Brother, I Love You

Brother, I Love You
188. Pemilik ranjangku



Malam hari Reyhan dan Yumna keluar dari salah satu restoran di kota B. Reyhan baru selesai mengadakan pertemuan dengan seorang pengusaha, ditemani Yumna. Untuk membicarakan proyek pembangunan apartemen di kota tersebut.


"Apa Habib akan menyetujui proyeknya ?" tanya Yumna, melangkahkan kakinya ke arah mobil miliknya.


"Habib harus mempelajarinya dulu sayang !. Habib tidak boleh gegabah mengambil keputusan, apa lagi ini adalah proyek yang paling besar Habib tangani. Tiga gedung apartemen sekaligus" jawab Reyhan.


Setelah Yumna masuk duduk di kursi kemudi, Reyhan pun menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang depan.


"Jalan jalan yuk !" ajak Yumna.


"Kemana ?" tanya Reyhan, bergelayut manja di lengan Yumna yang sedang menyetir.


"Keliling keliling kota aja !" jawab Yumna."Yumna pengen sekali makan otak otak ikan" ucap Yumna lagi.


"Makanan apa itu ?" Reyhan mengerutkan keningnya, baru mendengar nama makanan yang di sebut Yumna.


"Makanan khas pribumi sini !. Makanannya terbuat dari daging ikan, di bungkus di dalam daun kelapa, kemudian di panggang di atas bara" jawab Yumna.


"Apa anak kita sudah tumbuh di sini ?" Reyhan mengelus perut Yumna dengan satu tangannya. Reyhan berharap istrinya itu lagi ngidam.


Yumna mengulas senyumnya, menyentuh tangan Reyhan yang berada di perutnya." Mudah mudahan mengabulkan doa kita Habib !" ucapnya.


"Amin !" balas Reyhan.


Yumna pun menghentikan laju kenderaannya di pinggir jalan, di depan penjual otak otak, jajanan kesukaannya. Yumna membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, di ikuti Reyhan dari pintu sebelahnya.


"Bu ! otak otaknya seratus biji ya !" ucap Yumna kepada ibu ibu yang sibuk memanggang otak otak dagangannya di atas bara.


"Iya dek !" jawab si ibu penjual otak otak itu. Dan langsung menyiapkan pesanan Yumna. Karna kebetulan pembeli lagi sunyi.


Setelah selesai langsung memberikannya kepada Yumna. Dan Yumna pun langsung menerimanya dan membayarnya.


Reyhan dan Yumna pun kembali ke dalam mobil.


"Apa enak ?" tanya Reyhan


"Enak !" jawab Yumna, mengeluarkan satu biji otal otak, mengupasnya lalu mengambil isinya, menyuapkannya ke mulut Reyhan.


Reyhan pun mengunyah otak otak itu, menikmatinya perlahan.


"Gimana ? enak ?" tanya Yumna.


"Enak ! tapi terlalu kecil kecil !" jawab Reyhan.


Yumna memutar bola matanya, kalau soal makanan, suaminya itu selalu porsi jumbo. Yumna pun membuka lima biji otak otak, kemudian sekali menyuapkannya ke mulut Reyhan. Membuat mulut suami butok ijonya itu menjadi penuh.


"Gimana ? enak ?" tanya Yumna lagi.


"Jahil kamu Yang !" jawab Reyhan terdengar kumur kumur.


Yumna malah tertawa kecil, sambil memberikan air minum kepada Reyhan. Yumna pun melajukan kenderaannya kembali ke jalan raya. Melanjutkan perjalanan mereka keliling keliling Kota.


Sedangkan Reyhan yang duduk di samping Yumna, ia sibuk memakan otak otak. Sambil memperhatikan jalan di depannya. Setelah mereka bosan, barulah mereka pulang ke rumah.


Yumna memarkirkan kenderaannya di halaman rumah orang tuanya. Dan mereka pun langsung turun, dan berjalan ke teras rumah. Di sana Pak Yudhi sedang duduk duduk sambil minum kopi, di temani Ibu Tika.


"Assalamu alaikum !" ucap Reyhan dan Yumna bersamaan. Mereka pun menyalam tangan kedua orang tua itu.


"Walaikum salam !" balas Pak Yudhi dan Ibu Tika.


Reyhan dan Yumna pun mendudukkan tubuh mereka di kursi kosong.


"Gimana ? lancar ?" tanya Pak Yudhi, kemudian mencomot pisang goreng yang di taburi keju dan susu di atasnya dari atas piring.


"Belum Pah !" jawab Reyhan.


