Brother, I Love You

Brother, I Love You
69. Garam beryodium



Kini tinggal hanya Sirin dan Arsen di ruang perawatan itu. Sirin duduk di kursi yang berada di samping brankar, sambil menyuapi Arsen bubur.


"Sini naik !" suruh Arsen, Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian naik ke atas brankar.


Arsen mengulurkan tangannya ke perut Sirin, mengelus perut Sirin dengan wajah berbinar. Meski anak yang berada di dalam perut Sirin berasal dari kesalahannya, Arsenio tetap menyayanginya.


"Sudah berapa lama dia ada di perutmu ?"


Mendengar pertanyaan Arsenio kepadanya, wajah Sirin berubah kesal. Sepertinya Arsen berpura pura lupa, kapan dia menanam benihnya di ladang miliknya.


"Tentu semenjak kamu menaburkan benihmu di rahimku !" kesal Sirin, cemberut.


"Maaf !"


Sirin menghela napasnya memikirkan mereka masih sama sama remaja dan masih sama sama sekolah. Dan malah Arsenio masih kelas dua SMA, bagaimana nanti mereka menjalani pernikahan ?.


"Sirin ! apa kamu menyesal ?" Arsen menajamkan netranya ke wajah Sirin.


"Pertanyaan macam apa itu ?, tentu aku menyesal. Emang kamu tidak menyesal sudah berbuat dosa ?" tanya balik Sirin, membalas tatapan Arsenio.


"Dengan anak kita yang berada di perutmu juga, kamu menyesal ?" tanya Arsenio lagi.


Sirin menghela napasnya lagi, dia menyesali perbuatannya, tapi tidak dengan anak di dalam perutnya. bagaimana pun terjadinya anak itu, anak itu tetap anugrah dari Tuhan.


"Dia tidak bersalah, dan tidak tau apa apa" Sirin menatap perutnya dengan pandangan meneduh, kemudian mengelusnya dengan lembut.


Arsenio mengambil tangan Sirin dari perutnya, membawanya ke bibirnya, lalu mengecupnya." Aku berjanji akan menyayangi kalian seumur hidupku !" ucap Arsenio.


"Itu harus Arsen !" ketus Sirin.Arsenio tersenyum, gemas sekali melihat wajah Sirin yang cemberut.


"Aku juga bingung kenapa kita sampai bisa melakukannya" wajah Arsenio berubah menjadi serius.


Ceklek !


Sirin dan Arsenio sama sama menoleh ke arah pintu, karna ada yang mebukanya.


"Sayang ! ayo kita pulang" ajak Dokter Aldo masuk ke ruang perawatan Arsenio.


"Iya Pah !" patuh Sirin


"Selamat sore Om !" sapa Arsenio, namun Dokter Aldo tidak menjawabnya. Ia masih marah dan kecewa kepada Arsenio meski ia sudah sepakat akan menikahkan Sirin dengan anak sahabatnya itu.


Arsen mencebikkan bibirnya, karna Dokter Aldo tidak membalas sapaannya."Sudah baik baik calon mantu bertegur sapa, eh ! calon mertua cuek bebek" cibir Arsenio, tanpa ada sedikit segan atau takut dengan Dokter Aldo.


Dasar calon menantu laknut !, maki Dokter Aldo dalam hati, netranya menatap tajam ke arah Arsenio.


Ini calon mertua, seram amat matanya kalau lagi marah, batin Arsenio tanpa sedikit pun merasa gentar dengan tatapan Dokter Aldo yang menghunus sampai membelah jantungnya.


"Ayo sayang !" ajak Dokter Aldo lagi, mengalihkan tatapannya dari Arsenio


"Arsen aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi" pamit Sirin.


Arsenio menganggukkan kepalanya pelan, sembari tersenyum. Kemudian mengulurkan tangannya mengelus perut Sirin."Jangan bikin susah Mamanya ya anak Papa !" ucapnya.


"Cepatlah sembuh Papa !" Sirin berbicara dengan menirukan suara anak kecil.


Mata Arsen berbinar, ia akan memiliki anak di usianya yang masih remaja dan akan di panggil Papa, padahal dia masih memakai seragam putih abu abu. Tanpa dia tau, hukuman menantinya setelah dia sembuh.


Dokter Aldo mendengus kesal, melihat ke uwuan putri dan calon menantu luknatnya. Ingin rasanya Dokter Aldo memotong burung balam milik Arsenio yang menghamili putrinya, dan membuangnya ke penangkaran buaya.


