
Sampai di lantai para petinggi perusahaan itu, Jean melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan Direktur. Jean menghela napasnya dalam, sebelum mengetuk pintu di depannya.
Tok tok tok !
"Masuk !" sahut dari dalam.
Jean mendorong pintu di depannya sembari melangkah masuk.
"Silahkan duduk !" Darren mempersilahkan Jean untuk duduk di kursi di depannya.
Tanpa menjawab Jean pun mendudukkan tubuhnya." Ada apa Pak ?" tanya Jean.
"Aku minta maaf soal yang tadi !" ucap Darren, memperhatikan wajah Jean yang sedikit menunduk.
"Saya sudah memaafkannya Pak !" jawab Jean.
Darren diam, ia tidak tau mau bicara apa kepada wanita di depannya itu. Sehingga membuat suasana menjadi hening dan canggung.
"Boleh aku mengatakan sesuatu kepadamu ?" tanya Darren setelah berpikir seperkian menit.
Sontak Jean menoleh sebentar ke arah Darren, dan kembali menundukkan pandangannya lagi.
"Aku.." Darren diam sebentar," sebenarnya dulu aku menyukaimu !. Pernah menyelipkanmu di dalam doaku" lanjutnya.
Jean mendongakkan kepalanya, melihat wajah Darren yang juga menatapnya.
"Saat itu usiaku belum pantas menyukai wanita dewasa sepertimu !. Aku mengagumimu saat itu, mengagumi ketangguhanmu dalam menjalani hidup sebagia seorang Ibu yang hebat" ucap Darren lagi.
"Apa Bapaklah yang memberi saya bantuan, menyekolahkan saya dan menanggung biaya hidup saya dengan anak saya ?" tanya Jean.
Darren mengerutkan keningnya, Apa dia gak tau ? siapa yang mengirimnya ke kota lain, dan memberinya bea siswa hingga sarjana ?, batin Darren.
"Bukan !" jawab Darren tersenyum.
Jean pun diam berpikir, kalau bukan laki laki di depannya itu, lantas siapa ?, pikirnya.
"Jean ! aku serius ! setelah sekian lama aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku masih menyukaimu, saat aku melihatmu petama kalinya tadi saat di kantin. Aku mencintaimu Jean !. Dulu aku pernah berjanji kepada diriku sendiri, jika aku bertemu denganmu, aku akan mengajakmu menikah!."
Dug dug dug dug.....!
Tiba tiba jantung Jean berdegup sangat kencang, saat mendengar pengakuan cinta dari Bos muda tampan itu. Jean tidak percaya dengan bocah imut dulu yang sering memborong es nya.
"Maaf Pak !, aku sudah memiliki suami lagi !" bohong Jean.
Jean tidak ingin terbuai dengan ungkapan perasaan bosnya itu. Jean sadar diri, kalau dia tidak pantas untuk laki laki tampan dan kaya itu. Emang siapa dirinya ?, yang hanya seorang janda beranak satu, berasal dari kalangan rakyat biasa. Dan juga Jean tidak begitu mengenali siapa laki laki yang mengaku cinta kepadanya itu.
Darren pun terdiam, pandangannya meneduh, pupus sudah harapannya untuk bisa memiliki wanita yang di rindukannya selama ini.
"Maaf Pak ! kalau sudah tidak ada yang perlu, saya permisi Pak !." Jean berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu.
Jean membalik badannya sebelum benar benar keluar dari ruangan itu." Trimakasih dulu sudah sering memborong es jualanku, dan sering melebihkan uangnya. Aku selalu berdoa semoga rejeki Bapak tambah banyak, aku tidak bisa membalasnya. Aku tidak pantas untuk Bapak !, carilah wanita yang pantas dan sepadan untuk Bapak, bukan aku orangnya" ucap Jean, kemudian melangkahkan kakinya keluar, berjalan ke arah lif.
Di dalam lif, Jean memegangi dadanya yang masih tidak berhenti bedebar dari tadi. Bos baru itu benar benar membuatnya shok !. Jean tidak percaya, kalau bocah tampat dan imut yang sering memborong es nya, ternyata menyuakainya, mengatakan mencintainya, menyelipkannya di dalam doanya. Ah ! mimpi apa Jean tadi malam.
