Brother, I Love You

Brother, I Love You
166. Sangat terluka



Reyhan dan Yumna keluar dari dalam kamar mereka, melangkah sambil bergandengan tangan menuruni anak tangga ke lantai bawah. Malam ini mereka akan pergi bermalam mingguan, keliling keliling kota dengan menggunakan motor.


"Tunggu di sini aja, aku akan mengeluarkan motornya dulu" ucap Reyhan, melangkahkan kakinya ke arah garasi.


Tak lama kemudian Yumna yang berdiri di halaman rumah, mendengar deru motor di dalam garasi. Yumna berjalan sembari tersenyum mendekati Reyhan, setelah Reyhan keluar dari dalam garasi dengan menggunakan motor. Reyhan terlihat sangat tampan dan keren di atas motor. Setelah memasang helem ke kepalanya, Yumna pun naik ke atas motor, duduk di belakang Reyhan.


"Siap ?" tanya Reyhan setelah merasakan tangan Yumna melingkar di perutnya.


"Lets go !" balas Yumna dari belakang.


Reyhan pun melajukan motornya perlahan keluar dari halaman rumah. Mereka tidak punya tujuan, mereka hanya mutar mutar keliling kota saja.


"Habib !" panggil Yumna.


"Apa sayang ?, kamu ingin sesuatu ?" tanya Reyhan.


"Nanti kita ke taman pinggir danau ya !, aku pengen makan jajanan yang di jual di sana !" jawab Yumna.


"Oke sayangku !" balas Reyhan dari depan. Reyhan mengambil satu tangan Yumna, membawanya ke bibirnya, lalu mengecupnya.


"Ikh ! Habib gak bagus nampak orang seperti itu !" tegur Yumna.


"Kenapa sayang kita ini suami istri ?" tanya Reyhan.


"Yumna gak mau orang lain melihat keromantisan Habib. Dengan memamerkan kemesraan dan keromantisan di depan umum, itu bisa mengundang pelakor" jawab Yumna.


"Kok bisa gitu sayang ?" tanya Reyhan lagi.


"Wanita yang kesepian, bisa iri melihatnya, dan yang lebih tepatnya penasaran. Bisa saja mereka yang tidak seberuntung aku, mendapat suami yang tampan dan romantis seperti habib. Bisa ingin merasakan seperti Habib memperlakukanku. Dan.. jika mereka yang tidak bisa menahan diri, bisa bisa besok ada yang mencari Habib, kemudian merayu Habib !" jelas Yumna, bibirnya mengerucut di balik nikapnya.


"Posesifnya istriku !" ucap Reyhan tersenyum.


"Itu harus !" balas Yumna.


Sampai di pinggir danau, Reyhan menghentikan laju kenderaannya. Taman pinggir danau itu terlihat rame, karna pas lagi malam minggu. Banyak anak anak bermain bersama orang tuanya. Dan banyak juga yang berpacaran. Rayhan membuka lelemnya, kemudian memutar sedikit tubuhnya ke arah Yumna." Mau beli jajanan apa ?" tanyanya.


"Tela tela, bakso bakar, sama kacang rebus !" jawab Yumna.


"Mau tunggu di sini apa ikut belinya ?" tanya Reyhan lagi.


"Ikut !"


"Ya udah ! ayo !" ajak Reyhan, membantu Yumna turun dari atas motor.


Reyhan pun membuka helem Yumna, menyimpannya di dalam penyimpanan helem di motornya. Mereka pun berjalan mendekati salah satu motor penjual jajanan kelingling, membeli bakso bakar. Kemudian berpindah ke penjual sebelahnya, membeli kacang rebus, berpindah lagi ke sebelahnya membeli tela tela. Setelah semua pesanan sudah di dapat, mereka pun membeli minuman. Jika Reyhan memberi kopi, Yumna membeli minuman kemasan rasa jeruk, dan juga air putih.


"Sudah ? apa masih ada yang ingin di beli lagi ?" tanya Reyhan.


"Sudah Habib !" jawab Yumna.


Mereka pun mencari tempat duduk di sekitaran taman yang ada danaunya itu. Setelah mendapatkan tempat duduk yang kosong, mereka pun duduk di sebuah tikar yang khusus di sewakan untuk para pengunjung, di piggir danau.


"Sini duduk dekat Habib sayang !, jangan jauh jauh dari Habib !. Entar angin nyelip di tengah tengah kita." Reyhan menarik tubuh Yumna supaya duduk bersandar ke dadanya.


