Brother, I Love You

Brother, I Love You
151.Kurang maksimal



Tiga Bulan berikutnya


Dari tadi Orion memeluk Queen berjalan jalan, di sekitar rumah sakit. Sesekali Queen meringis kesakitan saat perutnya mengalami kontraksi. Sudah dari tadi malam Queen merasakan perutnya sakit, namun jalan lahirnya belum terbuka sempurna hingga pagi hari. Dari tadi malam Dokter Ghissam meyuruh Queen untuk sering berjalan jalan, untuk mempercepat proses bukaannya.


"Bang Orion !" ringis Queen, mencengkram kuat punggung Orion, membuat Orion terpaksa merapatkan gigi giginya menahan perihnya kuku Queen yang menancap di kuliynya.


Orion mengusap usap punggung Queen dari belakang, dan mengecup ngecup ujung kepala gadis kecilnya yang akan melahirkan buah hatinya itu.


"Sabar ya !"


Hanya kata itu yang bisa Orion ucapkan untuk menenangkan Queen.


"Kenapa anak kita lahirnya lama sekali ?, Queen sudah gak kuat kalau seperti ini terus. Nanti Queen gak mau hamil lagi, anak kita cukup dua aja" oceh Queen. Tubuhnya sudah lelah, belum ada tidur dari dari malam. Namun anak merek belum juga mau keluar.


"Iya sayang !" balas Orion.


Melihat istri kecilnya menderita kesakitan saat melahirkan seperti itu. Orion juga tak ingin menghamili istrinya lagi. Cukup anak mereka dua saja.


Kembali Queen mengeram, saat kontraksi muncul lagi dengan yang lebih dasyat. Tiba tiba Queen merasakan seperti ada cairan mengalir di pahanya.


"Bang Orion ! sepertinya sudah mau lahir, Queen rasa seperti ada yang mengalir di kaki Queen" ucap Queen.


Orion pun melepas pelukannya, membungkukkan tubuhnya melikat ke kaki Queen. Orion melihat ada darah mengalir di kaki Queen.


"Sepertinya iya sayang !, ayo kembali ke ruang bersalin" ajak Orion, menuntun Queen berjalan.


Sampai di ruang bersalin, di sana sudah ada Dokter Ghissam, dan seorang bidan perempuan.


"Sepertinya bayi kami akan lahir" ucap Orion.


Lagi lagi Queen mengeram, merasakan perutnya semakin sakit. Queen mencengkram baju Orion kuat dengan mata terpejam.


"Ayo bang Orion baringkan Queen di atas brankar" suruh Dokter Ghissam.


Orion langsung mengangkat tubuh Queen, membaringkannya dengan sangat hati hati di atas brankar. Orion mengusap usap kepala Queen yang berkeringat, dan sesekali mengecup keningnya.


Sementara bidan yang menemani Ghissam di ruangan itu. Mengecek jalan lahirnya apakah sudah sampai bukaan sepuluh.


"Sudah bukaan sepuluh Dok !" ucap Bidan itu kepada Dokter Ghissam. Dokter Ghissam menganggukkan kepalanya.


"Queen ! ikuti intruksi saya ya !, oke !" ujar Dokter Ghissam, yang berdiri di samping Queen. Queen pun menganggukkan kepalanya.


"Kita mulai !" ucap Dokter Ghissam." Tarik napas dari hidung."


Queen pun menarik napasnya dari hidung.


"kekuarkan perlahan dari mulut"


"Huuuuuuhhhh!"


"Tarik napas dalam lagi.., keluarkan dorong !."


Queen pun mengejan di bantu Orion, membungkukkan punggungnya sampai dagunya hampir menyentuh dadanya. Wajah Queen nampak sangat merah saat mengejan, keringat langsung mengalir deras dari pori porinya. Sedangkan Dokter Ghissam mendorong kaki Queen yang di tekuk ke arah perutnya.


"Aakkkh !"


Queen menjatuhkan kepalanya ke bantal dengan napas ngosngosan, setelah ia mengedan untuk pertama kalinya.


"Semangat sayang ! demi anak kita" ucap Orion meneteskan air matanya, tidak tega melihat Queen menahan rasa sakit. Queen menganggukkan kepalanya, ia memang harus kuat dan semangat demi anaknya.


"Ayo Queen ! tarik napas lagi..keluarkan... ! dorong !" suruh Dokter Ghissam.


"Uuuuukkkh...!"


