
Yumna tersadar dari pingsannya setelah Reyhan mengoleskan minyak kayu putih ke hidungnya. Yumna langsung menangis terisak mengingat fakta kalau Momy nya sudah tiada.
"Sssttt...! yang sabar ya !" ucap Reyhan lembut, memghapus air mata Yumna.
"Momy...!" tangis Yumna.
Reyhan membantu Yumna duduk dan membawanya ke dalam pelukannya."Kita berwudhu ya ! supaya kita mengaji mendoakan Momy." Reyhan mengecup kening Yumna, lalu menggendongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai berwudhu, Reyhan merapikan penampilan Yumna, memasangkan nikap lalu membawanya keluar kamar, ikut mengaji bergabung bersama penjiarah lain. Di sana ternyata sudah ada seluruh keluarga Reyhan.
Mama Bunga mendekati Yumna, dan langsung memeluk menantu ke duanya itu. Untuk menabahkan hatinya, atas meninggalnya orang yang paling di sayanginya di Dunia ini.
"Sabar ya sayang !, kita juga akan kembali ke pangkuanNYA. Kita hanya menunggu giliran saja" ucap Mama Bunga, mengusap usap punggung Yumna.
Yumna tidak menjawab, ia hanya menangis terisak.
Selesai membacakan surah Yasin kepada Almarhum. Tika kembali mendekati jenajah Momy nya. Menciumi seluruh wajah yang sudah menua itu. wajah itu sudah nampak sangat keriput, dan kulitnya kendor. Usia Momy nya itu sudah hampir mencapai tujuh puluh Tahun. Yumna memeluk tubuh wanita tersayang di keluarga itu. Wanita yang melahirkan dan membesarkannya itu sepenuh hati.
Saat pandangan Yumna bertemu dengan Pak Yudhi sang Papa. Yumna langsung menggeser tubuhnya ke arah Pak Yudhi dan langsung memeluknya. Di situasi ini, sebenarnya Papanya lah yang lebih terpukul karna di tinggalkan bidadari surganya untuk yang ke dua kalinya. Sama seperti dulu, ternyata Papanya itu juga tadi malam berkali kali pingsan karna di tinggalkan sang istri tercinta untuk selamanya.
"Papa !" tangis Yumna.
"Papa sudah mengiklaskan Momy mu sayang !" ucap Pak Yudhi, meneteskan air matanya kembali.
Yumna pun mendongakkan kepalanya ke ke wajah Pak Yudhi. Yumna pun mengulurkan tangannya menghapus air mata sang Papa. Begitu juga Pak Yudhi, ia pun menghapus air mata tuan putri di rumah itu.
"Putri Papa juga harus ikhlas !" ucap Pak Yudhi.
Yumna menganggukkan kepalanya, namun cairan bening itu terus mengalir deras dari sudut matanya.
Putri dan Papa itu kembali saling mengeratkan pelukan mereka, saling menguatkan. Mereka berdua adalah kesayagan Ibu Tika, di banding yang lainnya.
Hingga waktu pun berlalu, acara pemakaman pun sudah selesai. Lagi lagi Reyhan mengangkat tubuh istrinya, karna pingsan lagi untuk yang kesekian kalinya di pemakaman. Mungkin karna istrinya itu kurang sehat, bercampur hormon kehamilannya, membuat istrinya sangat lemah dan mudah pingsan.
Sampai di parkiran pemakaman, Reyhan membawa Yumna masuk ke dalam mobil yang membawa mereka tadi. Reyhan pun mengambil minyak kayu putih yang tersedia di mobil itu, mengoleskannya ke ujung hidung Yumna, untuk menyadarkannya.
"Momy..!" tangis Yumna langsung saat terbagun dari pingsannya.
"Momy sudah tenang di peristirahatannya sayang !. Jangan menangis lagi ya !, supaya arwah Momy tidak tersiksa melihat putri kesayangannya ini terus menangis" bujuk Reyhan, menguatkan hati sang istri.
Yumna pun menghentikan tangisnya, lalu mengucap istigfar untuk menenangkan hatinya.Reyhan pun mengusap kepala Yumna, lalu menghapus air matanya.
Kendaraan yang membawa mereka pun sudah sampai di depan rumah orang tua Yumna. Reyhan membuka pintu si sampingnya dan langsung turun. Kemudian membatu Yumna turun, merangkul Yumna berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Kini hanya tinggal keluarga, sahabat dan kerabat dekat keluarga itu yang masih bertahan di rumah duka itu. Sedangkan penjiarah yang lain, sudah pulang ke rumah masing masing.
