Brother, I Love You

Brother, I Love You
238. Berikan aku surgamu



"Hani ! aku berangkat dulu ya !" pamit Bilal, saat Hani mengantarnya ke depan pintu. Hari ini Bilal harus tetap bekerja, karna ada perkerjaan yang harus segera ia selesaikan, meski baru tadi malam mereka menikah.


Hani menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Hati hati !" ucap Hani, memberikan kunci mobilnya ke tangan Bilal." Pakailah mobilku !, aku gak mau suamiku nanti tidak sampai tujuan tepat waktu karna di kerubungi fansmu !" ucap Hani lagi.Karna tadi malam, mobil Bilal di bawa pulang Yasmin dan Annisa.


"Masya Allah ! mulianya hati istriku !" puji Bilal tersenyum.


"Aku memang tidak akan bisa menandingi mulianya Sayyidina Khadizah yang menghabiskan hartanya untuk dakwah Rasulullah SAW. Aku hanya sedikit menirunya, memudahkan suamiku untuk pergi bekerja dengan meminjamkan kenderaan" balas Hani." Min..jam !, bukan memberi !" tambahnya tersenyum.


Seketika senyum Bilal menghilang, memicingkan matanya ke arah Hani yang berdiri di depannya."Dari dulu kamu memang sungguh menyebalkan !" ujar Bilal, mengecup kilas pipi Hani, lalu pergi. Tentu Bilal sudah melihat suasana dulu, sehingga ia berani mengecup pipi Hani di luar rumah.


Bilal membuka pintu mobil milik Hani. Sebelum masuk ke dalam mobil, Bilal memutar tubuhnya ke arah Hani." Aku akan pulang cepat !, tunggu aku di rumah !" serunya kepada Hani yang masih berdiri di depan pintu, sambil memperhatikannya.


Hani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bawa oleh oleh untukku !" ujarnya.


Bilal mengerutkan keningnya, oleh oleh apa ?, pikir Bilal. Ia akan pergi bekerja mengurus harta peninggalan ratu sejagat. Bukan pergi keluar kota atau kemana mana.


"Makanan !" ucap Hani, melihat wajah bingung Bilal.


"Makanan apa ?" tanya Bilal.


"Apa saja !, yang penting rasanya manis" jawab Hani.


Bilal menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Oke sayang !" ucapnya, kemudian masuk ke dalam mobil milik Hani duduk di kursi pengemudi.


Dia harus segera berangkat kerja, melihat jam sudah hampir menunjukkan jam tujuh pagi. Selain ke sekolah, Bilal juga harus mengunjungi perkebunan kelapa sawit milik mendiang ratu sejagat, atau ibundanya tercinta.


Setelah Bilal melajukan kenderaannya meninggalkan halaman rumah sederhana milik Hani. Hani pun masuk ke dalam rumah, ia harus bersiap siap pergi mengajar ke pesantren.


"Cie cie ! yang lagi bersemi wajahnya berbinar !" goda Susi, berpasasan dengan Hani saat berjalan ke arah kelas santri putri.


Hani semakin merekahkan senyumnya, ia benar benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya." Aku tidak menyangka, kalau Allah mempersatukanku dengan Ustadz Bilal" ujar Hani.


"Apa itu artinya kamu sudah move on dengan Almarhum suamimu ?" tanya susi.


Hani langsung menghentikan langkahnya, dan menajamkan pandangannya ke wajah Susi. Hani menghela napasnya, lalu berbicara."Bagaimana bisa aku berpindah hati dari almarhum bang Hidayah, dia adalah suami yang baik. Selamanya dia sudah memiliki tempat spesial di hatiku. Tidak ada yang bisa merebut tempatnya di hati ini, meski itu ustadz Bilal. Cintaku kepada almarhum bang Hidayah dan Ustadz Bila, memiliki porsi masing masing. Tidak bisa di samakan, dan tidak bisa di bedakan!" jawab Hani.


Susi menganggukkan kepalanya, paham maksud sahabatnya itu.


"Masalah siapa yang akan menjadi jodohku di akhirat, itu urusan Allah nantinya. Kita sebagai hamba, hanya bisa mengikuti alur skenario yang di tuliskannya untuk kita. Kewajiban kita sebagai istri adalah mengabdi kepada suami, menyenangkan hati suami untuk mendapatkan ridhanya. Dan tentunya wajib mencintai suami kita sendiri" tambah Hani lagi.


"Sebelum Ustadz Bilal menjadi suami mu saja, kamu sudah mencintainya sampai gila. Aku rasa sekarang cintamu kepadanya semakin gila setelah Ustadz Bilal menjadi suamimu!." Susi mengulum senyumnya.


Hani mendengus," ya ! cintaku memang semakin gila semenjak tadi malam !" balas Hani, lalu melanjutkan langkah kakinya ke arah ruangan guru, di ikuti Susi langsung dari belakang.


.


.


"Ustadzah ! kenapa senyum senyum ?" tanya seorang santri kepada Hani yang duduk di meja guru sambil melamun.


"Ha !" Hani tersadar dari lamunannya, mendengar ada santri yang bertanya.


