
Selesai acara makan, Yumna pun membawa Reyhan di taman belakang rumahnya. Para orang tua memberikan mereka kesempatan untuk mengobrol. Mereka percaya kedua calon mempelai itu tau batasan masing masing.
"maaf ! tadi aku lupa memakai nikap" ucap Yumna setelah mendudukkan tubuhnya di sebuah ayunan yang terbuat dari rantai dan besi.
"Tidak apa apa !, aku menyuruhmu memakainya ke luar rumah saja" jawab Reyhan melihat sebentar wajah Yumna dari samping.
"Tadi aku pikir kamu akan kecewa" ucap Yumna.
Reyhan mengulas senyumnya." Kamu belum menjadi istriku, aku tidak berhak kecewa. Aku yakin, jika kamu tak memakainya di depan keluargaku nanti. Mereka tidak akan memandangmu dengan mata jahat mereka. Jadi di dalam rumah tak perlu kamu memakainya, kecuali sedang ada tamu laki laki dewasa" balas Reyhan.
"Meong meong meong...."
Refleks Reyhan dan Yumna memutar kepala mereka ke arah belakang. Yumna tersenyum melihat para kucing kucingnya memanggil manggil dari kandang. Yumna pun berdiri dari Ayunan berjalan ke arah kandang kucing. Untuk membukakan pintu untuk para kucing kucingnya.
"Kalian mau bermain ya !, tapi jangan pergi jauh jauh !, dan jangan lupa cepat pulang !, Oke !" ucap Yumna kepada lima ekor kucingnya. Seolah olah para kucing kucingnya mengerti dengan yang ia katakan.
Namun kucing itu mendekati Yumna, ada yang mengelus elus kakinya, dan ada yang berdiri minta di gendong.
Yumna pun membungkukkan tubuhnya, mengangkat kucing oyennya ke gendongannya, lalu membawanya kembali ke ayunan.
"Apa kelima kucing itu milikmu ?" tanya Reyhan, iya sangat tidak menyukai kucing, karna pernah di cakar sama kucing.
"Iya ! boleh aku membawanya nanti ?" tanya Yumna, tangannya mengelus elus kepala kucingnya yang bermaja manja di pangkuannya.
"Tapi di rumah tidak ada kandang kucing. Lagian bagaimana cara membawanya ?, penumpang pesawat dan kapal laut tidak di ijinkan membawa binatang peliharaan" jawab Reyhan.
"Bang Daanish atau bang Nail bisa mengantarnya naik kapal roro" Yumna berbicara dengan bibir mengerucut." Dan kamu bisa membuatkan kandang untuk mereka" rajuk Yumna.
"Baiklah ! pastikan kucing kucingmu itu tidak ada yang mendekatiku" pasrah Reyhan.
Yumna tersenyum sampai matanya menyipit, kemudian melemparkan si kucing oyen ke pangkuan Reyhan yang duduk di ayunan sebelahnya.
"Aaakkh !!!" jerit Reyhan kaget, dan langsung membuang kucing oyen entah kemana.
"Hahahahaha.....!!!" tawa Yumna terbahak bahak, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Ternyata bang Reyhan takut kucing ! Hahahaha.....!!!" tawa Yumna lagi. Mengambil si kucing oyen lagi, membawanya mendekati Reyhan.
"Menjauh atau aku cium !" ancam Reyhan.
Yumna langsung berhenti menjahili Reyhan dengan kucingnya.
"Coba saja kalau berani !, Yumna aduin Papa !" tantang balik Yumna. Kemudian tiba tiba melempar kucingnya lagi ke arah Reyhan, dan langsung berlari masuk ke rumah sambil tertawa tawa.
Reyhan yang melihat kejahilan Yumna, menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum.
Baiklah calon bidadari surgaku, setelah aku halal menyentuhmu aku akan memberikanmu hukuman. Ternyata kamu gadis yang ceria dan menyebalkan. Batin Reyhan,kemudian melangkahkan kakinya menyusul Yumna masuk ke dalam rumah. Eh ! malah si kucing oyen mengikutinya dari belakang.
Sampai di dalam kamarnya, Yumna langsung memegangi dadanya dan bersandar di daun pintu, karna detak jantungnya yang memburu. Yumna langsung salah tingkah, saat Reyhan akan menciumnya. Yumna tidak pernah dekat dengan laki laki mana pun, ini pertama kalinya.
