
"Kasihan melihat bang Reyhan !" ucap Queen bersandar di dada polos Orion, yang duduk menyender di kepala ranjang.
"Bagaimana lagi !, sudah takdirnya seperti itu sayang !" balas Orion mengecup ujung kepala Queen, sambil tangannya mengelus elus perut polos Queen di dalam selimut.
"Besok antar Queen ke tempat Om Aldo ya !" pinta Queen.
"Iya sayang !, ayo kita tidur, ini sudah larut" ajak Orion, membantu Queen membaringkan tubuhnya.
Buar buar buar !!!
"Daddy ! Momy !"
"Aish !" desah Orion, mendengar seruan Boy dari luar kamar.
"Bang Orion !!! Boy terbangun !!!, dia gak mau tidur sama aku !!!" teriak Darren dari luar.
"Sebentar !!!" balas Orion, segera memungut bajunya dan Queen yang berserak di lantai.
Setelah memakai pakaiannya, Orion pun memakaikan pakaian Queen ke tubuhnya. Kemudian berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Momy...!" tangis Boy berlari masuk ke dalam kamar, naik ke atas ranjang.
"Anak Momy kenapa nangis ?" tanya Queen, membaringkan Boy di sampingnya, lalu memeluknya, mengusap usap kepala Boy, dan mencium keningnya.
Orion menghela napasnya, melihat Boy benar benar menguasai Queen, tidak mau tidur terpisah dari mereka. Mereka sudah tidak bisa berdua duaan lagi. Bahkan untuk bercinta saja mereka selalu terkesan mencuri curi. Orion melangkahkan kakinya kembali ke ke tempat tidur, setelah menutup pintunya kembali.
"Kenapa Boy gak mau tidur dengan Paman Darren ?" tanya Orion mengusap kepala Boy yang berada di tengah tengah mereka.
"Mau sama Momy !" jawab Boy, di selah isak tangisnya.
Orion hanya bisa menghela napas pasrah," Ya sudah ! Boy tidurlah !."ucap Orion, mengecup sayang kepala Boy dari belakang.
Orion mengerti dengan Boy yang baru mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu. Terlebih, setau Boy, Queen lah Ibu kandungnya selama ini. Biarlah Orion mengalah, nanti pasti ada masanya, ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Queen.
.
.
"Bu ! apa yang Diana lakukan seharian ?, apa masih mengurung diri di kamar ?" tanya Dokter Aldo, kepada pembantu di rumahnya.
"Masih Pak !, makannya pun hanya sedikit saja " jawab wanita paru baya itu.
Dokter Aldo menghela napasnya, karna belum ada perubahan pada diri Diana." Apa saya salah ya Bu ?, mempertahankan pernikahan kami. Apa saya melepaskannya saja ?. Saya kasihan melihatnya Bu !"ucap Dokter Aldo kepada pembantu yang sudah lama berkeja di rumahnya.
"Jangan langsung nyerah gitu dong Pak !, belum juga sebulan" jawab pembantu itu.
"Saya kawatir semakin lama, dia mengalami depresi berat Bu !" ucap Dokter Aldo lagi, kemudian menghela napasnya.
"Pikirkan lagi Pak !, Bapak baru menceraikan Bu Shasa, masa Bapak mau menceraikan Bu Diana lagi. Apa lagi kalian baru saja menikah." ujar pembantu itu.
"Itu dia yang saya pikirkan !" desah Dokter Aldo lagi.
"Lebih keras lagi berjuangnya Pak !, jangan mudah menyerah !" dukung Pembantu itu.
Dokter Aldo mengulas senyumnya," Kalau begitu saya ke kamar dulu. Ibu silahkan istirahat" Pamit Dokter Aldo, kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya.
Dokter Aldo memutar knop pintu kamarnya dan langsung mendorongnya sampai terbuka. Lagi lagi, Dokter Aldo menghela napasnya, menemukan Diana terbarik menyamping membelakanginya, setiap ia pulang kerja.
