
Setelah polisi sampai untuk menjemput Shasa, Elang pun masuk ke dalam rumah. Di lihatnya Sirin dan Mama Bunga sudah sadar.
"Elang kami akan ke Rumah sakit, tinggallah di sini untuk menemani Darren dan Bilal, dan juga yang lainnya" ucap Orion kepada Adik keduanya.
"Iya Bang !" patuh Elang
"Ya udah kalau begitu kami pergi dulu" pamit Orion, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu, di ikuti Dokter Aldo, Sirin, dan Queen yang menuntun Mama Bunga berjalan.
Sedangkan Mama Vani dan Tante Tari, merekq tinggal tidak ikut, karna harus menjaga anak anak di rumah itu.
.
.
Di Rumah Sakit
Papa Arya, Papa Gandi, Om Leo, Reyhan dan Ghissam. Sama sama duduk termenung menunggu di depan ruang operasi. Di dalam hati, meraka sama sama memanjatkan do'a untuk kesembuhan Arsenio yang berjuang untuk hidup di meja operasi.
"Aaryan ! bagaimana keadaan anak kita ?"
Refleks mereka semua mengalihkan pandangan mereka ke arah Mama Bunga yang datang bersama Orion, Queen, Sirin dan Dokter Aldo.
Papa Arya langsung berdiri dari tempat duduknya, dan langsung memeluk istrinya yang menghabur memeluknya. Papa Arya pun mencium ujung kepala istrinya yang sudah terbalut hijab sejak dua Tahun terakhir ini, lalu berkata.
"Anak kita anak yang nakal, pasti dia tidak akan mudah menyerah. Dia pasti berjuang untuk Ibunya" ucap Arya, dengan wajah sendu dan mata berkaca kaca.
Melihat luka Arsenio yang sangat parah, Papa Arya juga sempat kehilangan harapan. Tapi Papa Arya sadar, ia tidak boleh pesimis. Papa Arya terus mencoba meyakinkan dirinya dengan terus berdo'a. Arsenio pasti baik baik saja.
"Kenapa orang orang begitu jahat kepada kita Aaryan ?. Apa salah kita ?" tanya Mama Bunga menangis di dalam pelukan Papa Arya. Ia lelah menghadapi orang orang yag iri dan cemburu kepadanya sedari dulu. Tanpa tau apa salahnya, orang orang memusuhinya dan keluarganya.
"Aku juga gak tau sayang !, kita bersabar saja" jawab Papa Arya. Kemudian menghela napas beratnya.
Papa Arya juga berpikir, apa salah yang di perbuatnya, sehingga orang orang memusuhi mereka. Papa Arya merasa, ia tidak pernah mengusik hidup orang. Tapi mengapa orang lain mengusil hidup keluarganya, tidak membiarkan mereka menikmati hidup dengan tenang.
Orion menghela napas panjangnya kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong. Orion pun menarik tangan Queen supaya duduk di sampingnya.
"Queen, ayo duduk sayang !" ucapnya.
Tanpa menjawab, Queen pun mendudukkan tubunya di samping Orion. Dan menyandarkan kepalanya ke lengan Orion. Orion pun langsung merubah posisi kepala Queen, menyandarkannya ke dadanya.
"Seharusnya tadi Queen gak usah ikut" ucap Orion. Mengingat Queen yang lagi hamil muda, tentu Orion kawatir, Queen bisa kecapean atau masuk angin.
"Tapi Queen pasti akan kepikiran, kalau Queen gak ikut" balas Queen.
"Ayo luruskan badannya di kursi, Queen tidur aja, nanti kalau operasinya selesai, Abang bagunin Queen" suruh Orion. Menukar posisi tubuh Queen lagi, meletakkan bagian atas tubuh Queen di atas pangkuannya dan Queen pun menselonjorkan kakinya ke kursi kosong yang berjejer.
"Tidurlah !" ucap Orion, satu tangannya menahan tubuh Queen supaya tidak jatuh, dan satunya megusap usap kepala Queen dengan sayang, supaya Queen tertidur.
Berbeda dengan Sirin yang sudah berada di dalam dekapan Dokter Ghissam. Meski punggung dan kepalanya sudah di usap usap Dokter Ghissam, namun matanya tidak mengantuk sama sekali. Pikirannya tidak tenang, sebelum operasi Arsenio selesai.
"Tidurlah ! abang akan membangunkanmu kalau operasinya sudah selesai" ucap Dokter Ghissam kepada adiknya Sirin.
Sirin menggeleng gelengkan kepalanya, pikirannya tidak tenang, Sirin sangat kawatir dan cemas, bagaimana ia bisa tidur, memikirkan kekasih hatinya berjuang antara hidup dan mati di atas meja operasi.
"Arsen akan baik baik saja !" ucap Dokter Ghissam lagi, mengerti dengan kecemasan adiknya.
"Kenapa Mama tega melakukan itu ?" tanya Sirin kepada abangnya.