Mereka berdua pun menikmati malam di taman itu, sambil memakan jajanan yang mereka beli tadi.


.


.


Sementari itu di tempat kediaman Alfarizqi, tepatnya di kamar ratu sejagat dan Papa Arya. Mama Bunga menangis tadi, karna tak dapat meluluhkan hati Papa Arya untuk menerima Naysila sebagai menantu di rumah itu. Hingga pertengkaran mulut pun terjadi.


"Kamu itu sangat keras kepala Aaryan !. Kamu selalu bersikap seolah olah kamu tak punya dosa !. Jangan sampai kamu menyesal ! jika Elang pergi menjauh dari kita !" tangis Mama Bunga.


"Lihatlah ! karna kamu selalu membela anak anak kita yang berbuat salah. Anak kita yang lainnya semakin berani bertindak di belakang kita. Mereka tidak memikirkan perasaan kita Bunga !" balas Papa Arya." Dari Orion yang memiliki anak dari wanita lain, Arsen yang menghamili Sirin di luar nikah !, Sekarang Elang yang menikah tanpa memberitahu kita !. Apa kita tidak ada artinya bagi anak anak !. Kenapa mereka berbuat sesuka mereka ?" ucap Papa Arya lagi, tak terima Mama Bunga mengatakannya keras kepala.


"Aku gagal menjadi Ayah Bunga !. Aku gagal mendidik anak anak kita !" lirih Papa Arya.


Dimana letak kesalahannya, kenapa anak anaknya tidak berpikir dua kali untuk mencoreng nama baiknya.


"Tapi pernikahan mereka sudah terjadi !" ucap Mama Bunga lagi." Lihatlah Elang, dia tega meninggalkan istrinya tidur sendirian karna rindu tidur di rumah ini tapi dia tidak bisa membawa istrinya masuk ke rumah ini !"ucap Mama Bunga lagi.


"Tanpa melibatkan kita ! ingat itu Bunga !. Dan juga aku tidak menyuruh Elang menceraikan istrinya. Dan jika kamu terus melakukan pembelaan kepada anak anak kita. Tidak menutup kemungkinan anak anakmu yang lain akan bertindak sesuka mereka !" ujar Papa Arya Kemudian keluar dari kamar itu. Karna tak ingin meladeni istrinya yang selalu terus menyalahkannya jika memberikan anak anak mereka hukuman.


Papa Arya keluar dari dalam rumah, berjalan ke arah garasi. Papa Arya masuk ke dalam mobilnya, dan langsung menyalakan mesinnya, lalu melajukannya keluar dari dalam garasi. Entah kemana Papa Arya hendak pergi, Ia pun melajukannya kenderaannya meninggalkan pekarangan rumah.


Sedangkan Mama Bunga yang menangis di tinggal suaminya. Mengambil Sabina kecil yang menangis, lalu memberinya asi.


Dari teras balkon lantai dua rumah itu, Elang meneteskan air matanya saat melihat mobil Papa Arya keluar dari pekarangan rumah. Tadi Elang sempat mendengar pertengkaran ke dua orang tuanya, saat ia akan hendak mengetuk kamar kedua orang tuanya. Elang tadi berniat untuk berusaha membujuk Papanya. Mendengar perdebatan dari dalam kamar, Elang mengurungkan niatnya, dan kembali ke kamarnya.


Sekarang Elang bingung, bagaimana caranya untuk membujuk Papanya, supaya bisa menerima istrinya. Padahal Malam ini Elang sengaja tidur di rumah orang tuanya, untuk berusaha mengambil hati Papanya.


Apa yang harus kulakukan sekarang ?. Sepertinya hati Papa sangat terluka. Dan aku tidak mungkin menceraikan Naysila, selain aku mencintainya. Aku takut Naysila sudah mengandung anakku. Dan kasihan Naysila jika harus hidup sendirian tanpa siapa siapa. Batin Elang


"Assalamu alaikum sayang !" sapa dari sebrang telepon langsung, setelah sambungan teleponnya tersambung.


"Walaikum salam sayang !" balas Elang tersenyum, meski Naysila tidak melihat senyumnya." Lagi ngapain ?" tanya Elang.


"Lagi baca baca buku aja !" jawab Naysila.


"Maaf ya ! aku ninggalin kamu !" ucap Elang.


