
Hani mengulas senyumnya saat melihat Aqeela naik ke pelaminan bersama suami barunya. Hani pun menyambut tangan Aqeela yang menyalamnya dengan tersenyum dan mengucapkan selamat. Kedua wanita itu pun saling berpelukan.
"Maaf Kak! aku mengambil Bang Bilal!" ucap Hani menangis.
Jujur meski Bilal dan Aqeela sudah lama bercerai, Hani tetap merasa tidak enak hati kepada Aqeela mantan istri Bilal. Hani merasa seperti merebut Bilal. Karna seandainya mereka tidak bertemu lagi, mungkin mereka tidak jatuh cinta lagi, dan Bilal dan Aqeela bisa rujuk.
Aqeela melepas pelukannya dan mengulas senyumnya kepada Hani. Kemudian Aqeela menghapus air mata yang mengalir di pipi Hani.
"Tidak ada yang harus kumaafkan. Kamu tidak merebut Bilal dariku atau pun dari anak anak. Jangan meminta maaf!" ucap Aqeela.
"Iya sayang!, kamu tidak merebutku. Tapi Aqeela lah yang merebutku darimu!" gurau Bilal tersenyum ke arah Hani dan satu tangannya pun mengusap kepala Hani dari belakang.
Aqeela mencebik lalu memutar bola matanya malas. Siapa pula yang merebut, malah Bilal menikahinya karna kegagalannya mendapatkan Hani. Sebagai sepupu, bukan Aqeela tidak tau tentang kisah cinta antara Bilal dan Hani dulu. Namun karna bujukan mendiang ratu sejagat dulu, Aqeela tidak tega menolak lamaran kakak kesayangan dari Ibunya itu.
"Tetap saja aku merasa gak enak hati sama Kak Aqeela!" lirih Hani.
"Jangan merasa seperti itu, sekarang kita sudah menjadi keluarga. Karna biar bagaimana pun, Bilal adalah sepupuku. Kami hanya di pisahkan perceraian, tapi kami tetap menjadi saudara sepupu. Itu artinya kamu sudah menjadi adikku!"Aqeela tersenyum dan menyentuh lembut dagu Hani.
"Trimakasih Kak!" Hani memeluk Aqeela kembali.
"Sama sama!" balas Aqeela.
Setelah melepas pelukan mereka kembali, Aqeela pun menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mengucapkan selamat dan memberi doa kepada Bilal mantan suaminya.
"Selamat! dan semoga bahagia, sakinah mawaddah warohmah!" ucap Aqeela tersenyum.
"Trimakasih!" balas Bilal membalas senyuman Aqeela.
"Aku titip Annisa, karna aku akan mengikuti bang Basid tugas ke luar kota!" ucap Aqeela lagi.
"Tidak masalah, tapi berpamitan langsunglah pada Annisa!" balas Bilal.
Aqeel menghela napasnya," bantu aku untuk berpamitan. Aku takut dia akan mengamuk!."
"Iya!, nanti aku akan mencobanya" balas Bilal lagi.
Aqeela menganggukkan kepalanya, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Hani." Aku titip Annisa ya!" ucapnya.
Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Iya Kak!"balasnya.
"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua, semoga bulan depan aku sudah mendapat ponakan!" ucapnya lalu terkekeh.
"Kamu juga, jangan lupa beri aku ponakan!" balas Bilal.
"Inginnya!, tapi sepertinya sudah tidak mungkin!. Ya sudah ! kalau begitu aku dan bang Basid pergi dulu. Assalamu alaikum !" pamit Aqeela lalu menggandeng tangan suaminya turun dari atas pelaminan.
"Walaikum salam!" balas Bilal dan Hani bersamaan.
Acara resepsi pun terus berlanjut hingga malam hari, yang terus di meriahkan dengan lagu salawat di iringi musik rebana oleh para anak anak santri.
"Assalamu alaikum warohmatullohi wabarokatu!."
