Brother, I Love You

Brother, I Love You
150. Bergotong royong



Reyhan mengangkat tubuh Yumna, membawanya ke arah ranjang penganten mereka, dan meletakkan Yumna dengan sangat hati hati di atasnya. Reyhan menarik bawahan mukena Yumna dari tubuh Yumna. Kemudian kembali ke arah sajadah mereka untuk membereskannya, dan meletakkannya di atas sofa.


Reyhan kembali melangkahkan kakinya ke arah ranjang. Mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang menghadap Yumna yang menatapnya. Reyhan mengulurkan satu tangannya membelai wajah Yumna dengan lembut. Kemudian Reyhan menarik Yumna medudukkannya kembali. Reyhan menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Yumna. Kemudian membacakan do'a saat ingin berkasih sayang.


Selesai membaca do'a, Reyhan perlahan mendekatkan wajahnya, menempelkan benda kenyal miliknya di kening Yumna. Sontak Yumna memejamkan matanya, menikmati hangatnya bibir Reyhan menempel di keningnya. Darahnya berdesir, menjalar hangat ke seluruh tubuhnya, sampai menyentuh ke menyentuh hatinya.


Reyhan menurunkan ciumannya, mengecup kedua kelopak mata Yumna bergantian, kemudian mengecup kedua pipinya, dan hidungnya. Terakhir Reyhan menempelkan bibirnya di bibir Yumna, cukup lama. Reyhan melepas kecupannya, memandang wajah Yumna yang memejamkan mata. Reyhan mengulas senyumnya, kemudian menempelkan bibirnya lagi, dan perlahan menyapu permukaan bibir Yumna dengan lembut.


Reyhan memejamkan matanya, mengikuti nalurinya. Ini ciuman pertama Reyhan, ia juga belum berpengalaman berciuman bibir dengan wanita mana pun. Perlahan Reyhan melu*** bibir manis itu, semakin lama ciuman itu semakin panas. Reyhan pun mulai kehilangan kewarasannya. Darahnya berdesir, tubuhnya memanas, burung untanya sudah mengamuk di dalam celananya. Reyhan pun mendorong pelan tubuh Yumna sampai terbaring sempurna, kemudian Reyhan menyusul naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutup tubuh mereka.


Reyhan mengigit kecil bibir bawah Yumna, membuat Yumna sedikit meringis, tapi itu terasa nikmat menurut Yumna. Reyhan menjulurkan lidahnya ke rongga mulut Yumna, meyesapnya dengan hikmat. Puas bermain main di rongga mulut bidadari surganya itu, perlahan Reyhan menurunkan ciumannya ke rahang Yumna, menjalar ke leher sampai ke telinga Yumna, mencium semuanya sampai basah.


"Habiby ! ahh !" desah Yumna tanpa sadar, terdengar sangat merdu di telinga Reyhan.


Reyhan semakin menggila, ia pun menurunkan ciumannya ke bahu Yumna, meninggalkan bekas disana. Reyhan terus menciumi kulit mulus itu memberikan tanda cinta di setiap ciumannya. Sehingga Yumna semakin tak tahan jika tak mengeluarkan suara suara merdunya. Tanpa mengentikan ciumannya, Perlahan tangan Reyhan menarik tali kimono Yumna sampai ikatannya terlepas.


Tangan dan bibir Reyhan terus bekerja sama, bergotong royong mengambil bagian masing masing, menikmati tubuh yang tak lagi mengenakan apa apa itu di bawah selimut. Memberikan sentuhan cinta di setiap incinya.


Ya habiby qolby !, Batin Yumna, saat Reyhan menyentuh lembut area surga Dunianya. Almira menggeliat geliatkan tubuhnya tak karuan. Mengikuri irama permainan Reyhan di tubuhnya.


"Almira ! apa kamu siap sayang ?." Reyhan menatap Yumna dengan pandangan berkabut gairah. Bagaimana pun juga, Reyhan adalah laki laki normal.


Yumna menganggukkan kepalanya malu malu, tanpa berani menatap mata Reyhan.


Reyhan mengembangkan senyumnya, kemudian mengecup lama kening Yumna. Reyhan mengarahkan si burung unta miliknya ke arah sangkarnya. Refleks Yumna memejamkan matanya rapat rapat saat benda tumpul itu menyentuh bagian tersembunyi tubuhnya.