Darren yang berada di dalam ruangannya diam dan termenung. Kasihan melihat kondisi wanita itu dulu, ya ! tentu Darren kasihan. Siapa yang tidak kasihan melihat orang dalam kesusahan ?. Tapi Darren tidak hanya kasihan, Jantung Darren berdebar setiap melihat wanita itu dulu. Dan setiap mengingatnya selama ini. Darren yakin, kalau dia mencintai wanita itu, bukan hanya sekedar kasihan.
Darren mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mengingat kata kata Papa Arya.
'Bagaimana jika wanita itu menolak cintamu ?. Dan kenapa kamu begitu yakin, kalau wanita itu menerima cintamu ?. Kamu pikir tidak sakit cintanya di tolak !'
"Ternyata benar kata Papa, sakit kalau cintanya di tolak" gumam Darren.
Hati Darren pun tak bersemangat untuk bekerja hari ini. Ia pun mengambil HPnya dari atas meja, memilih bermain game di handphon canggihnya.
Meski kedua jari jempolnya sibuk bermain di layar phonselnya. Tapi otaknya berpikir, tidak begitu mudah percaya kalau wanita itu sudah bersuami lagi.
.
.
Sore hari, Derren keluar dari ruangannya, karna sudah waktunya pulang kerja. Karna masih baru bekerja di perusahaan Reyhan, Darren tidak memiliki banyak pekerjaan. Dia masih mempelajarinya saja.
Darren melangkahkan kakinya ke luar dari dalam lif. Darren mengalihkan pandangannya sebentar ke arah ruang HRD saat melintas di depannya. Darren melihat Jean masih di dalam sedang merapikan meja kerjanya.
Keluar dari gedung perusahaan, Darren langsung masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di depan pintu masuk. Derren tidak langsung melajukannya, sepertimya ia akan menunggu Jean keluar.
Tak lama kemudian Jean dan Nadia keluar dari gedung perusahaan. Darren langsung mengarahkan pandangannya ke arah ke dua wanita itu.
"Ya Je ! salam buat Khanza, nanti kalau ada waktu aku akan berkunjung ke rumahmu !" balas Nadia. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah sepeda motornya.
"Ya ! akan kusampaikan, putriku sudah sangat merindukanmu!" ucap Jean.
"Besok akan ku usahain ikut ke rumahmu !. Pasti anakmu itu hanya rindu dengan makananku !" balas Nadia lagi.
Jean pun tersenyum lalu melajukan motornya keluar dari parkiran perusahaan, di ikuti Diana dari belakang.
Dan Darren pun melajukan mobilnya, membuntuti Jean dari belakang. Darren ingin tau dimana wanita itu sekarang tinggal. Darren ingin memastikan apakah benar wanita itu sudah bersuami atau tidak.
Jean menghela napasnya, melihat mobil bos baru itu mengikutinya dari belakang. Sepertinya bocah baik hati yang sudah dewasa itu, sedikit agak keras kepala. Jean memilih mengabaikannya, dan pokus mengendarai motornya.
"Dia masih tinggal di daerah ini ?" gumam Darren, saat melihat Jean membelokkan motornya ke daerah permukiman warga yang tidak jauh dari SD HARAPAN.
Perlahan Darren pun membelokkan mobilnya, mengikuti kemana motor di depannya itu pergi. Sampai motor itu berhenti di depan rumah sederhana. Darren pun menghentikan mobilnya, dan langsung turun dari dalam mobil.
Darren tidak langsung mengikuti Jean masuk ke dalam rumahnya. Melainkan menghampiri seorang Ibu tetangga Jean.
"Bu ! apa wanita yang baru masuk ke rumah itu sudah berauami lagi ?" tanya Darren, menunjuk ke arah rumah sederhana yang di masuki Jean.
"Ibunya Khanza !, belum Mas !" jawab Ibu ibu itu.
Darren langsung mengulas senyumnya, wajahnya berbinar seperti mendapatkan angin segar.
"Bu ! saya permisi bertamu ke rumah wanita itu boleh ?. Ada urusan penting yang harus kami selesaikan" ucap Darren. Tak ingin menciptakan fitnah buat Jean karna sudah menerima tamu laki laki, terlebih Jean seorang janda. Akan sangat merusak citranya nanti.