Dokter Ghissam menghela napasnya panjang, mengingat hal itu, ia pun sangat kecewa dengan sang Mama. Ghissam juga tidak pecaya, Mama mereka melakukan itu, sampai hati ingin menghabisi nyawa seseorang. Mama yang mereka kenal, wanita yang lembut dan anggun. Tiba tiba berobah menjadi iblis pencabut nyawa.
Waktu pun terus berlalu, entah sudah berapa lama mereka semua duduk menunggu di depan ruang operasi itu. Malam sudah menjelang dini hari, pintu ruang operasi itu belum juga di buka dari dalam.
Queen yang sudah tertidur pulas di pangkuan Orion. Namun Mama Bunga dan Sirin, mereka tidak bisa sama sekali memejamkan mata. Pandangan mereka terus tertuju ke arah pintu ruangan operasi itu.
Lorong rumah sakit itu terasa sunyi senyap dan tentunya dingin. Entah sudah berapa kali mereka menghela napas lelah, namun pintu itu tak kunjung di buka.
Tiba tiba dari dalam ruang operasi terdengar suara ribut. Sontak mereka semua berdiri kecuali Orion, karna Queen tertidur di pangkuannya. Jantung mereka sama sama berdetak lebih kencang, pikiran pikiran buruk langsung menguasai kepala mereka. Wajah mereka menegang. apakah..?
Tiba tiba pintu ruang operasi itu terbuka, muncul seorang perawat wanita dari dalam.
"Pasien kritis setelah selesai operasi, karna hampir ke habisan darah. Stok darah O di rumah sakit lagi habis.."
"Ambil darah saya sus !" potong Reyhan langsung, langsung tanggap dengan maksud perawat itu.
"Golongan darah saya juga O sus !" ucap Reyhan lagi, melihat perawat itu hendak berbicara lagi.
"Ayo Rey !" ajak Dokter Aldo, mengajak Reyhan ke ruang periksa kesehatan, apakah layak untuk melakukan donor darah.
Reyhan pun langsung mengikuti langkah Dokter Aldo yang sudah melangkah terlebih dahulu.
"Aaryan ! anak kita !" Lirih Mama Bunga, kembali menangis lagi.
"Anak kita pasti baik baik saja sayang !" ucap Papa Arya menenangkan istrinya, sambil tangannya mengusap usap punggung Mama Bunga.
"Ayo kita duduk lagi sayang !" ucapnya lagi. Menuntun Mama Bunga kembali duduk ke kursi.
Waktu terus berlalu, Reyhan sudah selesai mendonorkan darahnya, namun kondisi Arsen yang masih berada di ruang operasi belum juga stabil. Dokter yang menangininya juga belum keluar dari dalam, karna harus memantau langsung pasiennya.
Subuh pun sudah menjelang, Orion yang masih memangku istrinya. Tiba tiba merasa perutnya bergejolak, mual dan ingin muntah.
"Oek !"
Sontak semua menoleh ke arah Orion yang sudah membekap mulutnya.
"Kamu mual Orion ?"tanya Mama Bunga, berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekati Orion dan Queen. Mama Bunga pun mendudukkan tubuh Queen yang masih terlelap, supaya Orion bisa berdiri.
Tak sempat ke toilet rumah sakit itu, Orion pun memuntahkan isi perutnya di tempat sampah yang berada di lorong rumah sakit itu.
"Gandi ! pegangin Queen dulu, aku harus membantu Orion!" ucap Mama Bunga kepada besannya itu.
Papa Gandi pun langsug mendekati Mama Bunga Dan Queen, dan langsung memangku tubuh Queen yang masih terlelap. Mama Bunga pun segera mendekati Orion, dan langsung memijat leher belakangnya. Meski pikirannya terpokus kepada Arsenio, tapi Mama Bunga tudak bisa abai dengan anaknya yang lain, yang membutuhkannya.
Tubuh mereka sudah sama sama lelah, mata sudah sangat ngantuk, namun kabar baik belum mereka dapatkan dari Dokter yang menangani Arsenio.
Papa Arya yang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan setengah lima pagi. Papa Arya pun berpamitan kepada Mama Bunga.
"Sayang ! aku pergi sebentar dulu !"ucapnya.
Mama Bunga langsung menganggukkan kepalanya, ia tau suaminya itu pergi untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
"Sudah ?" tanya Mama Bunga, melihat Orion sudah berhenti muntahnya. Kemudian memberikan Orion minum air hangat, yang di ambil Reyhan dari ruangan Dokter Aldo.
"Sudah Ma !" jawab Orion lemah.
"Bangunkan istrimu !, ajak dia shalat, dan kalian pulanglah untuk istirahat" suruh Mama Bunga.
"Iya Ma !" jawab Orion, tubuhnya memang sudah sangat lelah dan lemah setelah muntah, di tambah lagi tidak tidur semalaman.