
Selesai acara ijab kabul yang di laksanakan di kantor urusan agama. Kini mereka semua sudah berada di kediaman Alfarizqi. Meski tidak ada resepsi, tetap rumah keluarga Alfarizqi itu terlihat rame. Karna mereka mengundang semua keluarga dan para sahabat, dan juga tetangga, sekedar menyiarkan berita bahagia Sirin dan Arsenio. Supaya ke depannya tidak menimbulkan fitnah.
Arsenio langsung membawa Sirin ke dalam kamarnya untuk istirahat. Melihat Sirin yang terlihat lemah karna masih mengalami ngidam. Sedangkan para orang tua, mereka berkumpul di ruang tamu, mengobrol sambil menikmati hidangan yang di sediakan tuan rumah.
"Istrirahatlah !" ucap Arsenio, membantu Sirin duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tapi aku tidak nyamab dengan pakaianku ini" ucap Sirin. karna ia masih memakai baju kebaya yang berukuran pas di tubuhnya.
"Mau di ganti ?" tanya Arsenio, Sirin menganggukkan kepalanya.
"Ya udah !" Arsen pun berjalan ke arah koper Sirin. Setelah membukanya, ia pun mengambil dress panjang berbahan kaos, kemudian kembali ke tempat tidur, dan meletakkannya di atas kasur.
Arsenio pun mendudukkan tubuhnya di tepi kasur menghadap Sirin.
"Aku aja !, kamu keluar kamar gih !" Sirin langsung menahan tangan Arsenio,saat tangan Arsenio meraih kancing kebayanya.
"Aku sudah pernah melihat semuanya, kenapa kamu masih malu?.Dan kita juga sudah sah menjadi suami istri, aku berhak melihatnya. Biar aku yang mengganti bajumu" balas Arsenio, menyingkirkan tangan Sirin dari tangannya. Kemudian membuka kancing kebaya Sirin, sehingga nampaklah belahan gundukan Sirin yang besarnya tak seberapa.
"Tapi aku malu Arsen !" ucap Sirin.
Kemarin itu ia tak sadar Arsen sudah melihat tubuhnya, karna diselimuti setan dan hawa *****. Sekarang ceritanya beda, Sirin dalam keadaan sadar, dan juga para setan setan sudah tak berniat menggoda mereka lagi.
"Gak usah malu sayang !" Diam diam Arsenio menarik napasnya dalam, dan mengeluarkannya perlahan dari hidung. Melihat keindahan tubuh Sirin, dan mulusnya kulit bagian dalam tubuh Sirin yang berwarna sawo matang.
Ini si burung balam, langsung meronta aja melihat yang indah dan segar seperti ini. Sabar balam ! nanti malam kujamin kamu pasti masuk sangkar. Batin Arsenio, karna merasakan burung balamnya mulai meronta ingin masuk sangkar.
Setelah melepas baju kebaya dari tubuh Sirin, Arsenio pun memakaikan baju terusan yang di letakkannya di atas kasur. Kemudian membuka bawahan baju kebaya Sirin dari tubuhnya.
"Sudah nyaman ?" tanya Arsenio
Sirin yang wajahnya merona karna malu, menganggukkan kepalanya.
Cup !
Arsenio merekahkan senyumnya, setelah mendaratkan satu kecupan di kening Sirin. Kemudian tangannya terulur ke kepala bagain belakang Sirin, memegak cepolan rambut Sirin menariknya perlahan sampai terbuka, tanpa melepas netranya dari wajah Sirin yang menunduk malu malu meong.
Arsenio mendekatkan wajahnya ke wajah Sirin, sampai hidung mereka bersentuhan, dan mengecup singkat bibir Sirin yang berwarna pink.
"Kenapa kamu kelihatan tambah cantik ya ?" gombal Arsenio.
Berbinar senanglah wajah Sirin, dapat pujian dari sang suami. Tapi Sirin menahan bibirnya supaya tidak tersenyum.
