Brother, I Love You

Brother, I Love You
210. Mau Ya !



Pintu ruang perawatan Jean dan Khaza pun terbuka dari luar. Seorang Dokter dan perawat melangkah maduk mendekati brankar Jean.


"Dokter ! tadi pasien mengeluarkan air matanya. Saya bangunin tapi pasien tidak bangun" lapor Darren kepada Dokter yang masuk ke ruangan itu.


Dokter itu tidak langsung menjawab, ia pun segera memeriksa keadaan Jean.


"Apa anda melakukan sesuatu ?, mungkin pasien bisa merespon anda" tanya Dokter itu.


"Tadi saya mengajaknya berbicara !" jawab Darren.


"Pasien bisa mendengar anda, di merespon apa yang anda bicarakan. Ini kemajuan yang baik, dan seringlah mengajaknya berbicara, untuk membantunya cepat sadar" ucap Dokter itu.


Darren pun menganggukkan kepalanya sembari teraenyum. Darren senang, wajahnya nampak berbinar, karna Jean mendengarkan dan bahkan merespon ucapannya tadi.


Setelah Dokter itu memeriksa keadaan Khanza, Dokter dan perawat itu pun segera keluar dari ruangan itu.


"Jean ! benar kamu mendengarku ?. Cepatlah bangun ! aku akan segera menikahimu. Aku tak peduli apa kamu bersedia atau tidak. Aku akan tetap menikahimu, aku akan memaksamu Jean !" Ucap Darren ke telinga Jean.


"Sekarang juga aku akan mendaftarkan pernikahan kita ke kantor KUA" ucap Darren lagi.


Ya ampun ! Pak Darren gila !. Batin Jean


"Jean ! bangunlah ! kalau kamu gak bangun juga, aku akan mencium bibirmu sekarang" ancam Darren.


"Aku hitung sampai lima Jean !. Aku gak perduli kalau itu berdosa. Kalau kamu gak bangun juga, aku akan benar benar mencium bibirmu sekarang juga Jean !. Satu !" Darren mendekatkan wajahnya ke wajah Jean." Dua !" Darren semakin mendekatkan wajahnya." Tiga !" Ujung hidung mereka sudah bersentuhan.


Apa Pak Darren akan benar benar mencium bibirku ?, Ya Tuhan ! apa yang harus kulakukan ?. Bantu aku Tuhan !. Batin Jean berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya.


"Empat Jean !" ancam Darren, hanya tinggal satu senti meter lagi bibir mereka akan menyatu.


"Saat hitungan ke lima, aku akan menempelkan bibirku ini !" ancam Darren lagi.


Gila !, batin Jean lagi.


"Li..." Darren mengarahkan pandangannya ke mata Jean yang masih terpejam." Kamu benar benar ingin kucium, baiklah !" ucap Darren.


Tuhan ! bantu aku !, mohon Jean dalam hati.


"Ma !" Darren benar benar menempelkan bibirnya ke bibir Jean.


Sontak Jean langsung membuka matanya, dan tangannya refleks memukul punggung Darren dari belakang.Membuat Darren kaget dan langsung menegakkan tubuhnya.


Darren mengarahkan pandangannya ke wajah Jean. Di lihatnya Jean sudah membuka matanya, dan menatapnya dengan marah. Darren mengulas senyum manisnya, ia senang akhirnya Jean sadarkan diri setelah pasca operasi. Darren kembali membungkukkan tubuhnya ke arah Jean, mengecup sayang kening Jean, menghiraukan tatapan marah Jean kepadanya.


"Aku sangat menyukai tatapan marahmu itu !. Kamu kelihatan lebih cantik!" ucap Darren tersenyum, setelah melepas kecupannya.


Jean memejamkan matanya kembali, rasanya ia ingin meneriaki brondong tampan imut menggemaskan di depannya itu, tapi ia tidak punya tenaga untuk melakukannya.


