
Diana membaringkan tubuhnya di atas kasur, ia akan istirahat sebentar menunggu sore, karna bingung harus melakukan apa di rumah itu. Diana memejamkan kelopak matanya, memikirkan keputusannya untuk melanjutkan hidup bersama Papa dari sahabatnya itu.
Tidak di pungkiri Diana, seminggu tidur tanpa pelukan pria tua yang sudah sah menjadi suaminya itu, tubuh Diana merasa kehilangan. Tidurnya gelisah tak bisa tidur nyenyak, tapi Diana belum bisa mengartikan itu cinta. Ada rindu dengan rayuan dan kecupan Dokter Aldo kepadanya. Dan pijatan tangan kekar yang selalu merilekskan urat syaraf di punggungnya.
Ya ! Dokter Aldo selalu memijat punggungnya setiap malam, saat Dokter Aldo hendak tidur. Dokter Aldo tidak akan tidur, sebelum Diana tertidur pulas. Dokter Aldo benar benar sangat memperhatikannya.
.
.
Di rumah sakit, wajah Dokter Aldo terlihat berbinar. Berkali kali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sudah tidak sabaran untuk pulang ke rumah bertemu dengan Diana istri kecilnya. Hati Dokter Aldo sangat bahagia, karna Diana akhirnya mau menerima pernikahan mereka. Meski Diana belum rela menjadi istrinya seutuhnya. Tapi harapan untuk memiliki Diana sudah ada.
"Dokter Aldo kenapa ?" tanya Suster Elisa, melihat Dokter Aldo seperti orang yang ingin buru buru pulang.
"Oh ! gak apa apa !" Dokter Aldo mendongakkan wajahnya ke arah suster Elisa.
"Dari tadi saya perhatikan Dokter sering melihat jam terus !" ucap Dokter Elisa.
"Saya memang agak sedikit buru buru, ada janji dengan seseorang !" balas Dokter Aldo."Lanjut panggil pasien berikutnya" suruhnya.
"Baik Pak !" balas suster Elisa.
Waktu pun berlalu, jam pulang pun sudah tiba. Dokter Aldo gegas keluar dari ruang periksa, berjalan cepat keluar dari gedung rumah sakit ke arah parkiran. Dokter Aldo langsung masuk ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya keluar dari peralatan rumah sakit.
Papa sudah persis seperti anak muda yang lagi kasmaran aja !, batin Dokter Ghissam. Melihat sang Papa buru buru pulang.
Bukan Dokter Ghissam tidak tau, kalau Diana pergi menemui Reyhan dan berteriak teriak menangis histeris di halaman rumah orang tua Reyhan. Dan Dokter Ghissam juga tau Diana kembali pulang ke rumah. Karna Dokter Ghissam setiap hari pulang ke rumah. Hanya saja Dokter Ghissam tak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang tuanya, tidak memberitahu Papanya kalau Diana ada di rumah mereka. Seperti yang di lakukannya selama ini kepada Papa dan Mamanya Shasa. Memilih pura pura tidak tau apa yang terjadi.
Dokter Aldo memacu kenderaannya dengan kecepatan tinggi. Ia benar benar ingin cepat sampai di rumah. Entah ! rindu menyeruak begitu saja di hatinya, setelah mengantar Diana tadi siang pulang ke rumah. Saat akan memasuki gerbang rumahnya, Dokter Aldo menurunkan kecepatan kenderaannya. Dokter Aldo memarkirkan sebarangan mobilnya di halaman rumah, dan bergegas turun. Masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.
"Sayang !" panggil Dokter Aldo, saat ia berhasil membuka pintu kamar tempat bidadarinya bersemayam. Dokter Aldo melangkahkan kakinya ke arah Diana, yang sudah rapi dan cantik dengan hanya polesan bedak tabur di wajahnya, dan bibirnya hanya di beri lipglosss.
Diana yang dari tadi duduk menunggu Aldo pulang bekerja. Berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah Dokter Aldo, menyambutnya dengan mengulurkan tangannya untuk menyalam Dokter Aldo.
Dokter Aldo yang paham pun, menyambut tangan mungil Diana sembari tersenyum, dan menjatuhkan satu kecupan di keningnya.
"Kamu sangat cantik Putri Diana !"puji Dokter Aldo. Membuat Diana mengulas sedikit senyumnya.
Tidak mampu membendung perasaannya yang lagi dilanda kasmaran, Dokter Aldo pun memeluk erat tubuh Diana.
"Sesak Om !" keluh Diana dari dalam pelukan Dokter Aldo.
"Maaf !" ucap Dokter Aldo, melepas pelukannya.
Dokter Aldo melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Diana, membawa Diana keluar dari dalam kamar.
Sampai di halaman rumah, Dokter Aldo membukakan pintu mobil untuk Diana, dan membatunya duduk. Setelah menutup pintunya kembali, Dokter Aldo menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi, dan langsung melajukan kenderaannya.
