
Elang mengerjapkan matanya, terbangun dari tidur lelapnya, karna mendengar samar samar suara orang mengaji di sampingnya. Perlahan Elang membuka kelopak matanya mengarahkannya ke arah sumber suara itu.
"Kak Yumna !" gumam Elang.
Yumna pun menyudahi lantunan ayat suci AlQur'annya. Mengarahkan tatapannya sekilas ke wajah Elang.
"Ini sudah jam berapa kak ?" tanya Elang, melihat ke arah jendela kamarnya, matahari sangat terik.
"Jam tiga sore !" jawab Yumna.
Elang langsung mendudukkan tubuhnya," kenapa gak ada yang membanguniku ?, aku harus menyerahkan tugas hari ini" heboh Elang.
"He ! kamu mau kemana ?, itu tanganmu lagi di tusuk jarum infus" tanya balik Yumna, melihat Elang akan turun dari atas kasur.
"Tadi pagi Bilal sudah capek bangunin bang Elang, bang Elangnya gak mau bangun. Bilal udah kira bang Elang mati" ujar Bilal, duduk di pinggir kasur, menemani Yumna di kamar itu.
"Kenapa aku di infus ?" heran Elang, mengerutkan keningnya, menghiraukan ucapan Bilal.
"Karna kamu hampir kehilangan nyawamu, karna obat tidur yang kamu minum" jawab Yumna. Berdiri dari kursi yang di dudukinya dan langsung keluar dari kamar Elang. Tak ingin berlama lama di sana karna Elang sudah bangun.
"Kak Yumna !" seru Elang
Yumna yang hampir keluar dari kamar Elang yang pintunya terbuka lebar, memutar tubuhnya ke arah Elang dengan pandangan menunduk.
"Trimakasih !" ucap Elang
Yumna mengerutkan keningnya
"Hatiku sedikit terasa damai mendengar lantunan ayat ayat suci Alquran kak Yumna" ucap Elang lagi.
"Semua orang punya masalah !, itu adalah cobaan. Menangis itu manusiawi, tapi jangan sampai lupa diri. Dan lupa sang pencipta maha pemberi solusi. Allah memberimu cobaan, bisa saja DIA merindukanmu menyebut namaNya. Meminum obat tidur untuk melupakan masalah, itu adalah solusi yang salah, perbanyaklah zhikir" balas Yumna, lalu pergi.
Setelah Yumna menghilang dari pandangannya. Elang kembali membaringkan tubuhnya, kepalanya terasa pusing kembali, mengingat Naysila yang berada di penjara sedang mengandung anaknya. Apa yang harus Elang lakukan sekarang ?. Apakah dia harus mencabut tuntutannya kepada Naysila ?. Elang tidak bisa memutuskan itu sendiri, karna yang di tipu bukan hanya dirinya melainkan keluarganya juga. Dan juga jika Elang membebaskan Naysila, Elang takut Naysila membawa kabur anak yang berada di dalam kandungannya. Elang tidak mau sampai ia kehilangan anaknya. Anak itu harus menjadi miliknya. Jika ia tidak melepaskan Naysila dari dalam penjara, Elang kawatir perkembangan anaknya terganggau karna keadaan ibunya yang tidak baik baik saja di dalam penjara .
Ya Tuhan !, batin Elang memijat pangkal hidungnya.
Kenapa semua itu harus terjadi padanya ?, Apakah mencintai seorang Naysila itu adalah sebuah dosa ?, sampai ia di hukum seberat itu. Pikir Elang
"Makanlah dulu !, dari semalam kamu belum makan !."
Elang mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya. Di lihatnya Yumna masuk lagi dengan membawa nampan berisi makanan dan air minum.
"Trimakasih Kak !" ucap Elang, kembali mendudukkan tubuhnya.
"Sama sama !" balas Yumna, langsung pergi.
Yumna tau, seharusnya ia tidak masuk ke kamar Elang, apa lagi Elang adalah laki laki dewasa yang telah beristri. Tapi bagaimana lagi, Mama Bunga juga lagi keadaan tidak baik, tidak ada yang mengurus Elang. Tentu itu, Yumna meminta ijin dulu kepada Reyhan suaminya. Dengan Syarat, harus membuka lebar pintu kamar Elang, Yumna harus memakai cadarnya, dan membawa Bilal atau Darren untuk menemaninya.
