
"Sayang !" panggil Arsenio sambil tangannya mengetuk pintu rumah mereka.
Sirin yang tidur pulas di dalam kamar, tidak mendengarnya sama sekali. Arsenio yang bisa menebak, kalau Sirin tidur, pun membuka pintu dengan kunci yang selalu dia bawa. Arsenio melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamar. Benar ! ia melihat sirin tidur dengan sangat pulas.
Arsenio mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur springbad tanpa ranjang, yang di beli ratu sejagat untuk mereka. Arsenio menyibak rambut Sirin yang berantakan du wajahnya, kemudian membungkukkan tubuhnya mengecup bibir Sirin.
"Arsen ! kamu sudah pulang ?" gumam Sirin, sambil menggeliatkan tubuhnya, ia terbangun saat merasakan benda kenyal milik Arsenio menempel di bibirnya.
"Ayo bangun, ini aku sudah bawain batagornya" ucap Arsenio.
Sirin membuka kelopak matanya, mengarahkan pandangannya ke wajah Arsenio. Sirin langsung teringat sesuatu.
"Apa ?" tanya Arsenio, karna Sirin memandanginya dengan wajah ragu.
"Tadi Ibu tetangga ini mengajakku untuk ikut arisan pengajian, apa boleh aku ikut ?" tanya Sirin.
Arsenio tersenyum lalu tertawa cekikikan," Apa kamu ingin gabung dengan geng emak emak tukang gosib itu ?" tanya balik Arsenio.
Sirin mengerucutkan bibirnya," gak juga !."
"Terserah kamu saja, selagi itu baik aku akan mengijinkannya, tapi jangan ikut ikutan nanti membicarakan orang lain, apa lagi membicarakan keburukan orang lain. Kamu tau ?, perempuan banyak masuk neraka karna mulut dan ***********."
Bukh !!!
"Aw !" keluh Arsenio, karna Sirin memukul dadanya.
Sirin menatap Arsenio nyalang, Sirin marah mendengar kalimat Arsenio yang terakhir. Pintar sekali suaminya itu menasehati, apa dirinya tidak sadar, kalau dirinyalah yang menjerumuskannya ke lembah api neraka karna burung balamnya. Sekarang shok shokan pula mau ceramah.
"Sirin minta ijin mau ikut menjadi anggota pengajian, bukan menjadi anggota tukang gosip" ketus Sirin.
"Kamu tau sendiri kalau para netijen wanita sudah ngumpul, tidak bisa lepas dari yang namanya ngerumpi" ucap Arsenio.
"Aku boleh ikut apa tidak ?, tinggal jawab aja susah amat" kesal Sirin." Tapi aku, kalau mau ikut tidak ada baju gamis sama jilbab" ucap Sirin lagi, wajahnya berubah sedih. Apa iya ? ia harus menjemput bajunya dari rumah Papa Aldo. Tapi Sirin sekarang lagi kesal dengan Papanya, Sirin malas jika harus pergi kerumah Papa Aldo.
Arsenio menghela napasnya, kemudian mengulurkan tangannya mengusap kepala Sirin yang bersedih." Emang kamu mau ikut mengajinya kapan ?" tannya Arsenio.
"Nanti sore !" Sirin menjawab dengan bibir mengerucut.
"Ya udah !, makanlah dulu, nanti kita pikirkan" ucap Arsenio.
"Apa kamu ada uang untuk membelinya ?" Sirin menajamkan pandangannya ke wajah Arsenio.
Arsenio tidak langsung menjawab, ia pun membantu Sirin untuk duduk," Ada ! sedikit."
Wajah Sirin langsung berbinar.
"Tapi jangan minta yang mahal ya !" ucap Arsenio lagi. Karna duitnya tidak akan cukup jika membeli yang harganya selangit.
"Iya !" jawab Sirin
Arsenio mengulurkan tangannya, mengusap ujung kepala Sirin." Maaf ya !, kamu harus mengalami hidup susah karna aku !"ucapnya.
Sirin mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ayo cepat makan batagornya, biar kita pergi mencari bajunya." Arsenio memberikan kotak makanan yang dibawanya tadi kepada Sirin.
"Suapin !" manja Sirin.