"Kalau kamu menutup matamu itu kembali, aku akan mencium bibirmu itu sampai bengkak !" ancam Darren lagi.


Ya Tuhan !, batin Jean. Selain baik hati dan dermawan, ternyata bocah di depannya itu sangat menyebalkan.


Jean pun membuka matanya kembali, menatap Darren marah karna sudah sembarangan mencium ciumnya.


"Nah ! gitu ! tatapanmu sangat menggodaku !, aku menyukainya !"ucap Darren lagi.


"Pak Darren tidak berhak menciumku !" ucap Jean dengan suara pelan tapi terdengar marah. Malah Darren semakin mengembangkan senyumnya, membuat Jean semakin sebal.


Darren pun menekat tombol merah di atas brankar Jean kembali, memanggil Dokter untuk memeriksa Jean yang sudah sadar.


"Makanya sepatlah sembuh biar kita menikah, setelah itu kita bebas berciuman sepuasnya" balas Darren.


"Siapa yang mau menikah dengan Bapak ?" kesal Jean.


"Yang mau menikah denganku, banyak !. Tapi aku hanya ingin menikah denganmu sayang !" jawab Darren masih tak menyurutkan senyumnya dari tadi.


"Pak Darren ! aku mohon !, tolong jangan ganggu kehidupanku !. Aku ingin hidup dengan tenang. Dan aku tidak berniat untuk menikah lagi dengan laki laki mana pun !" mohon Jean, supaya Darren berhenti mengharapkannya.


Senyum Darren langsung menghilang, ia pun menatap Jean dengan tatapan kecewa." Aku gak peduli dengan penolakanmu Jean. Aku akan tetap menikahimu !" kekeh Darren.


"Kamu tidak bisa menikahiku tanpa persetujuanku Pak Darren, tanpa waliku !" ucap Jean.


Ceklek !


Darren dan Jean refleks menoleh ke arah pintu. Dokter yang barusan memeriksa Jean datang kembali.


"Dokter ! pasiennya sudah sadar !" ucap Darren.


Dokter itu langsung segera memeriksa Jean." Semua oke, hanya tinggal pemulihan saja" ucapnya, setelah siap memeriksa Jean.


Darren tersenyum," trimakasih Dok !" ucapnya. Darren pun mengalihkan pandangannya ke arah brankar Khanza yang belum sadarkan diri." Dokter ! putri saya kenapa belum sadar ?" tanyanya.


Jean pun menatap putrinya dengan sendu. Jean merasa bersalah melihat putrinya ikut terluka. Tak terasa Jean meneteskan air matanya, merasa sudah gagal menjaga putrinya.


"Menurut pemeriksaan saya tadi, keadaannya sudah berangsur baik, semua sudah normal. Kita tunggu saja dia sampai sadar, dan berikan dia dukungan, ajak dia berinteraksi" jawab Dokter itu.


Darren menghela napasnya.


"Kalau begitu ! saya permisi !" pamit Dokter itu.


"Silahkan Dok ! dan trimakasih !"ucap Darren.


"Sama sama !" balas Dokter itu, lalu pergi.


Sepeninggal Dokter itu, Darren mengulurkan tangannya menghapus air mata Jean." Aku tidak suka melihat mata indah ini berair" ucapnya.


Jean malah semakin terisak, ikut menghapus air matanya sendiri. Membuat hati Darren perih melihatnya. Darren melihat Jean yang dulu, Jean yang malang, Jean bermata sendu. Entah ? hati Darren selalu sakit melihat wajah sendu wanita malang itu.


"Jangan menangis ! putri kita akan segera bangun. Dia hanya istirahat saja !" hibur Darren.


"Aku sudah membuatnya terluka !" isak Jean.


"Itu musibah !, kamu tidak sengaja membuatnya terluka." Darren mengusap kepala Jean.


