
"Habib !!!" pekik Yumna karna tiba tiba suaminya itu menindih tubuhnya.
"Kamu itu kebiasaan kentut ya !" gemas Reyhan, menduduki kedua paha Yumna.
"Maaf Habib ! gak sengaja kelepasan !" ucap Yumna tersenyum.
"Ya ampun sayang ! kenapa sih kentutmu gak habis habis ?." Reyhan menarik hidung mancung istri cantik yang sering menyebalkan itu.
"Kentut itu tandanya sehat Habib !" ucap Yumna, berusaha mengambil tangan Reyhan dari hidungnya.
"Sehat untukmu, tapi gak sehat untuk orang, karna pusing mencium aromanya" balas Reyha, semakin menakat hidung Yumna.
"Sakit Habib !!!" teriak Yumna.
Reyhan pun melepaskan tangannya dari hidung Yumna, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Yumna. Reyhan pun menarik tubuh Yumna supaya berpindah ke atasnya, menyuruh Yumna duduk di atas perutnya.
"Habib ! bagaimana kalau kita mengambil ikan kecil kecil di paret sawah, lalu kita pepes, pasti enak!" ajak Yumna. Membayangkan nikmatnya rasa ikan hasil tangkapan sendiri.
"Emang Almira bisa nangkapnya ?" tanya Reyhan. yumna mengangguk anggukkan kepalanya.
"Dulu waktu Nenek masih hidup, Yumna sering di bawa ke sawah kalau lagi berkunjung ke kampung ini" jawab Yumna.
"Tapi Habib gak bisa nangkapnya !" ucap Reyhan, karna ia tidak pernah main ke sawah, atau nangkap ikan di sungai.
"Seru tau Habib nangkap ikan di sawah" ucap Yumna.
"Bukannya kepalamu tadi pusing sayang ?" tanya Reyhan.
"Pusingnya sudah hilang setelah kentut. Yumna pengen banget Habib ! makan ikan kecil kecil di pepes" jawab Yumna.
"Kalau begitu ayo !" Reyhan mendudukkan tubuhnya, kemudian menurunkan kakinya ke lantai membiarkan Yumna duduk di pangkauannya.
Yumna pun melingkarkan tangannya ke leher Reyhan, supaya Reyhan menggendongnya.
"Sepertinya tubuh istriku ini agak ringanan dikit !" ucap Reyhan saat ia menggendong Yumna, melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Itu bagus, biar Habib tambah rajin gendong Yumna." balas Yumna, kemudian menggigit dada Reyhan.
"Sayang !" decis Reyhan merasakan geli di dadanya.
Yumna pun semakin menjadi jadi menggigit Dada Reyhan.
"Aakh !!! sayang !!!" teriak Reyhan, tidak tahan dengan perlakuan Yumna yang menjahilinya. Reyhan pun menurunkan Yumna dari gendongannya karna mereka sudah sampai di pintu keluar Villa itu.
"Sebentar Habib ! aku mencari alat yang bisa di pakai untuk menankap ikan dulu di dapur, dan juga tempatnya." Yumna langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur Villa itu.
Tak lama kemudian Yumna datang dengan membawa ember kecil dan saringan pencuci sayuran berukuran kecil di tangannya.
"Ayo Habib !" ajak Yumna membuka pintu villa itu hendak keluar.
"Penutup wajahnya sayang !" tegur Reyhan, karna Yumna lupa memakai cadarnya.
"Astagfirullah !" ucap Yumna, kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil cadarnya. Setelah memakainya, Yumna kembali keluar.
"Aku gak mau nanti laki laki yang melihatmu memperhatikan kecantikan wajahmu sayang !" ucap Reyhan, merangkul leher Yumna, membawanya keluar pintu.
Setelah mengunci pintu villa itu, mereka pun berjalan ke arah belakang villa yang kebetulan ada sawah para warga.
