
"Jean ! bangun ! Mamaku ingin berkenalan denganmu !." Darren menyentuh lengan Jean dan sedikit menggoyangnya.
Jean langsung saja membuka matanya, dan mengarahkannya ke arah Darren yang berdiri di sampingnya dengan seorang wanita yang sudah tidak muda lagi. Jean terdiam dan nampak gugup, tidak tau harus bersikap seperti apa. Ingin menyapa wanita itu, Jean merasa segan dan takut.
Mama Bunga mengulas senyumnya," Pantasan anakku tergila gila sama kamu, ternyata kamu sangat cantik" puji Mama Bunga.
Jean tersenyum masam.
"Panggil aku Mama Bunga ! kalau kamu benar adalah calon menantuku !" ucap Mama Bunga lagi, melihat Jean gugub.
Jean menggigit bibir bawahnya, kemudian mengarahkan pandangannya ke wajah Darren. Darren menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Jean pun mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang masih manatapnya itu. Jean mengangkat satu tangannya mengulurkannya ke arah Mama Bunga.
"Je..jean Ma !" ucap Jean gugup dengan mata berkaca kaca. Semenjak Ibunya meninggal, sudah lama sekali ia tidak memanggil Mama.
Mama Bunga pun menerima uluran tangan Jean, dan mengusap tangan Jean dengan tangan sebelahnya.
"Kalau boleh Mama tau ! dimana orang tuamu, supaya anakku ini bisa menikahimu ?" tanya Mama Bunga lembut.
Jean meneduhkan pandangannya, menahan air matanya supaya tidak keluar." Ibuku sudah meninggal, dan Ayahku, aku tidak tau dimana" jawab Jean.
"Jadi dulu siapa yang menikahkanmu dengan mantan suami mu ?" tanya Darren.
Jean menatap Darren dengan air mata yang tak bisa di tahannya lagi." Kata orang orang, aku anak hasil pemerkosaan Paman Ibuku sendiri." Jean menundukkan pandangannya, malu.
"Astagfirullohal 'Azim !" ucap Darren dan Mama Bunga bersamaan.
"Kekek dan Nenekmu!, paman atau tantemu tidak ada ?" tanya Mama Bunga lagi penasaran. Tidak mungkin 'kan ibu dari wanita itu tidak punya sanak saudara, pikir Mama Bunga.
Jean menggelengkan kepalanya," Kata Ibuku kakek dan Nenekku sudah meninggal. Istri Pamannya mengusir dia dari rumah, karna Paman ibuku masuk penjara" jawab Jean.
"Apa kamu gak punya tante atau Paman lainnya ?" Mama Bunga semakin penasaran dengan keluarga calon menantunya itu.
"Kata Ibuku dulu, tanteku seorang tkw ke luar Negri. Dia yang membiayai hidup kami dulu. Tapi tiba tiba kabar tanteku hilang, tidak bisa di hubungi sampai sekarang" jawab Jean, sendu.
Mama Bunga dan Darren sama sama menghela napas mereka. Mama Bunga mengulas senyumnya, lalu mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar. Mama Bunga mengulurkan tangannya mengusap kepala Jean dan mengelus pipinya.
"Jangan bersedih lagi ya !, sekarang Mama adalah Ibumu. Kamu tidak sendiri lagi, kamu sudah punya keluarga" ucap Mama Bunga lembut, kasihan melihat wanita malang itu.
Air mata Jean semakin deras mengalir di pipinya. Terharu dan bersyukur bertemu dengan orang baik seperti Darren dan Ibunya. Tadi Jean sempat berpikir, kalau orang tua Darren tidak akan menerimanya, ternyata ia salah.
Mama Bunga pun menghapus cairan bening itu dari pipi Jean." Sssttt...!, jangan menangis lagi" ucapnya. Malah Jean semakin menangis terisak.
"Apa itu cucu Mama ?" tanya Mama Bunga, melihat seorang anak perempuan terbaring tak sadarkan diri di brankar sebelahnya.
Jean tidak menjawab, ia pun mengalihkan tatapannya ke arah Khanza yang masih belum sadarkan diri.
"Iya Ma ! namanya Khanza" Darren yang menjawab.
Mama Bunga berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah brankar Khanza. Mama Bunga memperhatikan wajah Khanza, kemudian mengusap kepalanya dengan sayang. Wajah anak perempuan itu terlihat cantik dan ceria meski dalam keadaan tidur.
Sifat Darren,kedermawanan Darren aku rasa menurun dari mendiang kakek. Tidak bisa melihat orang susah. Batin Mama Bunga, mengingat dulu mendiang kakeknya yang memiliki beberapa anak angkat.
Mama Bunga pun kembali ke arah brankar Jean."Cepatlah sembuh !, anak Mama yang tampan bin imut ini sudah tidak tahan, untuk tidak melepas burung perkutuknya ke dalam sangakar" ucap Mama Bunga bernada biasa, seolah olah yang diucapkannya itu bukanlah hal konyol.