"Tapi jangan lama lama mas !, dan jangan menutup pintu" ujar Ibu itu.
"Iya Bu ! trimakasih Bu !" balas Darren, lalu pergi ke arah rumah Jean.
"Assalamu alaikum !" ucap Darren di depan pintu rumah Jean yang masih terbuka.
"Walaikum salam ! silahkan masuk Pak Darren !" balas Jean, yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Jean tidak bisa menolak kehadiran bosnya itu kerumahnya. Bagaimana pun juga, Jean harus tetap menghargainya sebagai bos besar.
"Silahkan duduk Pak !. Maaf ! keadaan rumahnya seperti ini !" ucap Jean.
"Gak apa apa !" balas Darren mendudukkan tubuhnya di sofa sederhana, dan berukuran kecil.
"Ma ! siapa yang datang ?, Mama bawa teman ?."
Darren langsung mengarahkan pandangannya ke arah bocah perempuan yang baru keluar dari dalam kamar. Dulu gadis kecil itu masih berada di dalam gendongan Jean. Sekarang gadis kecil itu sudah besar.
"Hai gadis kecil ! namaku Om Darren !. Kamu namanya siapa cantik ?" sapa Darren ramah.
Khanza pun mengalihkan pandangannya ke wajah Jean yang masih berdiri. Jean mengusap kepala Khanza sembari tersenyum, mengisyaratkan kalau putrinya itu boleh menjawabnya.
"Khanza Om Darren !" jawab Khanza.
"Sini duduk di dekat Om !" Darren menepuk nepuk sofa di sampingnya.
Lagi Khanza menoleh ke arah Jean. Jean mengusap kepala Khanza lagi sembari tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya.
Khanza tersenyum, ia pun melangkahkan kakinya ke arah Darren dan duduk di samping Darren.
Darren langsung mengusap kepala gadis kecil itu. Matanya langsung berkaca kaca, mengingat gadis kecil itu dulu kedinginan di gendongan Jean karna terkena hujan. Hati Darren perih melihatnya, namun saat itu ia tak punya daya untuk merangkulnya.
"Semenjak ada orang yang mengirim kami ke kota XX. Kehidupan kami sudah lebih baik. Entah siapa orang itu ?. Dia membiayai hidup kami, dan memberikan bea siswa untukku melanjutkan pendidikan" ucap Jean, kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan Darren dan Khanza.
"Sekarang kamu tidak perlu kasihan melihat kami lagi. Karna kehidupan kami sudah bisa di katakan layak" ucap Jean lagi.
"Aku ingin menepati janjiku kepada diriku sendiri, untuk mengajakmu menikah jika aku bertemu denganmu. Tapi jika kamu menolaknya, aku tak akan memaksanya. Tapi jangan salah paham denganku !. Karna aku benar benar mencintaimu tanpa kamu ketahui, bukan hanya sekedar mengasihanimu" balas Darren pasrah.
"Kalau kamu tidak keberatan, boleh aku mengangkat putrimu sebagai anakku !. Aku tidak berniat mengambilnya darimu. Itu juga sudah menjadi janjiku kepada diriku. Aku akan menjadi Ayah yang baik untuknya jika aku bertemu dengan kalian" tambah Darren.
Jean terdiam, dan menajamkan pandangannya ke wajah Darren. Mengagumi kebaikan hati bosnya itu. Entah terbuat dari apa hati bosnya itu.
"Baiklah ! untuk permintaanmu yang ke dua aku akan menerimanya. Tapi tetap, kamu memiliki batasan kepada putriku. Apa lagi Khanza sudah besar nanti" jawab Jean.
Darren menganggukkan kepalanya." Aku memiliki adik perempuan seusia Khanza. Nanti setiap aku akan mengajaknya bermain, aku akan mengajak adikku dan keponakan keponakanku !" ucap Darren tersenyum.
Jean pun mengulas sedikit senyumnya. Mungkin dengan cara seperti itu, ia bisa mengabulkan permintaan Khanza untuk memiliki seorang Ayah. Meski bukan Ayah kandung.
.
.