"Almira ! apa kita harus melewati pematang sawah ini ?" tanya Reyhan. Melihat lebar pematang saqah itu hanya selebar telapak kakinya.Sudah pasti jika berjalan di atasnya harus dengan posisi kaki menyilang. Dan kalau tidak bisa menjaga keseimbangan badan, sudah pasti jatuh ke tanama padi orang.
"Iya Habib !, kita harus menangkap ikannya di sawah yang sudah panen. Kalau kita nangkap ikannya di sini, yang punya sawah bisa marah karna akan merusak tamanannya" jawab Yumna.
"Hm ! baiklah ! Habib akan mencobanya demi istri Habib." Reyhan pun melangkahkan kakinya perlahan menginjak pematang sawah itu.
"Pelan pelan Habib !." Yumna mengulurkan tangannya meraih tangan Reyhan, kawatir suaminya itu jatuh ke sawah.
"Masya Allah ! beruntungnya Habib memiliki istri yang sangat peduli dengan Habib" ucap Reyhan.
"Yumna juga beruntung memiliki suami sebaik Habib !" balas Yumna melangkahkan kakinya di ikuti Reyhan dari belakang tanpa melepas tautan tangan mereka.
Sampai di sawah yang padinya sudah di panen. Yumna pun masuk ke paret sawah itu, tanpa peduli kaki dan pakaiannya kotor terkena lumpur.
"Habib ! sini saringannya !" ucap Yumna meminta tapisan sayur yang di bawa mereka dari villa.
"Ini sayang ! yakin bisa nangkap ikan kecil kecil itu ?" tanya Reyhan, melihat segerombolan ikan kecil kecil di dalam air.
"Insya Allah bisa Habib !"jawab Yumna, langsung menyerokkan tapisannya ke arah gerombolan ikan ikan itu.
Yumna tersenyum, lalu menunjukkan tapisannya yang sudah berisi beberapa ekor ikan di dalamnya."Dapat 'kan !" ucapnya senang.
"Wih ! istri Habib ternyata jago nangkap ikan !" puji Reyhan mengarahkan ember kecil di tangannya kepada Yumna, supaya Yumna memasukkan ikannya ke dalam ember.
"Kita gantian cari makan ya Habib !" sindir Yumna, melihat Reyhan sepertinya enggan masuk ke dalam air.
Reyhan tersenyum,"Bukankah seorang istri yang memenuhi kebutuhan rumah tangga, atau memberi makan suami dengan hasil jerih payahnya. Hitungannya adalah sedekah umi Ustazah ?" tanya Reyhan.
"Tapi menangkap ikan ini akan lebih menyenangkan jika bekerja sama dengan suami" jawab Yumna dengan bibir mengerucut di balik nikapnya.
"Apa yang bisa habibmu ini bantu sayang ?" tanya Reyhan lagi.
"Habib jalan kesana, kemudian turun ke paret. Habib usir ikannya dari sana sampai kesini. Yumna tinggal menunggu ikannya di sini dan langsung menangkapnya" jawab Yumna mengajari Reyhan.
"Oh begitu ya ?, baiklah Almiraku !. Apa pun untuk permaisuriku ini" patuh Reyhan.
Reyhan pun berjalan sampai batas yang di tunjuk Yumna, lalu turun ke paret dan mengusir ikannya ke arah Yumna.
"Jangan sampai ikannya ada yang lolos Habib !!" seru Yumna tersenyum, karna suaminya itu patuh atas perintahnya.
"Iya !" balas Reyhan. Bagaimana mungkin bisa ikannya tidak ada yang lolos kalau ngusirnya hanya pakai jari, batin Reyhan. Ada ada aja istrinya itu.
Yumna pun menangkapi ikan kecil kecil yang mendekatinya. Sangat mudah di tangkap karna ikannya sudah mabuk, karna airnya sudah keruh.
"Habib ! ikannya sangat banyak !" seru Yumna, karna baru sebentar ikannya sudah dapat setengah ember ukuran lima liter.
"Benaran sayang ?" tanya Reyhan, yang sudah sampai di depan Yumna dengan bernapas ngosngosan. Karna berjalan membungkuk sepanjang kira kira sepuluh meter.
