
"Bos ! mereka sudah tertangkap polisi !" lapor seorang laki laki melalui sambungan telephon.
"Bodoh !" maki Zoya kepada anak buahnya.
"Anak Pak Arya dan kedua temannya berhasil mengejar mereka."
"Seharusnya kalian lebih cepat menghabisi mereka, sebelum orang orang bodoh itu tertangkap. Kalian sama bodohnya dengan mereka, percuma saya membayar kalian mahal" marah zoya lagi, memaki maki.
"Trus ! apa yang harus kami lakukan lagi bos ?"tanya pria bertubuh besar itu.
"Apa lagi ?, semua sudah gagal, cepat kalian sembunyi, sebelum kalian terlacak keberadaannya."
Zoya mematikan sambungan teleponnya.
"Aakhh !!!"
Brankk !!!
Zoya berteriak sembari melempar HPnya ke dinding. Napasnya memburu karna marah, dengan ke gagalannya, yang akan membuat sengsara Orion, anak dari orang yang dulu dia cintai.
pasti ketiga orang bodoh itu, akan membocorkan siapa yang menyuruh mereka. Untuk sementara waktu aku juga harus sembunyi. Batin Zoya, ia tidak tau kalau keberadaannya sudah di ketahui, dan sudah ada orang yang siap menangkapnya.
Zoya segera keluar dari apartemennya, entah mau pergi kemana dia. Sepertinya untuk sementara waktu ia harus bersembunyi ke tempat terpencil.
.
.
"Lama sekali kalian baru datang menjemputku ?. Disini aku sudah hampir mengalami anemia karna terus menerus mendonorkan darahku kepada nyamuk nyamuk nakal di sini" ketus Orion. Karna tubuhnya sudah gatal gatal habis di gigit nyamuk.
Elang mendengus, lalu berbicara," masih sukur kami mau menjemput bang Orio sekarang. Bagaimana kalau kami membiarkan bang Orion di sini sampai pagi ?. Mungkin bang Orion sudah tinggal tulang di gigiti sama nyamuk."
Sekarang Arsenio, Elang, Calixto, Ghaisan dan Dokter Ghisaam susah sampai di kantor polisi, untuk menjemput Orion. Karna Orion sudah di bebaskan, karna terbukti tidak bersalah.
"Kalian memang adik adik durhaka !"
"Bang Orion harus membayar semua memar di wajahku ini." Ghaisan menunjukwajahnya, yang terlihat memar dan bengkak kepada Orion.
"Wajahmu kenapa ?" tanya Orion tersenyum.
Ghaisan mendengus, tidak taukah abang Orion mereka itu, kalau dia habis bertarung dengan mafia hitam kelas atas ?. Demi untuk membebaskannya dari balik tirai besi. Ghaisan pun membalik badannya, berjalan ke arah parkiran motornya. Menyebalkan sekali !, batin Ghaisan.
"Yuk kita pulang ! malam sudah mulai larut. Kata tante Vani, dari tadi kakak ipar terus menangis" ajak Ghissam. Di angguki oleh Orion, kemudian menghela napasnya, lalu melangkah perlahan ke arah parkiran motor. Selain rindu, ia juga sangat mengkawatirkan istri kecilnya itu.
Setelah mereka semua naik ke atas motor, ketiga motor itu pun melaju perlahan, dengan Orion di boncengan Calixto.
.
.
"Queen ! ayo tidur, jangan menangis terus sayang !" bujuk Mama Vani. Malam sudah hampir larut, namun Queen masih terus menangis tidak mau tidur.
"Kepala Queen sakit Ma, gak bisa tidur" gumam Queen dengan mata terpejam, karna kelopak matanya sudah sangat bengkak, susah untuk di buka.
"Itu karna kamu kebanyakan menangis !" ucap Mama Vani lagi, lalu memiijat pelipis Queen dengan jempol dan telunjuknya.
"Bang Orion pasti kedinginan Ma, tidur di dalam penjara. Kakinya juga lagi sakit, kasihan bang Orion Ma !."
"Kita do'akan saja ya !, semoga bang Orion nya di bebaskan, ya sayang !" balas Mama Vani ikut sedih juga.