Diana hanya diam saja, tidak bertanya sama sekali kemana Dokter Aldo akan membawanya. Melihat itu, Dokter Aldo menghela napas beratnya. Kemudian mengangkat satu tangannya mengusap kepala Diana dari belakang. Sontak Diana mengalihkan pandanganya me arah Dokter Aldo yang sibuk menyetir di sampingnya.
"Jangan melamun trus !" ucap Dokter Aldo, tanpa menoleh ke arah Diana.
"Bagaimana dengan perasaan Om sendiri ?, apa ada cinta untuk Diana ?. Bukankah Om baru bercerai dengan tante Shasa ?" tanya Diana.
"Tidak sulit bagi Om untuk bisa mencintai gadis cantik sepertimu Putri Diana !" gombal Dokter Aldo.
"Kalau Diana tidak cantik ?" tanya Diana lagi.
"Om akan membuatmu cantik, dengan cara Om sendiri !" jawab Dokter Aldo tersenyum.
Diana mengerutkan keningnya, tidak paham maksud Dokter Aldo.
"Om akan merawatmu dan menghiasimu dengan cinta dan kasih sayang Om !. Sehingga kamulah wanita yang paling canti di hati Om !" jelas Dokter Aldo.
Mulai melelehkan hati Diana. Pria matang yang sudah banyak menelan asinnya aris laut saat menyelam. Dan Sudah banyak mendaki gunung mencari asam. Di lawan ! ya jelas tidak bisa di tandingi jalan pikirannya.
"Setelah pernikahan, mencintai pasangan itu hukumnya wajib Diana !. Baik pasangan kita parasnya rupawan atau tidak. Dan itu tergantung cara kita bagaimana memandangnya." jelas Dokter Aldo.
"Cinta itu bisa di tumbuhkan di dalam hati, asal kita mau membuka hati kita, lkhlas menerimanya" ucap Dokter Aldo lagi.
"Bukalah hatimu untuk Om Diana !, karna Om sudah membukanya semenjak Om mengambil keputusan untuk membawamu pulang. Om berjanji, akan memberikan cinta dan kasih sayang Om kepadamu" bujuk rayu Dokter Aldo.
Dokter Aldo mengambil kedua tangan Diana, setelah ia memarkirkan dengan sempurna mobilnya di sebuah parkiran mall. Dokter Aldo membawa kedua tangan berjari kurus itu mendekat ke bibirnya, kemudian mengecupnya bergantian. yang menimbulkan sensasi geli di tangan Diana karna bersentuhan dengan brewok tebal Dokter Aldo.
"Kamu tau Diana ? jantung Om berdebar kencang saat mengecup kedua tanganmu ini" ucap Dokter Aldo.
Diana menggigit bibir bawahnya, sedikit menundukkan kepalanya. Karna ia juga merasakan hal yang sama.
"Maukan kamu ? kita memulai hubungan kita dari sini ?" tanya Dokter Aldo lagi.
Diana mendongakkan kepalanya perlahan, menatap intens wajah Dokter Aldo. Meski sudah tak muda lagi, masih terlihat tampan. Bulu bulu halus yang menutupi sebagian wajahnya, membuat Dokter Aldo terlihat macho, sangat pas di wajahnya.
Setelah seperkian menit berpikir, akhirnya Diana pun mengulas sedikit senyumnya, dan menganggukkan kepalanya hanya sekali.
"Trimakasih !" ucap Dokter Aldo senang, mengulas senyum bahagianya, kemudian mengecup kening Diana lama.
Sampai di dalam mall, Dokter Aldo menarik tangan Diana masuk kesebuah kios pakaian, sepatu, sendal, tas, asesoris bermerek dan yang lainnya. Dokter Aldo ingin membeli barang barang perlengkapan Diana.
"Sayang ! pilihlah yang kamu sukai !" suruh Dokter Aldo kepada Diana yang masih terbengong. Karna Diana tau di kios itu harga sangat mahal mahal. Diana tidak akan pernah mampu belanja di kios itu, walau hanya membeli satu item barang.
"Kamu berhak mendapatkan semuanya dari om !" ucap Dokter Aldo, mengusap bahu Diana.
"Diana gak tau mau pilih yang mana Om !" ucap Diana.
Dokter Aldo mengulas senyumnya, kemudian menarik tangan Diana ke arah pakaian yang tergantung berjejer rapi. Dokter Aldo pun mencari pakaian yang cocok seusia Diana, dan mencocokkannya ke tubuh Diana.
"Ada yang bisa di bantu Pak ? mbak ?" tanya salah satu pelayan toko itu.
"Bantu saya mencari pakaian yang pas untuk istri saya ini !" jawab Dokter Aldo.
"Baik Pak !" balas Pelayan toko itu, netranya tidak lepas memperhatikan Diana dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sepertinya cewek ini istri simpanan Om Om , batinnya. Kemudian pokus mencari pakaian yang pas untuk pelanggannya itu.