Ampuni Yumna ya Allah !, batin Yumna. Karna tidak bisa mengontrol perasaannya saat berdekatan dengan Reyhan.
.
.
Diana melangkahkan kakinya masuk ke gedung rumah sakit milik Dokter Aldo, dengan membawa rantang di tangannya. Diana sengaja datang ke rumah sakit untuk mengantar makan siang untuk Dokter Aldo. Semua para perawat yang berpapasan dengannya menyapanya dengan ramah, karna mereka sudah tau dengan Diana yang sudah menjadi istri dari pemilik rumah sakit itu. Dan Diana pun hanya membalas sapaan itu dengan tersenyum ramah.
"Hei ! kamu istri barunya Dokter Aldo 'kan ?"
Diana langsung menghentikan langkahnya, saat mendengar sapaan seorang wanita paru baya yang berpapasan dengannya.
"Iya Bu ! ada apa ya ?"tanya balik Yumna.
"Saya tantenya Sirin !, bisa kita bicara sebentar ?" tanya Wanita itu lagi.
"Mau bicara apa Bu ?" tanya balik Diana.
"Jangan di sini, kita bicara di kantin saja" jawab wanita itu. Diana pun menganggukkan kepalanya. Kemudian mengikuti langkah kaki wanita itu ke arah kantin.
Setelah mereka sama sama duduk di salah satu meja kosong. Wanita itu pun memesan dua minuman untuk mereka.
"Tinggalkan Dokter Aldo !" to the poin wanita itu kepada Diana.
Sontak Diana menajamkan pandangannya ke arah wanita yang tak lagi muda itu.
"Shasa Ibunya Sirin masih ingin memperbaiki pernikahannya dengan Dokter Aldo setelah ia keluar dari penjara. Tinggalkanlah Dokter Aldo, kamu masih sangat muda, kamu bisa mencari pria yang lebih muda dari laki laki yang usianya pantas menjadi ayahmu itu. Kasihan Ibunya Sirin, dia sudah tak muda lagi, akan sangat sulit baginya mencari pasangan" ucap wanita itu lagi.
Wanita itu pun mengeluarkan kertas cek dan pena dari dalam tas kecilnya. Meletakkanya di atas meja, mendorongnya pelan ke hadapan Diana.
"Tulis angka berapa yang kamu inginkan" ucap wanita itu.
Diana mengarahkan pandangannya ke arah tangan wanita itu yang masih menyentuh kertas cek tersebut. Kemudian menggerakkan tangannya mengambil kertas cek itu. Kemudian mengambil penanya dan menuliskan angka satu dengan jumlah nol yang sangat banyak, sampai memenuhi kertas itu. Kemudian menyerahkannya kembali kepada wanita itu.
"Saya tidak tau seberapa banyak jumlah kekayaan anda. Sampaikah sebanyak jumlah angka yang saya tulis ?" tanya Diana santai menahan emosinya.
Diana tidak mau sampai ribut dengan wanita itu, mengundang perhatian orang rumah sakit. Dan yang pasti akan bikin malu suaminya. Angkuh sekali wanita itu, ingin membelinya hidup hidup.
Wanita itu mendengus," ternyata kamu wanita matre, kamu menikah dengan Dokter Aldo karna uangnya" maki wanita itu.
"Anda benar sekali !, saya ini memang matre !. Kenapa anda keberatan ?, sedangkan suami saya tidak keberatan" balas Diana.
"Dokter Aldo itu tidak pernah mencintai wanita lain selain wanita bernama Bunga. Dokter Aldo itu menikahimu hanya pelampiasan nap**nya saja" ucap wanita itu, menghasut Diana, supaya Diana meninggalkan Dokter Aldo.
Diana berdiri dari tempat duduknya, tanpa melepas netranya dari wanita berhati busuk itu. Kemudian menyunggingkan senyumnya ke samping. Kemudian membungkukkan tubuhnya ke arah wanita itu, dan mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
"Saya juga sangat menyukai itu !" ucap Diana tepat di wajah wanita itu.
Diana meluruskan tubuhnya kembali, kemudian memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan wanita itu yang menahan emosi melihatnya.