Brum brum brum !!!
Suara deru motor terdengar sangat ramai di halaman rumah. Queen yang mendengarnya, pun menghentikan tangisnya, dan menghapus air matanya yang keluar dari sudut matanya.
"Sebentar ! biar Mama lihat" ucap Mama Vani, berdiri dari tepi tempat tidur, melangkahkan kakinya ke arah pintu kaca yang di tutup Horden, lalu menyibaknya. Mama Vani pun menggeser ke samping pintu kaca di depannya, dan melangkahkan kakinya ke teras balkon. Mama Vani mengembangkan senyumnya, setelah apa yang ia lihat, dan segera masuk ke dalam kamar.
"Siapa yang datang Ma ?" tanya Queen.
"Arsen, Ghaisan sama Calixto" jawab Mama Vani, merubah raut wajahnya sendu.Mama Vani kembali mendudukkan tubuhnya di samping Queen, dan mengusap usap rambut putri cantiknya itu.
Queen menekuk bibirnya ke bawah, dan menangis lagi.
Di lantai bawah, Papa Gandi, Papa Arya dan Om Leo,sama sama berdiri dari sofa yang mereka duduki, berjalan ke arah pintu. Mereka sudah tau, jika orion sebelumnya sudah di bebaskan. Tentu pihak polisi sudah memberi informasi kepada Papa Arya, terlebih mereka memiliki kerja sama selama ini.
"Orion ! sayang !" tangis Mama Bunga tiba tiba keluar dari dalam kamar, berlari menerobos ke tiga pria matang yang hendak keluar pintu. Mama Bunga langsung menghambur memeluk Orion."Mama sangat kawatir sama kamu sayang !."
Mendengar deru motor di luar rumah tadi, Mama Bunga pun langsung terbangun. Entah mimpi apa dirinya, tanpa ada yang memberitahunya, benaknya mengatakan Orion anaknya, sudah di bebaskan.
"Mama ! jangan menangis lagi !, Orion sudah di bebaskan" Orion membalas pelukan sang Mama, lalu menjatuhkan satu ciuman di kening wanita yang sangat di cintainya itu." Orion baik baik saja Ma !" ucapnya lagi, tersenyum.
"Apa kamu sudah makan sayang ?, biar Mama masakin. Pasti makanan di sana tidak enak" tanya Mama bunga, mendongakkan kepalanya, mengusap kepala Orion.
"Orion pengen di masakin Mama sayur asem, boleh ?. Orion sangat menginginkannya dari tadi" jawab Orion, manja.
"Tentu boleh sayang !, ayo kita masuk, biar mama masakin !" Mama Bunga pun menuntun Orion berjalan.
"Papa ! Papa Gandi !, Om Leo !" sapa Orion, kemudian melangkahkan kaki ke arah ketiga pria matang yang berdiri di teras rumah, dan menyalamnya satu persatu.
" Kamu baik baik aja nak ?"ucap Papa Arya.
"Papa ! Orion baik baik saja" ucap Orion, meski ia tak baik baik saja.
Bohong !, jika ia baik baik saja saat ini. Mungkin secara fisik, iya. Tapi kesehatan mentalnya pasti terpukul. Seperti kata istilah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan, apa lagi di fitnah membunuh.Orion benar benar merasa sakit hati melebihi di bunuh.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
"Istirahatlah ke kamar, Queen sudah menangisimu dari tadi" suruh Papa Arya sebari mendudukkan tubuhnya kembali ke sofa.
Orion menganggukkan kepalanya, kemudian berbicara." Iya Pah !, kalau begitu Orion ke kamar dulu" pamitnya, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah tangga. Ia sudah tak sabar untuk melihat istrinya.
Mama Bunga, ia sudah sampai di dapur, menyiapkan bahan bahan untuk membaut sayur asem pesanan Orion. Sedangkan Kelima anak muda yang tadi, mereka sudah merebahkan diri di atas karpet di ruang keluarga. Karna tubuh mereka lelah dan capek.
"Mama Bunga ! Calix lapar !" seru Calixto.
"Brisik !" tegur Ghissam
"Mama Bunga !!! lapar !!!!" seru Calixto lebih kencang lagi.