Pak Yudhi mengangguk saja, Sudah paham dengan Dunia bisnis.


"Yumna ! sana ambil minum buat suamimu !" suruh Ibu Tika kepada putrinya.


"Iya Momy !" patuh Yumna, beranjak dari tempat duduknya.


"Yumna gak banyak merepotkan 'kan nak ?" tanya Ibu Tika kepada Reyhan. Karna sebenarnya putrinya itu aslinya adalah pemalas.


Reyhan mengulas senyumnya," nggak Bu !" jawabnya.


"Yang ada sepertinya menyebalkan karna sering kentut !, dan suka ngupil pake jari orang"celetuk Pak Yudhi, yang sudah sering menjadi korban putri kesayangannya itu.


"Sepertinya kebiasaan buruknya itu sudah tidak bisa di robahnya Pah !" balas Reyhan semakin melebarkan senyumnya.


"Anak itu sangat manja, Ibu kawatir dia tidak tau tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri" ucap Ibu Tika.


"Yumna rajin kok Bu !" balas Reyhan.


"Kalian ngomongin aku ya ?, dosa loh ! ngegibah !" Yumna berbicara mengerucutkan bibirnya, sambil meletakkan segelas kopi dan air putih di atas meja.


"Kalau gibahin si tukang kentut gak dosa kali !" cibir Pak Yudhi, melihat Yumna dari sudut matanya.


"Mana ada sekarang Yumna tukang kentut !, kalau gak percaya tanya aja Habibnya Yumna !" balas Yumna, mendudukkan tubuhnya di kursinya tadi, lalu menyenderkan kepalanya ke lengan PaK Yudhi.


Sekarang mumpung lagi pulang kampung, Yumna punya kesempatan bermanja manja kepada sang Papa.


"Kamu itu sudah nikah, masih bergelayut manja sama Papa !" tegur Pak Yuhdi, mengusap kepala putri tersayangnya.


"Yumna kangen sama Papa !" ucap Yumna.


"Ada suamimu apa kamu gak malu ?" tanya Pak Yudhi lagi.


"Habib juga sering bergelayut manja sama Mama Bunga !. Gantian !, mumpung Yumna di sini, Yumna ingin bermanja manja sama Papa !" jawab Yumna.


"Iya Pah ! gak apa apa !" ujar Reyhan. Semenjak menikah empat bulan yang lalu, baru kali ini Yumna mengunjungi orang tuanya. Reyhan paham kalau istrinya itu pasti merindukan kedua orang tuanya.


"Nak Reyhan berapa hari di sini ?" tanya Ibu Tika.


"Besok Reyhan harus balik Bu !. Kalau Ibu sama Papa masih kangen dengan Yumna, gak apa apa, Yumna di sini dulu. Nanti kalau Reyhan ada waktu, Reyhan akan datang ke sini. Dan kebetulan Reyhan akan ke kota lain, mengecek proyek yang sedang berjalan" jawab Reyhan.


Ibu Tika mengulas senyumnya," trimakasih nak ! sudah mengerti Ibu !" ucapnya.


Reyhan membalas senyuman Ibu mertuanya itu, lalu menganggukkan kepalanya.


Pak Yudhi menghela napasnya pelan, mendengar menantunya itu ternyata sering pergi ke kota lain. Itu artinya putrinya sering di tinggal tinggal. Pak Yudhi menjadi waswas, cerita hidup di masa lalunya, terulang kembali kepada putrinya.


"Yumna putri kesayanganku !, Yumna adalah penyelamat rumah tanggaku dengan Ibunya. Jika dulu Yumna tidak hadir di dalam perut Ibunya. Mungkin istriku ini tidak mau lagi melanjutkan pernikahan kami" ucap Papa Yudhi, menceritakan sedikit masa lalunya.


"Tidak mudah mencintai dua wanita dalam satu waktu. Baik aku, istri pertama atau kedua, diantara kami bertiga tidak ada yang bahagia. Kami bertiga sama sama menderita pada saat itu" ungkap Pak Yudhi menerawang ke masa lalu.


"Jujur aku sebagai suami, hatiku tidak tenang. Menurutku, poligami itu lebih banyak tidak baiknya dari pada baiknya. Posisiku sebagai suami saat itu serba salah" ucap Pak Yudhi lagi.


"Istriku ini dulu sangat terluka, jika aku menjalankan kewajibanku kepada istri keduaku. Kamu pasti tau nak Reyhan, kita sebagai suami akan berdosa jika melukai perasaan istri. Jika aku tidak menjalani kewajibanku kepada istri ke duaku, itu juga aku akan berdosa. Sungguh rumit yang kuhadapi pada masa itu." Pak Yudhi menjeda kalimatnya sebentar, lalu melanjutkannya lagi.