"Walaikum salam warohmatullohi wabarokatu !" balas semua para tamu undangan yang hadir malam itu.
Bilal yang memengang mikrofon di atas pelaminan mengulas senyumnya mendengar suara gemuruh para tamu undangan membalas salamnya.
"Di malam puncak acara penuh syukur ini, saya akan menyumbangkan sebuah lagu kepada hadirin yang hadir malam ini!" ucap Bilal melalui pengeras suara di tangannya.
"Dan lagu ini saya nyanyikan terkhusus untuk istri saya" ucap Bilal lagi.
"Huhuhuhu...!!!" sorak para santri sambil bertepuk tangan.
kemudian Bilal pun meraih tangan Hani yang duduk di kursi pelaminan dan membantu Hani untuk berdiri, mengiringnya berjalan ke pinggir pelaminan.
Tak tak dum !
🎤Uhibbuki mitsla maa anti🎶
Uhibbuki kaifa maa kunti🎶
Wa mahmaa kana mahmaa Shooro🎶
Anti habibati anti🎵
Jauzati🎶 Anti habibati anti🎶
Selesai bernyanyi sebuah lagu cinta,Bilal pun mengecup kening Hani di depan para tamu undangan. Sungguh Bilal sangat mencintai gadis kecilnya itu. Hanya saja waktu terlalu lama memisahkan mereka selama ini, sehingga Bilal tidak mempunyai kesempatan untuk mengungkapkannya.
"Demi Allah! aku mencintaimu Hani!" ucapnya menggunakan mikrofon di tangannya. Seperti kata Bilal tadi pagi, ia akan menyiarkan cintanya sampai penjuru jagat raya mendengar pengakuan cintanya kepada Hani. Biar alam tau kalau mereka tak ingin di pisahkan lagi.
Semua para tamu undangan bertepuk tangan dan bersorak kembali. Mereka ikut terharu dan terbawa suasana menyaksika keromantisan ustad kondang itu.
Hani pun menghamburkan tubuhnya memeluk tubuh kekar Bilal." Demi Allah! aku juga mencintaimu Ustadz Bilal !" balas Hani.
Bilal semakin melebarkan tersenyum manisnya kepada Hani.
.
.
Waktu berlalu acara resepsi sudah selesai satu jam yang lalu. Kini pasangan pengantin baru yang tak lagi muda itu sudah berada di dalam kamar mereka. Tubuh keduanya sama sama terbaring di atas ranjang setelah selesai membersihkan diri. Nampak keduanya sangat kelelahan karna banyaknya tamu undangan yang mereka sambut seharian ini.
"Hani!" panggil Bilal
"Apa Bang ?" gumam Hani dari dalam pelukan Bilal.
"Ini malam pengantin kita!"
Hani langsung saja membuka kelopal matanya yang ia pejamkan dari tadi. Kemudian mendongak ke wajah Bilal yang melihat ke arahnya. Nampak Bilal tersenyum manis penuh arti padanya.
"Kalau mau pahala yang lebih besar, panjat tubuh abang!" Bilal menaik turunkan kedua alisnya ke arah Hani.
Hani tersenyum, genit sekali suaminya itu!, tapi Hani senang di genitin."Okeh!" Hani langsung memanjat ke tubuh Bilal yang terbaring, mendudukkan tubuhnya di atas perut Bilal.
Bilal tertawa cekikikan melihat tingkah Hani yang menggemaskan. Seketika rasa lelah di tubuhnya langsung hilang, karna mendapat hiburan dari istrinya. Bilal pun mengulurkan tangannya mengusap kepala Hani, kemudian mendudukkan tubuhnya dan memeluk tubuh Hani.
"Dua duanya!" jawab Hani wajahnya nampak merona.
"Kalau begitu! ayo cium aku!" suruh Bilal tersenyum.
Hani pun langsung mencium bibir Bilal mesra, yang langsung di balas Bilal tidak kalah mesranya. Sehingga penyatuan pun terjadi di malam yang melelahkan itu. Hingga pagi hampir menjelang, keduanya baru menyudahi penyatuan cinta mereka yang dasyat.
