
Sampai di ruangan Dokter Aldo, Diana langsung memeluk tubuh Dokter Aldo yang sedang mengendalikan emosinya. Terlihat dari dadanya naik turun, dan berkali kali menghela napasnya.
"By !" tegur Diana lembut, karna Dokter Aldo masih tak menolehnya atau membalas pelukannya.
Diana pun menuntun Dokter Aldo untuk duduk ke sofa. Kemudian Diana mengambil air minum dari dalam kulkas yang tersedia di ruangan itu. Diana mengambil satu gelas, menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumkannya kepada Dokter Aldo.
"Ayo minum dulu By !" ucap Diana
Dokter Aldo pun menerima air minum dari Diana dan meneguknya perlahan lahan sampai tandas. Dokter Aldo meletakkan gelas ditangannya di atas meja, lalu menghela napasnya untuk menormalkan emosinya. Kenapa wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu tidak lelah mengganggunya ?. Apa wanita itu belum puas juga, setelah berhasil membuat rumah tangganya dan Shasa hancur ?. Kali ini apa lagi yang akan di rencanakan wanita itu ?, pikir Dokter Aldo.
"Pelakor lansia itu sepertinya putus asa karna gak berhasil menyingkirkanku dari sisimu 'kan By ?" ucap Diana, mengedipkan kedua kelopak matanya sekali, dengan bibir di buat seperti donal bebek ke arah Dokter Aldo.
"Aku ini sangat cantik rupanya !" ucap Diana lagi, memuji diri sendiri.
Berhasil membuat Dokter Aldo mengulas senyumnya." iya ! kamu sangat cantik !" ulangnya.
"Padahal aku gak pernah perawatan ke salon loh By !" Diana berbicara mengengguk anggukkan sedikit kepalanya dengan mata menyipit ke arah Dokter Aldo.
Dokter Aldo semakin menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Sepertinya istrinya itu minta jatah uang bulanan untuk ke salon. Dokter Aldo pun mengusap kepala Diana dari belakang.
"Pulang kerja hubbymu akan menemanimu ke salon !" ucap Dokter Aldo.
"Benaran ?" Diana berbicara masih dengan bibir donal bebeknya, namun matanya nampak berbinar senang.
Dokter Aldo mengangguk sembari tersenyum.
Diana kembali memeluk Dokter Aldo, menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, lalu mendongakkan kepalanya.
"Kenapa Papa mertua tidak pernah datang ke sini ?. Bahkan cicitnya sudah lahir, Papa mertua tidak datang menjenguknya" tanya Diana tiba tiba.
Dokter Aldo merapikan anak rambut yang berantakan di wajah Diana, menyelipkannya ke belakang telinganya." Papa sangat sibuk dengan bisnisnya dan juga istrinya !" jawabnya.
Diana mengangguk anggukkan kepalanya, paham.
"Tapi sesekali 'kan bisa !" ucap Diana lagi, sambil tangannya mengusap usap perutnya.
"Coba kamu yang minta ke Papa untuk datang ke sini, mau gak Papa ?" suruh Dokter Aldo.
Diana menganggukkan kepalanya lagi.
Dokter Aldo mengeluarkan phonselnya dari saku celananya, memberikannya kepada Diana.
"Alasannya apa ?" Diana menerima handphon Dokter Aldo, lalu menghidupkan layarnya, dan langsung melakukan panggilan.
Dokter Aldo mengedikkan bahunya.
Meski Diana belum pernah bertemu dengan mertuanya. Tapi Diana sudah sering mengombrol dengan Papa mertuanya dan istrinya lewat telepon atau vc.
"Gak di angkat !" ucap Diana.
"Mungkin Papa lagi sibuk sayang !, ini 'kan masih pagi !" ujar Dokter Aldo, berdiri dari tempat duduknya. Dia harus segera bekerja, menerima pasien di ruang pemeriksaan.
"Trus By mau kamana ?"tanya Diana, melihat Dokter Aldo memakai baju Dokternya.
"Kerja sayang !" jawab Dokter Aldo, Diana semakin mengerucutkan bibirnya.
Cup !
Dokter Aldo mengecup bibir Diana," nanti hubbymu akan tambahin uang jajannya !" ucanya tersenyum.