Mulai dari SD, Sirin sudah menyukai Arsenio yang jago berantem. Menurut Sirin itu sangat keren, Arsenio sangat hebat di mata Sirin, yang bisa mengalahkan lawannya tiga sekaligus. Tapi meski mereka sudah dekat semenjak bayi, Sirin tidak pernah berani mengutarakan perasaannya. Sirin memendamnya begitu saja, dan hanya kepada Queen lah Sirin menceritakan kalau dia menyukai Arsenio, dan menyuruh Queen merahasiakannya.
Dan siapa menduga, setelah mereka beranjak remaja. Saat Sirin sudah duduk di bangku kelas tiga SMP, dan Arsenio duduk di bangku kelas dua. Tiba tiba Arsenio menyatakan cinta kepadanya. Dan ternyata selama ini Arsenio juga diam diam menyukainya. Hanya saja karna Sirin yang di jodohkan dengan Reyhan. Arsenio tidak punya keberanian mendekati Sirin, takut abang butok ijonya itu marah padanya, karna abangnya Reyhan juga menyukai Sirin.
Karna mendengar Sirin terus menolak perjodohannya dengan Reyhan. Arsenio pun memberanikan diri untuk diam diam menikung sang abang.
Cup !
Arsenio mengecup cewek yang usianya satu Tahun di atasnya itu, dan perlahan menyapunya dengan lembut.
Ceklek !
Refleks Arsenio melepas ciumannya dan menjauhkan sedikit tubuhnya dari Sirin, mendegar ada yang membuka pintu kamar mereka tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Cie cie.. nikah ni ye...!" goda Queen masuk ke kamar pengantin baru itu dengan membaqa nampan yang berisi makanan dan minuman ditangannya. Setelah meletakkan nampan di tangannya di atas nakas, Queen pun mendekati Arsenio dan Sirin yang terlihat masih salah tingkah. Kemudian mencolek dagu Sirin dan Arsenio bergantian, sambil menaik turunkan Kedua alisnya.
"Iya dong !" balas Arsenio tersenyum bahagia, mengingat mulai nanti malam, burung balamnya akan bebas keluar masuk sangkar Sirin.
Queen memicingkan matanya, menelisik wajah Arsenio, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Arsenio, lalu berbisik." Jangan bilang kamu sengaja memerawani Sirin, supaya kalian cepat di nikahkan" tebak Queen curiga, melihat Arsenio dari kemarin kemarin tidak terlihat ada penyesalan sama sekali setelah melakukan dosa.
Arsenio langsung saja memutar bola matanya malas." Emang aku, kamu ? punya otak licik, memperangkap bang Orion untuk menikahimu dulu" cibir Arsenio.
"Kalian bisik bisik apa sih ?" tanya Sirin, melihat Queen dan Arsenio berbicara berbisik bisik di depannya. Apa mereka punya rahasia ?, dan ia tidak boleh tau.
"Gak ada ! cuma mau kasih tau Arsen, rahasia kuat di atas ranjang" jawab Queen bercanda, kemudian tertawa terbahak bahak, entah apa yang lucu.
Tidak masalah bagiku, Sirin melanjutkan kuliahnya ke luar Negri, karna aku bisa menyusulnya ke sana. Tapi aku sengaja melakukannya, karna Tante Shasa yang ingin menjodohkan Sirin dengan cowok lain. Aku tidak punya cara lain, selain aku harus mendahului semuanya. Karna aku tidak ingin kehilangan Sirin. Karna aku yakin, Sirin pasti akan menuruti keinginan tante Shasa, dengan alasan Mama yang tidak di sukainya. Batin Arsenio.
Tak sengaja Arsenio sempat mendengar pembicaraan Shasa mamanya Sirin dengan seseorang lewat sambungan telepon, saat Arsenio menjemput Sirin ke rumahnya, untuk di ajak jalan. Arsenio mendengar Sirin akan di jodohkan Mamanya dengan anak sahabat Mamanya yang tinggal di luar Negri. Dan Sirin akan di kirim Mamanya ke kampus yang sama dengan cowok yang akan di jodohkan dengan Sirin. Dari situ Arsenio berpikir, nekat untuk memiliki Sirin.