"Kita sebagai laki laki memang bisa mencintai dua wanita. Tapi kita tidak akan bisa membahagiakannya. Secara materi, waktu, mungkin tidak terlalu masalah bagi wanita. Tapi seorang istri yang mencintai suaminya, tidak rela jika suaminya membagi dirinya dengan wanita lain. Sama halnya kita sebagai suami, tidak rela jika ada laki laki yang menyentuh istri kita walau hanya seujung kuku. Jangankan disentuh, di lihat laki laki lain saja, kita tidak rela."


Pak Yudhi pun mengambil gelas kopinya dari atas meja, lalu menyesapnya perlahan."Kamu pasti mengerti maksud Papa nak Reyhan !" ucapnya meletakkan kembali gelas kopinya.


"Insya Allah Pah !, Reyhan belum pernah terpikir untuk berpoligami" balas Reyhan.


"Berhati hatilah diluar sana, jaga dirimu baik baik, dan jangan mudah percaya kepada siapa pun. Dan kalau bisa, milikilah asisten untuk menemanimu kemana mana. Jangan sendirian jika bepergian. Apa lagi kamu orang baru di Dunia bisnis" Nasehat Pak Yudhi.


Reyhan pun diam berpikir, karna selama ini ia memang sering pergi ke kota lain sendiri. Ia belum memiliki asisten pribadi. Dan juga perusahaannya baru memiliki beberapa staf. Karna perusahaannya masih kecil, ia merasa masih mampu mengerjakannya sendiri.


"Iya Pah ! Reyhan akan pikirkan itu, trimakasih Pah sudah memberi nasehat dan masukan sama Reyhan" balas Reyhan tersenyum.


.


.


"Bang Orion !" panggil Queen


"Hm..!"


"Ck !" Queen berdecak, kesal karna Orion tidak melihat ke arahnya yang berdiri di samping mejanya.


"Bang Orion !" panggil Queen lagi.


"Hm !" balas Orion lagi, sibuk dengan leptop di depannya.


"Ini malam jum'at bang Orion !. Syauqi sama Boy sudah tidur !" sungut Queen.


Orion langsung saja menoleh ke arah Queen, dan langsung tertawa terbahak bahak.


"Bang Orion kenapa tertawa ?" sungut Queen lagi dengan bibir mengerucut.


"Kenapa dengan malam jum'at Queen ?" tanya Orion di selah selah tawanya.


"Biasanya bang Orion ngajak Queen bercinta !"jawab Queen semakin mengerucutkan bibirnya.


Orion menghentikan tawanya, lalu memicingkan matanya ke arah Queen yang memakai baju tidur warna hitam trasparan. Queen terlihat sangat seksi dan menggoda dengan pakaian dalam berwarna merah di balik kain hitam yang menerawang itu.


"Apa yang Queen rencanakan ?" tanya Orion. Tidak biasanya istri kecilnya itu mengajaknya bercinta.


"Kenapa ? apa salah kalau Queen ngajak bang Orion bercinta ?" tanya balik Queen.


Queen memutar kursi Orion ke arahnya, kemudian mendudukkan tubuhnya di pangkuan Orion. Kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher Orion.


"Katakan ! Queen mau apa dari abang ?" Orion menyentil kening Queen. Orion bisa menebak kalau Queen lagi ada maunya.


"Beliin Queen mobil baru, baru Queen kembali kuliah !" jawab Queen.


Orion menghela napasnya, ternyata sifat berpoya poya istrinya itu belum juga berobah. Dan Queen masih saja ingin menjadi Queen, orang tercantik dan tak ingin terkalahkan wanita manapun. Queen masih ingin menjadi orang yang akan selalu di pandang hebat orang lain.


"Mobil Queen 'kan masih bagus, pemakaiannya belum setahun !"ucap Orion.


Queen langsung turun dari pangkuan Queen, dan langsung melongos keluar dari ruang kerja Queen.


"Untuk siapa bang Orion mati matian bekerja. Queen minta mobil aja gak di kasih !" cetus Queen, kemudian menutup pintu ruang kerja Orion agak kasar.


"Awas aja bang Orion kalau minta jatah, gak bakalan aku kasih !" Queen memberenggut, berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya, kembali masuk ke dalam kamar.