Diana langsung saja merekahkan senyumnya.
"Matre !" gemas Dokter Aldo mendorong kening Diana dengan telunjuknya.
Diana kembali memanyunkan bibirnya," Duit By 'kan banyak !, apa salahnya kalau Diana matre, sama suami sendiri juga !" ucapnya.
"Iya sayang ! gak salah !, kalau begitu hubbymu ini kerja dulu !, biar dapat duit untuk nambahin uang tabungan istriku yang kecil ini !" balas Dokter Aldo.
Dokter Aldo pun berdiri kembali dari samping Diana. Melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, berjalan menuju ruang periksa poli umum.
Diana yang tinggal sendiri di ruangan Dokter Aldo, terus mencoba menghubungi Papa mertuanya dan mama mertuanya bergantian. Namun keduanya tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Kemana mereka !" gumam Diana, membaringkan tubuhnya di sofa.
Ceklek !
Sontak Diana mengalihkan tatapannya ke arah pintu ruangan itu, karna ada yang membukanya dari luar. Diana mendudukkan tubuhnya dan langsung berdiri melihat Melia lah yang masuk ke ruangan itu.
"Sepertinya aku harus menghabisimu mahluk kecil !" ucap Melia menyeringai lebar.
Diana langsung mengambil gelas kosong yang berada di atas meja, dan langsung melemparnya ke arah Melia.
Prankkk !!!!
Melia menghindari gelas yang mengarah kepadanya. Sehingga gelas itu mengenai pintu kaca ruangan itu hingga pecah sampai gelas itu terlempar keluar ruangan.
Diana tersenyum licik," kenapa tante takut ?, bukankah tante akan menghabisiku ?" tanya Diana menatap marah kepada tante dari anak tirinya itu.
Orang yang melihat kekacauan di luar ruangan itu langsung mendekati ruangan bos rumah sakit itu. Salah satu perawat laku laki yang kebetulan lewat di depan ruangan itu langsung membuka pintu ruangan itu dan langsung masuk.
"Nyoya tidak apa apa ?" tanya perawat itu, mendekati Diana, dan langsung menarik Diana dari ruangan itu. Perawat laki laki itu sudah tau, kalau wanita paruh baya itu sudah mengganggu istri dari pemilik rumah sakit itu.
"Saya baik baik saja !, tapi tolong lepas tangan saya !" jawab Diana, setelah mereka keluar dari ruangan itu.
Perawat laki laki berwajah tampan dan masih muda itu langsung melepas tangan Diana." Maaf Nyoya !" ucapnya, menggaruk leher belakangnya, salah tingkah.
Istri dari pemilik rumah sakit itu sangat cantik dan masih sangat muda. Menurutnya sangat tidak cocok untuk pria berusia empat puluh Tahunan itu. Dan menurutnya dialah yang paling cocok untuk Diana, dari segi usia dan ketampanan.
"Sayang !" Dokter Aldo yang datang berlari langsung memeluk Diana yang berada di tengah tengah kerumunan." Kamu tidak apa apa ?" tanyanya kawatir.
"Pelakor lansia itu ingin menghabisiku !. Dia melemparku dengan gelas. Untung aku berhasil menghindar, jadi aku gak kenapa napa !" adu Diana memasang muka sedihnya ke arah Dokter Aldo.
Berhasil membuat Melia membolakan matanya tak percaya. Ternyata gadis kecil istri dari Dokter Aldo itu memiliki otak yang licik dan cerdik. Dan apa itu ?, gadis yang tampak polos itu sangat pintar merubah mimik wajahnya dalam sekejab.
"Security ! urus wanita itu !" perintah Dokter Aldo. Menatap tajam ke arah Melia.
"Aldo ! istrimu itu sudah berbohong !. Dia yang melemparku dengan gelas, bukan aku !" sanggah Melia meronta ronta di pengangi dua orang security wanita.
Diana melepas pelukan Dokter Aldo dari tubuhnya, melangakahkan kakinya dan langsung menarik kuat rambut Melia.
