
Kini Bilal sudah berada di atas panggung di sebuah masjid sedang berpidato berbagi kajian ilmu Agama. Sudah satu jam ia menyampaikan ceramahnya malam ini. Dan kini Bilal pun menyudahi ceramahnya.
"Demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan malam ini. Atas segala kekurangan saya mohon ampun kepada Allah, dan mohon maaf kepada para jamaah semua. Saya sudahi dengan salam, assalamu alaikum waroh matullohi wabarokatu!" ucap Bilal melalui mikrofon di tangannya.
"Walaikum sama waroh matullohi wabarokatu..!!!" gemuruh para jamaah membalas sama Bilal.
Bilal merekahkan senyum manisnya, senang dengan antusias para jamaah mendengarkan ceramahnya.
"Dan kini kita sambut Ustadza kita !, Ustadzah Ummu Hani !. Beliau adalah istri saya sendiri" Bilal menyerukan suaranya memanggil Hani yang berada di barisan paling depan para jamaah bersama dengan para panitia acara.
Prok prok prok .....!
Hampir seluruh para jamaah bertepuk tangan mendengar kehadiran istri Ustadz kondang itu untuk menyampaikan sedikit ceramah kepada mereka.
Hani yang di panggil namanya pun, lantas berdiri dari tempat duduknya. Hani memutar tubuhnya ke arah para jamaah. Hani membungkukkan sedikit tubuhnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sembari tersenyum. Kemudian Hani memutar tubuhnya kembali ke arah panggung, dan melangkah naik ke atasnya yang langsung di sambut Bilal, dengan membantunya menaiki anak tangga.
"Assalamu alaikum waroh matullohi wabarokatu !" ucap Hani setelah menerima mikrofon dari tangan Bilal.
"Walaikum salam waroh matullohi wabarokatu....!!!" terdengar gemuruh para jamaah semakin bersemangat membalas salam Hani.
"Masya Allah !" Hani merekahkan senyumnya.
"Dulu! dia adalah sahabat kecilku. Karna dia aku bisa berdiri di atas panggung ini. Dia membuatku betah untuk melanjutkan sekolah di pesantren. Perjalananku belajar Ilmu Agama sehingga aku di panggil Ustadz, tidak lepas dari wanita bernama Ummu Hani ini" Bilal Meraih pinggang Hani dari belakang.
Sedangkan Hani tersenyum dengan mata berkaca kaca, karna terharu. dan para jamaah diam mendengarkan cerita singkat kisah Bilal dan Hani.
"Setelah perpisahan yang cukup lama, akhirnya kami di pertemukan kembali dengan ikatan pernikahan." Bilal menjeda kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi. Dan tangannya terulur mengelus perut Hani yang mulai menonjol. "Alhamdulillah ! sekarang Allah sudah mempercayakan seorang anak kepada kami."
"Alhamdulillah !" ucap para jamaah serempak.
"Kami mohon doanya kepada seluruh jamaah. Untuk mendoakan anak kami sehat sampai lahir, menjadi anak yang soleh dan soleha" ucap Bilal lagi.
"Amin...!" balas semuanya.
"Trimakasih !" ucap Ustadz Bilal.
"Untuk menyingkat waktu mengingat istri saya sedang hamil muda. Maka untuk melanjutkan tausyiah tadi, saya persilahkan kepada istri tercinta saya ini!" ucap Ustadz Bilal lagi tersenyum kepada Hani yang berdiri di sampingnya.
"Trimakasih Ustadz!" balas Hani membalas senyum Bilal.
Bilal pun segera undur diri kembali ke kursi yang tadi. Dan Hani pun mulai berceramah dengan mengucap basmalah terlebih dahulu.
"Bismillahirroh manirrohim. Alhamdulillahi robbil 'alamin........