"Minta di tabok ini anak !" gemas Ghissam, matanya sudah sangat mengantuk, karna kurang tidur dan istirahat.
"Mama Bunga !!!" lagi Calixto berseru kencang.
"Sana ambil sendiri kenapa ?" Arsenio juga, menjadi ikut kesal.
"Mama !!!"
Hap !
"Brisik !" ucap Mama Bunga, menyumpal mulut Calixto dengan sepotong paha ayam goreng, membuat Calixto langsung terdiam.
"Trimakasih Mama Bunga !" ucap Calixto tersenyum manis, setelah mengambil paha ayam itu dari mulutnya.
Mama bunga tidak menjawab, ia pun kembali ke dapur, untuk memasak.
.
.
Tok tok tok !
Orion mengetuk pintu kamarnya dengan Queen, kemudian memutar knop pintunya perlahan sembari mendorong daun pintunya sampai terbuka.
Queen yang berada di atas tempat tidur, melangalihkan tatapannya ke arah pintu, melihat siapa yang masuk.
"Bang Orion !" gumamnya
Meski penglihatannya samar, karna kelopak matanya yang membengkak. Queen masih bisa mengenali Orion, dari bentuk tubuhnya. Queen pun mendudukkan tubuhnya.
Mama Vani tersenyum, mengusap kepala Queen."Bang Orionnya sudah datang, Mama keluar ya" ucap Mama Vani, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Trimakasih Ma ! sudah menjaga Queen !" ucap Orion.
"Queen adalah putri Mama !, kalau Orion lupa !" balas Mama Vani. Tentulah ia menjaga putrinya, dan selalu ada buat putrinya." Queen tadi hanya makan sedikit, Mama akan mengambil makanan, kamu beri dia makan" ucap Mama Vani lagi, lalu melangkahkan kakinya pergi.
"Minta tolong, sekalian air hangat Ma !" seru Orion, sebelum Mama Vani menutup pintu kamarnya.
Orion mendudukkan tubuhnya, di sisi tempat tidur, dan langsung memeluk tubuh Queen, yang terlihat lemah. Sepertinya istrinya itu sudah kehabisan energi, karna kelamaan menangis.
"Sayang !" panggilnya
"Bang Orion !" tangis Queen kembali pecah, di dalam pelukan Orion.
"Sssttt....!, jangan menangis lagi sayang !, abang sudah di bebaskan" ucap Orion, ikut menangis, kemudian mengecup lama ujung kepala Queen.
"Queen gak mau kita terpisah lagi" ucap Queen.
"Iya sayang !, abang juga gak mau. Maafin abang yang pernah meninggalkanmu begitu lama" balas Orion, ada penyesalan, meski ia pergi ke luar Negri untuk melanjutkan pendidikannya.
Orion membaringkan tubuh Queen, kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sampingnya. Orion pun menarik Queen ke dalam pelukannya. Dan satu tanganya mengusap usap kepala Queen, dan satunya lagi, mengusap usap perut Queen yang masih rata.
"Bagaimana kabar bayi kita sayang ?" tanya Orion.
"Dia merinduka Papanya" jawab Queen, senyum Orion pun mengembang.
Orion mendudukkan tubuhnya kembali, menyibak baju Queen sampai menampakkan seluruh permukaan perutnya. Orion pun membungkukkan tubuhnya, mencium perut rata Queen.
"Hai baby !" sapa Orion," Papa juga merindukanmu !, sehat sehat di dalam ya ! anak Papa" ucapnya kepada sang si buah hati yang masih berada dalam perut. Manik mata Orion langsung aja berkaca kaca, terharu, sebentar lagi ia mereka akan di karunia keturunan.
Orion kembali membaringkan tubuhnya, dan lansung mencium dalam bibir Queen yang sudah dower dan memerah, sambil tangannya mengusap usap kepala Queen, meluahkan rindu dan cintanya.
"Abang juga sangat merindukan kalian" ucap Orion, setelah melepas pagutannya. Tangannya melap bibir Queen yang basah, karna ulahnya.Kemudian mencium kening Queen lama.
.
.