"Mentang mentang selama ini aku diam, kamu terus terusan datang mengusik ketenanganku dan suamiku !." Diana berbicara dengan merapatkan gigi giginya."Kamu itu sudah tua, masih aja gak sadar. Seharusnya wanita setua kamu itu, tidak memikirkan cinta cintaan lagi. Seharusnya kamu itu memikirkan kematianmu yang semakin mendekat. Seharusnya kamu itu memperbanyak ibadah berzikir, bertaubat. Bukan malah semakin jahat, untuk merebut suami orang !" ucap Diana lagi, semakin menarik kuat rambut Melia.
Melia meringis memejamkan matanya yang sudah berair,sangking sakitnya di kulit kepalanya.
"Sayang ! sudah !" Dokter Aldo memeluk Diana, berusaha melepas tangan Diana dari rambut Melia.
"Tadi wanita tua ini bilang ingin menghabisiku !" ucap Diana, semkin mengencangkan cengkramannya. Berhasil membuat Melia menjerit kencang, merasakan sebagian rambutnya sepertinya sudah rontok.
"Dia tidak akan berani melakukan itu di sini. Udah ya ! lepas ya !, kasihan dia kesakitan" bujuk Dokter Aldo.
"Gak !"cetus Diana.
"Tolong Aldo ! istrimu ini sangat bringas !" ringis Melia terbata. Bahkan untuk bicara pun ia sudah kesusahan.
"Lepaskan rambutnya sayang !, dia sudah sangat kesakitan. Setelah ini dia tidak akan berani mengganggu kita lagi !" bujuk Dokter Aldo lagi.
Diana menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo yang berada di samping wajahnya. Menatap Dokter Aldo dengan tatapan marah. Kemudian Diana pun melepas tangannya dari rambut Melia, dan langsung berjalan, melongos pergi ke arah luar rumah sakit. Diana tak suka mendengar Dokter Aldo menyuruhnya berhenti menarik rambut wanita tua itu. Diana cemburu, menurutnya Dokter Aldo membela wanita tua itu.
"Sayang !! Dokter Aldo menarik tangan Diana.
Diana langsung menepisnya,"Jangan pegang pegang !!!" sergahnya.
Dokter Aldo tak peduli, ia langsung mengangkat tubuh Diana, menggendongnya kembali masuk ke ruangannya. Dokter Aldo langsung membawa Diana ke ruang istirahatnya dan mendudukkan Diana di atas brankar.
"Berani kamu meninggikan suara sama hubbymu ini !, Aku suntik kamu sekarang !" ancam Dokter Aldo, menatap tajam wajah Diana. Dokter Aldo tidak suka, jika istrinya berani membentaknya. Apa lagi Diana usianya masih kecil jauh di bawah usianya. Dan juga Dokter Aldo tak ingin istrinya tak bisa ia kendalikan seperti mantan istrinya Shasa.
Diana menciut, menundukkan kepalanya, melihat kemarahan di mata Dokter Aldo.
"Maaf Hubby !" ucap Diana lirih, ia sangat takut di suntik.
"Aku tak suka istriku tak sopan kepadaku Diana !" ucap Dokter Aldo dengan nada di tekan.
"Maaf !" lirih Diana lagi, meneteskam air matanya. Wajah Dokter Aldo terlihat seram saat marah. Diana tidak berani menatapnya.
"Hubbymu ini tak suka melihatmu main kabur setiap ada masalah. Dan aku tak suka kamu melakukan tindak kekerasan seperti tadi, menarik rambut Melia." Dokter Aldo berbicara dengab merendahkan suaranya, melihat Diana takut kepadanya.
"Wanita itu ingin menghabisiku !, berarti wanita itu juga ingin menghabisi anak kita" balas Diana masih setia menunduk.
"Tapi dia tidak sampai menyentuhmu !, kalau kamu menyentuhnya duluan, kamu bisa terjerat hukum sayang !" jelas Dokter Aldo.
Tidak tega melihat Diana yang menangis menunduk takut padanya. Dokter Aldo pun menarik Diana ke dalam pelukannya. mengusap usap rambut Diana dari belakang, lalu mengecup ubun ubunnya. Dokter Aldo menghapus air mata yang sempat mengalir di pipi Diana.
