Brother, I Love You

Brother, I Love You
105.Aku akan menerima takdirku



"Suster Elisa !" tegur Dokter Aldo, setelah pasien yang baru ia periksan keluar dari ruang periksa.


"Ada apa Dok ?" tanya Suster Elisa.


"Tiga Pasien lagi cukup ya, sebentar lagi waktunya istirahat" ucap Dokter Aldo.


"Baik Dok !" balas Dokter Elisa, kemudian membuka pintu ruangan itu, untuk memanggil pasien antrian berikutnya.


"No antrian 130 !!" serunya.


Pemilik no antrian tersebut pun berdiri dari tempat duduknya, masuk ke dalam ruangan periksa poli umum.


"Silahkan duduk mbak !" ucap Perawat itu kepada seorang wanita yang terlihat masih sangat muda.


Dokter Aldo yang menunduk dari tadi, mendongakkan kepalanya kepada pasien yang duduk di depannya." Sakit ap..."


Dokter Aldo tidak melanjutkan pertanyaannya, kaget melihat wanita yang duduk di depan mejanya.


"Kenapa Om tidak pulang pulang ?" tanya gadis yang sudah berlinang air mata di depannya.


Dokter Aldo diam tidak menjawab, netranya menatap intens wajah Diana. Kenapa Diana datang menemuinya, bukankah Diana sudah meninggalkannya ?. Apa maksud Diana menanyakannya tidak pulang pulang ?.


Dokter Aldo mengalihkan pandangannya ke arah Suster Elisa yang berdiri di belakang Diana." Untuk pasien berikutnya, kita lanjut nanti saja. Istirahatlah ! nanti jam masuknya percepat saya ada urusan sebentar !" ucap Dokter Aldo kepada perawat yang bertugas membantunya di ruangan itu.


"Baik pak !" balas Suster Elisa, segera keluar dari ruangan itu. Dengan hati bingung dan bertanya tanya. Siapa gerangan pasien yang memanggil Om, kepada pemilik rumah sakit itu.


Dokter Aldo berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Diana. Begitu juga dengan Diana, ia pun berdiri dari kursinya, menghadap Dokter Aldo.


"Aku memang belum bisa mencintai Om !, tapi bukan berarti aku tidak berusaha membuka hatiku untuk menerima pernikahan kita" ucap Diana dengan kepala menunduk.


"Kemarin aku pergi untuk menemui Reyhan, untuk meluahkan rasa sesak di dada ini. Karna aku tidak tau bagaimana cara menghilangkannya" ucap Diana lagi.


"Apa sesak di dadamu hilang setelah menemui Reyhan ?" tanya Dokter Aldo.


"Tidak !" jawab Diana


"Lantas ?"


"Pikiranku lebih terbuka, untuk memahami takdir ini" jawab Diana.


"Apa yang kamu pahami ?" tanya Dokter Aldo lagi.


"Jodoh adalah ketentuan Tuhan !" jawab Diana, menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo, yang menatap tajam pada dirinya.


"Apa keputusanmu ?" tanya Dokter Aldo lagi.


"Aku akan menerima takdirku !" jawab Diana


"Apa kamu sudah sangat yakin ?. Kamu tau sendiri, Om sudah tidak muda lagi."


"Berikan Diana waktu untuk menata hati Diana Om !. Diana akan berusaha menjalani peran Diana sebagai istri Om !" jawab Diana menunduk.


Ya ! selain Reyhan masih bersemayam di hatinya, tentu Diana berat menerima kenyataan dirinya menikah dengan pria yang sangat jauh di atas usianya. Dan Diana tidak punya pilihan selain menerima menjadi istri dari Papa sahabatnya itu. Karna ia juga tak ingin kembali pulang ke rumah orang tuanya. Yang sudah pasti ia akan menjadi bahan olok olokan kedua kakaknya yang tidak menyukainya. Dan pasti menjadi bahan gunjingan masyarakat di lingkungan rumah orang tuanya.


"Kemarilah !" Dokter Aldo menarik Diana ke dalam pelukannya, kemudian mencium kening Diana dengan hikmat. Kemudian melepaskan pelukannya, menjaukan sedikit tubuh Diana dan memegang kedua bahunya.


"Om tidak akan memaksamu untuk menerima Om dalam waktu cepat. Tapi Om meminta, janganlah terus mengurung diri di kamar, tidak melakukan apa pun." Dokter Aldo menjeda kalimatnya, lalu berbicara lagi."Nikmatilah hidupmu sebagai remaja pada umumnya. Jangan terus dalam keterpurukan, angap saja Om temanmu, jika saat ini kamu belum bisa menganggap Om suamimu."


"Jangan kawatir !, Om tidak akan meminta hak Om ! jika kamu tidak mengijinkannya !" lanjutnya lagi.


"Maaf Om !" balas Diana menundukkan pandangannya.


