
Setelah menumpuh perjalanan udara yang cukup melelahkan. Kini Orion dan Queen sudah sampai di Negri Paman Sam tersebut. Jhon yang langsung menjemput mereka ke bandara, menghentikan laju kenderaan mobilnya di peralatan sebuah gedung apartemen.
Orion pun membangunkan Queen yang ketiduran di pangkuannya. Karna ia tidak akan sanggup menggendong tubuh Queen.
"Sayang ! bangun ! kita sudah sampai" ucap Orion, menggoyang goyang wajah Queen di pangkuannya.
"Istrimu ternyata sangat cantik, pantas saja kau sabar menunggunya dewasa" komentar Jhon, mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu di sampingnya. Dari bandara tadi, ia sering memperhatikan wajah Queen dari kaca spion di atas keningnya.
Orion sudah menceritakan kepadanya dulu, kalau Orion memiliki istri yang masih SD. Karna itu ia bertahan di luar Negri, supaya tidak jenuh menunggu istrinya dewasa. Yang membutuhkan waktu bertahun tahun menunggunya.
"Dia wanita paling cantik di Dunia ini !" puji Orion, memandang wajah Queen yang tak kunjung bangun.
"Aku berharap masih ada stok wanita cantik lagi seperti istrimu"Jhon berjalan ke arah bagasi mobilnya untuk mengambil koper sahabatnya itu.
"Sayang ! ayo bangun ! kita sudah sampai" ucap Orion membangunkan Queen lagi.
"Aku ketidurannya bang Orion ?" gumam Queen menggeliatkan tubuhnya." Sayang banget, aku melewatkan pemandangan kota yang kita lewati" ucapnya kecewa.
"Besok aku akan membawamu keliling keliling kota ini sapai puas sayang !. ayo turun, anak kita sudah tidak sabar untuk bertemu Momy nya." Orion berbicara sambil membatu Queen duduk. Kemudian membuka pintu di sampingnya, langsung keluar di ikuti Queen. Orion pun menarik tangan Queen masuk ke salah satu lif apartemen itu.
"Bang Orion dulu tinggal di apartemen ini ?" tanya Queen.
"Iya sayang !" Orion menarik pinggang Queen merapat ke tubuhnya. Melihat Queen bengong seperti orang bodoh dari tadi.
Meskipun Queen anak orang kaya di kotanya, tapi ini pertama kalinya Queen ke luar Negri. Tentu Queen masih merasa seperti bermimpi, kalau ia sekarang sudah sampai di Negara maju tersebut.
"Seharusnya dulu bang Orion mengajakku tinggal di sini" Queen berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.
"Jika saja Papa Gandi mengijinkannya sayang !" balas Orion." Ayo ! kita sudah sampai" ajak Orion, menarik Queen keluar dari lif yang mengantar mereka. Berjalan ke arah pintu unit apartemen miliknya. Yang sudah di tinggalkannya lebih dari tiga Bulan. Tapi sebentar lagi, apartemen itu akan berpindah nama, karna sudah laku terjual.
"Daddy...!" seru bocah tiga Tahunan berlari ke arah Orion yang baru membuka pintu apartemennya.
Orion langsung membungkukkan tubuhnya, menangkap tubuh Boy yang sudah sangat ia rindukan itu, mengangkatnya lalu mengecupi seluruh wajah Boy.
"Boy merindukan Daddy !" ucap Boy menagis.
"Daddy juga sayang !, lihatlah ! siapa yang berdiri di samping Daddy ?."
Boy langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik yang masih muda di samping Orion.
"Momy !" gumamnya tak percaya.
"Apa Boy tak ingin bersama Momy ?, kemarilah sayang !, Momy sudah sangat merindukanmu !." Queen mengambil Boy dari gendongan Orion sembari tersenyum. Mendekap anak malang itu ke dalam pelukannya.
"Momy...!" tangis Boy di dalam pelukan Queen.
"Sssttt...! jangan menangis sayang !, Momy sudah datang menjemputmu, mulai sekarang kita akan terus bersama" ucap Queen mengusap usap kepala Boy, sesekali mencium keningnya.
"Sayang ! ayo duduk !, nanti kamu bisa kecapean menggendongnya !." Orion merangkul pinggang Queen dari belakang, menuntunnya berjalan ke arah sofa.