Dokter Ghissam kembali mendorong kaki Queen yang gemetar ke perutnya saat Queen mengejan kembali.


"Terus Bu ! terus Bu ! terus Bu !, kepalanya susah mau keluar" ucap Bidan yang siap menangkap bayi yang akan lahir itu.


"Aaaaa......akh !" jerit Queen, kemudian menjatuhkan kepalanya lagi ke bantal. Sungguh sangat sakit, rasaya Queen sudah ingin pingsan.


"Mengejannya jangan bersuara Queen !, karna tenagamu akan hilang sia sia" ucap Dokter Ghissam, mendengar Queen berteriak.


"Sakit banget ! Queen gak kuat lagi, tenaga Queen sudah habis. Queen lelah, ngantuk rasanya mau tidur," Queen menutup matanya.


"Queen !" tangis Orion meraung raung.Orion tidak bisa berkata apa apa lagi. Melihat perjuangan Queen yang bertaruh nyawa untuk melahirkan buah cinta mereka. Ia hanya bisa mengusap usap kepala Queen, dan mengecup ngecup pipi Queen dari samping.


"Queen buka matanya!, kamu harus semangat, jangan tidur !" ujar Dokter Ghissam, menepuk pipi Queen. Jangan sampai Queen pingsan sebelum anaknya lahir.


"Aku gak kuat lagi bang Ghissam !" mata Queen merem melek, merasa kelopak matanya sangat berat.


"Ayo Queen ! tarik napas lagi !, kamu harus semangat demi anak kalian !"ujar Dokter Ghissam lagi.


Queen pun berusaha menarik napasnya mencoba mempertahankan kesadarannya.


"Keluarkan ! dorong !"


Queen kembali mengangkat kepalanya sampai punggungnya membungkuk, mengejan sekuat tenaganya, sampai seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Melihat Orion yang tak berguna di samping Queen. Maju ke arah Queen, membantu Queen mengejan.


Brukk !


Orion merasakan tubuhnya lemah, dan akhirnya jatuh pingsan, ambruh ke lantai.


"Terus Bu ! iya ! iya ! iya ! sedikit lagi bu !, iya sedikit lagi ! stop !" ujar bidan itu.


Sekali lagi Queen mengeram, dan meringis kesakitan, saat bidan itu menarik bayinya sampai keluar.


Oe oe oe oe.....!!!!


Tangisan bayi itu pun sangat nyaring memenuhi ruangan itu. Seketika rasa lelah, sakit dan ngantuk Queen hilang entah kemana.


Queen terharu, sampai ia meneteska air matanya. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menjadi seorang ibu. Terlebih bayi itu adalah buah cintanya dengan bang Orionnya. Laki laki yang di cintainya sejak lama.


"Bayinya laki laki Dok !" ucap Bidan itu kepada Dokter Ghissam, langsung meletakkan bayi itu di atas dada Queen.


"Queen bayi kalian laki laki !" ulang Dokter Ghissam kepada Queen.


Queen menganggukkan kepalanya, sambil mendekap bayi yang masih berdarah darah di atas dadanya." Bang Ghissam tolong bagunin bang Orion. Ini anak pertama kami, jangan sampai ia melewatkan moment ini" ucap Queen, menangis terharu.


Dokter Ghissam menghela napasnya berjalan ke arah Orion yang tak sadarkan diri. Melihat Queen begitu sangat peduli dengan Orion. Melihat betapa besar cinta Queen kepada Orion.


"Bang Orion ! bangun ! anak kalian sudah lahir !" ucap Dokter Ghissam, setelah mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Orion.


Orion yang terbangun pun langsung berdiri dan mendekati Queen. Di lihatnya ada bayi tengkurap di atas dada Queen.


"Sayang !" lirih Orion, menangis terharu, kemudian mencium kening Queen dengan sepenuh hati." Trimaksih..! trimakasih..! trimakasih sayang !" tangis Orion terisak, menempelkan keningnya ke kening Queen.


Kemudian Orion menyentuh bayi yang belum di bersihkan itu. Mengusap lembut kepala bayi itu, dan mengecup keningnya.


"Dia sangat mirip dengan bang Orion !" ucap Queen, memperhatikan wajah bayi yang berada di dekapannya itu.


"Dia juga ada miripnya denganmu sayang !" balas Orion."Terutama bagian bibirnya, persis seperti bibirmu" ucap Orion lagi.


"Itu karna bang Orion suka minta di cium bibirnya." Queen mengerucutkan bibirnya dengan mata berbinar.