"Ustadzah sepertinya terbayang bayang dengan Ustadz Bilal" goda salah satu santri.


Hani mengulas senyumnya," ayo yang sudah selesai tugasnya kumpul ke depan" ucapnya, tak ingin meladeni godaan para santrinya itu.


"Ustadz Bilal guanteng byanget ya Ustadzah !. Mau dong jadi istri ke dua Ustadz Bilal !" goda santri yang duduk di depan meja Hani. Santri itu menopang dagunya dengan kedua tangannya, kemudian mengedip ngedipkan matanya kepada Hani.


"Tapi aku gak mau berbagi suami !" balas Hani tersenyum.


"Ustadzah pelit, gak mau bagi bagi rejeki !" ujar santri itu lagi, mengerucutkan bibirnya.


"Yang satu itu khusus untuk Ustadzah saja !" balas Hani." Ayo kumpul semua tugasnya !, dan selahkan pulang ke asrama masing masing" ucap Hani lagi, mendengar bel pulang sudah berbunyi.


Semua santri pun mengumpulkan tugasnya, dan satu persatu meninggalkan kelas.


Hani keluar dari dalam kelasnya, dengan membawa buku buku para santri di tangannya.


"Hua !"


"Astagfirullohal 'azim !" kaget Hani, memeluk buku buku di tangannya yang hampir saja terjatuh dari genggamannya.


Bilal tertawa cekikikan, karna sudah berhasil mengagetkan Hani. Kemudian Bilal mengambil buku buku dari pelukan Hani, dan memberikan kantong plastik yang berisi makanan ke tangan Hani yang mengerucutkan bibirnya.


"Sudah ! gak usah cemberut, ayo !" Bilal meraih tangan Hani berjalan ke arah kantor guru.


Hani yang di gandeng tangannya, pun mengikuti langkah Bilal dengan wajah berbinar. Hani senang karna Bilal cepat pulang, dan menjemputnya ke kelas.


"Assalamu alaikum !" ucap Ustadz Bilal saat akan memasuki ruangan kantor guru.


"Walaikum salam!" balas semua Ustadz dan Ustadzah yang ada di ruangan itu.


"Sayang ! meja kamu dimana ?" tanya Bilal.


Wajah Hani langsung merona di panggil sayang di depan orang banyak. Hani pun menarik Bilal ke arah mejanya.


"Sudah panggil sayang sayang nih ye !" goda Susi yang berada di ruangan itu.


"Jangan menggoda mereka Umi !, nanti mereka main petak umpat lagi !" sambung Ustadz Indra ikut menggoda pasangan suami istri baru itu.


"Sekarang gak perlu lagi, jika pun masih, kami akan main petak umpat di rumah saja, iya kan cinta ?" balas Bilal tersenyum, sekalian bertanya kepada Hani.


Hani menganggukkan kepalanya, meski dengan wajah merona. Bilal pun mengusap kepalanya yang tertutup hijab. Hani mengerutkan keningnya, melihat di setiap meja para Ustadz dan Ustadzah ada kotak kue, sama seperti kotak kue yang ada dalam kantong plastik yang di berikan Bilal.


"Ustadz Bilal bagi bagi rejeki sama kami !" ucap Susi melihat Hani memperhatikan semua meja.


Hani mengarahkan tatapannya ke wajah Bilal yang berdiri di sampingnya, kemudian mengulas senyumnya. Tentu itu tidak masalah bagi Hani, justru ia senang suaminya berbagi rezeki, meski ia sendiri belum mendapatkan nafkah dari suaminya.


"Ustadz Bilal masih bisa ikut bergabung untuk mengajar di sini !"balas Hani.


Bilal menganggukkan kepalanya," aku akan berusaha membagi waktu, supaya bisa bergabung sayang !" ucap Bilal.


"Apa kabar dengan sekolah keluarga Ustadz ?" tanya Uatsdz Indra, kemudian menyuapkan potongan kue yang di bagikan Bilal untuknya.


"Alhamdulillah, saya sudah berhasil merobahnya menjadi sekolah islam, meski bukan sebuah pesantren. Tapi sekilas sekolah itu sudah terlihat seperti pesantren, karna semua siswi sudah saya wajibkan memakai jilbab"jawab Bilal.


Obrolan mereka pun terus berlajut di rungan itu. Yang tentunya mereka lebih banyak membicarakan tentang ilmu Agama, mereka saling berbagi ilmu dan pengetahuan.


.


.


Bilal dan Hani berjalan bergandengan tangan pulang ke rumah Hani. Sampai di depan pintu rumah, Bilal berbisik ke telinga Hani.


"Ini masih sore, jangan menggodaku !."


"Siapa yang menggoda Ustadz ?"tanya Hani heran.


"Ini tanganku dari tadi tidak kamu lepas, malah kamu menatarikku masuk kamar !" jawab Bilal tersenyum.


Hani melihat pintu di depannya, itu pintu masuk rumah, bukan pintu masuk kamar. Kenapa suaminya itu mengatakan kalau mereka akan masuk kamar ?, pikir Hani.


Pintu itu pun terbuka, Bilal yang membukanya, langsung menarik Hani masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu itu dan menguncinya.