"Aku mengambilkan minuman untuk kalian, kalian minumlah ! pasti kalian haus" Ujar Jhon meletakkan dua minuman kaleng di atas meja sofa, dan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Orion dan Queen, kemudian meneguk minuman kaleng di tangannya.
"Istriku sedang hamil, dia tidak boleh meminum minuman seperti itu" balas Orion, melihat minuman yang di letakkan Jhon di atas meja, adalah minuman bersoda.
"O ya ?"
"Hm..!"
Orion mengambil Boy dari pangakuan Queen, karna kawatir anak yang berada di dalam perut Queen ke pencet. Namun Boy tidak mau, malah melingkarkan kedua tangannya ke leher Queen.
"Tidak Dad !" ucap Boy menggeleng gelengkan kepalanya.
"Di perut Momy ada adik Boy sayang !, nanti bisa ke tekan sama Boy, adik Boy bisa sakit" bujuk Orion, namun Boy tetap tidak mau.
"Tidak Dad !"
"Boy anak yang baik, nurut sama Daddy !" ujar Orion.
"Tidak Dad !, Boy merindukan Momy !" bantah Boy, tak ingin lepas dari Queen.
"Gak apa apa bang Orion, biarkan sebentar lagi" ucap Queen, menukar posisi duduk Boy menjadi menyamping. Queen pun menghapus ari mata Boy dari pipinya.
Queen masih heran dengan Boy, kenapa bocah itu bisa sangat merindukannya, padahal kalau di pikir mereka tidak saling mengenal.
"Selamat sore dan selamat datang Pak Orion ?"sapa seorang wanita, membawa nampan berisi makanan dan minuman. Meletakkannya di atas meja.
"Selamat sore Bi Sumi !" balas Orion." perkenalkan Bi Sumi, ini istri saya, namanya Queen"ucap Orion memperkenalkan Queen.
"Selamat sore nyonya !" sama Bi Sumi.
"Selamat sore juga Bi !" balas Queen tersenyum ramah.
Queen hanya mengangguk sembari tersenyum, tangannya tidak berhenti dari tadi mengelus elus kepala Boy.
"Tuan muda kecil ! sudah waktunya mandi sore !" ucap Bi Sumi kepada Boy.
"Boy gak mau Bi Sum !" tolak Boy
Sontak mulut Queen mengaga mendegar Boy begitu faseh berbahasa Indonesia. Queen pikir bocah berwajah bule itu, tidak bisa dan tidak mengerti dengan bahasa Indonesia.
"Boy adalah penerjemah saya dan Bi Sum disini" ujar Jhon yang diam dari tadi.
"O ya ?" ucap Queen.
"Boy sangat pintar dengan bahasa Inggris dan bahada Indonesia. Jika saya ingin berbicara kepada Bi Sumi, Boy lah yang menjadi penerjemahnya, karna Bi Sumi tidak bisa bahasa Inggris, begitu juga sebaliknya" jelas Jhon.
"Anak yang pintar !" puji Queen kepada Boy.
"Ayolah tuan muda kecil, nanti Pak Orion memotong gaji Bi Sumi, karna tuan muda kecil tidal mau mandi" bujuk Bi Sumi, memasang wajah sedihnya.
"Boy ingin di mandiin Momy" tolak Boy lagi.
"Maaf Bi Sum ! terpaksa saya memotong gaji anda" ucap Orion, matanya melirik wajah Boy yang seperti berpikir di pangkuan Queen.
Jika Boy tidak menurut, Orion akan mengancam memotong gaji Bi Sumi. Drama itu akan di mainkan Orion dan Bi Sumi jika Boy tidak menurut. Karna Boy yang sangat menyayangi Bi Sumi, akan langsung menurut, jangan sampai gaji baby sisternya itu di potong Daddy Orion. Boy akan kasihan nanti melihat wajah Bi Sumi yang bersedih. Meski sedihnya di buat buat, Boy tidak akan tau itu.
"Jangan Pak !, anak saya di kampung mau makan apa ?, kalau gaji saya di potong" Bi Sumi memasang wajah mengiba kepada Orion." Tuan muda kecil ! apa gak kasihan dengan Bibi kalau gaji Bibi di potong ?" tanya Bi Sumi.