Ehem !


Dokter Ghissam berdehem, mendengar kedua orang tua baru itu membahas ciuman di depan bayi mereka yang baru lahir.


"Maaf tuan dan nyonya ! bayi kalian harus segera di bersihkan" ujar Dokter Ghissam mengambil bayi itu dari atas dada Queen, untuk membersihkannya.


Setelah selesai membersihkannya, Dokter Ghissam menyerahkannya kepada Orion.


Orion menerima bayi itu, membawanya ke dalam dekapannya. Orion mengecup lembut kening dan kedua pipi bayi itu. Kemudian mengazhankannya di telinga kanan, dan mengikomatkannya di telinga kiri.


.


.


Di kediaman Alfarizqi


Papa Arya mengambil handphonnya yang berbunyi di atas meja nakas, pertanda ada pesan masuk. Papa Arya membuka pesan itu, lalu membacanya. Papa Arya tersenyum, membaca pesan dari Orion, kalau cucunya sudah lahir.


"Sayang ! cucu kita sudah lahir !" ucap Papa Arya, kepada Mama Bunga yang lagi sibuk menyusui putri mereka yang baru berusia dua minggu.


Mama Bunga mengembangkan senyumnya, mendengar kabar bahagia itu. Kalau cucu pertama mereka sudah lahir.


"Laki laki apa perempuan ?"


"Laki laki sayang !" jawab Papa Arya tersenyum bahagia, namun matanya nampak berkaca kaca.


Oe oe oe oe... !


"Cupcupcup...! sayang !, kenapa menangis ?" Mama Bunga mengusap usap kepala putrinya itu dengan sayang. Papa Arya pun langsung menoleh ke arah putri mereka.


Oe oe oe...!


Tangis bayi perempuan itu lagi.


"Sabina mau di gendong sama Papa ya ?" ucap Papa Arya lembut. Mengambil bayi itu dari samping Mama Bunga. Lalu mengecup pipinya, kemudian mengayun ngayunkannnya di tangannya.


Mama Bunga pun mendudukkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di lengan Papa Arya, memandangi wajah putri mereka yang wajahnya sangat mirip dengan suaminya. Mama Bunga senang, pasti nanti kalau sudah besar, putrinya itu sangat cantik.


Di salah satu kamar di lantai dua rumah itu. Reyhan memeluk tubuh Yumna dari belakang. Istrinya itu lagi bersedih, karna tespek yang di cobanya tadi saat bangun tidur, garisnya masih satu.


"Almira ! jangan sedih gini dong sayang !, kita menikah baru tiga bulan. Itu masih wajar kalau kamu belum hamil. Berarti usaha kita masih kurang maksimal. Berarti kita harus berusaha lebih keras lagi" bujuk Reyhan, supaya bidadari surganya itu tak bersedih lagi.


"Kurang maksimal bagaimana lagi ?, hampir setiap malam rasanya tulang tulangku mau patah sangking berusahanya" tangis Yumna menghapus air matanya dengan tangannya sendiri.


"Iya sayang !, tapi jangan menangis ya !" bujuk Reyhan. Reyhan membalik tubuh Yumna yang membelakanginya. Kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu.


"Bagaimana kalau aku gak hamil hamil ?. Apa kamu akan menceraikanku ?, dan kamu menikah lagi dengan perempuan lain ?" tangis Yumna, bibirnya menekuk ke bawah.


"Kita bisa mengadopsi anak !, dan juga menikah itu bukan hanya perkara anak saja" jawab Reyhan.


"Seorang suami pasti sangat membutuhkan anak untuk menjadi penerus darah keturunannya" ujar Yumna lagi.


Reyhan menjatuhkan satu kecupan di bibir Yumna." wanita juga pasti membutuhkan seorang anak, bukan hanya suami saja. Kita berdua sama sama menginginkannya. Tapi kalau Tuhan belum mengabulkan do'a kita, kita bisa apa ?. Kita hanya bisa berusaha dan berdo'a, dan hasil akhirnya adalah ketentuan Tuhan" balas Reyhan.


"Jangan menangis lagi ya ! cinta !" bujuk Reyhan lagi, memahami hormon istrinya yang tidak stabil, karna akan datang Bulan.


"Anak bang Orion sudah lahir, ayo kita siap siap ke rumah sakit. Nanti di sana kita sekalian konsultasi sama Dokter" ajak Reyhan, mengelus elus rambut Yumna, kemudian menjatuhkan satu kecupan di pipinya.


.


.