"Gak apa apa !" Dokter Aldo tersenyum, kemudian mengusap kepala Diana dari samping.


" Ayo makan siang sama Om !, setelah itu baru Om antar kamu pulang. Nanti Om akan usahain cepat pulang." Dokter Aldo pun menuntun Diana keluar dari ruang periksa pasien itu, membawanya berjalan masuk ke dalam ruangan khususnya.


Setelah mereka duduk di salah satu sofa panjang di ruangan itu. Dokter Aldo mengeluarkan handphonnya dari saku celananya. Menelepon seseorang, menyuruhnya mengantar makanan.


Usai makan siang, Dokter Aldo pun mengantar Diana pulang ke rumah. Sampai di rumah, Dokter Aldo mengantar Diana sampai ke kamar mereka.


"Nanti sore bersiap siaplah !, dandan yang cantik !, biar kita pergi jalan jalan" ucap Dokter Aldo, kemudian mengecup kilas kening Diana." Om pergi dulu, istirahatlah !." ucapnya lagi, mengusap kelapa Diana lalu pergi.


Sepeninggal Dokter Aldo, Diana menghela napasnya. Kemudian berjalan ke arah tempat tidur, mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, menghadap dinding kaca yang tembus ke taman samping rumah itu.


.


.


Seminggu yang lalu


Setelah Diana mendapatkan nasehat A sampai Z dari ratu sejagat. Hati Diana menjadi lebih lapang, menerima kenyataan kalau ia tidak berjodoh dengan Reyhan. Dan Diana pun di berikan kesempatan untuk bertemu dengan Reyhan, untuk mereka bebicara yang terakhir kalinya. Menyelesaikan masalah hati di antara mereka berdua. Supaya tidak ada lagi yang mengganjal di hati ke duanya di kemudian hari.


"Aku ikhlas Diana !, kembalilah kepada Om Aldo !" ucap Reyhan kepada Diana yang berdiri di sampingnya.


"Apa itu artinya kamu tidak menerimaku lagi bang Rey ?" tanya Diana.


"Aku menerimamu seperti apa pun dirimu Diana !. Tapi bukan itu masalahnya."


"Apa kamu pikir kita akan bisa hidup bahagia di atas penderitaan Om Aldo ?,Tidak Diana !. Om Aldo adalah keluarga dekat keluarga ini, kita tidak boleh egois Diana !."


"Kenapa kamu lebih mememikirkan kebahagiaan Om Aldo, dari pada perasaan kamu sendiri ?. Dan bagaimana dengan perasaanku ?, apa kamu tidak memikirkannya ?"tanya Diana.


Reyhan menghela napas beratnya," Justru karna aku memikirkan perasaanmu Diana !. Dan juga kehormatan dan harga dirimu !."


"Maksudnya ?" tanya Diana bingung.


Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah Diana yang juga menatapnya." jika aku mengambilmu dari Om Aldo, meski pun aku menikahimu. Nama baikmu, harga dirimu, akan buruk di mata masyarakat, begitu juga dengan orang tuamu Diana. Dan juga keluargaku dan keluarga Om Aldo sudah pasti putus hubungan. Dan pada akhirnya seluruh keluargaku, sahabat sahabat keluarga ini pasti tidak akan menyukai kita, bisa saja kita akan di ucilkan."


"Diana ! aku juga berat untuk menerima kenyataan ini !. Tapi aku tetap harus mengiklaskannya. Kamu tau kenapa Diana ?" Reyhan menjeda kalimatnya sebentar." Karna kamu dan Om Aldo adalah orang yang sama sama kusayangi. Aku yakin Om Aldo akan memperlakukanmu dengan baik."


Diana terdiam dengan linangan air mata.


"Jika Tuhan memang menakdirkan kita berjodoh. Akan ada jalannya kita akan bertemu di penghulu Diana ?. Cobalah untuk ikhlas menerima Om Aldo !. Om Aldo adalah pria yang baik !."


Reyhan mengulurkan tangannya, menghapus air mata yang mengalir di pipi Diana."Jangan buat hatiku tambah hancur, karna cairan yang mengalir di pipimu ini. Karna esok hari aku tidak bisa menpisnya lagi. Pulanglah ! Om Aldo pasti sudah mencarimu. Aku tunggu kabar baiknya, Tahun depan aku sudah bertambah saudara lagi." Reyhan tersenyum getir saat mengatakan itu.


Merkipun Reyhan sempat terpuruk, setelah mendapatkan nasehat dan bogeman dari abangnya Orion. Hati dan pikiran Reyhan lebih terbuka menerima takdir.


'Jika semua keinginan hidup manusia terpenuhi. Itu berarti kita sudah di surga, bukan di Dunia lagi. Tapi menuju jalan kesana, kita harus menjalani skenario hidup yang sudah di tuliskan Tuhan untuk hamba hambanya. Menerimanya dengan ikhlas dan berlapang dada.