"Ayo aku antar ke tempat Sirin !" ajak Dokter Aldo, menurunkan Diana dari atas brankar.
.
.
Sampai di kediaman Alfarizqi, Dokter Aldo dan Diana turun dari dalam mobil. mereka sama sama melangkah sambil bergandengan tangan masuk ke dalam rumah yang ke betulan pintunya terbuka.
"Reyhan ! mau kemana ?" tanya Dokter Aldo melihat Reyhan menuruni tangga rumah itu dengan membawa kopernya.
"Nyusul Yumna ke kota B" jawab Reyhan, melirik Diana yang menundukkan kepalanya."Selamat pagi tante Didi !" sapanya tersenyum.
"Selamat pagi juga !" balas Diana tanpa melihat Reyhan.
Diana sedang malu, karna wajahnya sepertinya sembab karna tadi sempat menangis.
"Ehem ! apa Om Aldo menjahatimu ?" tanya Reyhan malah. Ia bisa melihat wajah Diana yang nampak baru siap menangis.
"Apa maksudmu ?" cetus Dokter Aldo, kemudian menarik Diana ke arah kamar Sirin. Tak suka Reyhan memperhatikan istrinya.
"Jangan galak galak Om !" seru Reyhan, bisa menebak kalau sepasang suami istri itu baru selesai marahan.
"Bang Reyhan mau kemana ?"
Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah Elang yang berdiri di belakangnya di tengah tengah tangga.
"Ke kota B !" jawab Reyhan, melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar orang tuanya untuk berpamitan kepada ratu sejagat.
"Baru juga di tinggal sehari sudah disusul !" cibir Elang.
Reyhan melingkarkan sebelah tangannya keleher Elang dari belakang." Bagaimana denganmu ?" tanyanya.
Elang menghela napasnya,"ini aku akan ke kantor polisi, lihat nanti saja. Aku juga masih bingung keputusan apa yang harus aku ambil" jawab Elang.
Reyhan mengangkat satu tangannya, menyrntuh dada Elang." Jawabannya ada di dalam sini !" ucapnya."Naysila memang menipumu, tapi dia punya alasan melakukannya. Dia juga korban keserakahan kakeknya. Bukankah kamu sudah menemukan buktinya ?."
Lagi Elang menghela napasnya," Aku meresa di perlakukan seperti orang bodoh bang !" ujar Elang,matanya berkaca kaca kembali." Dia tidak benar mencintaiku !, hanya aku yang mencintainya. Seharusnya dia jujur dari awal, aku juga pasti membantunya dulu. Bukan mengikuti permainan kakeknya untuk menipuku dan keluarga kita bang !"ucap Elang lagi.
Reyhan menghela napasnya pelan, kemudian mengusap usap bahu Elang dari belakang, dan sesekali menepuknya, mengerti akan perasaan adiknya itu yang sedang gundah gulana.
"Aku mendukung apa pun keputusanmu !" ucap Reyhan. Menarik adiknya itu untuk masuk ke kamar ratu sejagat untuk berpamitan.
"Ma !" panggil Reyhan sambil tangannya memutar knop pintu sambil mendorongnya, karna tau Papa Arya sudah pergi ke sekolah.
"Ada apa ?" tanya sang ratu yang sedang menimang nimang putrinya.
Reyhan dan Elang melangkah masuk dan mendudukkan tubuh mereka di samping kiri dan kanan ratu sejagat yang duduk di atas sofa panjang.
"Sekarang Mama bukan ratu sejagat lagi !" ucap Elang mengecup pipi Mama Bunga." Karna sudah ada Sabin" ucapnya lagi.
"Itu tidak berpengaruh, karna posisi Sabina di sini adalah tuan putri, dan kalian anak anak Mama adalah pangeran, dan Papa kalian adalah Raja" jawab Mama Bunga.
"Lalu istri istri kami apa Ma ?" tanya Reyhan yang bergelayut manja di lengan ratu sejagat.
"Dayang !" jawab ratu sejagat.
"Mama !" sungut Reyhan dan Elang bersamaan.
"Tentu mereka adalah tuan putri di rumah ini, mereka adalah ratu di hati kalian" ucap Mama Bunga tersenyum.
.
.