"Aku ikhlas membantumu Jean !" balas Darren. Darren menghapus air mata Jean kembali, kemudian mengecup keningnya.


"Jean ! menikahlah denganku, supaya kamu tidak hidup berjuang sendiri. Aku akan memperlakukanmu dan Khanza dengan baik. Supaya kalian punya keluarga" bujuk Darren.


Jean menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa ?" tanya Darren lemah.


"Aku akan menjadi aib bagi keluargamu Pak !. Aku ini seorang janda beranak satu, bagaimana bisa Bapak nikahi ?. Sedangkan Bapak masih lajang dan muda" jawab Jean.


"Oh ! jadi itu alasannya, baiklah !" ucap Darren.


Jean yang bingung mengarahkan tatapannya ke wajah Darren yang berdiri di samping brankarnya."Maksud Bapak ?."


"Kita bisa menikah di KUA saja, jika itu yang kamu kawatirkan ?" jawab Darren enteng. Yang penting Jean mau menikah dengannya, itu yang terpenting bagi Darren. Masalah nanti apa kata orang, itu urusan belakangan. Yang penting keluarganya merestuinya, pikir Darren.


Jean pun terdiam, sepertinya ia sudah salah bicara. Pak bosnya itu sangat pintar mencari celah pembicaraan untuk membuat lawan bicara kalah debat. Tidak mau kalah dan keras kepala dan juga sangat menyebalkan.


"Kalau aku menikahimu, aku bisa merawatmu dan Khanza Jean. Kamu berhak mendapat nafkah dariku tanpa kamu harus bersusah payah bekerja lagi dengan kakimu yang patah" ucap Darren.


Jean langsung membolakan matanya." A..apa ? ka..kakiku..pa..patah ?" tanyanya gugub. Dan air matanya pun luruh kembali.


"Sudah tidak apa apa !, kakimu sudah di operasi, hanya tinggal pemulihan sampai kamu bisa berjalan" jawab Darren mengulum senyumnya, karna ia hanya membohongi Jean, supaya Jean mengatakan mau menikah dengannya.


Jean terisak kembali.


"Sssttt...! jangan menangis ya !, kakimu pasti cepat cembuh. Aku akan merawatmu dan Khanza nanti." Darren menghapus air mata Jean yang mengalir di pipinya.


"Mau ya ! menikah denganku !" bujuk Darren lembut.


Jean diam tidak menjawab, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah brankar Khanza, dengan air mata yang terus mengalir.


Darren meraih dagu Jean, mengarahkan wajah Jean ke arahnya." Je..!" panggilnya.


Perlahan Jean mengarahkan pandangannya ke wajah Darren yang tersenyum manis padanya.


"Mau ya !" bujuk Darren lembut.


Membuat Jean terpesona melihat senyum manis Darren.


"Ya !" Darren menganggukkan kepalanya.


Tanpa sadar Jean menganggukkan kepalanya, menerima permintaan Darren.


Darren pun merekahkan senyumnya," Yes !" ucapnya mengepalkan sebelah tanganya lalu meninju udara ke atas.


Ya ampun ! bagaimana ini ?, kenapa aku mengangguk ?. Bodoh ! bodoh ! bodoh ! kamu Je !, ini gara gara aku terpesona melihat Pak Darren. Gak gak gak ! ini mimpi !, gak mungkin Pak Darren mau menikahiku. Emang aku ini siapa ?, aku ini hanya janda miskin. Sadar Jean !, kamu jangan ngehalu ketinggian. Batin Jean


"Trimakasih sayang ! aku akan segera mengurus pernikahan kita. Aku akan segera menyuruh asisten Calixto mendaftarkannya ke KUA. Nanti setelah kamu sembuh, kita langsung menikah" ucap Darren bahagia.


"Pak !" panggil Jean


"Apa sayang ? kamu pengen apa ?, katakan !" antusias Darren.