"Ini !" Yumna menunjukkan embernya.
"Alhamdulillah !" ucap Reyhan.
"Habib ! itu ada belut !" tunjuk Yumna ke belakang Reyhan.
"Allohu akbar !" Reyhan bertakbir dan langsung keluar dari paret.
"Wah ! belutnya dua Habib ! besar besar lagi !." Yumna pun mendekati belut itu, berusaha untuk menangkapnya.
"Sayang ! jangan di tangkap !" ucap Reyhan, bergidik ngeri melihat hewan persis seperti ular itu.
"Ini enak Habib !" ucap Yumna, sudah berhasil menangkap satu belut.
"Habib takut sayang !, lepas ya !" bujuk Reyhan. Ia benar benar takut dengan jenis binatang melata itu.Tapi malah Yumna melempar belut itu sampai mengenai kakinya.Membuat Reyhan melompat lompat ketakuatan.
Yumna pun tertawa tawa
"Subahanalloh sayang ! kenapa kamu jahil banget ?"oceh Reyhan.Meski istrinya itu baik dan soleha, tapi terkadang istrinya itu sangat mengesalkan.
Melihat Reyhan benar benar ketakutan, Yumna pun keluar dari paret. Lalu mengambil belut itu dan melemparnya ke paret sawah.
"Habib benaran takut belut ?."Yumna menghentikan tawanya.Yumna tidak percaya ternyata suaminya itu takut belut.
"Ya ampun sayang !, kamu hampir membuatku pingsan karna ketakutan" jawab Reyhan.
"Habib paling tidak menyukai hewan hewan menggelikan seperti itu sayang" balas Reyhan, bernapas dengan ngos ngosan.
"Belut itu makanan enak !" ucap Yumna, lalu mengambil ember yang berisi ikan dan tapisannya. Kemudian Yumna pun menarik tangan Reyhan untuk pulang.
"Habib ! di sana ada sungai ! mandi di sungai yuk !. Sekalian bersihin ikannya di sana" ajak Yumna.
"Apa dulu Almira sering ke sini ?. Sepertinya Almira sangat menguasai daerah ini" tanya Reyhan.
"Dulu waktu mendiang nenek masih hidup, Momy sering membawaku pulang ke kampung ini. Anak anak kampung ini sering membawaku bermain ke sawah sekitaran sini" jawab Yumna.
"Sepertinya pulang kampung itu enak!" ucap Reyhan. Karna ia tidak punya kampung, dan tidak ada istilah pulang kampung dalam keluarganya.
"Ini kita lagi pulang kampung Habib !" balas Yumna." Emang sih suasana kota itu terkadang membosankan. Makanya aku mengajak Habib berlibur ke kampung. Kebetulan di kampung Momy ini memiliki udara yang sejuk dan bersih. Pemandangannya indah dengan hamparan sawah yang luas dan pegunungan" ucapnya lagi.
"Hm ! tapi sayangnya kita harus pulang besok. Maaf ya sayang !, jadi acara liburan kita di persingkat"ucap Reyhan.
"Gak apa apa Habib !, setelah Papa sembuh, kita bisa ke sini lagi" balas Yumna.
Sampai di sungai yang berada tidak jauh dari villa. Yumna dan Reyhan pun langsung membersihkan lumpur di kaki dan di baju meraka.
"Sayang ! buka aja nikapnya ! gak apa apa, sepertinya tempat ini jarang di datangi orang" ucap Reyhan kepada Yumna. Karna tidak akan nyaman jika berenang memakai penutup wajah.
Yumna menganggukkan kepalanya, lalu membuka nikapnya meletakkannya di atas batu pinggiran sungai. Yumna pun langsung menjeburkan dirinya ke sungai.
"Sayang !" kaget Reyhan, berpikir kalau istrinya itu terjatuh ke sungai. Reyhan pun langsung melompat ke dalam air mencari Yumna yang belum muncul ke permukaan.