"Ih ! Dasar bumil genit !" ejek Sirin, wajahnya merona merah, mengingat nanti malam, adalah malam pertamanya dengan Arsenio, setelah sah menjadi suami istri. Sirin yakin pasti Arsenio meminta haknya.
"Eleh ! nanti juga kamu ketagihan dengan burung balam Arsenio" cibir Queen.
"Apaan sih Queen !" ujar Sirin mengalihkan wajahnya ke wajah lain.
"Gak usah di tanggapi sayang !, Queen itu mulutnya bocor" ucap Arsenio menarik Sirin supaya duduk lebih dekat ke tubuhnya.
"Arsen ! yang panggil sayang !" goda Queen." ngerayu tuh Sirin, biar di kasih jatah nanti malam. Biasanya juga panggil nama, gak ada embel embel sayang."
"Sirin...!!" seru dua cewek cabe cabean memakai seragan putih abu abu berlari masuk ke dalam kamar pengantin baru itu yang kebetulan pintunya tidak di tutup.
"Selamat ya Sirin !" ucap Kania, memeluk Sirin ,kemudian mencium ke dua pipi Sirin bergantian.
"Selamat ya Sirin !" ucap Diana, melakukan hal yang sama, setelah Kania melepas pelukannya dari Sirin.
"Sama sama !, kalian cepatlah menyusul !" balas Sirin tersenyum. Langsung saja bibir Kania dan Diana mengerucut.
Mana bisa mereka cepat menyusul, kalau calon lakinya belum siap menikahi mereka lantaran banyak ke sibukan. Jika Reyhan sibuk mengurus pembangunan kampus. Kalau Dokter Ghissam, sangat sibuk di rumah sakit. Ia belum bisa mengatur jadwal cutinya di waktu dekat ini. Dan juga para orang tua mereka pasti sibuk mengurus persiapan resepsi pernikahan Arsen dan Sirin.
"Selamat juga Arsen !" ucap Kania dan Diana bergantian, menyalam tangan Arsen.
"Trimakasih !" balas Arsen, tersenyum ramah.
"Ini belum waktunya pulang sekolah, kenapa kalian bisa keluar?" tanya Queen. Karna sejak jaman dulu kala Mama Bunga menjadi miss bajing loncat, akses bolos dari sekolah itu sudah tidak ada lagi. Ini kenapa kedua siswi itu bisa lolos?.
"Aku menyuruh bang Reyhan menjemput kami ke sekolah pas istirahat pertama" jawab Diana.
"Bang Reyhan sama bang Orion, memang tidak ada jiwa mereka menjadi guru, tidak seperti Papa Arya" ucap Queen. Mana ada seorang guru mengajak muridnya bolos, pikir Queen. Meski Queen bukanlah murid yang pintar banget, tapi dia adalah murid teladan dan disiplin.
"Sayang !"
Queen dan yang lainnya langsung menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang.
"Abang nyariin kamu, taunya di sini" ucap Orion, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar pengantin baru itu.
"Ngantar makanan buat mereka" balas Queen, mengatakan kenapa ia berada di kamar Arsenio.
"Ayo ! kamu juga harus makan, ini sudah siang, kamu juga belum makan" ajak Orion. Queen menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Queen sangat senang, setiap mendapatkan perhatian dari Orion suaminya.
"Diana ! Kania !, kalian juga makanlah, semuanya sudah mulai makan" suruh Orion kepada kedua sahabat istrinya itu. Kemudian menarik Queen keluar.
"Iya bang Orion, kebetulan kami juga sudah lapar" balas Kania senang." Lagian pasangan pengantin baru ini juga, sepertinya pengen berdua duaan. Yuk ! Diana" ajak Kania, menarik tangan Diana keluar dari kamar Arsenio dan Sirin.
Setelah pintu kamar mereka tertutup rapat, Arsenio tanpa aba aba yang langsung menyerang bibir Sirin, dan menciumnya rakus.
.
.
#Mana like dan komennya ?