
Hari sudah sore, para tamu tamu mereka sudah pada pulang semua. Di ruang tamu, Reyhan dan Elang sama sama duduk menyandarkan kepala mereka di lengan kanan dan kiri ratu sejagat. Mereka tidak menyangka nasib mereka sama sama di langkahi adik mereka Arsenio. Yang paling tragis..Elang, dia di langkahi saat dirinya masih jomlo akut. Dan kalau abangnya Reyhan, masih mending, dia sudah ada calon.
"Ma ! Elang juga pengen nikah !, cariin cewek buat Elang Ma !" rengek Elang manja, tangannya mengelus elus perut Mama Bunga.
"Mama mau cari kemana ?, masa ganteng ganteng gini gak ada cewek yang naksir sama kamu ?. Bikin malu Mama aja" ucap Mama Bunga kepada anak ke tiganya.
"Reyhan lebih tua dari Elang Ma !, Reyhan terlebih dahulu di urus Ma !. Lagian Reyhan sudah ada calon" ucap Reyhan, tangannya menepis tangan Elang dari perut Mama Bunga, untuk bergantian mengelus elus sang adik yang masih di dalam perut.
Elang yang tidak terima tangannya di singkirkan, pun menepis balik tangan Reyhan. Begitu selanjutnya, Reyhan balik menepis tangan Elang.
Belum lahir aja, adik masih di dalam perut, sudah menjadi rebutan abang abangnya. Gimana nanti setelah lahir?. Tanpa mereka tau, adik mereka yang berada di dalam perut tersenyum senang.
"Awas !"
Tiba tiba Bilal datang, dan langsung menyingkirkan kedua tangan abangnya yang saling berebut itu. Kemudian mendudukkan tubuhnya di pangkuan ratu sejagat, wanita tercantik di keluarga Alfarizqi, cewek rebutan yang tidak ada saingannya.
"Mama ! nanti adek Bilal ada cicitnya gak ?" tanya Bilal, nentranya menatap intens wajah ratu sejagat.
"Mama gak tau sayang" jawab ratu sejagat, mencium kening Bilal.
Meski Bilal sudah duduk di bangku kelas tiga SD. Tapi sifatnya masih seperti bocah lima Tahun. Mungkin karna dia anak yang paling bontot, jadi dia lebih manja dari semua abang abangnya.
"Tapi Bilal, ingin adek Bilal nanti ada cicitnya" ucap Bilal lagi.
Reyhan dan Elang saling berpandangan, mata mereka seperti berbicara. Dan tanpa aba aba, tangan mereka sama sama terangkat, dan sama sama mengangkat Bilal, menurunkannya dari pangkuan ratu sejagat.
"Bang Elang !!! bang Reyhan !!!" teriak Bilal tidak terima, karna disingkirkan dari pangkuan ratu sejagat.
"Uwek !"
Elang dan Reyhan yang sudah sama sama meletakkan kepala mereka di paha kiri dan kanan ratu sejagat, sama sama memeletkan lidah mereka ke arah Bilal yang kesal.
"Kenapa teriak Bilal ?"
Bilal yang mendengar suara Papa Arya menegurnya, langsung berbalik badan, dan mendekati Papa Arya yang sudah duduk di atas karpet.
"Bang Reyhan sama bang Elang jahat, Bilal di turuni dari pangkuan Mama ratu" adunya.
Papa Arya menggeleng gelengkan kepalanya. Anaknya sudah pada besar semua, tapi masih suka bermanja manja. Istrinya itu, benar benar menjadi cewek rebutan mereka semua.
"Sini ! duduk di pangkuan Papa saja" Papa Arya menarik Bilal supaya duduk di atas pangkuannya. Mengusap kepala Bilal dengan sayang.
"Papa ! kak Sirin kenapa tidur di kamar bang Arsen ?. Bilal tidur di mana dong ?" tanya polos Bilal, menajamkan tatapannya ke wajah Papa Arya, meminta jawaban.
"Bilal 'kan bisa tidur sama bang Reyhan, bang Elang, atau sama Bang Darren" jawab Papa Arya.
Bilal diam sambil berpikir, kemudian berbicara."Nanti malam, Bilal tidur sama Papa sama Mama ya !" ucapnya terdengar merayu di telinga Papa Arya.
"Bilal 'kan sudah besar, masa masih mau tidur sama Mama, sama Papa ?."
Anak bontot mereka itu, meski sudah SD, masih sering minta tidur bersama mereka. Kalau tidak di turuti, Bilal akan mengamuk, esok harinya tidak mau sekolah, dan PRnya pun tidak di kerjakan.
Bilal mengerucutkan bibirnya, mendengar jawaban Papanya. Kemudian berdiri dari pangkuan Papa Arya. Dan langsung berlari ke arah meja sofa, dan menarik taplak mejanya, sampai yang di atas meja ikut berjatuhan.
"iya ! Bilal tidur sama Papa, sama Mama!" Akhirnya Papa Arya mengalah, untuk meredam kemarahan anak bontotnya. Bilal dengan wajah ceria kembali mendekati Papa Arya dan duduk di pangkuannya.
Gagal deh malam ini rencanaku bersenang senang, batin Papa Arya.
Mama Bunga menggelengkan kepalanya pelan, melihat raut waja suaminya seketika tak bersemangat. Mama Bunga pasti tau, apa yang di pikirkan suaminya itu. Suami tampannya itu, tidak berubah dari dulu, masih genit meski tak muda lagi. Dan malah di usia suaminya yang menginjak lima puluhan Tahun, ke inginan bercinta suaminya semakin menjadi.
Pasti Papa mikirin gak bisa urusan pribadi sama Mama nanti malam. Batin Reyhan melirik wajah Papa Arya yang nampak tak bersemangat.