Yumna yang melihat Reyhan mengejarnya semakin mempercepat renangnya di dalam air, supaya Reyhan tidak bisa menangkapnya.
Ternyata kamu mengerjaiku tukang kentut, awas kamu ya !. Jangan pikir aku tidak bisa menangkapmu di dalam air ini. Batin Reyhan, berusaha mengejar Yumna.
Reyhan yang sudah berhasil mengejar Yumna pun, langsung menarik kaki Yumna. Sehingga membuat Yumna tidak bisa berenang. Reyhan menarik tubuh Yumna ke pelukannya, lalu membawanya ke permukaan air, membawanya ke tepian sungai. Mereka berdua sama sama bernapas ngosngosan, karna terlalu lama menahan napas di dalam air.
"Kamu ingin mengerjai Habib 'kan ?" gemas Reyhan, melingkarkan satu tangannya ke leher belakang Yumna.
"Siapa yang ngerjain Habib ?, sekarang ceritanya 'kan kita lagi mandi di sungai !" jawab Yumna tersenyum.
"Kenapa berlari saat Habib kejar ?" tanya Reyhan lagi gemas. Istrinya itu suka sekali mengerjainya.
"Bukannya seru main kejar kejaran di air ?" tanya balik Yumna.
"Kita ini lagi di sungai sayang !, bukan renang di kolam renang. Di sini airnya berarus, beda sama di kolam renang yang airnya tenang. Habib tadi sempat kawatir, dan Habib pikir tadi kamu kepeleset dari atas batu" oceh Reyhan.
"Uhibbuka !" ucap Yumna terseyum, lalu mengecup bibir Reyhan kilas, supaya suaminya itu berhenti marahnya.
"Hanya kamu hartaku sayang !, aku gak mau kamu kenapa kenapa" balas Reyhan.
"Aku sudah tau kalau sungai ini aman. Dan juga arus sungai ini tidak deras dan juga tidak terlalu dalam" ucapYumna lagi. Yumna pun melepaskan diri dari Reyhan, dan langsung berenang ke tengah sungai. Dan Reyhan langsung mengejarnya.
Puas mandi di sungai, baru mereka membersihkan ikan hasil tangkapan mereka. Setelah selesai, baru mereka kembali ke villa.
Waktu berlalu, kini ikan pepes buatan Yumna sudah terhidang di atas piring. Mereka pun menikmatinya di atas gajebo yang berada di depan villa itu.
"Dari wanginya sepertinya enak !" ucap Reyhan yang sudah duduk bersila siap untuk menyantap ikan hasil tangkapan istrinya itu. Sedangkan Yumna ia menyiapkan nasi di atas piring untuk Reyhan, kemudian memberikannya kepada Reyhan.
"Ini makanan kesukaan Momy kalau pas lagi pulang kampung" balas Yumna.
"Hm ! sepertinya seru kalau kita mengajak keluarga kita untuk berlibur ke sini rame rame" ucap Reyhan, kemudian menyuapkan ikan pepes ke mulutnya dengan tangan. Reyhan mengunyahnya perlahan, menikmati rasa gurih pedas dan asam ikan pepes itu.
"Bagaimana ?" tanya Yumna.
Reyhan mengangguk anggukkan kepalanya." Enak banget sayang !, sepertinya Habib akan nabah banyak nih makannya" jawab Reyhan. Lagi menyuapkan ikan pepes ke mulutnya yang sudah di campur nasi.
"Perasaan Habib makan selalu nambah deh !. Apa pun itu lauknya" cibir Yumna. Karna suaminya itu makannya selalu banyak.
Reyhan terseyum, lalu menyuapi Yumna dengan nasi dari piringnya." Itu karna masakan istri habib ini selalu enak, pas di lidah habib" pujinya.
"Itu karna Yumna kasih bumbu cinta ke masakannya" balas Yumna setelah menelan makanan di mulutnya.
"Habib kira bumbu pelet !" gurau Reyhan.
