
Orion memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan Harapan Grup milik adiknya Reyhan. Orion keluar dari dalam mobilnya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perusahaan. Orion masuk ke dalam lif naik kr lantai tiga gedung itu. Sampai di lantai tiga, Orion langsung mengetok pintu ruangan Direktur perusahaan itu dan langsung masuk.
"Bang Orion ! ada apa ?" tanya Darren.
"Apa kabar adikku ?, sepertinya kamu lagi bahagia sekarang !" tanya balik Orion mendudukkqn tubuhnya di kursi yang berada di depan meja Darren.
"Pasti Syauqi menceritaakan sesuatu sama bang Orion !" jawab Darren sibuk dengan leptop di depannya.
"Kamu yakin serius dengan wanita itu ?" Orion menajamkan pandangannya ke wajah Darren dengan kening mengerut.
"Apa wajahku terlihat seperti laki laki yang suka mempermainkan wanita ?" tanya balik Darren.
"Wanita itu seorang janda !, itu artinya wanita itu sudah tidak perawan lagi. Dan apa kamu tidak penasaran untuk memakai wanita yang masih perawan ?. Pikirkanlah matang matang, jangan sampai kamu menyesal nantinya, dan kamu menyakiti wanita itu dan putirnya !" ujar Orion tanpa berbasa basi.
"Aku memikirkan itu bukan setahun dua Tahun lagi Bang !. Malah sudah sepuluh Tahun aku memantapkan hatiku untuk wanita itu. Aku sudah tidak ragu ragu lagi untuk memiliki wanita itu. Aku tulus mencintainya, meski dia tidak sepurna lagi. Aku mencintai kekurangannya, mencintainya apa adanya" jawab Darren.
"Apa kamu yakin wanita itu wanita baik baik. Dan kamu tidak tau 'kan ! apa penyebab wanita itu bercerai dengan suaminya. Dan kamu juga tidak tau ! siapa sebenarnya wanita itu, siapa Ibunya, Ayahnya, siapa keluarganya ?. Dan bagaimana jika wanita itu belum resmi bercerai dengan suaminya ?. Dan bagaimana jika Papa sama Mama tidak merestuinya ?" cerca Orion.
"Siapa wanita itu, aku rasa Papa yang lebih tau !. Bukankah selama ini Papa yang membiayai kehidupan wanita itu sampai kuliah S1. Aku rasa Papa sudah mendapatkan data data wanita itu melalui orang suruhannya. Dan soal Papa sama Mama merestuinya atau tidak aku gak peduli" jawab Darren.
"Sepertinya kamu belum mendapatkan hati wanita itu !" cibir Orion.
Darren mendengus.
"Mama merindukanmu, sesekali berkunjunglah ke rumah Papa sama Mama !. Kata Mama kamu jarang sekali mengunjunginya" ujar Orion.
"Aku malas melihat Papa, dari dulu Papa selalu mengatur hidupku, selalu memaksakan kehendaknya" cetus Darren.
Semenjak Papa Arya menyembunyikan Jean, semenjak itu Darren malas melihat Papanya. Di tambah lagi Papa Arya yang memaksanya harus mengurus semua sekolah, counter HP dan Laptop, serta perkebunan, melalui Mama Bunga.
Orion menghela napasnya, melihat adik dengan sang Papa yang selalu perang dingin semenjak sang Papa menyembunyikan wanita itu. Dan selalu Orio lah perantara keduanya, dan sekaligus penengahnya.
"Sampai kapan kamu terus bersikap dingin kepada Papa ?. Dan ingat Darren !, kamu bisa sekolah sampai sarjana di luar Negri itu karna Papa. Papalah yang membiayai kebutuhanmu selama ini. Menjadikan kamu, menjadi orang yang seperti sekarang ini. Tidak bagus bermusuhan dengan orang tua Darren. Kita sebagai anak harus tetap mengalah !. Jangan sampai kamu menjadi anak durhaka !" Nasehat Orio kepada adik ke limanya itu.
"Aku hanya meminta wanita itu dari dulu Bang !. Aku tidak pernah meminta apa apa dari Papa. Apa susahnya Papa memberitau aku dimana wanita itu Papa sembunyikan ?. Apa susahnya Papa memberi restunya ?. Apa permintaanku itu terlalu berat Bang ?, apa terlalu berlebihan ?. Papa itu terlalu egois !, merasa menjadi orang paling benar !"cerca Darren dengan mata berkaca kaca.
"Dan selama ini aku hidup dari uang Mama !" tambahnya.
"Ya ! uang Mama, tapi selama ini Papalah yang mengorbankan dirinya untuk mengelola harta Mama supaya kita bisa hidup enak, tanpa memikirkan dirinya yang di injak injak orang harga dirinya, di cap orang sebagia laki laki matre yang hidup menompang kaya dengan harta Mama. Tanpa orang orang tau, Papa berusaha keras untuk menafkahi anak dan istrinya dari hasil jerih payahnya sendiri" ujar Orion.