Dokter segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah selasai, Dokter Aldo langsung keluar, dengan memakai jubah mandi. Selesai memakai pakaian tidur, Dokter Aldo langsung naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di belakang Diana. Dokter Aldo merapatkan tubuhnya ke tubuh Diana, mendekap tubuh kurus itu dengan kehangatan.
"Sampai kapan kamu seperti ini Diana ?" tanya Dokter Aldo, merasakan tubuh Diana yang kaku saat di peluknya, pertanda Diana belum tidur.
Diana diam tidak menjawab.
"Minta sesuatu dari Om Diana !" ucap Dokter Aldo lagi." Katakan ! jika kamu ingin Om melepaskanmu !"ucap Dokter Aldo lagi, mengeratkan pelukannya.
Mungkin karna usianya yang terpaut sangat jauh dari Diana. Membuat Diana susah untuk menerimanya, pikir Dokter Aldo.
Dug dug dug dug......!
Entah kenapa jantung Diana berdetak lebih kencang, mendengar penuturan Dokter Aldo. Tapi Diana tidak mengerti dengan debaran jantungnya yang membuat sesak di dadanya itu, lebih sesak dari sebalumnya.
"Pergilah Diana ! Jika menurutmu tidak ada surga untukmu di rumah ini !. Om tidak akan menghalangi jalanmu !" isak Dokter Aldo, meratapi nasibnya yang malang." Hati Om sakit melihatmu seperti ini Diana !. Pergilah!, Om tak ingin melihatmu lebih menderita lagi" ucap Dokter Aldo, dengan bibir bergetar, kemudian menempelkannya di bahu Diana dari belakang.
Diana yang diam dari tadi, menggigit bibir bawahnya. Tidak menyangka pria tua di belakangnya itu, menangis kepadanya. Diana tidak tau harus berbicara apa, karna ia sendiri pun bingung saat ini.
Malam semakin larut, kedua insan yang sama sama meratapi nasib itu, pun akhirnya tertidur.
.
.
"Bang Reyhan !!! keluar kamu bang Reyhan !!!. Dasar kamu pria pengecut !!!. Kamu harus bertanggung jawab bang Reyhan !!!. Kamu yang memulai cinta ini !!!. Kenapa kamu sekarang diam saja !!?. Kenapa kamu tidak memperjuangkanku !!?. Kenapa kamu tidak memintaku kapada Om Aldo !!!" teriak Diana histeris di halaman rumah keluarga Reyhan.
"Kamu harus bertanggung jawab dengan hati ini bang Rayhan !!!. Aku mencintaimu bang Reyhan !!!. Tapi kenapa kamu diam saja !!!" teriak Diana lagi menjatuhkan tubuhnya di atas batu beton yang di susun rapi di halaman rumah keluarga Alfarizqi itu.
Semua yang berada di dalam rumah, langsung keluar dari dalam rumah. Kaget mendengar ada yang berteriak teriak di halaman rumah mereka.
"Diana !" ucap Queen, melangkahkan kakinya mendekati Diana. Queen memeluk Diana yang menangis terisak.
"Kamu kenapa ?" tanya Queen, meski sudah tau penyebab Diana menangis berteriak teriak datang pagi pagi ke rumah mertuanya.
"Aku sudah mencoba membuang bang Reyhan dari hati ini tapi tidak bisa" tangis Diana." Apa yang harus kulakukan Queen ?, sedangkan aku tidak mungkin bisa bersama bang Reyhan lagi. Dada ini sesak Queen, rasanya sakit" ucap Diana lagi.
"Kepada siapa aku harus meminta tolong untuk menghilangkan sesak di dada ini ?. Aku sudah tak sanggup lagi Queen. Rasanya aku ingin mati saja !" tangis Diana lagi.
"Yang sabar Diana !, kamu tidak boleh berkata seperti itu" balas Queen. Wanita yang dewasa sebelum waktunya itu.
Reyhan yang melihat Diana dari balkon lantai dua rumah itu. Hanya memandangi Diana dengan pandangan kosong. Apa yang bisa ia lakukan ?, haruskah dia menjadi pebinor kepada Omnya sendiri. Terlebih, Mama Bunga sudah melarangnya dengan keras untuk memperjuangkan cintanya kepada Diana. Karna Diana sudah berstatus menjadi istri.