"Tahan ya ! mungkin akan sakit, aku akan pelan pelan mekakukannya" ucap Reyhan lagi. Mulai mendorong tubuhnya pelan, sambil mencium bibir Yumna, dan jangan lupakan tangannya yang memberikan kenikmatan di dada Yumna yang berukuran penuh di genggamannya. Reyhan sangat menyukai benda kenyal yang padat berisi itu.


"Habiby ! sakit !" ringis Yumna.


"Sabar ya !" ucap Reyhan lembut, mengecup kembali kening Yumna.


"Aku gak tahan Habiby !, rasanya sangat sakit." Tubuh Yumna bergetar sangking terasa perihnya di bagian bawah tubuhnya Saat Reyhan berusaha menerobosnya.


Reyhan menghentikan kegiatannya, turun dari atas tubuh Yumna, meski belum berhasil menerobos benteng pertahanan istrinya itu. Reyhan tidak tega melihat Yumna meringis kesakitan sampai menangis.


"Maaf sayang ! aku menyakitimu !" Reyhan menghapus cairan bening yang mengalir dari sudut mata istrinya itu. Mengecup kedua kelopak mata itu bergantian, dan mengusap usap kepala Yumna dengan sayang.


Setelah Yumna kembali tenang, Reyhan kembali memulai usahanya, untuk membawa Yumna merengguh kenikmatan sorga Dunia. Reyhan begitu sabar, sehingga ia mengulanginya sampai lima kali, karna tak tega melihat air mata yang mengalir dari sudut mata bidadari surganya.


Sehingga pada akhirnya ringisan terakhir Yumna, menandakan usahanya berhasil menjadikan Yumna menjadi seorang istri yang sesungguhnya.


Reyhan tersenyum dan bernapas lega, meski melewati waktu yang cukup lama, akhirnya usahanya tak sia sia.


"I love you !" ucap Reyhan lembut, sambil tangannya menepis cairan bening yang mengalir dari sudut mata Yumna. Kemudian mengecup kening Yumna cukup lama. Kemudian berpindah mengecup bibir Yumna, dan menciumnya dalam. Perlahan menggerakkan tubuhnya melakukan proses bercocok tanam, untuk menanam benih benih cintanya di padang rumput milik Yumna.


Keduanya pun menggila, kehilangan kewarasannya. Sampai kenikmatan surga itu sama sama mereka dapatkan. Malam ini menjadi malam pertama dan malam panjang mereka. Tidak cukup melakukannya satu kali, mereka pun melakukannya sampai tiga ronde. Hingga tubuh keduanya lemah karna ke lelahan, tubuh Reyhan ambruh di atas tubuh Yumna dengan napas ngosngosan dan peluh membasahi tubuhnya.


Tak lupa Reyhan membacakan do'a sehabis berkasih sayang, sambil tangannya mengusap perut Yumna di bawah selimut. Berharap nuthfah ( air m*ni)mereka menjadi kerturunan, amin !.


"Trimaksih Almira sayang ! aku mencintaimu !" ucap Reyhan, kemudian mengecup kening Yumna lama, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Yumna, dan menarik Yumna ke dalam pelukannya, setelah memperbaiki selimut mereka menutup sempurna tubuh mereka berdua.


Yumna hanya diam saja, ia sibuk mengatur napasnya yang masih memburu.


Melihat Keringat yang bercucuran membasahi wajah dan leher Yumna. Reyhan meraih tissu yang berada di atas nakas, kemudian melap keringat Yumna.


"Maaf ya sudah membuatmu harus begadang larut malam" ucap Reyhan lembut.


"Gak apa apa Habiby !, aku senang melakukannya" balas Yumna. Yumna tau tugasnya sebagai seorang istri wajib melayani suami terutama di atas ranjang.


"Trimakasih sayang !, aku semakin mencintaimu !" balas Reyhan tersenyum, dan mengecup pipi Yumna dari samping.


Mereka tidak langsung tidur, setelah tenaga mereka pulih. Reyhan membawa Yumna ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di sepertiga malam itu, mereka pun melakukan shalat malam.


.


.


Waktu berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas Siang. Kedua insan yang saling mencintai di dalam ikatan pernikahan itu. Masih terlelap di bawah selimut. usai melaksanakan ibadah subuh tadi pagi. Ternyata keduanya masih melakukan ritual berkasih sayang. Sehingga mereka masih terlelap di jam hampir siang.


Puuutt...!


Seketika bau menyengat menguar dari dalam selimut yang membungkus tubuh mereka. Yang berhasil membangunkan Reyhan dari tidur lelapnya.