Tuhan mematahkan hati hamba hambanya yang salah menaroh hati kepada hambanya yang lain. Karna apa ?, supaya kamu tidak menaroh hati lagi kepada yang bukan hakmu. Dan karna ada orang yang lebih berhak mendapatkan cintamu.


Tuhan menciptakan manusia berpasang pasangan. Itu berarti tidak ada yang tidak mendapatkan jodoh, semua pasti kebagian. Tuhanlah yang menentukannya, bukan manusia itu sendiri.'


Nasehat itulah yang membuka hati Reyhan, yang membuatnya bisa mencoba tabah menerima kenyataan, dia dan Diana tidak di takdirkan berjodoh.


"Selamanya kamu akan tetap di hati ini Diana !. Selamanya kamu akan memiliki tempat Khusus di hati ini. Kamu adalah kenangan terindahku, memberiku pengalaman pertama berpacaran. Aku berdoa, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dengan Om Aldo. Kembalilah pada suamimu !, dia adalah ladang surgamu. Jangan sampai kamu menyesal, tapi waktunya sudah terlambat nantinya. Pergilah !."


.


.


Di kediaman Alfarizqi


Sudah dari tadi ratu sejagat mondar mandir, sambil memegang HP di tangannya. Berpikir keras, untuk menjodohkan wanita kepada Reyhan. Supaya anaknya itu bisa move on lebih cepat.


"Sayang ! biar nanti aku saja yang mencarikan jodoh untuk Reyhan. Berhentilah mondar mandir, konsentrasiku terganggu melihat kamu kaya setrikaan" tegur Papa Arya, yang sibuk dengan laptop di pangkuannya di atas kasur.


"Seleramu jelek, nanti kamu pilihkan pula cewek yang jelek untuk Reyhan, aku gak mau, kecantikan menantuku harus di atas rata rata. Secara anakku semua ganteng genteng" balas ratu sejagat.


Ingat !, ratu sejagat ada gesrek gesreknya, sepertinya itu tidak akan hilang meski sudah tak muda lagi.


Papa Arya menggeleng gelengkan kepalanya, mendengar istrinya mengatakan seleranya jelek. Sudah jelas jelas selera papa Arya adalah ratu sejagat. Wanita tercantik yang tiada tandingannya di rumah keluarga Alfarizqi. Masih saja di bilang seleranya jelek.


"Aaryan !" panggil Mama Bunga, mendekati Papa Arya ke tempat tidur.


"Apa sayang ?"


"Kamu akan menjodohkan Reyhan dengan siapa ?" tanya ratu sejagat, karna otaknya sudah terkuras habis untuk berpikir, namun satu pun belum menemukan kandidat yang pas.


"Putri salah satu dari teman satu kelasku dulu waktu SMP" jawab Papa Arya.


"Cantik gak ?"


"Lihat saja nanti !"


"Ada photonya ?, coba lihat !" ratu sejagat pun mengambil handphon Papa Arya yang terletak di atas kasur. Setelah menghidupkan layarnya, ratu sejagat pun, membuka galeri Photo.


"Namanya Yumna Yudhia Putri Tama. Gadis berjilbab, lulusan pesantren. Usianya hampir seumuran dengan Reyhan, sudah lulus kuliah S1, di bidang agama" jelas Papa Arya, tanpa menoleh ke arah ratu sejagat.


"Ada photonya di sini ?"


"Buat apa aku menyimpan photonya ?"tanya balik Papa Arya, dan ratu sejagat mencebikkan bibirnya.


"Buat di kenalkan sama Reyhanlah !"jawab ratu sejagat.


"Masih sebatas target sayang !, belum di bicarakan dengan serius" ucap Papa Arya.


"Dari mana kamu mengenal cewek itu ?, trus kenapa kamu yakin orang tuanya mau memberikan putrinya sama anak kita si burung unta. Dan yakin cewek itu mau di jodohkan ?. Cewek itu orang mana ?, tinggal dimana ?" cerca ratu sejagat, tidak sabaran dan sangat penasaran dengan calon mantunya itu.


Papa Arya yang gemas dengan bibir istrinya yang ngerocos, pun langsung menciumnya rakus, melu***nya dalam, sampai ratu sejagat kesusahan bernapas." sabar sayang !" ucap Papa Arya setelah melepas pagutannya, sambil tangannya melap sudut bibir ratu sejagat dengan jempol tangannya.


"Lagi !" pinta ratu sejagat, membuat Papa Arya terkekeh.


Kemudian Papa Arya menarik rambut bagian belakang ratu sejagat, sampai wajah ratu sejagat mendongak. Wajah Papa Arya tersenyum memandangi wajah ratu sejagat.


"Genit !" ucapnya, nampak gigi gigi Papa Arya berjejer rapi.


.


.