Semua para jamaah diam saat Hani mulai berceramah. Mereka menyimak apa yang di sampaikan Hani. Sesekali para jamaah terdengar gemuruh tertawa bersama, karna Hani membuat sedikit lelucon. Dan sesekali mengajak Hani mengajak berinteraksi kepada para jamaah dengan melemparkan pertanyaan. Dan selama berceramah senyum Hani pun tidak luntur, sehingga membuat kecantikannya terlihat semakin bertambah, membuat para jamaah tidak tahan untuk tidak memujinya di dalam hati.
Hingga satu jam lamanya, Hani baru menyudahi ceramahnya. Meski lelah berdiri, namun Hani senang bisa berbagi pengetahuan Agamanya dengan orang lain. Dan Hani pun mengucap salam dan langsung undur diri.
Acara pun selesai, Bilal dan Hani pun beserta rombongan langsung meninggalkan tempat acara. Dan sekarang mereka sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka kembali ke hotel.
"Lelah?" tanya Bilal kepada Hani yang bersandar di dadanya.
"Kakinya!" jawab Hani manja mendongakkan wajahnya ke wajah Bilal.
Bilal mengecup kening Hani,"nanti Bang pijatin setelah sampai di hotel."
"Lapar!" manja Hani lagi.
"Pengen makan apa?" Sebelah tangan Bilal mengelus elus lembut perut Hani. Memahami Hani yang sering lapar semenjak hamil.
"Ikan asin, tapi masaknya di bakar di atas bara" Hani berbicara dengan bibir mengerucut.
Bilal menghela napasnya mendengar keinginan istrinya itu. Mereka lagi berada di luar kota, bukan lagi di rumah, malah istrinya itu pengen makan ikan asin bakar, cari dimana coba?.Selama ini Bilal belum pernah menemukan tempat makan yang menjual ikan asin di bakar.
"Nanti kalau kita sudah pulang ya!" tawar Bilal.
Hani langsung menyorot tajam wajah Bilal, kemudian menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bilal. Hani menghadap kaca jendela di sampingnya dengan mata berkaca kaca.
Lagi Bilal menghela napasnya perlahan. Istrinya itu gampang sekali merajuk, semua permintaannya harus di turuti.
"Iya! kita akan mencarinya!" pasrah Bilal. Ia pun menarik pelan tubuh Hani kembali ke dalam pelukannya.
"Abang jahat!" lirih Hani, menangis dengan bibir ditekuk ke bawah.
Bilal malah tersenyum melihat wajah Hani yang basah air mata. wajahnya memerah, begitu juga dengan ujung hidungnya, dan bibirnya nampak bergetar. Bilal pun mengangkat satu tangannya untuk menarik ujung hidung Hani.
"Jelek!" ucap Bilal mengejek Hani.
Hani nya itu cengeng sekali, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Sikapnya masih seperti anak anak, sangat manja kepadanya. Masih seperti Hani kecilnya dulu.
"Abang yang jelek!" balas Hani, tangannya berusaha melepas tangan Bilal dari hidungnya.
"Abang!" rengek Hani, karna Bilal malah semakin menjepit kuat hidung Hani.
"Bilang Abang tampan dulu!, baru abang lepas" Bilal memaksa Hani memujinya.
"Abang Al Biruni tampan!" ucap Hani, dan Bilal langsung melepas hidungnya." seperti sampan!" lanjut Hani tersenyum.
Bilal langsung melingkarkan satu tangannya ke leher Hani, dan memaksa Hani mencium ketiaknya.
"Abang !!!" Hani menjerit dari bawah ketiak Bilal.
"Yang tulus mujinya!" wajah Bilal berbinar, ia pun melepas leher Hani dari bawah ketiaknya, kemudian menarik Hani untuk bersandar di dadanya.
"Ketiak Abang bau!" Hani cemberut mengerucutkan bibirnya.
"Tanpa ketiak abang, kamu gak bisa tidur lelap. Setiap akan tidur kamu selalu mencari ketiak Abang!" ucap Bilal.
Hani memeluk Bilal, benar yang di katakan Bilal. Ia tidak bisa tidur lelap kalau tidak mencium aroma ketiak suami tampan dan solehnya itu.
Dan Bilal mengecup ujung kepala Hani dengan sayang.