Arsenio yang gemas melihat Sirin, tanpa aba aba menyambar bibir Sirin yang selalu berhasil merontokkan imannya.
"Arsen ! aku gak mau !" tolak Queen, saat Arsen menurunkan ciumannya ke lehernya.
"Tapi aku mau !"
"Aku gak mau Arsen !" Sirin mendorong kuat kepala Arsen, sampai ciuman Arsenio lepas dari lehernya.
"Kalau gak mau kumakan, makan sendiri !, aku sudah lelah, mau tidur sebentar." Arsenio membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan langsung memejamkan matanya. Ia merasa tubuhnya benar benar lelah, matanya sangat mengantuk, karna hampir setiap malam kuramg tidur.
Sirin memgerucutkan bibirnya, karna Arsenio tidak mau menyuapinya. Tapi melihat wajah Arsenio yang tampak kelelahan, Sirin tidak tega jika harus memaksanya. Akhirnya Sirin memakan batagor yang berada di pangkuannya sendiri tanpa di suapi Arsenio.
Setelah menghabiskan makanan dari kotaknya, Sirin pun beranjak dari tempat tidur, keluar kamar untuk membuang sampahnya ke tong sampah yang berada di pinggir gak perumahan. Setelah membuang sampahnya, Sirin tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia membelokkan langkahnya ke arah rumah Ibu Pur, dan mengetok pintunya sambil mengucap salam.
Tak lama kemudian, pintu rumah Ibu Pur terbuka dari dalam, nampaklah wanita bertubuh besar menyumbat pintu masuk rumah itu.
"Bagaimana dek ? apa suamimu mengijinkan ?" tanya Ibu Pur.
"Iya Bu ! aku kesini untuk mengatakan itu. Nanti sorenya jam berapa ya Bu ?" tanya Sirin.
"Habis ashar dek, nanti bawa duit lima belas ribu ya dek !. Lima ribu untuk uang pendaftaran, lima ribu untuk uang khas, dan lima ribu untuk uang konsumsi" jelas Ibu Pur.
"Iya Bu !, kalau begitu Sirin kembali ke rumah dulu" jawab Sirin sekalian pamit.
"Iya dek !"
Sirin pun melangkahkan kakinya meninggalkan teras rumah Ibu Pur, masuk ke dalam rumahnya.
Sirin masuk ke dalam kamar, dilihatnya Arsenio sangat pulas, dan mendengkur. Serpertinya suaminya itu benar benar ke lelahan. Karna terlalu sibuk mengurus dirinya, belum lagi sekolah dan merintis usaha mereka. Dirinya yang tidak bisa mengerjain pekerjaan rumah, membuat Arsenio yang harus mengerjakan semuanya. Mulai dari nyuci, masak, nyuci piring, dan menyetrika baju mereka.
Sirin melihat jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Tapi Sirin tidak tega untuk membangunkan Arsenio.
Tidak tega membangunkannya, batin Sirin. Tapi Sirin harus tetap membangunkannya.
Sirin mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur, mengulurkan tangannya menyentuh rambut Arsenio.
"Arsen ! bangun !" ucap Sirin.
"Hm..!"
"Bangun !, kita hurus mencari baju gamis untukku !" ucap Sirin lagi.
Arsenio berdecak, kepalanya terasa pusing, dan matanya masih mengantuk." sebentar lagi ya !" tawarnya.
"Mana duitnya ?, biar aku cari sendiri ."
Arsenio langsung membuka kelopak matanya, mengarahkan pandangannya ke wajah Sirin.
"Di dekat sini ada pasar, aku akan mencarinya ke sana" ucap Sirin lagi.
"Kamu yakin ?" Arsenio menautkan kedua alisnya. Tidak percaya kalau istrinya itu akan mencari baju ke pasar tradisional. Sirin menganggukkan kepalanya.
Arsenio merogoh saku celana sekolahnya, mengeluarkan dompet dari dalamnya, memberikannya kepada Sirin.
"Kunci mobil" Sirin menengadahkan tangannya, malah Arsenio membalik tubuhnya membelakangi Sirin.
Sirin segera merogoh saku celana belakang Arsenio, mengeluarkan kunci dari dalamnya, lalu pergi. Karna pasarnya tidak jauh, Arsenio pun membiarkan Sirin mengendara sendiri, karna matanya masih sangat mengantuk.