Ya Tuhan !, batin Reyhan, menutup mulut dan hidungnya. Di lihatnya Yumna masih terlelap dengan tidurnya. Tanpa terusik sama sekali dengan bau kentutnya sendiri. Reyhan menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum, melihat bidadari surga menyebalkannya itu. Tidak ada bangun tidur dengan adegan romantis lagi. Reyhan yang tak tahan dengan aroma bau busuk itu. Langsung membuka selimutnya, turun dari atas tempat tidur, berjalan masuk ke kamar mandi.


Sampai di dalam kamar mandi, Reyhan melepaskan tangannya yang menutup hidung dan mulutnya, lalu mengeluarkan napasnya kasar.


Apa dia tidak sadar kalau kentutnya keluar ?, bau lagi. Batin Reyhan


Reyhan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, Reyhan keluar dari dalam kamar mandi berjalan ke arah kopernya untuk mengambil baju ganti. Selesai berpakaian, Reyhan berjalan ke arah tempat tidur, mengambil handphonnya dari atas meja nakas. Lalu membuka salah satu aplikasi online, untuk memesan makanan untuk mereka.


Reyhan berjalan ke sisi ranjang sebelahnya, mendudukkan tubuhnya di pinggir kasus menghadap Yumna yang masih tidur. Sepertinya istrinya itu benar benar kelelahan, karna terus di gempur mulai tadi malam hingga pagi.


"Almira !" panggil Reyhan lembut, sambil tangannya mengusap kepala Yumna.


"Almira ! bangun sayang !" ucap Reyhan.


"Aku masih sangat ngantuk Habiby ! tubuhku terasa remuk semua" gumam Yumna, tanpa membuka matanya.


"Ini sudah siang, kita harus makan sayang. Dan juga sebentar lagi waktu zuhur akan masuk, kamu harus membersihkan diri sayang, setelah itu kita shalat" bujuk Reyhan.


Yumna langsung membuka kelopak matanya, mendengar waktu zuhur akan masuk." Trimakasih habiby, sudah mengingatkanku" ucap Yumna.


Reyhan mengembangkan senyumnya, mengecup kembali bibir Yumna, seperti sudah kecanduan." Tak perlu berterimakasih sayang !, itu memang sudah kewajiban sesama hamba untuk saling mengingatkan dalam kebaikan."


Yumna menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Reyhan pun membuka selimut Yumna. Kemudian mengangkat tubuh Yumna membawanya ke kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi, Reyhan menurunkan Yumna dari gendongannya. Kemudian memandikan Yumna sampai bersih.


Setelah selesai, Reyhan membungkus rambut Yumab yang basah dengan handuk kecil. Kemudian melap tubuh Yumna dan melilitnya dengan handuk, kemudian membuka kain basahan yang melilit tubuh istrinya. Meski mandi di dalam kamar mandi, istrinya itu tetap tidak mau mandi dengan keadaan telanj***.


Cup !


lagi lagi Reyhan mengecup bibir Yumna yang selalu menggoda imannya itu. Kemudian Reyhan menggendong tubuh Yumna, membawanya kembali ke dalam kamar.


Yumna tersenyum, tentu ia sangat menyukai perlakuan Reyhan yang romantis. Memperlakukannya penuh dengan kasih sayang.


.


.


Di sebuah pantai di kota B


Nampak Queen dan keluarga besar mereka sama sama mandi, bermain air di tepi pantai. Queen yang berada di atas pelampung, terus mengunyah rujak kedongdongnya yang di beli mereka di pinggir jalan saat perjakanan ke pantai.


"Sayang ! sudah ya main airnya, matahari sangat terik, nanti kamu bisa kering kaya ikan asin. Bisa di goreng sama ratu sejagat di makan sama sambal terasi" bujuk Orion. Karna sudah hampir setengah hari Queen main air tidak mau berhenti. Bahkan untuk makan siang pun, Queen meminta makanannya di bawa ke tengah tengah pantai. Orion kawatir istri kecilnya yang lagi tekdung itu, bisa sakit karna kelamaan berjemur di bawah terik.


"Gak mau ! Queen masih pengen di sini. Sirin sama Diana juga masih mandi tuh !" tunjuk Queen dengan dagunya ke arah Sirin dan Diana yang di temani Arsenio dan Dokter Aldo.


"Nanti kamu berobah jadi ikan duyung kalau lama lama di air laut" bujuk Orion lagi.