"Sayang ! ayo cepat !" ajak Aldo lagi.


"Iya pah !" balas Sirin." Arsen ! aku pulang dulu ya !" pamit Sirin sekali lagi, kemudian turun dari atas brankar.


"Salam buat Papa mertua !" ucap Arsenio tersenyum, niat menggoda calon mertuanya yang menatapnya tak suka.


Sirin hanya tersenyum menanggapinya, kemudian menyusul Dokter Aldo keluar dari ruangan itu.


.


.


Esok harinya


Sirin memuntahkan isi perutnya ke washtapel yang berada di dalam kamar mandinya.


Sakit banget ya Tuhan !, kalau seperti ini bagaimana aku bisa sekolah ?, batin Sirin. Merasakan pahit dan kecutnya asam lambung yang keluar dari dalam mulutnya. Keringat dingin sudah membasahi keningnya, wajahnya sudah pucat dan tubuhnya juga sudah lemas.


Sirin menangis, saat seperti ini tidak ada yang memperhatikannya. Ini masih sangat pagi, Papanya yang tidur di kamar lantai bawah tidak tau kalau ia sedang muntah muntah.


Arsen ! cepatlah sembuh !, aku membutuhkanmu !, batin Sirin menangis.


Selesai dengan muntahnya, Sirin keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah gontai. Sirin kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, karna tubuhnya yang terasa lemas sehabis muntah.


Sirin mengambil handphonnya yang terletak di meja nakas. Setelah menghidupkan layarnya, Sirin langsung menhubungi Arsenio.


"Iya Sirin, ada apa ?" sapa seorang cowok dari sebrang telephon.


"Aku barusan muntah lagi !" adu Sirin menangis.


"Muntah lagi ?" ulang Arsenio


"Bagaimana aku bisa pergi sekolah kalau seperti ini ?. Tubuhku terasa lemas, kepala pusing" tambahnya lagi menangis tersedu sedu.


Arsenio yang berada di sebrang telephon, terdiam.


"Sebentar lagi aku ujian akhir" tambah Sirin lagi.


Arsenio yang masih terbaring di atas brankar, diam tidak tau harus berbicara apa. Seharusnya dia memikirkan konsekuensinya sebelum berbuat. Kini Sirin sendiri yang menanggung rasa sakitnya, Arsenio menjadi kasihan.


"Arsen !, kamu kenapa diam aja ?"


"Aku gak tau harus mengatakan apa dan melakukan apa Sirin !" jawab Arsenio.


"Kenapa gak kamu saja yang ngidam seperti bang Orion !" tangis Sirin lagi, enak sekali Arsrnio, tidak menanggung resiko apa apa. Sedangkan dia, mual muntah dan tidak suka makan.


Arsenio diam menggaruk lehernya, bingung. Dia bukanlah cowok romantis, apa lagi cowok yang pintar membujuk dan merayu. Dan dia juga tidak pintar menyusun kata kata yang manis, buat menenangkan hati cewek.


"Arsen...!" rengek manja Sirin, karna Arsenio diam saja.


"Aku juga gak tau Sirin !, kenapa bukan aku yang ngidam" jawab Arsenio akhirnya.


Kesal dengan jawaban Arsenio, Sirin pun mematikan sambungan telephonnya sepihak. Arsenio selalu saja menyebalkan, tidak ada manis manisnya kalau bicara. Kenapa juga ia bisa pacaran dengan Arsenio, cowok yang tidak ada romantisnya sama sekali, kebablasan lagi.


.


.


Queen dan Orion keluar dari mobil Reyhan yang di tumpangi mereka. Dan sama sama berjalan masuk ke dalam gedung sekolah.


"Halo Queenara Hamiska ! selamat pagi !"


Plakk !


"Aw !" ringis Dhikra karna Orion memukul kakinya dengan tongkat.


"Gak lihat ada saya di samping Queen ? ha !" kesal Orion. Apa bocah tengil itu tidak melihatnya atau tidak menganggapnya ada?.


Dhikra menggaruk leher belakangnya sambil cengegesan." Dhikra 'kan hanya menyapa saja apa Pak !, masa gak boleh ?."


"Tapi apa maksud kedipan matamu itu ?" gemas Orion, memukul kaki Dhikra lagi dengan tongkatnya.


"Itu refleks aja berkedip kalau meliat Queen Pak !" kelit Dhikra, mengangkat satu kakinya, megusap usap yang terkena pukulan tongkat Orion.