.
.
"Assalamu alaikum!" ucap Bilal saat akan membuka pintu rumahnya dan Hani.
"Walaikum salam!" balas Hani dari dalam, kemudian berjalan ke arah pintu untuk menyambut Bilal yang baru pulang berdakwah dari luar kota.
"Abang !" Hani langsung memeluk tubuh Bilal, dan Bilal pun langsung membalas pelukan Hani dan mengecup keningnya.
Kemudian Bilal menuntun Hani berjalan ke arah sofa ruang tamu.
"Para jamaah berkirim pesan untukmu!. Mereka sangat ingin bisa berjumpa dengan istri abang ini!" Bilal mendudukkan tubuh Hani di atas pangkuannya.
"Walaikum salam!" balas Hani senang mendapat salam.
"Bulan depan abang ada jadwal ceramah di daerah itu, untuk acara pengajian akbar. Apa istri abang ini bersedia untuk ikut?" Bilal menajamkan pandangannya ke wajah Hani meminta jawaban.
Hani langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tentu Hani tidak akan menolak ajakan suaminya untuk ikut berceramah. Meski tidak menjadi ustadzah yang terkenal. Berbagi ilmu itu sudah menjadi amanah bagi Hani, terutama tentang Ilmu Agama.
"Maaf ya! karna abang sering ninggal ninggalin kamu!" ucap Bilal lagi meneduhkan pandangannya ke wajah Hani.
Bilal merasa bersalah, dan juga masih trauma dengan kegagalannya berumah tangga dengan Aqeela. Apa lagi Aqeela meminta cerai karna tidak ridho di tinggal tinggal.
Hani mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah lelah Bilal suaminya." Meninggalkanku hanya sebentar sebentar saja!, itu tidak masalah" balasnya.
Bilal mengambil tangan Hani dari pipinya lalu mengecupnya."Trimakasih sayang! sudah menerima pekerjaanku!."
"Justru aku bangga mendapatkan suami Ustadz seperti Abang!. Sudah tampan, kaya, terkenal, dan juga soleh!" puji Hani tersenyum.
Bilal tertawa cekikikan mendengar pujian Hani kepadanya. Kemudian Bilal pun merogoh dompetnya dari saku celananya. Setelah membuka dompetnya, Bilal pun menarik satu kartu ajaib dan memberikannya kepada Hani.
"Abang tidak tau berapa uang di transfer ke sini. jadi abang memberi istri abang ini tugas untuk membagikannya kepada orang orang yang membutuhkannya" ucap Bilal.
"Bagaimana kalau kita memberikan uang ini, untuk pembangunan masjid di kampung sebelah?" tanya Hani." Tiga hari yang lewat saya berkunjung ke kampung itu. Pembangunan masjid di sana terbengkalai karna masalah dana!" jelas Hani.
Bilal pun menarik pinggang Hani, membuat tubuh Hani menempel ke tubuhnya." Terserah istri abang ini saja. Abang amanahkan uang jamaah ini sama istri abang yang cantik ini" Bilal mengecup sebelah pipi Hani kilas.
Selama ini Bilal selalu membagi bagikan uang hasil ceramahnya kepada orang yang lebih membutuhkan. Bilal tidak pernah memakai uang itu untuk kebutuhannya. Karna dari dulu ia tidak pernah kekurangan uang dari orang tuanya. Bilal benar benar ikhlas membagi Ilmunya kepada orang orang. Karna Ilmu Agama yang di dapatnya, sudah menjadi amanah baginya untuk membaginya kepada ummat islam lainnya.
Hani malah mengerucutkan bibirnya," kapan dedek bayinya di anamahkan di perut Hani?." Hani mengelus ngelus perutnya yang nampak sedikit berlemak.
Sudah tiga Bulan mereka menikah, namun tanda tanda kehadiran seorang bayi di perutnya belum terlihat. Hani sudah sangat menginginkan menjadi seorang Ibu. Memiliki anak yang tercipta dari benih laki laki yang di cintainya itu.
