
Dokter Aldo masih terus menunggangi tubuh Diana. Membuat Diana tidak berhenti memanggil manggil namanya. Kata cinta terus terucap dari bibir keduanya, saling memuji dan mengagumi. Kenikmatan yang sangat luar biasa. Malam sudah hampir subuh, namun keduanya masih tak ingin mengakhiri kegiatan panas membakar kalori itu. Dokter Aldo begitu buas, bagaikan singa kelaparan yang baru mendapat buruan. Dokter Aldo benar benar memakan habis tubuh Diana sampai ke tulang tulang.
"Aldo !!! ihh ! ahh ! auh !, aku..mencintaimu..Aldo..! ini..sangat..nikmat..aku..menyukainya..Aldo..!"
Diana terus merancau keenakan, meski tubuhnya sudah lelah dan lemas. Entah sudah berapa kali tubuhnya menegang, namun rasa nikmat yang di berikan Dokter Aldo, tak bisa di tolak tubuhnya.
"Nikmatilah sayang ! aku akan membuatmu puas malam ini" ucap Dokter Aldo, mengecup kening Diana yang berkeringat. Dokter Aldo pun menambah ritme kecepatan permainannya. Membuat Diana semakin berteriak teriak, dengan tubuh terguncang guncang.
"Aldo...!!!, aaahh !!!"
"Oh ! Diana sayang !, kamu sangat nikmat sayang !" puji Dokter Aldo, merasakan nikmatnya tubuh Diana menjepit tubuhnya.
"Lebih cepat lagi Aldo..!!!" teriak Diana saat tubunya menegang kembali, akan mencapai ******* yang sangat dasyat.
Dokter Aldo pun langsung menambah kecepatan ritme permainannya lagi. Menghujam kuat kuat tubuh Diana.
"Aldoooo......!!!! Aaaahhhhh.....!!" jerit Diana, kemudian tubuhnya melemah dengan napas memburu. Namun Dokter Aldo masih menghujam tubuhnya mencari kenikmatan, membuat Diana kembali berteriak kenikmatan. Tak lama kemudian Dokter Aldo pun menyudahi permainannya, setelah berhasil melepaskan bibit bibit unggulnya di dalam tubuh Diana. Berharap bibit unggul itu berubah menjadi buah cinta mereka.
Dokter Aldo menjatuhkan tubuhnya di samping Diana dengan napas tidak kalah memburu dari Diana. Dokter Aldo menarik selimut menutup tubuh mereka, kemudian memeluk tubuh Diana.
"Trimakasih sayang !" ucap Dokter Aldo mengecup pipi Diana dari samping. Namun Diana dia tidak membalasnya, karna masih sibuk dengan napasnya yang ngosngosan.
Karna sudah sama sama kelelahan, keduanya pun memejamkan mata memilih untuk istirahat, untuk memulihkan tenaga mereka yang terkuras habis.
.
.
Subuh menjelang, Dokter Aldo terbangun dari tidur lelapnya, karna alarmnya sudah berbunyi. Rasanya baru sebentar ia ketiduran, namun malam sudah menjelang pagi. Dokter tersenyum memandangi wajah Diana yang tertidur pulas di sampingnya. Dokter Aldo mengingat percintaan dasyat mereka tadi malam, Diana sangat nikmat. Dokter Aldo pun menjatuhkan satu kecupan di kening Diana.
Dokter Aldo memindahkan kepala Diana ke atas bantal. Dokter Aldo pun bangun dari atas tempat tidur, mengambil handuknya tadi malam yang di lemparnya ke lantai, melilitnya ke tubuhnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus menyiapkan air hangat untuk istri kecilnya untuk mandi.
Setelah mengisi air hangat dan memberi sabun cair ke dalam bathtub. Dokter Aldo keluar kembali dari kamar mandi, untuk membangunkan Diana.
"Diana sayang ! bangun ! sudah pagi !" ucap Dokter Aldo lembut, sambil tangannya mengusap wajah Diana dengan tangannya yang basah.
Sontak Diana langsung terbangun, merasakan dinginnya sapuan tangan Dokter Aldo di wajahnya. Diana menggeliatkan tubuhnya sambil bergumam dengan mata terpejam.
"Diana masih sangat ngantuk Aldo !, tubuh Diana juga capek, sakit semua."
Dokter Aldo mengecup bibir Diana," nanti bisa dilanjut tidurnya sayang !" ucapnya.
"Gak mau !" tolak Diana.
Dokter Aldo menyibak selimut yang menutupi tubuh polos Diana. Membuat Diana langsung membuka matanya, dan refleks tangannya menutup bagian bagaian tertentu tubuhnya.
"Om sudah melihatnya dan sudah menikmati semuanya sayang !. Gak usah di tutup lagi" ucap Dokter Aldo terseyum.