"Gak apa apa ! lagian udah terbiasa !"balas Naysila.


Apa yang bisa ia lakukan, dia tidak mungkin melarang Elang untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Seandainya Naysila juga masih memiliki orang tua, ia pun akan menginap di rumah orang tuanya.


"Besok aku akan pulang kok !" ucap Elang lagi.


"Besok bawa aku jalan jalan ya !" ujar Naysila.


"Iya sayang !, kalau begitu udah dulu teleponnya. Sebelum tidur, pastikan dulu semua pintu dan jendela terkunci ya !. Aku gaka mau ada orang masuk lalu mencuri istriku yang manis itu" gombal Elang.


"Iya ! suamiku yang tampan !" balas Naysila tersenyum.


"Ya udah ! babay ! selamat bobo sayang !."


"Selamat Bobo juga !"


Elang pun mematikan sambungan teleponnya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Di lihatnya Bilal adiknya sudah tertidur pulas di atas tempat tidurnya.


Elang menghela napasnya kasar, melihat tempat tidurnya. Entah kapan ia bisa membawa istrinya tidur di kasur kesayangannya. Lalu Elang pun membaringkan tubuhnya di samping Bilal.


.


.


Puas duduk duduk menikmati malam, di taman tepi danau. Kini Reyhan dan Yumna beranjak dari tempat duduk mereka, berjalan kembali ke parkiran motor mereka.


"Sudah ngantuk banget ya ?" tanya Reyhan, melihat Yumna beberapa kali menutup mulutnya pakai tangan.


"Iya !" jawab Yumna.


Sampai di parkiran motor mereka, Reyhan pun memasangkan helem ke kepala Yumna, dan ke kepalanya. Setelah mereka berdua naik ke atas motor, Reyhan langsung melajukannya perlahan ke jalan raya. Jalan sudah nampak mulai sepi, karna hampir larut malam.


"Habib ! ini bukan jalan pulang ! kita mau kemana ?" tanya Yumna dari belakang.


"Lihat aja nanti sayang !" jawab Reyhan tersenyum.


"Habib ! gak seru deh ! main rahasia rahasiaan !" ujar Yumna, lalu mengerucutkan bibirnya.


"Habib tau ! kalau bibir Almira lagi mengerucut !" tebak Reyhan. Ia sudah hapal dengan kebiasaan istrinya itu, yang suka mengerucutkan bibirnya, bergaya manja.


"Habib sok tau !" balas Yumna.


"Ngaku aja !" ujar Reyhan, Yumna tidak membalasnya lagi.


Kurang lebih setengah jam, Reyhan menghentikan laju kenderaannya di parkiran sebuah hotel.


"Kita ngapain ke sini ?" tanya Yumna setelah mengedarkan pandangannya ke sekitaran parkiran dan taman hotel.


"Ngapain lagi Almiraku sayang !, kalau bukan mau iktihar buat dede bayi !" jawab Reyhan tersenyum.


Bukh !


"Aw !, kok di pukul Habibnya ?" keluh Reyhan, karna Yumna meninju lengannya kuat.


"Habib jangan bicara sembarangan seperti itu, nanti ada yang dengar, malu !" ujar Yumna.


"Gak ada orang di dekat kita Almiraku sayang !" ucap Reyhan." Ayo turun !" ajaknya lagi.


Yumna pun turun dari atas motor dengan bibir mengerucut di balik nikapnya, dengan mata berbinar senang. Karna Reyhan mengajaknya menginap di hotel bintang lima. Mudah mudahan aja di kamar kelas VIV.


Setelah menyimpan helem mereka, Reyhan menautkan jari tangannya ke selah jari tangan Yumna, menariknya masuk ke dalam hotel. Setelah mendapatkan kunci kamar yang di pesan Reyhan. Mereka pun berjalan ke arah lif, di antar salah satu pelayan hotel untuk menunjukkan letak kamarnya.


" Silahkan Pak ! Bu !" ucap Pelayan hotel itu tersenyum ramah, setelah sampai di depan pintu kamar hotel yang mereka sewa.


"Trimakasih !" balas Reyhan. Kemudian membuka pintu di depannya denga kunci di tangannya. Kemudian menarik Yumna masuk ke dalam kamar hotel tersebut.


Setelah mengunci pintu hotel itu rapat rapat, Reyhan langsung mengangkat tubuh Yumna tanpa aba aba.


"Habiby !" pekik Yumna kaget.


.


.