"Semoga saja sudah!, kita doakan saja ya!" ucap Bilal lembut, ikut mengelus perut Hani.
Bilal juga berharap, Hani bisa mengandung anaknya. Meski sulit, mengingat usia Hani sudah tidak muda lagi.
"Aku sudah tidak muda lagi, apa aku masih bisa hamil ya?" tanya Hani dengan wajah sedih.
"Semoga saja! jika Allah berkehendak, tidak ada yang sulit baginya!" Bilal megusap lembut kepala Hani dari belakang.
"Dua tahun bersama Bang Hidayah, aku tidak pernah hamil. Bagaimana kalau ternyata aku mandul!."
"Sssttt...! jangan bicara seperti itu!" Bilal menempelkan jari telunjuknya di bibir Hani.
"Aku terlalu ingin merasakan menjadi wanita yang sempurna!" lirih Hani menundukkan pandangannya.
"Sayang!" tegur Bilal lembut." Kita baru menikah, jangan putus asa, kita masih bisa berusaha lebih maksimal lagi. Kita bisa konsultasi ke dokter, atau mengikuti program kehamilan!" Bilalmengeratkan pelukannya ke tubuh Hani.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku juga sangat menginginkan keturunan lahir dari dalam rahimmu sayang. Jangan bersedih ya!, besok kita pergi ke Dokter, kita mengikuti program kehamilan" ucap Bilal lagi.
"Dulu saat Mama mengandung Sabina.Mama sudah berusia empat puluhan. Itu artinya kemungkinan kamu masih bisa hamil" tambah Bilal, untuk menghibur hati istrinya yang tengah gundah.
"Tapi..bagaimana kalau nanti malam kita beriktihar?. Aku sudah sangat merindukan istriku ini!" Bilal mengecup ngecup bibir Hani yang masih terlihat sedikit manyun dengan wajah murung.
"Abang!" rengek Hani manja, karna tangan Bilal merayap kemana mana.
Bukankah suaminya itu minta nanti malam, kenapa malah mengajaknya pemanasan sekarang, padahal hari masih sore.
"Abang mau ngecheknya aja, mana tau ada yang hilang saat abang tinggal!" gurau Bilal tersenyum, dan tangannya terus menabsen bagian bagian tertentu tubuh Hani.
Hani semakin mengerucutkan bibirnya.
"Masih pas! tidak ada yang hilang. Trimakasih sayang!, sudah menjaga hak milikku ini dengan baik" ucap Bilal lagi.
"Abang!" rengek Hani lagi manja, kenapa Ustadz tampannya semakin bertambah itu genitnya minta ampun?. Lihatlah ! tangan kekar itu tidak juga berhenti mengabsen tubuhnya di ruang tamu itu.
Setelah tadi malam beriktihar, pagi hari Bilal membawa Hani ke rumah sakit, menemui Dokter kandungan.
"Abang! sepertinya aku datang bulan, kita tunda aja ya ke Dokternya!" ucap Hani setelah Bilal memarkirkan kenderaannya di parkiran rumah sakit milik ponakannya.
"Yah ! gagal dong ! usahaku tadi malam!" ucap Bilal lemah.
Hani mengerucutkan bibirnya dan memicingkan matanya ke wajah Bilal. Dari mananya Bilal berusaha tadi malam. Suaminya itu hanya asyik menikmati goyangan mautnya. Hanilah yang lebih keras berusaha.
"Gak apa apa sayang ! kita konsultasi aja dulu, bertanya tanya giamana baiknya" balas Bilal, membuka sabuk pengamannya.
"Aw! abang ! sakit !" rintih Hani tiba tiba.
Sontak membuat Bilal panik dan kawatir." Sayang! kok bisa ?, kemarin kamu datang Bulan gak seperti ini?."
"Gak tau Bang!" Hani memegangi perut bagian bawahnya.
.
.