Kini Sirin sudah sampai di depan sebuah pasar tradisional. Yang kebanyakan menjual bahan bahan makanan. Sirin memarkirkan kenderaannya di parkiran yang sudah tersedia. Setelah mematikan mesinnya, Sirin membuka pintu di sampingnya, dan langsung keluar.
Untuk pertama kalinya Sirin mendatangi pasar tradisional. Pasar yang berada langsung di bawah terik matahari, dagangan para penjual hanya di lindungi tenda tenda yang berbahan plastik.
Sirin pun melangkahkan kakinya dengan ragu, melihat tanah bekas pijakan pengunjung pasar, sedikit agak becek karna di siram hujan tadi malam.
Aku harus bisa beradaptasi dengan kehidupanku yang sekarang. Rakyat Indonesia mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan, memiliki kehidupan yang sederhana. Sekarang aku berada di antara orang orang sederhana itu. Dan bahkan masih banyak yang berada di bawahku. Bahkan aku dan Arsen masih memiliki mobil, kami masih bisa makan, dan memiliki tempat tinggal, walau hanya mengontrak. Batin Sirin, menyakinkan langkahnya memasuki pasar yang berlumur lumpur itu perlahan.
Terkadang Sirin tidak percaya dengan kehidupannya yang sekarang. Kehidupan yang jauh dari kata mewah. Tinggal di rumah sempit, dan tidak memiliki uang yang banyak lagi.
Sirin melangkahkan kakinya ke arah tenda penjual baju muslim dan jilbab yang ada di pasar itu, dengan kaki yang basah sedikit berlumpur.
"Mau beli baju dek ?, ini harganya murah murah dek !" sapa penjual baju muslim itu kepada Sirin.
"Iya Bu !" jawab Sirin.
"Pilih aja dek !, untuk harga nanti kita bisa nego dek !" ucap penjual itu lagi tersenyum ramah. Sirin pun membalas senyum Ibu penjual itu, lalu memilih milih baju gamis yang tergantung dan berjejer rapi.
"Bajunya untuk siapa dek ?" tanya penjual itu, melihat Sirin bingung memilihnya, karna ukuran baju baju itu kebanyakan yang besar besar.
"Untuk saya Bu !" jawab Sirin.
Ibu penjual itu pun membantu mencari ukuran yang pas untuk Sirin.
"Coba ini dek !" Ibu penjual itu menunjukkan baju size M, berwarna krem berbahan seruti kepada Sirin. Sirin pun mengambil baju itu dari tangan si Ibu penjual, mengukurkannya ke tubuhnya.
"Coba aja dek ! gak apa apa !" ucap Ibu penjual itu.
"Gak usah Bu ! sepertinya ini sudah pas. Dan juga kakiku sangat kotor, nanti bisa nempel di bajunya Bu !" balas Sirin."Ini harganya berapa Bu ?" tanya Sirin.
"Dua ratus tujuh puluh ribu dek !" jawab penjual itu.
"Gak kurang lagi Bu ?" tanya Sirin, mengingat tadi Ibu penjual itu mengatakan harganya masih bisa nego.
"Gak sekalian sama jilbabnya dek ?, biar harganya kita satukan" tanya Ibu penjual itu.
"Harga jilbabnya satu berapa Bu ?" tanya balik Sirin.
"Harganya beda beda dek, Adek mau yang mana ?" tanya Ibu penjual itu lagi. Sirin pun menunjuk salah satu pasmina plisket berwarna senada dengan baju di tangannya.
"Oh ! ini harganya tiga puluh lima ribu dek !. Kalau ngambil tiga, ibu kasih seratus."
"Satu aja Bu !" ucap Sirin." jadi harga baju sama jilbab ini kurangnya berapa Bu ?." tanya Sirin lagi.
"Tadi harga bajunya ibu bilang dua ratus tujuh puluh ya ?, di tambah jilbab tiga lima. Jadi totalnya tiga ratus lima ribu" ucap ibu penjual itu." Ibu kurangin harganya lima belas ribu deh !. Jadi harga semuanya dua ratus sembilan puluh pas" ucapnya lagi.