"Astagfirulloh Habib !, gak usah di kasih bumbu pelet aja, Habib sudah klepek klepek sama Yumna. Apa lagi di kasih bumbu pelet !" balas Yumna tersenyum.
"Yakin ?" cibir Reyhan.
"Yakinlah !" jawab Yumna.
"Tapi perasaan Habib yang klepek klepek itu bukan habib deh !" cibir Reyhan lagi tersenyum, mengingat istrinya itulah yang selalu klepek klepek saat di cumbuinya.
Yumna mengerucutkan bibirnya dengan mata menyipit, paham maksud pembicaraan suaminya itu menjurus ke atas ranjang."Tapi habib menyukai itu" ucapnya.
Cup !
Reyhan mengecup bibir Yumna yang mengerucut. Meski sudah sepuluh Tahun pernikahan mereka, bibir itu selalu berhasil menggodanya. Membuatnya tidak bosan untuk mengecup dan menciumnya, lagi dan lagi. Di usia mereka yang sudah 34 Tahun, kecantikan istrinya itu semakin bertambah. Semakin terlihat lembut dan keibuan, meski melum menjadi ibu ibu. Entah sampai kapan, penantian itu berakhir ?.
Trrrret trrret !
Reyhan langsung mengarahkan pandangannya ke arah HPnya yang bergetar di lantai gajebo.
"Mama vc" ucap Reyhan, melihat siapa yang menghubunginya. Reyhan pun menggeser tombol hijau di layar phonselnya.
Sedangkan Yumna, ia langsung bergeser duduk di depan Reyhan, dengan posisi bersandar di dada bidang Reyhan.
"Halo Ma ! Assalamu alaikum !" sapa Reyhan tersenyum kepada Mama Bunga yang berada di layar handphon.
"Walaikum salam sayang sayangnya Mama !" balas Mama Bunga.
"Gimana keadaan Papa Ma ?" tanya Reyhan.
"Sudah baikan sayang !, Papamu sudah mau makan setelah di suapi adikmu Darren. Besok Papamu sudah boleh pulang" jawab Mama Bunga, kemudian memberikan HPnya kepada Papa Arya yang duduk bersandar di atas brankar.
"Pa ! gimana keadaan Papa ?" tanya Reyhan melihat wajah Papa Arya di layar ponselnya. Papanya itu sudah nampak tua dengan banyak uban di kepalanya.
"Papa sudah sembuh Nak !, gak usah kawatir, kalian nikmatilah liburan kalian. Semoga nanti kalian membawa oleh oleh kabar baik untuk Papa" jawab Papa Arya, penuh harap.
"Amin !" ucao Reyhan dan Yumna bersamaan.
"Kami sudah berencana pulang besok kalau Papa belum sembuh !. Tapi kalau Papa sudah sembuh, gak apa apa 'kan Pa ?, kalau kami gak jadi pulang besok"tanya Reyhan.
"Gak apa apa Nak !, Papa hanya demam biasa, kalian gak perlu kawatir. Berliburlah sepuas kalian. Mana tau dengan seperti itu, usaha kalian berhasil. Jangan terlalu memikirkan Papa, apa baik baik aja" jawab Papa Arya.
"Bagaimana bisa kami gak memikirkan Papa ? Papa adalah orang tua kami. Papa juga kebahagiaan kami" balas Yumna.
Papa Arya tersenyum, ternyata ia tidak salah memilih manantu. Putri sahabatnya itu selain soleha, juga baik dan penyayang.
"Kalian bersenang senaglah Nak !, Papa sudah sehat sekarang" ucap Papa Arya.
"Iya Pah !, Papa juga harus sehat, jangan sakit lagi. Papa harus jaga kesehatan, dan jangan sampai sakit lagi" balas Yumna.
"Ya udah ! kalau begitu Papa tutup teleponnya, assalamu alaikum !" ucap Papa Arya.
"Walaikum salam Pa !, salam sama Mama dan Sabin Pa !" balas Yumna.
Papa Arya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu mematikan sambungan teleponnya.
.
.