Brother, I Love You

Brother, I Love You
177. Kamu menyakitiku



Sampai di rumah sakit, Orion dan Elang langsung masuk ke ruang perawatan Sirin. Ruangan itu sangat rame dengan kedatangan keluarga mereka.


"Assalamu alaikum !" ucap Orion


"Walaikum salam !" balas semuanya.


Orion dan Elang pun melangkahkan kaki mereka menyalam kakek Fariq dan nenek Indah bergantian. Mereka juga menyalam tante Rania dan tante Sofia. Om Leo, tante Tari dan Mama Vani yang sedang menggendong baby Syauqi.


Karna ruangan itu sangat rame, terpaksa mereka menggelar tikar di lantai supaya semuanya bisa duduk.


Orion pun mendudukkan tubuhnya di samping Queen yang berbaring di atas tikar. Dan langsung mengusap kepala Queen yang ke lelahan mengasuh Syauqi.


"Sayang !" sapa Orion, membatu Queen duduk, lalu menyandarkan Queen ke dadanya.


"Dari tadi Syauqi gak mau tidur siang !" adu Queen dengan bibir mengerucut. Dari tadi Queen sudah berusaha menidurkan baby Syauqi, tapi malah anaknya matanya melek dan sering tertawa kegirangan tidak jelas. Masih kecil aja anak mereka itu sudah menyebalkan.


"Itu karna suasananya rame sayang !, dan mungkin dia juga ikut senang dengan kelahiran adiknya" balas Orion, mengecup kening Queen dengan sayang.


"Mana ponakanku ?, aku belum melihatnya !" tanya Orion, memutar pandangannya kesetiap orang yang ada di ruangan itu.


"Ini !" ternyata baby Arsi sudah berada di gendongan Elang.


"Bawa sini ! aku ini pamannya yang paling tua !" suruh Orion, penasaran dengan anak dari preman setengah jadi itu.


Elang pun berjalan mendekati Orion, kemudian memberikan baby Arsi ke tangan Paman tertua di keluarga itu.


"Wih ! badannya besar banget !" keget Orion, melihat tubuh baby Arsi, badannnya hampir sebesar badan baby Syauqi yang sudah berusia sebulan lebih.


"Lahirnya empat kilo !" ucap Arsenio dari atas brankar.


"Kok bisa ?" tanya Orion.


"Menjelang kelahiran Sirinnya banyak makan !, gak mau di bilangin" jawab Arsenio.


"Gimana lagi, aku gak bisa nahannya !" sela Sirin.


"Tubuh Arsi sama besarnya seperti Mama kalian baru lahir dulu !" celetuk Papa Arya tiba tiba. Sontak semua menoleh ke arahnya.


"Jadi Papa sudah kenal Mama dari lahir ?" tanya Elang antusias.


"Sudahlah !, malah Papa sudah naksir sama mama kalian sejah baru lahir !" jawab Papa Arya, melirik Dokter Aldo lewat sudut matanya.


Sepertinya perang dingin antara masa lalu dan masa depan ratu sejagat itu tak akan pernah berakhir.


Dokter Aldo mendengus kesal, jadi menurut mantan gurunya itu, dia yang merebut Bunga..gitu ?.


Orion pun memperhatikan wajah baby Arsi kira kira wajahnya dominan mirip siapa." Wajahnya banyakan mirip Om Aldo ya !" ucapnya tersenyum.


Papa Arya mendengus kesal, tak suka mendengar apa yang di katakan Orion. Kenapa pula wajah cucunya itu harus ada miripnya dengan musuh babuyutannya itu.


"Papa hanya kebagian mata sama alisnya, Mama kebagian bodynya" ucap Orion lagi.


"Kalau masih bayi wajahnya itu masih berobah robah !" sela Papa Arya. Tidak terima dia wajah cucunya banyak kebagian Dokter Aldo.


"Bubu ! bisa bisanya kamu suka laki laki seperti itu, cemburuan dan posesif kaya gitu ?" cibir Dokter Aldo.


"Suka dong ! tampan begini !" Mama Bunga meraba sebelah pipi Papa Arya yang duduk di sampingnya, untuk meredakan hati suaminya yang gampang terbakar api cemburu itu.


