyejukkan hati Reyhan.
"Habib adalah laki laki yang kupinta di dalam doaku. Bagiamana bisa aku meninggalkan habib ?. Sedangkan hati ini sangat mencintai habib, bahkan sebelum kutau siapa nama Habib !" balas Yumna.
Reyhan menurunkan Yumna dari atas tubuhnya, membaringkannya di sampingnya, lalu memeluknya erat." Aku juga sangat mencintaimu Almira, jantung ini berdetak sangat kencang, sampai hati ini bergetar hebat, saat aku mengucapkan ijab kabul, menghalalkanmu untuk menjadi bidadariku waktu itu. Aku yakin saat itu kalau aku mencinyaimu tanpa syarat" ucap Reyhan mengecup kening Yumna.
"Apa itu karna Habib tau kalau aku cantik ?" tanya Yumna.
"Baik dan soleha !" jawab Reyhan." Aku mencintaimu karna Agamamu !" ucap Reyhan lagi.
Reyhan mendudukkan tubuhnya, kemudian mengangkat tubuh Yumna. Menggendongnya ala bridal style masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan menggunakan kakinya. Reyhan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, meletakkan tubuh Yumna dengan sangat hati hati di atasnya.
Entah apa yang terjadi, satu persatu pakaian mereka berjatuhan ke lantai. Dan terdengar suara suara aneh dan halus memenuhi ruangan itu.
Hingga waktu berlalu, kini keduanya sama sama keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk di tubuh masing masing.
"Habib nanti nginap semalam ya ! saat menjemput Yumna" ucap Yumna, mengeluarkan baju untuk Reyhan dan untuknya dari dalam lemari. Hari ini ia akan berangkat ke kota B, berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Iya sayang !, maaf ya ! habib gak bisa mengantar Almira !" balas Reyhan. Karna ia ada pertemuan mendadak dengan pemilik perusahaan yang memberinya proyek.
"Gak apa apa habib !, Bang Najib akan mengantarku !" ucap Yumna.
"Abang iparku itu baik sekali !, aku akan mengucapkan terimakasih padanya nanti di bandara" balas Reyhan kepada abang ipar yang selalu mengejeknya si kembalian empat ribu.
"Itu harus !" ucap Yumna tersenyum.
Reyhan yang masih memakai handuk, menarik tubuh Yumna merapat ke tubuhnya. Reyhan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Yumna, menatap Yumna dengan mata genitnya.
"Habib ! nanti Yumna bisa ketinggalan pesawat !" tegur Yumna, merasakan Reyhan menggesek gesek pinggangnya ke pinggangnya.
"Pasti aku kangen dengan tubuhmu ini sayang !" ucap Reyhan."Kamu belum berangkat saja, burung untaku sudah protes" ucap Reyhan lagi.
"Kita kan baru selesai melakukannya Habib !" rengek Yumna. Kenapa suaminya itu genit sekali saat ia mau berangkat.
"Oh sayang ! kenapa rasanya aku tidak tega kamu tinggalin. Andainya pekerjaanku tak banyak, aku sudah ikut kemana pun kamu pergi" Reyhan memeluk erat tubuh Yumna.
Yumna mengerucutkan bibirnya,"Habib juga sering ninggalin Yumna" ucapnya.
"Tapi rasanya beda, saat kamu yang akan meninggalkanku !" balas Reyhan.
"Habib ! nanti Yumna bisa telat !" tegur Yumna lembut, karna Reyhan enggan melepas pelukannya.
"Uh ! sayangku ! muah muah muah muah !" Reyhan mencium seluruh wajah Yumna dengan gemas.
.
.
#2304 kata, kasih othor semangat dong !