"Alasanmu saja ? berani kau menggoda Queen lagi. Kupastikan kamu tinggal kelas" ancam Orion.


"Pak Orion gak cocok sama Queen !, terlalu tua dan kakinya juga tiga !."


Siung !


"Siapa yang memilih bocah tengil itu menjadi ketua Osis ?. Tidak ada etikanya sama guru sendiri !" geram Orion. Enak saja dia dikatain tua, usianya baru 26 Tahun juga.


"Dhikra memang seperti itu bang Orion, gak usah di tanggapi" balas Queen, tersenyum.


"Kamu juga !, jangan pakai tebar tebar pesona segala. Besok rokmu ini jangan di pakai lagi" Gemas Orion bercampur kesal. Melihat rok yang di kenakan Queen sangat pendek, dan bajunya juga terlalu kecil.


Plakk !


"Aw ! bang Orion kenapa pantat Queen di pukul ?" kesal Queen, mengerucutkan bibirnya, sambil tangannya mengelus elus pantatnya yang di pukul Orion dengan tongkat.


"Biar besok kamu ingat !"


"Iya ! besok Queen akan memakai pakaian tertutup, lengkap dengan cadarnya" cetus Queen, dan langsung meninggalkan Orion pergi ke kelasnya.


"Itu lebih bagus !" ketus Orion, namun Queen tak mendengarnya lagi. Orion pun melangkahkan kakinya ke arah kantor guru. Di sana sudah ada Reyhan.


"Rey !" panggil Orion


Reyhan mendongakkan kepalanya yang dari tadi sibuk dengan handphon di tangannya," Hm..?"


"Nanti pulang sekolah kita meninjau pembangunan kampus" ucapnya seperti perintah.


"Hm..!"


"Pastikan kampus itu bisa beroperasi tiga bulan ke depan" ujar Orion santai, kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang tidak jauh dari Rayhan.


"Yang benar saja !" Reyhan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphonnya.


"Aku ingin Queen menjadi angkatan pertama kampus itu."


"Kalau untuk Queen saja, bisa, tapi kalau untuk menampung ratusan mahasiswa, tidak bisa."


"Makanya usahakan biar bisa !." Orion mengeluarkan hanphonnya dari saku celananya, mulai berselancar di benda pipih ajaib itu.


"Suruh Elang aja, mungkin dia bisa!" balas Reyhan.


"Aku menyerahkan proyek pembangunan kampus itu kepadamu Reyhan Rasyafariq" geram Orion. Sudah kesal tadi di luar, Reyhan malah membuatnya tambah kesal lagi.


"Tapi kesepakatan kita, proyek itu siap satu Tahun lagi. Malah kamu memangkas waktu sembilan bulan abagku sayang !" balas Reyhan, menatap wajah Orion dengan tidak kalah kesalnya.


Mentang mentang pernah jadi Ceo, dia pikir semua orang bawahannya. Pikir Reyhan


Orion menghela napasnya," sebagian kelas Reyhan..!, bukan semuanya" gemas Orion.


"Oh !"


"Mau di pukul juga kamu pakai tongkat ini ?."


"Gak Bang ! ampun !" Reyhan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala.


Suka suka si pincang ini aja memerintah. Untung kau abangku, kalau tidak ?. Batin Reyhan.


.


.


Queen mendudukan bokongnya di bangku yang biasa ia duduki di dalam kelasnya. Wajahnya tampak cemberut, karna Orion memukul pantatnya pakai tongkat. Meski tak sakit, tapi Queen tak suka di pukul.


"Sirin !" sapa Queen, melihat Sirin datang dengan wajah pucat.


"Aku tadi pagi muntah, dan aku juga gak selera makan" adu Sirin, mendudukkan tubuhnya di samping Queen.


"Kenapa sekolah kalau kamu gak kuat, Papa Arya nanti pasti maklum kok, kalau kamu absen" ujar Queen, menyentuh bahu Sirin.


"Sebentar lagi kita ujian kelulusan, kalau aku gak sekolah, aku pasti ketinggalan pelajaran."


Queen menghela napasnya," bisa bisanya kamu melakukan itu dengan Arsen" desah Queen.


"Aku juga gak tau !, kami sama sama khilaf."


"Dimana kalian melakukan itu ?." Queen menajamkan pandangannya memperhatikan wajah Sirin yang merona salah tingkah.


"Di..di dalam mobil" jawab Sirin gugub, menundukkan kepalanya.