"Tetap aja Diana malu !" Diana berbicara dengan mengerucutkan bibirnya, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidak Dokter Aldo.
Sampai di kamar mandi, Dokter Aldo menurunkan Diana di bawah shower, dan langsung mengguyurnya sampai basah semua. Kemudian memindahkan tubuh Diana ke dalam bathtub berendam air hangat.
Selesai urusan kamar mandi, mereka pun sama sama keluar hanya dengan menggunakan handuk.
"Kenapa sayang ?, masih sakit ?" tanya Dokter Aldo, melihat Diana berjalan sedikit pincang. Diana menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut. Pria tua yang sudah menjadi suaminya itu sangat buas menerkamnya tadi malam.
Dokter Aldo tersenyum,"Kamu sangat nikmat sayang, Aku sangat mengukainya" bisik Dokter Aldo ke telinga Diana.
Diana semakin mengerucutkan bibirnya, berjalan ke arah lemari, untuk mengambil baju untuknya dan suaminya.
.
.
Waktu berlalu
Kini pengantin baru yang baru memadu kasih itu, sudah sama sama duduk di meja makan. Menikmati sarapan di piring masing masing. Nampak Diana makan sangat lahap. Sepertinya perutnya sudah sangat lapar, karna kehabisan energi tadi malam. Dan Diana pun sampai nambah makanan ke piringnya dua kali, itu pun masih terasa kurang.
"Bu ! apa nasi gorengnya masih ada ?" sahut Diana kepada pembantu yang bersih bersih di dapur.
Pembantu yang merasa di sahutin itu pun, keluar dari dapur masak, untuk menjawab pertanyaan sang majikan.
"Habis Bu !" jawab pembantu itu.
"Masih lapar !" rengek Diana manja, mengerucutkan bibirnya, matanya melirik piring Dokter Aldo.
Dokter Aldo menggeleng gelengkan kepalanya, ia memang sudah tidak heran lagi dengan porsi makan Diana yang seperti pekerja berat.
"Bu ! mulai hari ini kalua masak, masaknya lebih di bayakin ya !. Jangan sampai istri kuliku ini kekurangan" ucap Dokter Aldo tersenyum. Kemudian menyendok nasi goreng di piringnya, menyuapkannya ke mulut Diana.
"Baik Pak !" patuh wanita paru baya itu, kemudian undur diri ke belakang.
"Mana ada aku Kuli" ucap Diana.
"Aku gak ngapa ngapain, By aja yang sibuk sendiri" cibir Diana tersenyum, menatap wajah Dokter Aldo dengan mata berbinar.
"Jangan menatapku seperti itu sayang, aku harus berangkat ke rumah sakit sekarang !" ucap Dokter Aldo, tidak tahan melihat mata indah Diana yang seperti menggoda imannya.
"By 'kan bos di rumah sakit itu !, sesekali terlambat sepertinya tak masalah !" balas Diana.
Dokter Aldo mendekatkan wajahnya ke telinga Diana." Apa kamu mengiginkanku sayang !, katakan iya, aku akan menuruti permintaanmu."
"Gak ! aku mau tidur setelah sarapan. Mataku ngantuk banget, tubuhku terasa remuk semua" tolak Diana.
"Ya sudah ! istrirahatlah yang banyak, karna nanti malam aku akan memakanmu lagi" ucap Dokter Aldo.
"Diana gak mau, itu Diana masih sakit" tolak Diana lagi.
"Kita harus sering sering melakukannya sayang !, biar sakitnya cepat hilang" bisik Dokter Aldo ketelinga Diana, dan sedikit menggigit daun telinga Diana. Membuat Diana merinding si bulu roma.
"Ikh By..!" ringis Diana.
"Ayo antar suamimu ke depan, suamimu ini harus pergi mencari uang yang banyak untuk istriku yang cantik ini" ajak Dokter Aldo, setelah mereka selesai sarapan.
Dokter Aldo pun berdiri dari kursinya, begitu juga dengan Diana. Mereka sama sama berjalan ke arah pintu depan.Dokter Aldo melingkarkan satu tangannya di pinggang belakang Diana. Begitu juga denga Diana, melakukan hal yang sama.
Sampai di depan pintu, Dokter Aldo mengecup kening Diana, setelah Diana menyalam tangannya.
"Aku berangkat dulu ya my darling !, tunggu aku di rumah" pamit Dokter Aldo terseyum, melepas rangkulan tangannya dari pinggang Diana.
Diana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Lagi, Dokter Aldo mengecup keningnya. Rasanya Dokter Aldo berat sekali untuk berangkat kerja, ia ingin menghabiskan waktu bersama Diana istri kecilnya.
"Sana By ! berangkat !, nanti terlambat" Diana mendorong tubuh Dokter Aldo, karna Dokter Aldo masih berdiri di depannya, memandanginya dengan tersenyum.