Orion menghela napasnya lagi, karna Darren sama keras kepalanya dengan sang Papa.
"Papa sudah tua Darren !, mengalahlah !. Berbaikanlah dengan Papa !. Jangan sampai kamu menyesal, karna belum sempat menjadi anak yang baik, Papa sudah tiada. Apa susahnya menjadi anak yang penurut" nasehat Orion lembut.
"Kalau Papa tidak merestuiku dengan Jean, aku gak mau berbaikan dengan Papa" kekeh Darren.
"Jika wanita itu membawa pengaruh buruk untukmu, membuatmu bermusuhan dengan Papa, itu artinya wanita itu bukan wanita yang terbaik untukmu Darren. Berbaikanlah dengan Papa !, berusahalah mengambil hati Papa, bujuk Papa Darren. Buktikan sama Papa, kalau wanita itu wanita terbaik untukmu !. Yakinkan Papa kalau kamu sungguh sungguh. Aku rasa Papa bukan tidak merestuimu dengan wanita itu. Papa hanya kawatir, suatu saat kamu menyesal karna tidak menikahi wanita yang masih gadis. Dia gak mau kamu menyakiti wanita itu. Papa gak mau kamu menjadi pria yang ingkar janji nantinya karna tergoda dengan wanita yang lebih muda dan penasaran dengan wanita yang masih gadis. Ayolah Darren ! bujuk Papa, yakinkan dia !. Jangan malah kamu menjauhi Papa. Papa juga pasti merindukanmu !, merindukan kemanjaanmu yang sudah tidak pernah ia lihat semenjak kamu mengenal wanita itu. Papa merasa wanita itu lebih berharga darinya. Papa bisa saja tersinggung karna sikapmu yang menjauhinya karna wanita itu !" oceh Orion panjang lebar.
Darren pun terdiam dan meneteskan air matanya. Tentu Darren juga merindukan kasih sayang Papanya. Tapi semenjak Papa Arya menyembunyikan wanita itu, Darren merasa Papa Arya tidak memikirkan perasaannya, tidak menyayanginya.
"Kamu sama Papa itu sudah sama sama salah paham !" tambah Orion lagi.
"Aku mencintai Jean Bang !. Apa itu salah karna dia seorang janda ?. Apa seorang Janda tidak berhak mendapatkan cinta dari pria lajang ? lirih Darren dengan suara tercekat.
Lagi Orion menghela napasnya.
"Apa sepuluh Tahun itu belum cukup untuk Papa menyiksa perasaanku ?. Ya ! dulu alasan Papa karna aku belum besar, belum dewasa. Sekarang aku sudah dewasa bang !, aku juga sudah berpenghasilan. Selama ini aku sudah memantaskan diri untuk menjadi seorang laki laki yang pantas untuk wanita dewasa. Tapi sama sekali Papa gak mau memberitau dimana Papa menyembunyikan Jean selama ini!" ucap Darren lagi, menghapus air matanya.
"Temuilah Papa Darren. Papa memang keras kepala, tapi itu bukan berarti hati Papa tidak bisa di luluhkan. Kamu saja yang tidak mau membujuk Papa. Lihat Arsen dan Elang, dulu juga mereka pernah melakukan kesalahan yang besar. Tapi mereka bisa meluluhkan hati Papa, mendapat maaf dari Papa" usul Orion.
Darren diam dan terus menghapus air matanya.
Orion pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian menepuk pelan tiga kali pundang Darren.
"Papa sangat merindukanmu ! temuilah dia, Papa lagi sakit. Mintalah restu kepadanya. Aku yakin Papa pasti memberi restunya. Asal kamu pintar aja mengambil hatinya" ucap Orio lalu pergi.
.
.
Jean memarkirkan motornya di halaman rumahnya dan buru buru langsung masuk ke dalam rumah.
"Khanza !" sahutnya dengan suara agak keras." Khanza !" sahutnya lagi karna tidak mendengar suara Khanza di dalam rumah.
"Iya Ma ! ada apa ?" tanya Khanza keluar dari dalam kamar, sepertinya baru selesai mandi sore di lihat dari wajahnya yang nampak segar dan di poles bedak tabur.
"Ayo bantu Mama menyusun baju baju kita. Kita harus segera pergi dari sini !" ujar Jean, masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil tas hitam berukuran besar.
"Mama gak bisa menjelaskannya sekarang !, ayo cepat bantu Mama !" jawab Jean mulai menyusun baju baju mereka ke dalam tas dengan buru buru.
Tanpa bertanya lagi, Khanza pun membantu Ibunya mengambil baju bajunya dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam tas.
"Bawa yang perlu perlunya aja, dan susun semua buku bukumu, masukkan semua ke dalam tas ini!" perintah Jean lagi.