Selesai memilih pakaian, Dokter Aldo pun menarik Diana ke rak sendal dan sepatu. Dokter Aldo mendudukkan Diana di kursi yang tersedia di kios itu. Kemudian dirinya sibuk mencari sepatu, sendal, dan highheel untuk Diana.
"Diana aja yang mencobanya Om !" cegah Diana, melihat Dokter Aldo berjongkok di depannya, dan membuka sepatu yang dipakainya.
"Gak apa apa sayang !" ucap Dokter Aldo, mengulas senyumnya. Tangannya terangkat mengacak acak ujung kepala Diana.
Fiks ! cewek ini istri simpanan, batin pelayan yang khusus untuk melayani mereka, membawa semua belanjaan yang di pilih Dokter Aldo untuk Diana.
Setelah mendapatkan sendal, sepatu, dan high heel untuk Diana. Dokter Aldo pun memilihkan tas untuk Diana. Mulai dari tas ke kampus, tas jalan sampai tas ke kondangan.
Enak banget jadi cewek ini !, kalau seperti ini, mau jugalah jadi istri simpanan om om, semuanya di berliin. Batin pelayan kios wanita itu lagi. Melihat troli yang di dorongnya sudah hampir penuh. Sepertinya jumlah belanjaannya sudah hampir seratus juta, pikir pelayan itu.
Sedangkan Diana, dari tadi ia hanya diam saja mengikuti langkah Dokter Aldo kamana menarik tangannya. Hati kecil Diana juga tidak munafik, kalau ia suka di beliin barang barang, apa lagi barang bagus.
Setelah selesai memilah milih barang barang kebutuhan Diana. Dokter Aldo dan Diana pun pergi ke kasir, untuk melakukan pembayaran. Tanpa menanyakan totalnya, Dokter Aldo langsung memberikan kartu saktinya,yang melebihi saktinya kantong ajaib doraemon.
Selesai melakukan transaksi, Dokter Aldo pun mendorong troli belanjaannya yang menggunung keluar dari kios.
"Apa kamu sudah lapar sayang ?" tanya Dokter Aldo, kepada Diana yang berjalan di sampingnya.
"Sudah Om !" jawab Diana pelan, ia memang benar merasakan perutnya lapar.
Dokter Aldo mengangkat satu tangannya, mengacak acak ujung kepala Diana." kita antar ini ke mobil dulu ya !" ucapnya. Diana menganggukkan kepalanya.
Hatinya masih mengalami pergulatan batin, meski ia sudah mencoba menerima takdir. Ia menuruti saja apa dan bagaimana mau laki laki tua yang sudah menjadi suaminya itu, tanpa protes dan bertanya.
Sampai di parkiran, Dokter Aldo langsung membuka pintu kursi penumpang belakangnya. Memasukkan semua belanjaan untuk istrinya ke dalam. Setelah selesai, mereka kembali ke dalam mall.
Dokter Aldo bukan langsung membawa Diana ke tempat makan, melainkan ke tempat penjual perhiasan.
"Ada yang bisa di bantu pak ?" tanya pelayan pelayan toko perhiasan itu.
"Keluarkan satu set cincin, gelang dan kalung yang cocok untuk istri saya ini" jawab Dokter Aldo.
"Baik Pak !" balas Pelayan toko itu. Segera mengambilkan perhiasan yang kira kira cocok untuk anak remaja.
"Sayang !" tegur Dokter Aldo lembut, melihat Diana melamun."Selesai ini kita makan ya !" ucap Dokter Aldo lagi.
"Iya Om !" patuh Diana. Dokter Aldo mengusap kepalanya dari belakang.
"Ini Pak !" ujar pelayan toko itu, mengeluarkan beberapa set perhiasan." silahkan di pilih Pak !" ucapnya lagi.
"Sayang ! kamu suka yang mana ?" tanya Dokter Aldo kepada Diana.
Namun Diana diam tidak menjawab. Melihat kilauan berlian yang menghiasi perhisan yang di tunjukkan pelayan toko itu. Diana bisa menebak kalau harganya itu sangat mahal. Diana tidak percaya diri untuk menunjuk yang ia sukai. Meski sebenarnya ia menyukai semuanya, karna memang semuanya bagus.
"Semuanya bungkus !" ucap Dokter Aldo kepada pelayan itu, melihat Diana hanya diam saja.
Sontak saja Diana mengalihkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo yang menatapnya.
"Apa pun untukmu sayang !" ucap Dokter Aldo kepada Diana.
"Itu kebanyakan Om !" ucap Diana pelan.
"Kamu bisa memakainya bergantian sayang" balas Dokter Aldo.
Om Aldo gila !, apa sampai segitunya dia membujukku supaya mendapatkan haknya ?, batin Diana.
.
.
.
.