Sampai di hotel tempat mereka menginap, Bilal langsung membawa Hani ke kamar hotel yang mereka sewa.
"Abang! lapar!" Hani masih merengek karna keinginannya belum terpenuhi.
"Sebentar lagi makanannya datang!" Bilal membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi terlentang dan kaki masih menggantung. Tubuhnya sangat lelah, karna kurang istirahat akhit akhir ini.
Tanpa permisi, Hani langsung membaringkan tubuhnya di samping Bilal, meletakkan kepalanya du atas lengannya.
"Peluk Abang sayang!" pinta Bilal
Dengan senang hati, Hani langsung melingkarkan tangannya ke perut Bilal.
"Cium pipi abang !"
Cup!
Hani langsung menurutinya.
"Timpa tubuh Abang!"
"Duduk dan goyang !" perintah Bilal tersenyum.
"Dasar Ustadz genit !" cibir Hani.
Suaminya itu genitnya keterlaluan, setiap ada waktu dan tempat, selalu minta jatah.
Bilal tertawa cekikikan. Ia pun menurunkan Hani dari atas tubuhnya, kemudian mendudukkan tubuhnya mencium perut Hani bertubi tubi.
"Kalau aku gak genit, gak mungkin kamu bisa hamil sayang" ucapnya.
"Tapi abang keterlaluan genitnya!" balas Hani.
"Itu karna aku sangat mencintaimu ! sayangku ! kekasih hatiku ! bidadari surgaku ! Hani ku !" setiap katanya Bilal mengecup bagian wajah Hani dengan gemas.
Hani merekahkan senyumnya, ia sangat senang mendengar setiap pengakuan cinta Bilal kepadanya. Tidak seperti jaman dahulu kala lagi, Bilal selalu menutup rapat bibirnya, tidak mau mengaku cinta kepadanya.
"Aku tau itu ! cintaku ! sayangku ! kekasihku ! suamiku ! Ustadz Bilal ku !." Hani pun membalas mencium wajah Bilal.
Dan mereka berdua pun sama sama tertawa bahagia.
Tok tok tok !
Tawa keduanya langsung terhenti mendengar ada yang mengetok pintu kamar mereka.
"Sebentar sayang! sepertinya itu makanan untukmu!" Bilal segera turun dari atas kasur, berjalan ke arah pintu, untuk membukakan pintu.
"Assalamu alaikum Ustadz ! Ini pesanannya Ustdaz" seorang pelayan hotel laki laki memberikan kantong plastik berisi kotak makanan kepada Bilal.
" walaikum salam !Trimakasih !" Bilal mengulas senyumnya mengambil kantong plastik itu dari tangan laki laki yang berdiri di depan pintu,dan memberikan uang kepada pelayan itu.
Hotel itu adalah hotel lagganan Bilal dan tim setiap berkunjung ke kota itu. Dan pelayan hotel itu sudah sangat Bilal kenal, dan juga salah satu jamaahnya. Dan tadi saat di perjalanan Bilal meminta tolong kepada pelayan laki laki itu untuk membuatkan ikan asi bakar permintaan istrinya.
"Gak usah bayar Ustadz!" tolak laki laki itu.
"Ambil aja, kalau kamu tidak mau uangnya, berikan pada anak atau istrimu!. Tidak bagus menolak rejeki!" paksa Bilal.
"Kalau Ustadz maksa, ya udah ! aku ambil aja. Kalau begitu trimakasih banyak Ustadz!" Laki laki itu mengambil uang dari tangan Bilal dengan tersenyum masam sembari menggaruk leher belakangnya.
"Sama sama!" balas Bilal.
"Kalau begitu saya permisi Ustadz! Assalamu alaikum!."
"Walaikum salam !"
Bilal melangkahkan kakinya ke arah sofa yang ada di kamar itu dan meletakkan plastik di tangannya di atas meja.Di sana sudah ada Hani, siap untuk melahap si ikan asin bakar kesukaan ratu sejagat.
Selesai menyuapi Hani makan, Bilal pun mengajak Hani untuk istirahat sebentar. Setelah itu, mereka akan pergi jalan jalan sesuai keinginan Hani.