Kalau usia sudah tua, masih iya ! doyan urusan pribadi ?. Batin Elang, memejamkan matanya menikmati belaian tangan Mama Bunga di kepalanya.
Di dalam kamar pengantin baru remaja itu. Arsenio, mengusap usap perut Sirin yang sudah terlelap di sampingnya. Ini pertama kalinya Sirin tidur si kamarnya, dan tidur satu ranjang dengannya. Tentu Arsenio masih merasa seperti bermimpi dengan kenyataan kalau dia dan Sirin sudah menikah, bahkan di usia mereka yang masih sangat muda.
"Sirin ! bangun ! ini sudah sore" ucap Arsenio, sesekali mengecup pipi Sirin, namun Siri masih bergeming.
Semenjak kapan dia berubah menjadi pria romantis. Sejak merek pacaran, Arsenio tidak pernah sama sekali memanggil Sirin dengan sebutan sayang. Tapi semenjak ijab kabul itu terucap dari bibirnya, sepertinya rasa cinta dan sayangnya bertambah kepada Sirin. Sehingga kata sayang itu, meluncur begitu saja keluar dari mulutnya.
Dan sekarang yang menjadi pertanyaan. Mampukah Arsenio membahagiakan Sirin?, dengan segala kebutuhan Sirin yang tidak pernah kekurangan secara materi. Sedangkan Arsenio adalah cowok yang tidak biasa bekerja, cowok yang suka ngelayapan, yang hanya tau meminta uang dari orang tuanya.
"Sayang ! ayo bangun ! kamu harus mandi lebih cepat, sebentar lagi mahgrib" ucap Arsenio lagi.
"Tapi aku masih sangat ngantuk Arsen !" gumam Sirin tanpa membuka matanya.
"Nanti malam kamu bisa tidur lagi" balas Arsenio.
Jika tubuhnya sudah sembuh total dari bekas operasi di dadanya. Mungkin ia sudah menggendong tubuh Sirin, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kepalaku terasa sangat pusing !" gumam Sirin lagi.
Arsenio menggaruk kepalanya, ah ! iya tidak akan tau bagaimana membujuk Sirin. Meski ia mencintai Sirin, tapi ia tidak pintar dalam hal menyusun kalimat rayuan atau sejenisnya.
"Ini sudah sangat sore Sirin" ucap Arsenio lagi.
Arsen masih sama, menyebalkan !. Masih tidak mau membujukku. Kesal Sirin dalam hati
Tanpa sadar, Sirin yang masih memejamkan matanya, mengerucutkan bibirnya, wajahnya tampak cemberut.
Arsenio yang melihatnya tersenyum, lalu mencomot bibir Sirin yang mengerucut dengan tangannya. Kemudian menarik tangan Sirin, supaya Sirin segera bangun dan beranjak dari atas kasur.
"Ayo cepat bangun dan mandi Sirin, kalau kamu tidak mau kita mandi bersama" ucap Arsenio lagi.
"Dari dulu kamu memang tidak ada romantisnya !" sungut Sirin, berjalan ke arah kamar madi dengan rasa kesalnya.
Kenapa Arsen tidak peka, kalau istrinya minta di bujuk dan di rayu, sambil di sayang sayang manja. Papa Arya yang terkenal galak aja, tau caranya bersikap romantis kepada Mama Bunga.
"Merajuk lagi dia !" gumam Arsenio, Entah kenapa preman sepertinya, bisa menyukai gadis manja dan lembut seperti Sirin ?"
Di salah satu kamar di lantai dua rumah Algarizqi, tepatnya di kamar Orion. Queen menangis tersedu sedu menenggelamkan wajahnya di bantal, setelah mendengar Orion yang berencana pergi keluar Negri tiga hari lagi.
"Sayang ! abang kesana hanya sebentar, kalau urusan abang sudah beres, abang langsung pulang" bujuk Orion mengusap usap kepala Queen.
"Pergi saja ! Queen gak peduli, Queen bisa kok hidup tanpa bang Orion. Dan Queen juga sudah terbiasa selama ini hidup tanpa ada bang Orion" balas Queen di selah selah tangisnya.
Kenapa setelah kaki suaminya itu mulai sembuh, suaminya itu ingin pergi lagi ?.
"Abang perginya hanya lima hari sama di jalan Queen" bujuk Orion lagi.
"Pergi saja !"
"Kalau tidak penting bangat, abang juga gak pergi Queen" jelas Orion lagi, supaya Queen mengerti, dan mengijinkannya pergi.
"Semenjak kapan Queen lebih penting dari luar Negri bang Orion itu ?" tanya Queen, tanpa menoleh ke arah Orion.
Orion terdiam dan menghela napasnya, karna tidak bisa menjawab pertanyaan Queen. Queen jelas lebih penting dalam hidupnya, tapi pasti ada hal yang penting lainnya dalam hidup Orion. Dan Orion juga hanya pergi sebentar saja, karna ada urusan yang sangat penting.
"Sudah lah ! gak usah di bahas lagi, ayo mandi."
Queen langsung menyentak tangan Orion yang menarik tangannya dengan kasar. Queen kecewa karna Orion tidak menjawab pertanyaannya. Yang seharusnya Orion menjawab, ia lebih penting dari segalanya.
"Queen..!" tegur Orion, dengan suara lembutnya.
"Pergilah bang ! Queen tidak memaksa bang Orion lagi menjadi milik Queen. Bang Orion bebas mau kemana, mau bagaimana" tangis Queen semakin menjadi.
"Abang keluar Negrinya hanya sebentar aja sayang!. Hanya untuk urusan pekerjaan" jelas Orion lagi.
"Pergi aja !" sentak Queen
.
.