
Setelah empat puluh hari kelahiran baby Han. Hari ini Bilal dan Hani mengadakan acara akikah dan penabalan nama baby Han.
Kediaman rumah besar Alfarizqi itu sudah terlihat ramai. Dan dari tadi terdengar lantunan salawat yang di bawakan santri santri dari pesantren.
Acara itu memang dilaksanakan di rumah peninggalan sang Kakek Arya. Yang di tempati Reyhan dan Yumna. Sesuai dengan permintaan sang mendiang Kakek Arya. Meminta anak anaknya untuk membuat acara yang bersangkutan dengan cucu cucunya, di rumahnya.
"Sayang !, Han belum siap nyusu ?" tanya Bilal sembari melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
"Belum ! nih dia masih rakus nyusunya" Hani memperhatikan baby Han mengisap sumber nutrisinya dengan hikmat.
Bila mendekati Hani dan baby Han yang duduk di sofa kamar tempat mereka di kediaman sang Kakek.
"Apa enak banget ya ?" tanya Bilal kepada baby Han sambil tangannya mengelus lembut pipi cabinya.Bilal menelan salivanya, tergiur dengan susu instan dan praktis yang di nikmati anaknya itu.
Melihat itu Hani tersenyum, ia tau kalau Bilal sudah sangat merindukan berkasih sayang dengan sempurna. Karna sudah sebulan lebih suaminya itu tidak mendapatkan jatah. Meski sering begadang setiap malam.
"Baby Han, rakusnya mirip Abang!" Hani mengulum senyumnya.
Bila memicingkan matanya ke arah Hani." Siap siap nanti malam, kamu harus menggodaku !."
Bilal paham dengan sindiran Hani mengatakannya rakus. Bukan rakus makan, melainkan rakus memakan manusia mentah.
"Lihat kondisi !"balas Hani.
Takk !
"Aw !" keluh Hani mengusap usap keningnya, karna Bilal menyentilnya.
Cup !
Bilal pun mengecup kening Hani bekas sentilannya.
"Setelah Han tidur, kamu bisa menggodaku !" ucap Bilal lagi.
Hani mengerucutkan bibirnya, selama menikah suaminya itu selalu saja minta di goda. Tapi tidak pernah menggodanya.
"Abang kapan menggodaku ?" rajuk Hani.
Bilal malah tersenyum lalu tertawa kecil." Bukankah kamu suka menggodaku dari dulu ?. Kenapa lagi aku harus menggodamu ?."
Hani semakin mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah setiap kamu menggodaku, aku memberikan balasan yang setimpal?" ucap Bilal lagi, merekahkan senyumnya kepada Hani.
"Tapi aku juga pengen di goda"ucap Hani.
Melihat baby Han sudah kenyang, Hani kembali merapikan pakaiannya. segera Bilal mengambil baby Han dari pangkuan Hani.
"Hm..baiklah !. Sekarang ayo kita keluar, para tamu sudah menunggu kita dari tadi."
Setelah menjatuhkan satu kecupan di pipi Hani, Bilal merangkulkan satu tangannya ke pinggang belakang Hani, dan satunya lagi menggendong baby Han, membawa keduanya keluar kamar di lantai satu rumah itu.
Sampai di ruangan tempat di adakannya acara. baby Han langsung di sambut Para pamannya, dan acara pun di mulai. Mulai dari pembacaan doa dan pemberian nama kepada baby Han. Kemudian di lanjut dengan acara potong rambut dengan di iringi lagu salawat, yang di lantunkan langsung oleh Hani dan para santri dari pesantren.
Lagi lagi, acara itu menjadi sorotan publik. Para jamaah dan masyarakat sangat penasaran dengan wajah baby Han. Semua juga mendoakan semoga baby Han menjadi anak yang soleh, dan bisa melanjutkan dakwah Ayahnya.Dan saat itu juga, nama Muhammad Hanif Rhamadan Alfarizqi menjadi nama tren di masa kini.
Acara pun selesai, Para tamu undangan sudah kembali ke rumah masing masig. Kini di rumah besar itu hanya tinggal keuarga besar Alfarizqi.Dan sekarang giliran para sang Paman memberikan hadiah kepada baby Han.
Tidak nanggung nanggung, memiliki lima Paman pengusaha sukses. Baby Han mendapatkan hadiah yang sangat pantastik, berupa saham di perusahaan masing masing.
Tok tok tok !
"Assalamu alaikum !"
Sontak semua menoleh ke arah pintu.
"Walaikum salam !"
"Pak Roby, Pak Rafa." Hani, langsung berdiri dari tempat duduknya, untuk menyambut kedua pria paru baya itu.
Hani sangat mengenal kedua pria itu. Mereka adalah orang yang di amanahkan mertuanya dulu untuk mengurus dan menjaga perusahaan peninggalan mereka.
"Ayo silahkan masuk Pak Roby, Pak Rafa" suruh Hani ramah.
"Maaf kami terlambat !" ucap Pak Roby.
"Iya Bu Hani, kami tadi ada rapat mendadak di kantor" sambung Pak Rafa.