"Cih ! dulu aja kamu sangat membencinya !" decih Dokter Aldo.


Diana berdiri dari tempat duduknya, melongos pergi keluar dari ruangan itu. Hatinya panas, dari tadi mendengar gurauan suami dengan mantan kekasihnya itu, Diana cemburu.


"Sayang !"


Gegas Dokter Aldo langsung mengejar Diana keluar dari ruangan itu.


"Ada yang terbakar !" ucap Queen tersenyum, yang masih berada di pelukan Orion, sambil menggendong baby Arsi di pangkuannya.


.


.


Di lorong rumah sakit, Dokter Aldo menagkap tubuh Diana yang hampir masuk ke dalam lif, memeluk Diana dari belakang.


"Kami hanya bercanda sayang !" ucap Dokter Aldo.


"Bercanda sama mantan !" Diana berbicara dengan bibir mengerucut."Bagaimana kalau aku yang bercanda dengan Reyhan ?" tanyanya." Hati By kira kira panas gak ?, terima gak ?."


"Maaf sayang !"


Dokter Aldo galau, dan hatinya sedikit takut. Dokter Aldo takut kisah rumah tangganya terulang lagi. Karna kedekatannya dengan mama Bunga, rumah tangganya hancur, karna cemburu. Apakah Diana akan sama sifatnya seperti Shasa mantan istrinya ?.


Dokter Aldo menghela napasnya, kenapa semua orang menduga kalau dia belum move On ?. Padahal nyatanya tidak seperti itu, dia sudah move On. Hanya saja mereka sudah terbiasa dekat dari bayi, jadi susah untuk merobahnya. Dan juga mereka tidak pernah berdua duaan. Apa salahnya jika hanya sekedar bercanda ?. Hati Dokter Aldo sakit untuk itu, istrinya tidak percaya kepadanya.


Dokter Aldo melepas pelukannya, lalu menarik Diana masuk ke dalam lif, membawanya turun ke lantai bawah. Dokter Aldo membawa Diana masuk ke ruangannya.


Sampai di dalam ruangannya Dokter Aldo langsung mengunci pintunya rapat rapat. Dan langsung menggendong tubuh Diana membawanya ke ruang istirahatnya. Dokter Aldo langsung mencium dalam bibir Diana.


Dokter Aldo meletakkan tubuh Diana di atas kasur tanpa melepas pagutannya. Kemudian kedua tangannya menjalar kemana mana hingga membuat tubuh Diana polos. Hati Dokter Aldo benar benar gusar. Bukankah di sudah membuktikan kalau dia mencintai Diana, kenapa istrinya itu tidak percaya.


Diana meronta, dia tidak mau mereka melakukannya di rumah sakit itu. Dan juga Diana tau kalau suaminya itu sedang marah padanya. Diana bisa merasakan itu, dari cara Dokter Aldo menciuminya sangat kasar.


"By ! kamu menyakitiku !!!" teriak Diana, karna Dokter Aldo menciumnya sampai terasa sakit dan perih di bagian pahanya.


Dokter Aldo tersadar, ia pun melepas ciumannya. Dokter Aldo menganggat kepalanya, menatap wajah Diana yang sudah basah air mata. Dokter Aldo melap lelehan bening itu dari wajah Diana.


"Maaf !" ucap Dokter Aldo, kemudian memasang pakaian Diana kembali.


Dokter Aldo memeluk Diana yang masih terpaku, shok dengan kemarahannya. Dokter Aldo mengecup lama ujung kepala Diana.


"Hatiku sangat sakit jika kamu tak percaya sama aku.. Diana !" ucanya.


"Aku berharap sifatmu tidak sama dengan Ibunya Sirin dan Ghissam Diana" ucap Dokter Aldo lagi.


Diana diam, bibirnya bergetar, air matanya terus mengalir sangat deras meski tak terdengar isakan dari mulutnya. Seketika Diana takut dengan pria yang memeluknya itu. Ini pertama kalinya Dokter Aldo marah padanya. Dokter Aldo melampiaskan kemarahannya dengan mencumbuinya kasar. Itu lebih mengerikan dari suara bentakan dengan kata kata kasar. Itu sangat menyakitkan bagi Diana.