"Aku gak mau kembali kuliah kalau gak di beliin mobil baru !" sungutnya lagi. Mengganti bajunya kembali dengan pakaian tertutup. Queen membaringkan tubuhnya di atas kasur, menutup tubuhnya dengan selimut sampai kepala.


Bukan tanpa alasan Queen meminta mobil baru kepada Orion. Pasalnya, Queen mendapat kabar dari teman kuliahnya. Kalau di kampus milik suaminya itu, ada mahasiswi baru memiliki mobil di atas tipe mobilnya. Sebagai istri pemilik kampus dan putri seorang pengusaha, Queen malu jika ada yang menandinginya. Queen harus tetap lebih unggul dari siapa pun.


"Kalau begitu ! goda abang kalau ingin di belikan mobil baru." Orion menarik selimut Queen dan melemparnya ke lantai, membuat Queen tersentak.


Queen memutar tubuhnya ke arah Orion yang duduk di sampingnya."Jangan harap, Queen gak bakal kasih bang Orion jatah lagi sampai setahun"cetus Queen.


Bagaimana dia mau menggoda Orion, hatinya sudah tak mood lagi.


"Ya sudah kalau begitu !" Orion membuka bajunya, lalu melemparnya kelantai. Kemudian membuka celananya dan membuangnya juga.


" Kalau begitu, biar abang yang menggoda Queen." Orion naik ke atas tempat tidur, merangkak di atas tubuh Queen.


"Tapi ini perhitungannya, tidak mendapat imbalam mobil" ucap Orion lagi, menenggelamkan wajahnya di leher Queen.


"Queen gak mau ! awas !" Queen mendorong dada Orion kuat. Tapi itu tidak berhasil menyingkirkan tubuh Orion dari atas tubuhnya.


"Gak mau !" Queen mengeleng gelengkan kepalanya, karna Orion memegangi kedua tangannya menarohnya di atas kepalanya.


Orion menyeringai, satu tangannya pun berusaha membuka satu persatu kancing baju tidur Queen.


"Awas bang Orion ! Queen gak mau !" Queen meronta ronta dengan menghentak hentakkan kedua kakinya di atas kasur, karna Orion sudah menciuminya.


"Queen gak mau kasih bang Orion jatah, kalau bang Orion gak beliin Queen mobil baru !" Queen terus meronta ronta, berusaha melepaskan diri.


"Queen itu hak abang !, suka suka abang !. Dan juga dulu, kamu yang meminta dinikahi abang !. Sekarang jangan harap kamu bisa menolak abang !" ujar Orion, melanjutkan aksinya, sampai Queen yang tak bisa melawannya, akhirnya pasrah menikmati perlakuan cintanya.


Sampai Orion menjatuhkan tubuhnya di samping Orion. Orion pun mengecup kening Queen lama dengan rasa sayangnya. Setelah melepas ciumannya, Orion pun menarik tubuh Queen ke dalam pelukannya. Orion membelai wajah Queen yang nampak cemberut dan kelelahan. Orion tersenyum, lalu mengecup bibir Queen kilas.


"Buat apa lagi mobil baru sayang ?, Hm..!. Apa karna mahasiswi baru itu ?" tebak Orion.


Queen langsung mengarahkan pandangannya ke wajah Orion.


"Untuk siapa kamu bersaing sayang ?. Hati siapa yang ingin kamu rebut ?. Sampai kamu masih berpikir ingin menjadi wanita terhebat di antara wanita wanita lain" ucap Orion lembut.


"Kamu sudah menjadi wanita terhebat di sini Queen !" Orion menunjuk dadanya." Di hati abang !" ucap Orion lagi." Kamu wanita tangguh abang, yang sudah berhasil melahirkan buah hati kita dengan bertaruh nyawa. Bahkan abang sendiri tak kuat melihatnya." Orion mengambil satu tangan Queen lalu mengecup telapaknya.


"Tak perlu Queen melakukan persaingan dengab wanita manapun lagi. Karna kamu, hanya kamu yang ada di hati abang" gombal Orion.


"Queen gak mau sampai bang Orion melirik cewek yang lebih keren dari Queen" ujar Queen cemberut.


"Cewek itu memang keren, mobilnya memang bagus. Tapi tidak secantik istri kecilku ini, tidak sehebat mantan pacar kecilku ini, tidak secerdik mantan selingkuhan kecilku ini, tidak setangguh dari ibu anak anakku ini, tidak setulus hati bidadari surgaku ini, tidak semenawan wanita pemilik ranjangku ini, tidak seindah perhiasan Duniaku ini" gombal Orion tersenyum, sambil tangannya memegang dagu Queen.


.


.