"Gak apa apa Pak!, silahkan duduk Pak !"balas Hani.
"Abang !, perkenalkan ! mereka adalah orang yang mengurus perusahaan mendiang Bang Hidayah selama ini" ucap Hani kepada Bilal yang duduk di sofa sambil menggendong baby Han.
Bilal pun berdiri dari tempat duduknya, untuk menyalam kedua tamu itu.
"Bilal Pak!" Bilal memperkenalkan dirinya dengan tersenyum ramah.
Bilal benar benar tidak mengenal kedua orang itu. Dan selama ini juga, Hani tidak pernah menceritakan soal perusahaan atau sesuatu yang bersangkutan dengan Hidayah.
"Roby !"
"Rafa !"
Ucap keduanya menerima uluran tangan Bilal.
"Begini Bu Hani !, maksud kedatangan kami kesini sebenarnya untuk menyampaikan amanah Almarhum Pak Hidayah kepada Bu Hani" ucap Pak Roby, sebagai penguasa hukum yang di percaya keluarga Almarhum mantan suami Hani.
Hani mengerutkan keningnya, begitu pun dengan Bilal dan yang lainnya.
Setelah mantan suaminya dan kedua mertuanya meninggal Dunia. Mereka memberikan seluruh saham mereka kepada Hani. Dan Hanilah pemilik saham terbesar di perusahaan peninggalan keluarga mantan Suaminya. Tapi selama ini hasil saham itu selalu Hani sumbangkan sebagai sedekah jariah mendiang suami dan kedua mertuanya.
Pengacara itu pun mengeluarkan map dari dalam tas yang di bawanya, memberikannya kepada Hani.
"Apa ini Pak ?" Hani meraih map itu dari atas meja.
"Itu adalah isi wasiat Almarhum Pak Hidayah Bu !"jawab Pak Roby.
Hani pun membaca isi Map itu.
"Mendiang Pak Hidayah berwasiat untuk mewariskan saham miliknya kepada anak Ibu" jelas Pak Roby lagi.
Semua terdiam dan menajamkan pandangan kepada Pak Roby.
Bilal pun mengambil map di tangan Hani dan membaca surat wasiat itu. Benar, di dalam isi surat wasiat itu, sahabatnya itu mewariskan sahamnya kepada anak Hani.
Bilal menghela napasnya setelah membaca surat wasiat itu.
"Kapan dia membuat surat wasiat ini Pak ?. Tapi mendiang suami saya dulu tidak memberitahu saya soal ini" tanya Hani.
Hani terdiam
Berarti saat sakit dulu, Bang Hidayah sudah tau kalau dia akan pergi, batin Hani.
"Beliau sangat menginginkan seorang anak, tapi tidak kesampaian. Dulu beliau mengatakan jika anak Ibu Hani akan dijadikannya ahli warisnya" ucap Pak Roby lagi.
Semuanya hanya diam mendengarkan penuturan pengacara itu.
"Iya Bu Hani, beliau juga pernah mengatakan itu kepada saya" sambung Pak Rafa.
"Tapi tetap saja anak saya tidak berhak menerima itu!" tolak Bilal halus. Bagaimana pun juga anaknya bukanlah alhi waris dari mendiang mantan suami dari Hani.
"Kami tau Pak Ustadz, tapi surat wasiat ini resmi. Saya wajib menyampaikannya. Sudah 20 Tahun saya memegang amanah ini Pak !. Saya juga ingin terbebas dari amanah mendiang Pak Hidayah" ujar Pak Roby.
"Untuk itu..saya membutuhkan akta lahir anak Pak Ustadz. Supaya saya bisa mengurus pemindahan nama pemilik saham, dari nama Bu Hani menjadi nama Han!" ujar Pak Roby lagi.
Hani memandang wajah Bilal, seperti memohon. Supaya Bilal tidak menolak surat wasiat itu. Bukan maksud Hani untuk serakah. Hani tidak ingin mantan suaminya tidak tenang di Alam sana.
"Abang !" ucap Hani lembut.
"Baiklah !" pasrah Bilal melihat wajah memelas Hani.
Setelah Pak Roby mendapatkan surat akta lahir baby Han. Ia dan temannya itu pun langsung pergi setelah berpamitan.
"Wih ! baby Han langsung jadi milliader !" celetuk Elang, berhasil membuyarkan lamunan saudara saudaranya yang masih shok itu, terutama Bilal.
Di antara enam bersaudara, Bilal lah yang paling miskin. Dia tidak memiliki banyak harta, apa lagi usaha sendiri. Selama ini dia memiliki kekayaan dari hasil mengelola warisan mendiang kedua orang tuanya. Karna selama ini dia hanya sibuk berdakwah, dan dia juga tidak sepintar abang abangnya yang mampu berdiri sendiri, sehingga menjadi pengusaha sukses.
"Ya ! setelah dia merampas wanita yang kucintai. Dia memberikan uangnya yang sangat banyak sebagai gantinya." Setelah mengatakan itu Bilal langsung berdiri dari tempat duduknya, membawa baby Han ke dalam kamar yang di sediakan untuk mereka di rumah itu.