Melihat wajah bahagia Darren, Jean mengurungkan niatnya untuk mengatakan, kalau Darren salah paham dengan anggukannya tadi. Jean masih waras dan tau diri,kalu ia tidak pantas untuk Darren.


"Haus !" ucapnya lalu menghela napasnya.


Darren langsung meraih botol minum yang berada di atas nakas. Setelah membuka tutupnya, Darren meminumkannya kepada Jean dengan menggunakan sedotan.


"Trimakasih Pak !" ucap Jean, setelah selesai minum.


"Gak apa apa sayang !" Darren mengembalikan botol di tangannya ke atas nakas." Kalau begitu aku pergi dulu sebentar ke kamar rawat Papa. Aku akan meberitahu Papa dan Mama dulu, kalau kita akan menikah secepatnya. Istirahatlah, nanti aku akan kembali lagi ke sini" pamitnya. Setalah sempat mencuri cium di pipi Jean, Darren langsung berlari keluar dari ruangan itu.


"Ye hu !" serunya berlari dan sesekali melompat ke arah pintu kamar rawat sebelahnya.


Darren langsung membuka pintu ruang perawatan Papa Arya, masuk dengan berlari melompat lompat ke girangan sambil berseru."Papa ! Mama ! cintaku di terima !, Jean sudah setuju menikah !."


Papa Arya menggeleng gelengkan kepalanya sambil mengulum senyum, melihat tingkah anaknya yang lagi jatuh cinta itu. Anaknya itu sudah bisa di bilang berusia matang, tapi kenapa anaknya itu masih bertingkah seperti bocah ?, pikir Papa Arya.


Darren pun memeluk Papa Arya yang duduk di atas brankar," Trimakasih Pah ! sudah memberi restu Papa !" ucapnya.


Papa Arya membalas pelukan anaknya itu, lalu mengusap kepalanya."Papa akan melakukan apa pun demi kebahagiaan anak Papa" balas Papa Arya.


Darren melepas pelukannya, kemudian berlari ke arah sofa, memeluk Mama Bunga." Ma ! gak apa apa 'kan Ma ? Darren menikahi wanita yang sudah menjadi janda ?" tanyanya. Selama ini Darren tidak pernah menanyakan pendapat Mama Bunga. Meski begitu, Darren yakin, Mama Bunga pasti menyetujuinya dengan wanita mana pun.


"Apa yang nggak buat kebahagiaan anak Mama, selagi itu baik. Gadis atau Janda, yang membedakan mereka hanyalah masalah keperawanan. Yang terpenting adalah hatinya baik, berbudi pekerti dan juga berahlak" jawab Mama Bunga mengusap anak imut imutnya itu. Anak yang kukuh dalam mencintai, sama seperti suaminya.


"Trimakasih Ma ! aku sayang Mama !" balas Darren mengecup pipi Mama Bunga yang sudah luntur kecantikannya termakan usia.


"Wanita itu sudah sadar ?" tanya Mama Bunga, mengingat Darren mengatakan kalau wanita itu sudah menerima cintanya.


Darren menganggukkan kepalanya," baru sadar Ma !" jawabnya.


"Mama ingin melihat calon menantu Mama !"pinta Mama Bunga.


Lagi, Darren menganggukkan kepalanya. Darren melepas pelukannya, lalu berdiri di ikuti Mama Bunga.


"Salam buat calon menantu Papa !" ucap Papa Arya dari atas brankar.


"Darren akan sampein Pa !" balas Darren, kemudian keluar dari ruangan itu bersama Mama Bunga.


.


.


#Dari awal otor sudah setting kalau jodoh Darren itu Jean. Otor minta maaf, karna tidak bisa memgabulkan permintaan kalian semua.


Untuk yang meminta Khanza menjadi jodoh Darren. Jangan dong !, kasihan Darren jika harus menunggu Khanza dewasa. Sedangkah Khanza usianya baru sebelas Tahun.