"Iya Ma !" balas Khanza dengan pandangan meneduh.
Setelah selesai mengemas baju baju mereka. Jean lagsung menyeretnya keluar rumah, menaikkannya ke atas motor di bagaian tempat kaki motor bebeknya. Kemudian Jean kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas berkasnya.
"Ayo !" ajak Jean kepada Khanza, supaya Khanza naik ke atas motor.
"Iya Ma !" patuh Khanza lagi.
Setelah Jean dan Khanza naik ke atas motor, Jean langsung melajukannya. Tadi saat di kantor, saat dia akan mengetuk pintu ruangan Darren untuk mengantarkan berkas yang harus di tanda tangani Darren. Jean tidak sengaja mendengar perdebatan Darren dengan seorang laki laki. Yang ternyata karna masalah dirinya, yang menjadi penyebab hubungan bosnya itu dengan orang tuanya tidak baik.
.
.
Pulang dari kantor, Darren langsung pergi ke kediaman orang tuanya untuk menjenguk Papanya yang lagi sakit. Setelah turun dari dalam mobil, Darren langsung masuk ke dalam rumah.
"Bang Darren !" seru Sabina berlari ke arah Darren yang baru masuk.
Darren pun langsung menurunkan sedikit tubuhnya, meraih tubuh Sabina, mengangkatnya ke gendongannya, lalu mengecup pipinya.
"Benaran Papa sakit ?" tanya Darren sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar orang tua mereka. Darren sangat jarang datang ke rumah itu semenjak dirinya pulang dari luar Negri. Dan setiap datang, tidak pernah menyapa Papa Arya, atau sekedar menanyakan kabarnya.
"Papa gak mau di bawa berobat ke rumah sakit !" jawab Sabina dengan mata berkaca kaca dan bibir di tekuk ke bawah.
Derren pun mengusap kepala putri raja di keluarga itu." Papa pasti sembuh !, jangan sedih ya !" ucapnya menenangkan sang adik.
"Mama juga sering menangis !" lirih Sabina tak dapat membendung air matanya.
Darren pun mendekap Sabina ke dalam pelukannya, dan mencium ujung kepalanya. Setelah sampai di depan pintu kamar Papa Arya dan Mama Bunga, Darren langsung mengetok pintunya.
"Masuk !" sahut Mama Bunga dari dalam.
Darren pun memutar knop pintunya sembari mendorongnya sampai terbuka. Kemudian Darren melangkahkan kakinya perlahan. Darren menghela napasnya melihat sang Papa terbaring lemah di atas ranjang dengan kain kompres di atas keningnya.
"Ma !" sapa Darren lembut, melihat wajah Mamanya nampak sembab seperti habis menangis.
"Papamu sudah tak muda lagi Nak !" ucap Mama Bunga, kembali meneteskan air matanya.
"Darren minta maaf Ma !" ucap Darren. Tanpa menurunkan Sabina dari gendongannya, Darren mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur di samping Mama Bunga. Darren pun menarik Mama Bunga ke dalam pelukannya, dan mengecup ujung kepalanya.
"Tidak bisakah kamu dan Papamu berdamai demi Mama !" isak Mama Bunga lagi.
Sudah sepuluh Tahun, anak dan suaminya itu tidak akur. Dan bahkan Darren sampai memilih keluar dari rumah, karna Papa Arya tidak mau memberitahu dimana wanita janda itu ia sembunyikan.
"Darren ke sini untuk berdamai dengan Papa Ma !. Darren ingin berbaikan dengan Papa Ma !. Darren minta maaf karna sudah menjadi anak durhaka Ma !. Sudah tidak patuh kepada orang tua"balas Darren.
"Kamu itu sama seperti Papamu, kalau sudah jatuh cinta, sangat keras kepala !"ucap Mama Bunga.
Papa Arya yang mendengar suara berisik pun terbangun. Papa Arya membuka matanya, mengarahkan tatapannya ke arah Mama Bunga dan Darren yang membelakanginya.
"Darren !" ucap Papa Arya dengan suara paraunya.
Darren dan Mama Bunga pun memutar tubuh mereka menghadap Papa Arya.
"Pah ! Darren minta maaf Pah !" ucap Darren, mengambil tangan Papa Arya, lalu menciumnya.
Rupanya perkataan Orion abangnya yang mengingatkannya tentang pengorbanan Papa Arya menjaga Mama Bunga dan hartanya berhasil menusuk hatinya.
"Aku kehilangan seorang anak karna seorang wanita !" lirih Papa Arya meneteskan air matanya." Anakku menjauhiku karna karna wanita yang di cintainya !"lirih Papa Arya lagi.
Hatinya sakit, karna Darren meninggalkan rumah karna wanita itu. Padahal Darren belum menikah, tapi memilih tinggal di rumah yang di bangunnya sendiri.
"Darren minta maaf Pah !" balas Darren.
.
.