"Abang !" panggil Hani langsung menyusul Bilal ke dalam kamar.
"Seandainya aku di posisi Bilal, aku juga akan tersinggung!" ucap Arsen menatap punggung Bilal dan Hani yang menghilang di balik pintu kamar.
"Bilal aja dulu yang kurang berusaha mendapatkan Hani" balas Darren.
"Tidak seperti kamu yang kekeh mendapatkan wanita" sambung Reyhan.
"Cih ! gayamu !, lupa dulu kamu gak mandi dua minggu karna Diana tiba tiba menikah dengan Om Aldo !" cibir Orion kepada Reyhan.
"Bang Orion juga sepertinya lupa diri, pernah mencoba bunuh diri karna di tolak Kak Queen" Reyhan mencibir balik abang tertua mereka itu.
Oek !
Sontak ke lima bersaudara itu menoleh ke arah putri raja di keluarga itu, karna mendengarnya ingin muntah.
"Sabin ! kamu kenapa ?" Arsenio menautkan alisnya ke arah Sabina.
Sabina mengerucutkan bibirnya, sedangkan pria yang duduk di sampingnya tersenyum indah menawan, sambil mengelus elus perutnya.
"Aku berhasil lagi menghamili adik kalian si muka datar ini" ucap Jhonatan sumiringah.
Sabina semakin mengerucutkan bibirnya.
"Alhamdulillah !" ucap anggota keluarga besar itu serntak. Mereka turut senang mendengar kabar gembira itu.
Queen, Sirin, Yumna, Naysila dan Jean, pun langsung mendekati Sabina, memeluknya dan mengucapkan selamat secara bergantian.
.
.
Di dalam kamar
Nampak Hani merayu rayu Bilal yang sedang merajuk dan mendiamkannya.
"Abang ! jangan marah!. Aku yakin mendiang bang Hidayah tidak bermaksud meremehkan Abang. Dan juga selama ini, saham mereka sudah menjadi atas namaku, akulah pemilik saham itu. Tanpa wasiat itu, tentu suatu hari nanti saham milik keluarga bang Hidayah akan jatuh ke tangan Han!" ucap Hani lembut.
Namun Bilal masih diam dan menutup bibirnya rapat.
"Abang !" Hani memeluk Bilal dari belakang.
Melihat Bilal tidak bereaksi sama sekali, Hani berpindah ke depan Bilal yang berdiri menghadap jendela kaca kamar itu.
"Maaf !" Hani menatap Bilal teduh.
"Aku tidak memiliki harta untuk kuwariskan kepada anak anak..Hani !" Bilal mengarahkan pandangannya ke wajah Hani.
Hani kembali memeluk tubuh Bilal." Maaf !" lirihnya.
"Aku...
"Aku tau !" potong Bilal cepat." Aku tau kamu ingin tetap bisa mendonasikan hasil dari saham itu kepada orang orang yang membutuhkannya"lanjut Bilal.
Hani mendongakkan kepalanya ke wajah Bilal yang menatapnya.
"Dia menghianatiku sebagai sahabatnya Hani, dia mengambilmu dariku" ucap Bilal.
"Abang !" lirih Hani, mengangkat satu tangannya menepis cairan bening yang sempat mengalir di pipi Bilal.
"Dia tau kalau aku melamarmu kepada Kiyai Husen Hani" ucap Bilal lagi, menelan salivanya bersusah payah, kemudian lanjut berbicara."Tapi dia melamarmu dengan kekuasaanya. Memanfaatkan kedekatan keluarga kalian."
"Bagaimana bisa aku menerima kekayaannya untuk di wariskan kepada anakku Hani?. Setelah dia melukai perasaanku, sekarang dia melukai harga diriku dengan hartanya" lanjut Bilal.
Hani semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Bilal."Maafkan mantan suamiku Ustadz Bilal. Aku mohon ! biarkan dia tenang di peristirahatannya. Aku akan membatalkan prmindahan nama saham itu. Aku tidak akan melibatkan kamu dan Han lagi dengan harta mendiang Bang Hidayah" balas Hani.
Bilal membalas pelukan Hani, dan mengecup ujung kepalanya." Trimakasih Hani!"ucapnya.
Hani kembali mendongakkan kepalanya ke wajah Bilal."Aku minta maaf! karna tadi tidak memikirkan perasaan abang."
"Akan aku maafkan, dengan syarat.. kamu harus menggodaku sekarang!" Bilal mengulas senyumnya.
Hani mengarahkan pandangannya ke arah box bayi yang berada di samping tempat tidur. Baby Han terlihat sudah tertidur pulas.
"Baiklah ! dengan senang hati!" Hani membalas senyum Bilal. Kemudian menjinjitkan kedua kakinya untuk mengecup bibir Bilal. Yang langsung di sambut Bilal dengan ciuman mesranya.
Tamat
.
.
#Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.
# Cerita Brother, I love you tamat ya !. Trimakasih banyak sudah membaca dan mengikuti cerita receh otor sampai sejauh ini.