Dokter Aldo melepas pelukannya karna merasakan tubuh Diana kaku. Dokter Aldo menjaukan sedikit tubuhnya, supaya bisa melihat wajah Diana.


"Sayang !" panggil Dokter Aldo lembut, menghapus air mata Diana yang tidak berhenti keluar." Maaf !" ucanya lagi.


Diana masih diam, ia mencoba memberanikan diri menajamkan pandangannya ke wajah Dokter Aldo.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi sayang !, maaf !" ucap Dokter Aldo lagi.


"Apa dulu By melakukannya seperti itu kepada tante Shasa ketika marah ?" tanya Diana.


Dokter Aldo menggelengkan kepalanya.


Kemudian memeluk Diana kembali dengan erat." Aku sangat mencintaimu Diana !. Tadi aku sangat gusar karna kamu meragukan cintaku !. aku tidak tau harus bagaimana untuk membuatmu yakin, kalau aku sangat mencintaimu. Aku tidak mencintai Bunga lagi. Maaf aku tak sadar sudah menyakitimu sayang !."


"Hati ini sangat sakit sayang !, jika kamu meragukan cintaku !" ucap Dokter Aldo lagi.


"Maaf !" balas Diana membalas pelukan Dokter Aldo." Aku cemburu !" ucapnya lagi.


Dokter Aldo melepas pelukannya lagi, kemudian menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Diana. Lalu mengecup kening Diana lama, kemudian mengecup kedua kelopak mata Diana bergantian, mengecup kedua pipinya, terakhir bibirnya.


"Aku minta maaf juga, seharusnya aku memahami istriku yang sedang cemburu. Tadi aku hanya terlalu takut dengan masa laluku dengan ibunya Sirin dan Ghissam. Aku terlalu takut kehilangan cintamu sayang !. Aku sangat berharap, kamu lah wanita terakhir dalam hidupku Diana. Aku tidak mau yang lainnya lagi" ucap Dokter Aldo, tanpa melepas tangannya dari kedua sisi wajah Diana.


"Aku gak suka di perlakukan kasar !" ucap Diana.


"Maaf sayang !"


lagi lagi Dokter Aldo meminta maaf, karna kekhilafannya.


"Lapar !"


Dokter Aldo langsung mengembangkan senyumnya." pengen makan apa sayang ?."


"Kolak ubi singkok !" jawab Diana.


Senyum Dokter Aldo langsung memudar, mendengar permintaan istrinya. Diana dia dapat membeli kolak ubi singkok saat ini. Ini bukan bulan puasa, tidak akan ada orang yang menjual kolak apa pun.


"Itu beli dimana sayang ?, tidak akan ada orang yang menjual itu" tanya Dokter Aldo. Kenapa istrinya itu ngidamnya selalu yang aneh aneh, seringkali meminta yang sulit di cari.


"By bisa nyuruh orang rumah sakit memasaknya, di sini 'kan ada dapur" jawab Diana enteng tanpa merasa berdosa.


"Ya udah !" pasrah Dokter Aldo.


Dokter Aldo pun megeluarkan handphonnya dari saku celananya. Kemudian melakukan panggilan kepada orang pengurus dapur rumah sakit itu. Meminta tolong untuk membelikan ubi dan memasaknya menjadi kolak. Dokter Aldo mematikan sambungan teleponnya setelah selesai bicara. Kemudian meletakkan handponnya di atas meja nakas di samping tempat tidur.


"Selagi menunggu, istirahatlah !, Aku bekerja dulu sebentar !" ucap Dokter Aldo, membaringkan tubuh Diana di atas tempat tidur.


"Peluk !" manja Diana


"Tapi sebentar ya !, hubby mu ini harus mencari duit yang banyak untuk istriku ini !." Dokter Aldo mencolek hidung Diana sembari tersenyum.


Diana menganggukkan kepalanya, setelah Dokter Aldo berbaring di sampingnya dan memeluknya, Diana pun memejamkan matanya. Diana merasakan benda kenyal milik Dokter Aldo menempel di kemingnya, dan tangan Dokter Aldo mengusap usap kepalanya, hingga ngantuk perlahan menyerangnya.


.


.