Samapai di ruangan Dokter Aldo, Diana meletakkan rantang di tangan di atas meja sofa. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tanpa sadar air mata Diana langsung luruh dari sudut matanya. Baru ia bisa membuka hatinya kepada Dokter Aldo, sudah datang orang untuk memisahkan mereka.
Rendah sekali wanita itu memandangnya, Menawarkan uang kepadanya supaya ia mau meninggalkan Dokter Aldo. Apa karna ia berasal dari keluarga sederhana ?. Hati Diana menjadi sakit di buatnya. Diana pun meghapus air matanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu pun terbuka dari luar. Dokter Aldo melangkahkan kakinya masuk, berjalan ke arah sofa mendudukkan tubuhnya di samping Diana yang terbaring sambil bermain ponsel.
"Sayang !"sapa Dokter Aldo, mengambil HP dari tangan Diana, meletakkannya di atas meja.
Diana langsung duduk dan menghamburkan tubuhnya memeluk Dokter Aldo, menangis.
"Ada apa ? kenapa menangis ?" tanya Dokter Aldo lembut. Membalas pelukan Diana dan mengusap usap kepalanya, dan mengecup ujung kepala Diana.
"Tadi aku bertemu tantenya Sirin !, dia menyuruhku meninggalkanmu !. Dia menawarkanku uang yang banyak !" tangis Diana cigukan.
Dokter Aldo terdiam, mengerutkan keningnya.
"Dia bilang By hanya mencintai tante Bunga. By menikahiku hanya untuk menyakurkan nap** aja" adu Diana.
"Trus apa yang membuat istriku yang cantik ini menangis ?" tanya Dokter Aldo lagi. Tangannya tidak berhenti mengusap usap kepala Diana.
Diana mengeratkannya ke tubuh Dokter Aldo," aku takut, wanita itu menghabisiku seperti tante Shasa yang ingin menghabisi tante Bunga. Yang membuat Arsen menjadi korban" jawab Diana." Aku takut wanita itu mencelakaiku atau keluargaku !" ucap Diana lagi.
"Sssttt....! aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu sayang !, jangan takut." Dokter Aldo memindahkan Diana ke atas pangkuannya dan semakin mengeratkan pelukannya, seperti memberikan perlindungan kepada Diana.
Istrinya itu masih kecil, tentulah Diana takut jika berhadapan dengan orang yang jauh di atas usianya.
"Istriku ini masak apa hari ini ?, Hubby mu ini sudah sangat lapar" ucap Dokter Aldo, ingin mengalihkan pikiran Diana dari rasa takutnya.
Diana berhenti menangis, melonggarkan pelukannya, kemudian menghapus air matanya."Ada tahu goreng isi sayuran, ada ikan goreng, sama daun kelor jagung sama wortel di masak bening" jawab Diana.
Dokter Aldo mengulas senyumnya, kemudian melepaskan pelukannya. Dokter Aldo menangkup wajah Diana dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium kening Diana.
"Trimakasih ya ! sudah memasak untuk Hubby mu ini" ucap Dokter Aldo.
Dokter Aldo senang karna Diana memasak makanan untuknya. Selama dengan Shasa, Dokter Aldo tak pernah memakan masakan istrinya. Apa lagi mengantar makanan untuknya ke rumah sakit, Shasa tidak pernah melakukan itu.
"Itu sudah tugas Diana" Diana berbicara manja dengan bibir mengerucut.
Cup !
Dokter Aldo yang gemas, pun memgecup bibir mungil Diana."Love you !" ucapnya lembut sembari tersenyum.
Wajah Diana berbinar meski nampak sembab, kemudian memeluk Dokter Aldo, menyandarkan kepalanya ke dadanya.
"Balas dong sayang !" goda Dokter Aldo. Meski mereka sudah sering bercinta saling mengenal luar dalam. Diana masih sering malu malu kepadanya. Bahkan saat sadar, Diana masih malu mengatakan mencintainya. Padahal jika sedang bercinta, Diana terus berteriak teriak mengatakan mencintainya.
Diana mengeratkan pelukannya ke tubuh Dokter Aldo. Sebagai isyarat kalau ia juga mencintai suami tuanya itu.
.
.