"Reyhan ! apa Yumna lagi sakit ?" tanya Mama Bunga, baru ngeh melihat tubuh Yumna yang lemah seperti tak bertenaga.
"Iya Ma !" jawab Reyhan, membantu Yumna duduk lesehan di atas tikar yang berada di ruang tamu rumah itu.
Sontak semua keluarga yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Yumna dan Reyhan. Terutama Pak Yudhi dan ke tujuh saudara saudaranya.
"Sakit apa menantu Mama ?" Mama Bunga berdiri dari tempat duduknya, berpindah duduk samping Yumna. Mama Bunga menarik Yumna ke dalam pelukannya, mengusap usap kepala Yumna.
Wajah Reyhan nampak berbinar, tapi ia berpikir, apakah dia harus memberitahu keluarganya sekarang kalau Yumna sudah mengandung, terlebih berita bahagia itu, belum pasti ke jelasannya. Dan saat ini keluarga masih dalam keadaan berduka.
"Reyhan ! katakan sayang ! sakit apa menantu Mama ini " tanya ulang Mama Bunga. Berharap anaknya itu akan mengatakan berita gembira, melihat wajah Reyhan yang berbinar bahagia. Tidak mungkin 'kan anaknya itu senang melihat istrinya sakit?, pikir Mama Bunga.
Reyhan masih diam tidak menjawab, ia memutar pandangannya ke seluruh wajah orang yang ada di ruangan itu yang menatapnya dan menunggu jawaban.
Sedangkan Yumna, ia pun hanya diam saja di pelukan Mama Bunga. Baru kehilangan sosok Momy nya. Ia tidak memikirkan apa apa, selain mengenang kenangannya bersama sang Momy tercinta.
"Iya Nak Reyhan ! putri Papa sakit apa ?" tanya Pak Yudhi sendu. Nampak sekali dari raut wajahnya kalau ia sangat terpukul. Ini untuk yang kedua kalinya ia di tinggalkan bidadari surganya.
"Yumna.." Reyhan menjeda kalimatnya, karna tenggorokannya terasa tercekat. Tak terasa Reyhan meneteskan air matanya, sangking bahagianya. Sampai ia susah berbicara untuk menyampaikan kabar bahagia itu. Reyhan merasa seperti mimpi, Reyhan marasa yang akan di katakannya itu adalah hanya angan angannya saja.
"Reyhan !" Mama Bunga yang duduk di samping Yumna, menarik Reyhan ke dalam pelukannya. Mama Bunga dan yang lainnya menjadi kawatir melihat Reyhan menangis terisak sampai cigukan.
Sehingga Yumna sendiri mendongakkan kepalanya ke arah Reyhan yang bersandar memeluk Mama Bunga. Ya ! sekarang mereka berdua berada di pelukan Mama Bunga.
"Ayo sayang ! katakan ! Menatu Mama sakit apa ?. Jangan membuat semua orang penasaran dan kawatir sayang" tanya Mama Bunga sekali lagi.
Hening ! semua terdiam, hanya suara Reyhan terdengar meraung raung.
"Iya Ma! akhirnya Reyhan akan punya anak Ma?. Almiranya Reyhan sudah mengandung Ma " ucap Reyhan lagi.
"Alhamdulillah !" ucap keluarga yang di ruangan itu serentak. Mata mereka berkaca kaca ikut terharu dengan kabar gembira itu. Tuhan itu sangat baik, DIA langsung memberikan penawar rasa sedih yang baru mereka alami karna baru kehilangan sosok permaisuri di keluarga itu.
Saudara saudara Yumna langsung mendekatinya. Mengambil Yumna dari pelukan Mama Bunga. Mereka memeluk Yumna bergantian, dan mengucapkan selamat menjadi ibu. Dan tak lupa, mereka membanjiri wajah Yumna dengan ciuman. Membuat Yumna seketika menngabaikan rasa sedihnya, Yumna yang mengulas senyumnya. Meski sebenarnya ia tak percaya dengan apa yang di katakan suaminya. Menurut Yumna ia salah mendengar, atau suaminya ngaur.
Mama Bunga pun meghapus air mata Reyhan yang mengalir deras membasahi pipinya. Kemudian mencium kening anak manjanya itu dengan sayang. Anaknya yang masih setia menemaninya tinggal di rumah mereka.