"Sirin ! Queen !" seru Diana dan Kania, masuk ke dalam kelas.


"Ada apa ? PR kalian belum siap ?" tebak Queen.


"Hehehehe....!" cengir Diana dan Kania bersamaan.


Queen mendengus, tebakannya tidak pernah meleset. Queen juga heran dengan Diana, anak seorang guru. Kenapa PRnya sering tidak siap, padahal ada yang mengajarinya di rumah. Tak ingin kedua temannya itu mendapat hukuman, Queen pun memberikan buku PRnya kepada kedua sahabatnya itu.


Kalau Sirin, dia tidak akan memberikan Diana dan Kania mencontek tugasnya. Sirin sangat pelit, sama seperti Bapaknya dulu.


Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, pertanda proses belajar mengajar akan segera di mulai.


"Selamat pagi !" sapa guru yang masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi juga Pak !" balas semua murid.


.


.


Pulang sekolah, ternyata rasa kesal Orion belum juga hilang, lebih tepatnya masih cemburu dengan Dhikra bocah tengil yang berani menggoda Queen di depannya.


"Stop dulu Rey !" ucap Orion kepada Reyhan yang menyetir di depan. Reyhan langsung menepikan mobilnya, dan berhenti.


"Bang Orion mau ngapain ?" Queen yang bertanya.


"Beli baju seragam sekolah !" Orion membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Berjalan ke arah kios pakaian yang menjual seragam sekolah yang berada di ruko pinggir jalan.


"Suami mu itu kenapa Queen ?. Dari tadi pagi, perasaan dia gondokan terus ?. Kalian di rumah gak pakai garam beryodium ?" tanya Reyhan. Dari tadi ia mendiamkan Orion, karna masalah proyek pembangunan kampus yang harus bisa beroperasi tiga bulan ke depan.


Reyhan sebagai kontraktornya, jelas kepalanya pusing memikirkannya. Bagaimana caranya bisa selesai dalam waktu singkat. Selama pembangunan kampus itu berlangsung, ia belum mendapatkan apa apa. Orion hanya memberinya dana, hanya untuk membeli material, peralatan dan upah buruh. Untuk upah dan keuntungannya belum di bayar bos besar Orion, sepersen pun kepadanya. Malah Orion banyak sekali perintahnya, tanpa memikirkannya yang lelah.


"Lagi cemburu !" jawab Queen singkat, reyhan menghela napasnya.


Tak lama kemudian Orion kembali, ia melempar paper bag ke pangkuan Queen."Besok jangan memakai baju dan rok seragammu yang kekecilan itu !" ketusnya kepada Queen.


Queen diam tidak menjawab, ia pun mengeluarkan isi paper bag tersebut. Memeriksa baju seragam sekolah yang di belikan Orion untuknya.


"Serius bang Orion menyuruh Queen memakai ini ?" heboh Queen membolakan matanya melihat rok panjang bermodel plisket di tangannya. Oh ! tidak !


Queen mengeluarkan baju seragam sekolahnya lagi dari dalam paper bag tersebut."Ya ampun bang Orion..!" ringis Queen. melihat atasan seragam sekolahnya, kemeja lengan panjang.


Oh tidak !, dimana Queen yang cantik dengan penampilan seksinya ?.


"Ajaran Tahun depan, aku akan berobah peraturan sekolah itu. Semua siswi harus memakai seragam seperti itu" cetus Orion.


"Hati hati Queen !, cemburu bisa membawa malapetaka !" celetuk Reyhan dari kursi depan, sibuk dengan jalanan di depannya.


"Kamu harus patuh sama suami mu Queen!" ucap Orion, tanpa menanggapi perkataan Reyhan.


"Queen gak mau !" bantah Queen, memasukkan kembali baju seragam sekolah itu ke dalam paper bag.


"Kalau kamu gak mau, kamu tidak usah pergi sekolah. Kamu belajar di rumah aja" ujar Orion.


"Bang Orion jahat !" Queen melempar paper bag di tangannya kepada Orion. Kemudian memutar tubuhnya membelakangi Orion, dan langsung menangis terisak.


Dulu Bang Orionnya itu kemana ?, dulu Bang Orionnya itu tidak peduli dengan penampilannya. Tidak peduli seperti apa dirinya. Tidak peduli dirinya yang rindu dan kesepian. Tidak peduli apakah ada cowok yang mengganggunya dan menggodanya. Sekarang kenapa begitu banyak yang salah di mata suaminya itu.


"Queen !"


.


.