"Kamu ikut ke rumah sakit ya !"ajak Dokter Aldo, tak ingin jauh jauh dari Diana.
Diana menggelengkan kepalanya sembari tersenyum." Gak By ! Diana mau istrirahat" tolaknya.
Dokter Aldo menghela napasnya lemah, ia tak semangat ingin berangkat kerja." Ya udah deh ! aku berangkat. Istirahat yang banyak istriku !." Dokter Aldo mengedipkan sebelah matanya ke arah Diana, kemudian melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah.
.
.
Di rumah sakit
"Bagaimana bisa hasil tes DNA itu positif ?, Sedangkan wanita yang mengandung Boy, tujuh bulan tinggal bersamaku sudah melahirkan ?" tanya Orion kepada Ghissam yang duduk di sofa ruang perawatannya.
"Wanita itu tujuh Bulan tinggal bersamamu setelah dia mengaku hamil. Saat wanita itu mengaku hamil, berapa usia kandungannya ?" tanya balik Dokter Ghissam.
Orion pun diam berpikir, saat Jeslin mengaku hamil, Orion tidak bertanya berapa usia kandungannya. Dan selama Jeslin tinggal bersamanya, Orion tidak pernah mengikuti perkembangan Boy di dalam kandunga. Karna ia sangat sibuk bekerja pada saat itu. Dan Orion juga tidak ingin memberi perhatian kepada Jeslin, karna kawatir Jeslin salah mengartikan perhatiannya. Orion hanya memberi Jeslin tempat tinggal dan membiayai hidup Jeslin sampai melahirkan.
"Coba bang Orion ingat ingat !, setelah kejadian itu. Apa wanita itu datang mengaku hamil, pas satu Bulan setelah kejadian ?. Mungkin bisa saja ia mengaku hamil, setelah kandungannya berusia lima minggu atau enam minggu. Dan juga, perhitungan satu bulan kandungan, hanya dua puluh delapan hari. Tidak sama dengan perhitungan satu bulan di kalender, Ada yang tiga puluh sampai tiga puluh satu hari" jelas Dokter Ghissam lagi.
Orion mengerutkan keningnya, berpikir keras mengingat tanggal ke jadian itu dengan kedatangan Jeslin mengaku hamil." Aku tidak mengingatnya" jawab Orion.
"Dan kelahiran bayi juga bisa lebih cepat dan lebih lambat dari tanggal perkiraan kelahiran. Itu artinya, tidak semua bayi lahir genap berusia sembilan bulan. Ada yang kurang dari sembilan bulan dan ada yang lebih. Dan bahkan ada yang sampai sepuluh Bulan baru lahir. Itu bisa terjadi, dan itu normal normal saja." jelas Dokter Ghissam lagi.
"Kamu bisa melakukan tes DNA ulang kembali ke rumah sakit lain. Jika kamu masih ragu dengan hasil tes DNA di sini. Tidak apa apa, semua orang bisa melakukan kesalahan, bang Orion tidak usah merasa tidak enak hati" ucap Dokter Ghissam lagi.
"Tidak perlu lagi!" sahut Queen, yang terbaring dari tadi di samping Orion, mendengarkan pembicaraan Orion dan Dokter Ghissam.
Orion dan Dokter Ghissam refleks mengarahkan pandangan mereka ke wajah Queen.
"Aku rasa hasil tes DNA itu tidak salah. Tidak perlu melakukan tes ulang lagi. Lagian siapa pun Ayah kandung Boy, bukankah dia sudah menjadi anggota keluarga kita. Dan kitalah yang menjadi orang tuanya. Jadi untuk apa lagi, aku sudah ikhlas menerimanya" ucap Queen lagi."Aku yakin Boy adalah anak kandung bang Orion. Apa kalian tidak pernah memperhatikan wajah Boy, ada miripnya dengan bang Orion ?."
"Trimakasih sayang !, sudah ikhlas menerima Boy. Abang hanya ingin memastikannya saja sayang" balas Orion, dari tadi tangannya tidak berhenti mengelus elus perut buncit Queen.
"Queen mencintai bang Orion. Queen juga harus mencintai apa yang di miliki bang Orion, baik dan buruknya" ucap Queen.
Sekarang aku baru tau, apa itu arti mencintai bang Orion. Mencintai, menerima orang yang kita cintai, kekurangan atau pun kelebihannya. Aku mencintaimu bang Orion. batin Queen
"Abang lebih mencintaimu sayang !, kamulah satu satunya yang paling teristimewa di hidup abang sayang" gombal Orion tersenyum ke arah Queen.
"Gombal !" cibir Queen.
"Abang tak perlu menggombalmu adikku sayang !" gemas Orion, menarik hidung mancung Queen.
Ehem !
Dehem Dokter Ghissam.
.
.