Boy masih diam, enggan turun dari pangkuan Momy Queen yang cantik.
"Boy mandi sama Bi Sumi ya !, nanti setelah Boy selesai mandi, nanti kita bermain bersama" bujuk Queen, mengusap kepala Boy, kemudian mencium keningnya.
"Momy janji !"
"Iya anak Momy ! tapi Boy harus menjadi anak yang baik dan penurut" balas Queen, lagi menjatuhkan kecupan di wajah Boy.
Dengan berat hati, akhirnya Boy mau turun dari pangkuan Queen, berjalan mendekati Bi Sumi.
"Ayo Bi Sum ! cepat mandikan Boy. Boy ingin bermain dengan Momy Queen" perintah Boy kepada Bi Sum.
"Baik tuan muda kecil !, perintah taun muda akan segera Bi Sum laksanakan" balas Bi Sum masuk ke dalam kamar Boy.
"Trimakasih Nyonya Queen sudah menerima keponakan saya !" ucap Jhon tiba tiba. Queen dan Orion sontak mengarahkan pandangan mereka kepada Jhon.
"Saya minta maaf, atas perbuatan adik saya. Karna sudah pasti menimbulkan masalah dalam pernikahan kalian" ucap Jhon lagi.
"Mr Jhon tak perlu minta maaf, saya sudah menganggapnya musibah. Untul masalah Boy, dia tidak tau apa apa, dia tidak berdosa. Suami saya sudah mengadopsinya, tentu Boy sudah menjadi anak saya" jawab Queen.
"Trimakasih atas kemuliaan hatimu Nyonya Queen. Semoga Tuhan memberkatimu !" ucap Jhon lagi.
"Jangan berlebihan, aku tidak semulia itu !" balas Queen, merendahkan diri.
"Sayang ! ayo istrirahat, tidak usah melayaninya!" Orion berdiri dari tempat duduknya, kemudian membantu Queen berdiri, lalu menariknya masuk ke salah satu kamar apartemen itu.
Jhon yang di tinggalkan sediri di sofa ruang tamu, mendengus kesal. Ia pun memutuskan pergi dari apartemen sahabatnya itu. Padahal ia masih ingin mengobrol banyak dengan Queen, supaya lebih saling mengenal.
"Ini kamar bang Orion ?" tanya Queen, memutar pandangannya kesetiap sudut kamar yang luas dan mewah itu.
"Iya sayang !, tapi apartemen ini sudah laku terjual. Gak apa apa 'kan sayang ?" jawab Orion, dan kembali bertanya.
"Sayang sekali !" Queen mengerucutkan bibirnya. Queen pun melangkahkan kakinya ke arah horden kamar itu, dan seketika horden itu bergerak ke kiri dan ke kanan, menampakkan kaca besar yang tembus pandang ke kuar, menampakkan pemandangan kota yang bersih, dan begitu mawah dangan bangunan bangunan penjakar langit, Queen sangat takjub melihatnya.
Orion berjalan mendekati Queen, memeluknya dari belakang. Menyandarkan dagunya di atas bahu Queen, dan kedua tangannya mengusap usap perut Queen yang sudah nampak mulai besar.
"Kota ini kurang cocok untuk kita sayang, orang orangnya terlalu bebas. Makanya abang memutuskan untuk pulang ke Negara kita, meski sebenarnya abang mampu bertahan di sini dan membawamu tinggal di sini. Membina rumah tangga kita di sini. Mungkin kita bisa mengontrol diri untuk tidak mengikuti budaya orang orang di sini. Bagiaman anak anak kita kelak, abang kawatir, mereka mengikuti budaya orang orang di sini" jelas Orion.
"Abang tidak mau, apa yang pernah abang alami terulang kembali kepada abang, atau kamu dan anak anak kita kelak" jelas Orion lagi.
Buar buar buar !!!
"Momy ! Daddy ! apa kalian di dalam ?."
Mendengar seruan Boy dari luar kamar,sambil menggendor gendor pintu kamar mereka. Orion pun melepas pelukannya, Orion menghela napasnya, sepertinya anak mereka itu akan mengusai istrinya mulai saat ini juga.
"Momy ! Daddy !"
Mungkin selama ini seperti ini yang di rasakan Papa sama Mama. Saat bermesra mesraan, ada yang mengganggu. Batin Orion.
.
.