"Bilal ! suapin abang !, abang susah nyendok makanannya"pinta Elang kepada adiknya.
"Tapi Bilal ikut makan sebagian ya ?" tawar Bilal, turun dari atad kasur, mengambil piring yang merisi makanan dari atas nakas.
"Iya deh gajah !" pasrah Elang, pasti adiknya itu nanti yang banyak memakan makanannya.
"Kak Nay orang jahat ya bang ?" tanya Bilal, malah menyuapkan makanan terlebih dahulu ke mulutnya.
"Bukan !" jawab Elang.
"Kenapa dia di tangkap polisi ?," lagi Bilal menyuapkan makanan ke mulutnya lagi.
"Kapan abang di suapi ?" tanya balik Elang, karna sendok yang di tangan Bilal, tak kunjung mengarah ke mulutnya.
"Hehehe...! Bilal lupa bang !" cengir Bilal, lalu menyuapkan nasi beserta lauk pauk ke mulutnya.
.
.
Arsenio memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah masuk rumah keluarga besar Alfarizqi itu. Di ikuti mobil Dokter Ghissam dari belakang. Arsenio membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, berjalan cepat ke arah pintu sebelah Sirin. Arsenio membuka pintunya, lalu membantu Sirin keluar, menuntunnya berjalan masuk ke dalam rumah.
Sedangkan di belakang mobil mereka, Dokter Ghissam dan seorang perawat rumah sakit keluar dari mobil membawa baby Arsi di gendongannya. Mereka pun mengikuti Arsen dan Sirin masuk ke dalam rumah.
Arsenio langsung membawa Sirin ke kamar mereka untuk istirahat, karna tubuh Sirin yang masih lemah. Arsenio pun membantu Sirin naik ke atas tempat tidur, mendudukkan Sirin bersandar menggunakan bantal ke kepala ranjang.
"Ini baby nya !" Suster Elisa menyerahkan baby Arsi kepada Arsenio.
"Trimakasih suster ! sudah merepotkan !" ucap Arsenio.
"Sama sama !" balas Suster Elisa ramah.
Di depan kamar Papa Arya dan Mama Bunga.
Buar buar buar !
"Mama ! Papa ! bang Arsen sama kak Sirin sudah pulang !!" seru Bilal menggedor gedor pintu kamar orang tua mereka.
"Iya !" sahut Papa Arya dari dalam, kalau gak segera di jawab, anaknya itu tidak akan berhenti memukuli pintu kamar mereka dengan tangannya.
Setelah mendengar sahutan Papa Arya, Bilal pun berlari ke arah kamar Arsenio dan Sirin, ingin melihat keponakan barunya.
"Iya bang !" balas Sirin dan Arsenio bersamaan.
Dokter Ghissam pun mengacak acak ujung kepala Sirin, lalu mengecup keningnya dengan sayang. Kemudian mengecup pipi baby Arsi yang berada di gendongan Arsenio. Dokter Ghissam pun melangkahkan kakinya ke arah Suster Elisa, dan meraih tangannya, menariknya keluar dari orang tua remaja itu.
"Dokter Ghissam ! saya belum pamit sama mereka !" ucap Suster Elisa.
"Gak usah !" balas Dokter Ghissam tanpa menoleh ke arah suster Elisa.
Suster Elisa pun menarik tangannya dari genggaman Dokter Ghissam, namun langsung di tahan Dokter Ghissam.
"Dokter ! nanti yang melihat salah paham !" tegur Suster Elisa.
"Salah paham gimana ?, kita hanya bergandengan tangan !" tanya Dokter Ghissam.
"Nanti orang mengira kita pacaran !" jawab Suster Elisa.
"Ya udah ! kita pacaran aja !"ucap Dokter Ghissam enteng.
Dada suster Elisa langsung saja di penuhi bunga bunga bermekaran. Eits tunggu dulu !, sebagai seorang cewek, harus jual jual mahal dulu, jangan langsung tergoda.
"Aku sudah punya pacar !" balas suster Elisa.
Suster Elisa tidak percaya, jika salah satu pewaris rumah sakit tempatnya bekerja itu mengajaknya berpacaran.
"Baru pacaran 'kan ?, kalau begitu kita menikah saja !"Dokter Ghissam membukakan pintu mobil untuk suster Elisa.