"Mama tau aja !" balas Darren tersenyum.
"Tau dong !" ucap Mama Bunga." Ya udah ! Mama pergi dulu, Papamu tidak ada yang menemani" pamit Mama Bunga. Sebelum pergi, Mama Bunga pun mengusap kepala Jean, lalu mengecup keningnya.
Sepeninggal Mama Bunga, Darren mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar menghadap Jean. Darren mengambil tangan Jean yang tertusuk jarum infus, lalu mengecupnya. Darren semakin mencintai Jean, setelah mengetahui siapa Jean. Jean adalah anak yang malang, wanita yang malang, istri yang malang, Ibu yang Malang.
"Jangan berkecil hati dengan kehidupanmu, sepahit apa pun itu yang kamu jalani. Karna Tuhan menyayangi hambanya dengan cara yang berbeda beda. Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk hambanya yang bersabar. Jangan merasa rendah diri atau hina, bagaimana pun proses terjadinya dirimu. Karna setiap anak yang lahir itu suci" ucap Darren, memandang Jean penuh cinta.
"Bagaimana aku bisa di katakan suci lagi, setelah Pak Darren terus menciumiku dan mengecup tanganku berulang kali ?" tegur Jean.
"Maaf !" Darren tersenyum, dan melepaskan tangan Jean." Dari kemarin aku terus terbawa perasaan" ucapnya lagi.
Jean menghela napasnya.
.
.
Di belahan Dunia lain
"Sirin ! kamu mau pulkam ?.Kenapa kamu menyusun baju baju ke dalam koper ?" tanya Arsenio yang baru masuk ke dalam kamar mereka. Arsenio baru pulang kerja di jam malam sudah larut.
Arsenio menghela napasnya, dari dulu istrinya itu gampang sekali merajuk.
"Pulanglah !" ucap Arsenio, meletakkan tasnya di atas dan jasnya di atas sofa, kemudian membuka dasi yang mencekik lehernya seharian. Kemudian Arsenio membuka baju kemejanya dan melemparnya ke kranjang baju kotor. Arsenio pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sudah lelah bekerja, malah istrinya itu menyambutnya dengan muka masam.
"Buat apa aku di sini ?, setiap hari aku di tinggal dari pagi sampai tengah malam, mending aku pulang aja" gerutu Sirin, kesal karna Arsenio tak membujuknya atau merayunya. Selalu seperti itu, Arsenio tidak mau mengambil hatinya.
Setelah siap menyusun baju bajunya dan baju putrinya ke dalam koper. Sirin pun mengancingnya, kemudian menariknya ke dekat pintu.
"Bang Ghissam juga ! gak mau gantian sama Arsen untuk mengurus perusahaan Kakek !. Padahal dia juga ikut menikmati hasilnya" gerutu Sirin lagi.
Sirin rindu dan kengen suasana di Indoneasi. Mereka jarang sekali pulang kampung karna kesibukan Arsenio. Sirin pun melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, dan membaringkan tubuhnya di sana. Sirin menarik selimut menutupi tubuhnya sampai ke leher, lalu memejamkan matanya. Besok ia akan berangkat pulang ke Indonesia bersam putrinya.
Selesai urusan kamar mandi, Arsenio pun langsung keluar, hanya dengan memakai handuk di pinggangnya. Kini usia Arsenio sudah 28 Tahun, wajahnya nampak semakin tampan dan macho di usianya sekarang, tubuhnya terlihat kekar dan berotot.
"Pulanglah ! Nanti kalau aku ada waktu senggang aku akan mengunjungi kalian" ucap Arsenio. Ia tau kalau Sirin belum tidur.
Sirin langsung mengarahkan pandangannya ke arah Araenio yang sedang memakai baju." Apa itu artinya kita akan LDR ?" tanyanya.
"Itu yang kamu mau !" jawab Arsenio.
Arsenio melangkahkan kakinya, menyusul Sirin ke atas kasur. Arsenio membaringkan tubuhnya di samping Sirin yang menatapnya tajam.
"Aku juga sangat ingin pulang ke Indonesia, jika saja aku bisa meninggalkan pekerjaanku. Aku juga kangen dengan Mama Papa dan semua keluarga kita, apa lagi sama Sabin dan Arsi !." Arsenio menarik tubuh Sirin supaya merapat ke tubuhnya.
Arsenio merapikan rambut Sirin yang berantakan di wajahnya. Lalu mengecup kening Sirin. Arsenio pun mengusap perut Sirin yang sudah membuncit, karna sedang mengandung anak ke tiga mereka.
"Nanti saat kamu akan melahirkan, aku akan pulang menemanimu berjuang melahirkan anak kita" ucap Arsenio lagi mengecup bibir Sirin.