Setelah ke tujuh saudara itu menjauhi Yumna, kini giliran istri istri dan sepupu perempuan Yumna yang mengucapkan selamat. Setelah itu, baru giliran Orion, Elang dan Bilal yang mengucapkan selamat dengan memeluk Reyhan bergantian. Tidak ketinggalan Queen, Sirin, dan Diana juga mengucapkan selamat kepada Yumna. Mereka juga ikut terharu, merasakan kebahagiaan Reyhan dan Yumna.
"Selamat ya Nak ! kamu akan menjadi Ayah !" ucap Mama Bunga, tangannya menyugar nyugar rambut Reyhan ke belakang.
Papa Arya dan Pak Yudhi tanpa sadar, mereka ikut meneteskan air matanya. Mereka terharu mendengar kabar bahagia itu. Sebagai orang tua, tentu mereka ikut merasakan kepedihan Reyhan dan Yumna selama ini, yang belum di karuniai seorang anak.
.
.
Hari pun berlalu, Sebulan sudah kepergian Ibu Tika, mertua dari Reyhan. Setelah sebulan menetap tinggal di kota B, tepatnya di rumah mertuanya. Hari ini Reyhan akan membawa Yumna pulang ke kota dimana mereka tinggal. Karna besok Darren akan menikahi Jean kekasih hatinya.
"Pelan pelan sayang !" ucap Reyhan menuntun Yumna menuruni anak tangga rumah itu.
"Iya Habib !"balas Yumna tersenyum meski wajahnya tampak agak pucat dan lemah, karna mengalami ngidam.
"Kalian sudah akan berangkat?."
Reyhan dan Yumna yang baru menapakkan kaki di lantai rumah itu, langsung menoleh ke arah pria yang sudah berusia berkisar 63 Tahun itu.
"Iya Pah !" jawab Yumna.
Yumna melepaskan tautan tangannya dari Reyhan. Kemudian melangkahkan kakinya ke arah Pak Yudhi yang duduk di sofa ruang tamu. Yumna langsung memeluk Papanya yang tanpak sedih semenjak kepergian Momy nya.
"Kami akan sering sering mengunjingi Papa kesini !" hibur Reyhan kepada pria kesepian itu.
Pak Yudhi menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum terpaksanya.
"Iya Pa !" sambung Yumna melepas pelukannya tubuh Pak Yudhi.
Seketika Pak Yudhi terisak, saat ia memengak perut Yumna. Mengingat istrinya yang tidak sempat menimang cucunya dari putri satu satunya itu. Padahal selama ini, istrinya sudah sangat menantikan itu. Tapi apa boleh buat, Allah punya rencana yang terbaik untuk hamba hambanya.
Mama Tika !, apa Mama sudah bertemu dengan Mama Normala ?. Apa kata Mama Normala Ma ?. Tanya Nail di dalam hati, berdiri di pintu siap untuk mengantar Reyhan dan Yumna ke bandara.
Nail adalah saudara kembar Najib, anak kembar Yudhi dari istri keduanya yang sudah meninggal, karna jatuh di kamar mandi, saat Nail dan Najib masih berada di dalam kandungan.
"Papa jangan bersedih lagi, nanti bidadari bidadari Papa bersesih melihat Papa dari kayangan" ucap Yumna, tapi malah ia sendiri ikut menangis.
"Mereka berdua sama saja, mereka egois, tega meninggalkan Papa saat cinta cintanya !" balas Yudhi tersenyum, sambil menghapus air matanya.
Yumna tersenyum, lalu terkekeh sendiri. Yumna pun mencubit kedua pipi Pak Yudhi, lalu menciumnya."Habis Papa sering kali menyebalkan !"ucapnya.
"Mereka istri istri soleha Papa, Papa sangat mencintai mereka" ucap Pak Yudhi mengenang kenangan manisnya bersama istri istrinya.
Nail yang mendengar Papanya mengaku cinta kepada Ibunya, wanita yang melahirkannya, tersenyum. Ia senang mendengar itu, ibunya bukan hanya menjadi istri pajangan saja terhadap Papanya. Melainkan menjadi istri benaran.
"Pa ! kami berangkat dulu Pa !. Maaf Pa ! Reyhan harus membawa putri Papa !" pamit Reyhan kepada mertuanya, melihat jam yang melingkar di tangannya sebentar lagi penerbangan mereka akan berangkat. Reyhan pun menyalam tangan mertuanya itu.
"Iya Nak !, kalian jaga cucu cucu Papa dengan baik" nasehat Pak Yudhi.
"Iya Pa !" patuh Reyhan dan Yumna.
Setelah Yumna menyalam tangan Papanya, mereka pun langsung keluar dari rumah itu.
.
.