"Dokter Ghissam jangan bercanda, hati wanita itu sangat sensitif" Suster Elisa, memberanikan diri menatap Dokter Ghissam.
"Aku serius !, kalau kamu gak percaya, malam ini pun aku akan ikut ke rumahmu untuk melamarmu kepada orang tuamu !" ucap Dokter Ghissam, menatap dalam ke manik mata suster Elisa.
"Kita belum saling mengenal !" ujar suster Elisa langsung masuk ke dalam mobil.
Dokter Ghissam menutup pintu di samping suster Elisa, kemudian memutari bagian depan mobilnya, menyusul masuk ke dalam mobil.
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah !" balas Dokter Ghissam.
Suster Elisa diam mengalihkan pandangannya ke arah kaca di sampingnya, tidak tau harus berbicara apa, karna detak jantungnya yang terus memburu. Shok dengan ajakan menikah Dokter Ghissam yang secara tiba tiba.
"Aku serius !" ucap Dokter Ghissam lagi, menoleh sebentar ke arah Suster Elisa, kemudian kembali pokus dengan jalan di depannya.
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya !" balas Suster Elisa.
"Tiga hari !" ucap Dokter Ghissam lagi.
Suster Elisa hanya menghela napasnya.
.
.
Keluar dari dalam mobilnya, Reyhan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Melangkahkan kakinya menaiki tangga ke lantai dua rumah itu. Reyhan membuka pintu kamar mereka sembari mengucap salam.
"Assalamu alaikum Almira !" ucap Reyhan tersenyum.
"Walaikum salam Habiby !" balas Yumna, berdiri dari kursi meja rias, melangkahkan kakinya mendekati Reyhan yang baru masuk.
Seperti biasa, Yumna akan menyambut Yumna dengan menyalam tangan Reyhan dan mengecup punggung tangan kekar yang berkorban mencari rezky untuknya itu. Dan Reyhan pun akan selalu mengecup kening Yumna dengan rasa sayang.
"Masya Allah ! cantiknya istri habib !" puji Reyhan, melihat penampilan Yumna memakai dress di atas lutut berwarna putih berbunga bunga, dengan lengan tali spageti. Yumna pun merias wajahnya dengan make up tipis, menggunakan lipstik berwarna merah, dan juga menggerai rambut panjang pirang bergelombangnya.
Rasa lelah Reyhan langsung hilang begitu saja, melihat isrtinya yang memanjakan matanya. Reyhan pun mengecup bibir menggoda itu kilas. Kemudian mengangkat tubuh Yumna, menggendongnya ala brydal stile membawanya ke arah sofa. Reyhan mendudukkan tubuhnya membiarkan Yumna di atas pangkuannya.
"Apa istriku ini ingin bermanja manja sore ini ?, tapi aku lelah sayang !" tanya Reyhan. Memandang wajah Yumna penuh cinta.
Yumna melengkungkan bibirnya ke atas, kemudian menukar posisi duduknya, dengan mengapit kedua paha Reyhan dengan pahanya. Lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan.
"Aku tau Habib lelah setiap hari mencari Rezky, makanya aku ingin menghilangkan sedikit lelahnya Habib, dengan memanjakan mata Habib" jawab Yumna.
"Tapi kalau lelah habib belum hilang, nanti malam Yumna bisa kasih pijat pulus pulus !" ucap Yumna lagi, mengedipkan sebelah matanya ke arah Reyhan.
"Bagaimana kalau pijatnya sekarang, pulus pulusnya nanti ?, apa istriku ini siap melayani pasien tampanmu ini ?" tanya Reyhan terseyum, tangannya membelai lembut wajah Yumna.
"Dengan senang hati !" jawab Yumna.
Yumna Pun melepas tangannya dari leher Reyhan, kemudian memijat kepala Reyhan perlahan. Malah Reyhan menarik bokong Yumna supaya lebih merapat ke tubuhnya, dan meremas bokong Yumna, gemas.
"Habib !"
"Aku sangat menyukai tubuh indahmu ini sayang !, sangat seksi !" ucap Reayhan tersenyum, netranya tertuju ke arah belahan dada Yumna, yang menampakkan sebagian gunung kembarnya yang montok.
"Semua ini hak Habib !" balas Yumna
.
.