Orion sudah sangat kepanasan dari tadi memegangi pelampung Queen supaya tidak hayut di bawa ombak ke tengah tengah laut.


"Gak apa apa ! nanti setiap aku nangis bisa ngeluarin mutiara. Nanti aku akan sering nangis biar cepat kaya" balas Queen santi, menyuapkan kembali potongan kedongdong ke mulutnya.


"Nanti kalau kamu sakit, jangan merengek sama abang !" kesal Orion.


"Ya udah ! nanti Queen merengek sama suami orang" balas Queen.


"Abang lepasin nih pelampungnya, biar kamu hanyut di bawa ombak. Trus tenggelam dan mati, abang jadi duda keren, nanti abang kawin sama cewek lain" cetus Orion.


"Lepas aja !, kalau aku hayut, Papa pasti selamatin Queen. Dan bang Orion pasti kena marah sama Papa, Papa Arya dan Mama Bunga."


Orion mengeraskan rahangnya, karna kalah berdebat dengan Queen. Ingin rasanya Orion menenggelamkan Queen ke dasar laut, kalau dia tidak menyayangi gadis kecil berotak liciknya itu. Orion pun menarik gemas rambut Queen, sampai Queen mengaduh kesakitan.


"Sakit bang Orion !" marah Queen, kemudian menarik rambut Orion, menjambaknya dengan kedua tangannya.


"Sakit Queen !!!" pekik Orion, Queen benar benar tak berperasaan menarik kuat rambutnya.


"Rasain ! bang Orion yang duluan menarik rambut Queen" balas Queen, mengerucutkan bibirnya seperti donal bebek, dan lobang hidungnya pun mengembang.


"Lihatlah sayang ! ternyata sifat kedua bocah itu tidak berobah !" ucap Papa Arya kepada Mama Bunga, melihat tingkah Orion dan Queen masih sama seperti anak anak dulu.


"Mereka sudah bersama sejak kecil !"balas Mama Bunga. Ingatannya kembali ke jaman dahulu kala, saat ia tumbuh besar bersama Dokter Aldo hingga usia mereka 17 Tahun.


"Maafkan aku karna dulu egois ingin memilikimu. Sehingga kamu dan Aldo harus terpisah. Aku mencintaimu, sehingga aku cemburu dengan kebersamaan kalian."


"Itu sudah masa lalu, tak perlu di pikirkan lagi. Dan kamu sudah berhasil mengambil hatiku dan perasaannya. Dan sudah terbukti, kita sudah memiliki enam buntut, dan ke tujuh yang masih di dalam perutku."


Papa Arya duduk di samping mama Bunga di atas tikar, menarik Mama Bunga ke dalam pelukannya." Trimakasih ! aku sangat mencintaimu sayang !" ucapnya.


"Aku juga sangat mencintaimu Aaryanku !" balas Mama Bunga tersenyum, satu tangannya mengelus pipi suaminya yang tak lagi muda itu.


Papa Arya menagkap tangan Mama Bunga, lalu mengecup telapak tangannya. Biar kata orang istrinya itu tidak cantik, bagi Papa Arya istrinya itulah wanita paling cantik di Dunia ini. Buktinya Papa Arya tidak pernah tergoda dengan wanita mana pun, dan secantik apa pun. Dan bahkan di suguhkan dengan bidadari pun, Papa Arya akan tetap memilih Bunga Adelwis, wanita yang sudah menemaninya hampir tiga puluh Tahun lamanya.


"Apa kamu tak ingin mengajakku main air ?" ajak Mama Bunga.


"Kita sudah tidak muda lagi !" balas Papa Arya.


Mama Bunga langsung mengerucutkan bibirnya." Aku masih muda, yang tua itu kamu !" rajuknya.


"Tapi aku masih terlihat tampan dan gagah. Bahkan kamu sering kewalahan di bawah kungkunganku" ucap Papa Arya tersenyum, menggoda Mama Bunga.


"Dari dulu genitmu tidak berkurang sedikit pun !" cibir Mama Bungan, tapi wajahnya berbinar saat mengatakan itu, tentu ia sangat menyukai suami genitnya itu.


"Ayo biar kutemani main air, tapi sebentar saja, mumpung Boy lagi tidur." Papa Arya pun berdiri dari tempat duduknya, kemudian membantu mama Bunga berdiri. Menggandeng tangannya berjalan masuk ke air laut.


.


.