Dan Kini Bilal dan Hani sudah berada di pinggir bibir pantai, berjalan dengan bergandengan tangan.
"Aku merasa masih seperti bermimpi bisa bergandengan tangan dengan Ustadz!" ucap Hani, melangkah sambil memperhatikan kakinya yang menginjak pasir.
"Jangan jangan saat aku menudurimu, kamu masih merasa seperti mimpi basah" gurau Bilal.
Hani pun menginjak sebelah kaki Bilal, sehingga membuat Bilal mengaduh kesakitan. Bilal mengangkat satu kakinya dengan tubuh membungkuk untuk mengusap jempolnya yang sakit.
"Sakit sayang!" keluh Bilal
"Kita lagi di luar, abang sembarangan bicara ranjang" ketus Hani.
Hani lagi bicara serius, malah Ustadz kondang itu bergurau. Hani pun mengerucutkan bibirnya.
"Lagian kamu ada ada aja. Kita menikah sudah berbulan bulan, kamu masih belum sadar kalau ini nyata sayangku!. Bahkan aku sudah berhasil menghamilimu!" gemas Bilal menarik hidung Hani.
Hani merajuk, ia pun melongos pergi meninggalkan Bilal.
Hap !
"Abang !!!" jerit Hani kaget, karna Bilal tiba tiba menangkap tubuhnya dan menggendongnya.
"Mau pergi kemana? Hm..!"
"Abang ! turunin, nanti ada orang yang melihat kita!" Hani meronta berusaha turun dari gendongan Bilal.
"Di pantai ini tidak ada pengunjung selain kita berdua. Tidak akan ada yang melihatnya sayang!" Bilal melangkahkan kakinya ke arah air laut tanpa ingin menurunkan Hani dari gendongannya.
Sampai di tengah air laut, baru Bilal menurunkan Hani secara perlahan.
"Abang ! airnya dalam" air laut itu ternyata sudah sampai di leher Hani. Hani ketakutan, ia langsung memeluk Bilal. Ini pertama kalinya Hani mandi di pantai.
Bilal tertawa cekikikan, baginya air laut itu tidak dalam, karna airnya masih sampai di dadanya. Dan juga Bilal pandai berenang.
"Makanya jangan pendek !" ejek Bilal tersenyum.
"Abang aja yang ketinggian!" Hani mengerucutkan bibirnya.
"Ayo Abang ajari berenang !"
Hani menggeleng gelengkan kepalanya di dada Bilal.
"Takut !"
Bilal kembali mengangkat tubuh Hani, membuat posisi tubuh Hani tengkurap di atas air.
"Abang ! Hani gak bisa renang, lepaskan Hani!" jerit Hani meronta ronta.
"Makanya tubuhnya diam dulu, biar abang ajari!" ucap Bilal.
"Gak mau ! di sini airnya dalam, aku takut!." Hani memeluk tubuh Bilal kembali.Begitu juga kedua kakinya sudah melingkar ke pinggang Bilal di dalam air.
Tanpa aba aba malah Bilal menenggelamkan tubuhnya bersama tubuh Hani yang melilit tubuhnya erat. Sehingga membuat Hani terpaksa menahan napas di dalam air karna Bilal membawanya menyelam.
"Uhuk uhuk uhuk ! huaaaaaa !!!" Hani terbatuk batuk, kemudian menangis saat mereka sudah berada duduk di pinggir pantai.
" Abang jahat !!! jahat jahat jahat !" Hani memukuli dada Bilal gemas, karna Bilal menjahilinya.
Bilal malah tertawa cekikikan, ia pun menangkap kedua tangan Hani yang terus memukul mukul dadanya.
Cup !
"Love you !" ucap Bilal lembut setelah mengecup singkat bibir Hani.
"Abang jahat !" Hani cemberut
Bilal tertawa kecil lagi, melihat wajah cemberut Hani." Bagaimana? suka jalan jalannya?." Bilal merekahkan senyumnya.
.
.