Maafkan aku Diana !, bukan aku tidak ingin memperjuangkan cinta kita. Hanya saja aku takut sia sia, yang akan membuat hatiku tambah hancur, begitu juga dengan kamu!, batin Reyhan, kemudian kembali lagi masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang membuatmu tidak bisa menerima pernikahanmu dengan Aldo ?" tanya Mama Bunga yang sudah berada di samping Queen dan Diana.
"Karna aku mencintai Reyhan tante !" jawab Diana.
"Oh ! tante pikir karna Aldo sudah tua !" balas Mama Bunga mengulum senyumnya.
"Ayo kita masuk ke rumah !" ajak Mama Bunga, membantu Diana berdiri dan menuntunnya berjalan bersama Queen ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah, Mereka pun duduk di sofa ruang tamu. Mama bunga merapikan rambut Diana ke belakang, kemudian menghapus cairan bening yang membasahi pipi Diana.
"Jika pun di paksakan kamu berjodoh dengan Reyhan. Belum tentu kelak kalian hidup bahagia sayag !. Apa yang sudah di Takdirkan Tuhan, baik itu buruk ataupun baik. Itulah yang terbaik buat hamba hambanya. Pasti ada hikmah di balik pernikahanmu dengan Aldo" ucap Mama Bunga. Ia teringat, dulu dirinya yang selalu di nasehati Mama Indah, untuk menerima takdirnya menikah muda dengan Papa Arya.
"Cobalah untuk ikhlas menerima kenyataan. Bukalah perlahan hatimu untuk Aldo. Supaya hatimu lebih tabah menerimanya" ucap Mama Bunga lagi.
"Aldo adalah pria yang baik dan penyayang. Hanya saja dia sudah tua" ucap Mama Bunga kemudian terkekeh, entah apa yang lucu." Bukankah Aldo masih terlihat tampan, gagah dan perkasa ?" tanya Mama Bunga tersenyum.
"Sayang..!"
Cemburulah pria yang sudah tua yang duduk di sofa yang bersebrangan dengannya itu. Tidak terima karna Mama Bunga memuji pria lain.
.
.
Di tempat lain
Dokter Aldo hanya duduk termenung di atas tempat tidur, bersandar di kepala ranjang, dari tadi semenjak ia terbangun, sudah tidak ada Diana di sampingnya.
Diana memutuskan untuk meninggalkannya, mengakhiri pernikahan mereka yang baru seumur jagung. Tak ada yang bisa di lakukan Dokter Aldo, selain pasrah, dan menabahkan hatinya. Mungkin keberutungan belum berpihak padanya.
Tak ingin meratapi nasibnya yang malang, Akhirnya Dokter Aldo pun beranjak dari atas tempat tidur, berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karna pagi ini ia harus tetap pergi ke rumah sakit.
Selesai bersiap siap, Dokter Aldo keluar dari kamarnya, berjalan ke arah ruang makan untuk sarapan. Selesai menghabiskan sarapannya, Dokter Aldo segera berangkat ke rumah sakit, karna banyak perkerjaan yang menantinya disana.
.
.
Seminggu berlalu, Selama itu, Dokter Aldo tidak pernah pulang ke rumah. Ia lebih memilih menginap di rumah sakit. Karna sudah tidak ada siapa siapa yang menantinya di rumah selain pembatu yang mengurus rumah itu. Selama itu juga Dokter Aldo tidak mengetahui kabar Diana. Dan Dokter Aldo juga tak ingin mengetahuinya, karna tak ingin membuat hatinya semakin terluka karna terlalu berharap kepada Diana. Dokter Aldo sadar akan dirinya yang sudah tidak muda lagi. Yang tak pantas untuk wanita muda seperti Diana.
Dari pada memikirkan yang membuat hati tambah sakit, Dokter Aldo memilih lebih baik menyibukkan diri untuk bekerja. Dokter Aldo yakin, ada waktunya ia bertemu dengan jodohnya, mungkin bukan Diana.
.
.