"Ya udah Bu !" Sirin pun menyerahkan baju dan jilbab itu kepada si Ibu penjual untuk di bungkus. Kemudian Sirin merogoh saku selananya, mengeluarkan duit enam lembar tukaran lima puluh ribu dari dalam, memberikannya kepada si Ibu penjual.
"Trimakasih ya dek !"ucap Ibu penjual itu, menerima uang dari tangan Sirin dan sekalian memberikan kantong plastik berwarna hitam kepada Sirin.
"Sama sama Bu !" balas Sirin.
Setelah Ibu penjual itu memberikan uang kembaliannya, Sirin pun langsung meninggalkan tenda penjual baju muslim itu. Kembali ke tempat dimana ia memarkirkan kenderaannya.
"Arsen !" kaget Sirin, melihat Arsenio berdiri bersandar di body mobil.
Arsenio tersenyum lalu cekikikan, melihat kaki Sirin yeng berlumur lumpur."Apa kamu ingin membuat mobilku kotor ?."
"Aku ini istrimu !, masih saja barangmu kamu bilang milikmu sendiri. Sekarang apa yang kamu miliki, itu juga milikku !." Sirin berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kecuali mobil ini, ini adalah hadiah ulang Tahunku dari ratu sejagat. Nanti jika aku membeli mobil dari uangku sendiri, baru kamu punya hak ikut memilikinya" balas Arsenio, bermaksud menggoda Sirin.
"Aku juga miskin, gara gara kamu !" cetus Sirin, lalu melongos pergi ke arah jalan untuk mencari angkot.
"Merajuk dia !" gumam Arsenio tersenyum, melangkahkan kakinya menyusul Sirin. Karna ia tidak akan bisa masuk ke dalam mobilnya karna kuncinya ada pada Sirin.
Tiba tiba
Bukh ! bukh ! bukh !
Sirin yang akan menaiki angkot, mengurungkan niatnya, karna mendengar suara kegaduhan. Sirin pun memutar tubuhnya ke arah sumber suara.
"Arsen !" gumam Sirin, langsung berlari ke arah Arsen yang di keroyok tiga orang laki laki se usia mereka.
"Arsen !" panggil Sirin, melihat Arsenio yang kewalahan melawan tiga orang yang menyerangnya secara tiba tiba itu. Mungkin karna tenaganya belum pulih total setelah kecelakaan dan koma.
"Arsen !" panggil Sirin lagi.
"Pulanglah duluan !" sahut Arsenio.
Sirin menggeleng gelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia meninggalkan Arsenio yang dalam keadaan bahaya.
Bukh ! bakh ! bukh ! bakh ! bukh !
Perkelahian terus berlangsung, sehingga membuat pasar menjadi riuh. banyak pengunjung yang ke takutan, memilih meninggalkan pasar. Dan satu orang pun tidak ada yang berani melerainya.
Tidak tahan melihat Arsenio yang sering mendapat pukulan. Sirin pun mendekatinya, dan langsung melayangkan tendangan ke salah satu orang yang menyerang Arsenio.
"Sirin ! pergilah ! aku masih mampu melawan mereka" ucap Arsenio, menarik Sirin ke belakangnya. Kemudian melakukan tendangan beruntun kepada tiga orang musuhnya itu.
"Tapi kamu sudah kewalahan" balas Sirin.
"Bahaya untuk anak kita Sirin" Arsenio mengingatkan, mana tau istrinya itu lupa, kalau lagi hamil.
Siapa yang menduga, Sirin yang terlihat lemah dan lembut, juga jago berantem. Tentu itu yang melatihnya adalah Arsenio. Memiliki banyak musuh, Arsenio berpikir perlu melatih Sirin untuk menjadi wanita yang kuat, untuk bisa melindungi diri.
"Baiklah ! aku akan masuk ke dalam mobil. Aku akan meminta bantuan sama Calixto." Sirin pun segera masuk ke dalam mobil, dan langsung melakukan panggilan kepada Calixto.
Sedangkan di luar mobil, Arsenio masih terus berusaha mengalahkan musuh musuhnya itu. Meski sempat kewalahan, tapi Arsenio masih mampu bertahan supaya tidak sampai tumbang.
Perkelahian pun masih terus berlanjut, karna belum ada yang kalah.
"Berhenti !!!"
.
.