"Dari dulu kamu selalu jarang punya waktu untukku !" ucap Sirin dengan mata berkaca kaca.
"Kamu pikir aku tidak merindukanmu setiap hari ?. Aku bekerja keras sekarang, untuk mengumpulkan uang yang banyak. Setelah uang itu terkumpul, kita memiliki biaya hidup untuk menikmati hari tua bersama" balas Arsenio.
"Aku akan meminta bang Ghissam untuk menggantikanmu !. Kalau dia tidak mau, serahkan aja perusahaan itu sama orang lain. Lebih baik kita menjadi orang sederhana, tapi selalu bersama. Dari pada memiliki banyak uang, tapi kita tidak punya waktu untuk bersama." ucap Sirin lagi.
"Mendiang kakek Haris sudah mengamanahkannya sama aku. Bagaimana bisa aku menyerahkan perusahaan itu sama orang lain, kecuali bang Ghissam" balas Arsenio lagi.
"Ya sudah !, kalau begitu kita berpisah saja. Tetaplah dengan perusahaan itu, aku akan menetap tinggal di Indonesia. Aku gak mau kembali ke sini lagi." Sirin membalik tubuhnya membelakangi Arsenio.
"Hati hatilah kalau bicara Sirin !. Perusahaan itu juga perusahaan keluargamu. Aku juga mengabdikan diriku di sana karna dirimu, masa depanmu !" marah Arsenio.
"Aku sudah bilang berapa kali !, serahkan perusahaan itu sama orag lain ! kamu gak mau Arsen !. Papa dan Bang Ghissam tidak peduli dengan perusahaan itu. Lantas kenapa kamu harus peduli ?. Biarkan saja perusahaan itu hancur !" balas Sirin meninggikan suaranya.
"Dasar kamu tidak tau terima kasih !." Arsenio langsung turun dari atas tempat tidur, berjalan ke luar kamar. Lagi lagi, Arsenio memilih tidur di kamar lain. Ia malas jika terus terusan meladeni Sirin berdebat setiap saat.
Arsenio sadar, jika ia jarang sekali punya waktu untuk keluarga karna kesibukannya mengurus perusahaan. Tapi bagaimana lagi, ia tidak bisa mengabaikan perusahaan begitu saja. Di perusahaan itu banyak duit orang, Arsenio harus mempertanggung jawabkan itu.
Arsenio membaringkan tubuhnya di kasur yang berada di kamar sebelah kamarnya dan Sirin. Arsenio menghela napas beratnya, lalu mengarahkan pandangannya ke langit langit kamar itu. Arsenio lelah, tubuhnya lelah, pikirannya lelah. Satu orang pun tidak ada yang mengerti dirinya, termasuk istrinya.
"Aku gak mau kamu abaikan seperti ini Arsen !."
Arsenio yang akan memejamkan matanya, langsung mengarahkan pandangannya ke arah Sirin yang menyusulnya.
"Seharusnya dulu kamu tidak menodaiku !. Sehingga kita tidak perlu menikah !." ucap Sirin menatap marah Arsenio.
Arsenio diam, menatap Sirin dengan wajah tanpa ekspresi. Hati Arsenio sakit, berpikir, kalau selama ini hanya dia yang mencintai Sirin, sedangkan Sirin, tidak.
"Kita terpaksa menikah Arsen !. Kita menikah sebelum kita siap menghadapi pernikahan. Kita menikah sebelum kita punya bekal" ucap Sirin lagi. Sirin menangis, hatinya sakit, lelah, merasa di abaikan Arsenio selama ini. Sirin berpikir, kalau Arsnio lebih memilih mengejar harta, dari pada membangun rumah tangga yang bahagia.
Arsenio menghela napasnya, ia pun mendudukkan tubuhnya dan turun dari atas kasur. Arsenio berjalan mendakati Sirin, menarik tangan Sirin keluar dari kamar itu, kembali ke kamar mereka. Sirin lagi hamil, Arsenio tak ingin kemarahan mereka berlanjut lagi.Arsenio mengangkat tubuh Sirin dan membaringkannya di atas kasur dengan sangat hati hati. Entah ! setiap hamil, istrinya itu sangat mudah marah dan sensitif. Selalu suka mengajak ribut dengannya.
"Tadi 'kan aku susah bilang, aku akan mengunjungi kalian kalau aku ada waktu luang" ucap Arsenio lembut, sambil tangannya menghapus air mata Sirin.
"Tapi aku gak mau kita berjauhan !, tapi aku juga kangen tinggal di Indonesia !" lirih Sirin.
Arsenio tersenyum, lalu mengecup bibir Sirin kilas." Kalau begitu berusahalah membujuk Bang Ghissam, supaya dia mau menggantikanku !" ucapnya.
"Bang Ghissam pasti gak mau !" balas Sirin.
"Besok pulanglah bersama Gaia" ucap Arsenio.
.
.