"Ustadz !"tegur Hani, kaget dengan tingkah suami dadakannya itu.


Bilal langsung saja mencium bibir Hani. Bilal mencium mesra bibit Hani, sehingga membuat Hani tak tahan untuk tidak membalasnya. Sampai ciuman itu berlangsung lama, akhirnya lepas juga. Bibir keduanya sampai terasa kebas dan bengkak.


Bilal mengulas senyumnya sambil tangannya melap bibir basah Hani bekas ciuannya." Bibirmu sangat manis !"ucapnya, memperhatikan wajah Hani yang memerah dan masih sibuk mengatur napasnya.


Bilal menarik Hani ke dalam pelukannya, dan mengecup ujung kepala Hani." Aku mencintaimu Hani !" ucapnya.


Hani membalas pelukan Bilal, memeluk tubuh Bilal dengan erat. Membalas ucapan cinta Bilal lewat pelukannya. Hani sangat mencintai Bilal, cinta pertama dan terakhirnya. Karna Hani tidak akan mencintai laki laki mana pun lagi, Bilal yang terakhir.


.


.


Malam Hari


Hani yang baru pulang shalat isya dari masjid, masuk ke dalam kamarnya. Hani menyimpan mukenanya, kemdian berjalan ke arah meja rias di kamarnya. Hani menandangi wajahnya di kaca cermin. Hani mendudukkan tubuhnya di kursi meja riasnya. Perlahan Hani membuka jilbabnya dan membiarkan rambutnya tergerai ke belakang. Satu persatu, Hani mengoleskan make up ke wajahnya. Malam ini dan malam seterusnya, sepertinya Hani akan merias wajanya dengan make up, untuk memanjakan mata suaminya.


Selesai merias wajahnya, Hani berjalan ke arah kasur, mengambil paper bag yang terletak di aras kasur. Bilal memberikannya tadi kepadanya, kata Bilal isinya baju. Bilal menyuruhnya memakainya malam ini. Hani pun mengeluarkan isi paper bag itu, dan melihat isinya. Mata Hani langsung membola, melihat baju yang kainnya menerawang, lengkap dengan pakaian dalamnya yang berwarna senada dengan baju. Hani tidak percaya dengan pakaian yang di belikan Ustadz Bilal Albiruni Aaryan Putra Alfarizqi itu untuknya.


Ya Ustadz ! apa kamu sangat ingin aku menggodamu malam ini ?. Baiklah ! berikan aku surga itu Ustadz !, batin Hani.


Hani membawa pakaian itu ke kamar mandi, mengganti pakaiannya di dalam. Tak lama kemudian, Hani keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian s*ksi dan menerawang, memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hani berjalan kembali ke meja rias mendudukkan tubuhnya di sana. Hani menyisir rambut panjangnya, merapikan riasan wajahnya, dan menyemprot tubuhnya dengan Varfium. Hani terus memandangi wajahnya di kaca cermin.


Ceklek !


Refleks Hani menoleh ke arah pintu, mendengar ada yang membukanya dari luar. Tiba tiba jantung Hani berdegup sangat kenjang, melihat sosok yang masuk ke kamarnya.


Bilal


Sosok itulah yang masuk ke kamar Hani. Bilal menutup pintu kamar itu kembali, tidak lupa menguncinya rapat rapat. Mata Hani tak berkedip memandang wajah Bilal. Bilal sangat terlihat tampan, aura wajahnya nampak bersinar cerah, dengan rambut bagian depannya yang sedikit basah, dengan model sisiran ke belakang.


Hani berdiri dari tempat duduknya, berjalan menyambut Bilal yang juga melangkah ke arahnya. Pandangan Hani tak putus dari wajah Bilal, begitu pun dengan Bilal. Hani meraih tangan kanan Bilal, membawanya ke bibirnya dan lalu mengecupnya tanpa melapas netranya dari wajah tampan itu.


Bilal mengulas senyumnya, lalu mengecup kening Hani. Kemudian Bilal memutar posisi tangan Hani ke arahnya, lalu mengecup punggung tangan Hani tanpa melapas pandangannya dari wajah Hani, sambil tangannya meraih pinggang Hani, merapatkan tubuh mereka.


Bilal melepas tautan tangan mereka, kemudian tangan Bilal, membelai mesra wajah Hani yang terlihat cantik dengan make up tipis. Refleks Hani memejamkan menikmati tangan Bilal yang membelainya dengan lembut. Tangan Bilal terasa dingin, sepertinya suaminya itu baru memegang air.


"Kamu cantik Hani !" puji Bilal, suaranya terdengar sengau, dan jakunya terluhat naik turun, menikmati wajah cantik Hani.


"Miliki aku Bilal !, berikan aku surgamu !" ucap Hani masih memejamkan matanya.


"Tentu sayang !, kamu milikku malam ini dan seterusnya. Surgaku adalah hakmu, begitu juga denganku !" balas Bilal, cempol tangannya mengelus lembut sudut bibir Hani.


"Buka matamu sayang !, lihat aku !" ucap Bilal.


Perlahan Hani langsung membuka kelopak matanya. Bilal langsung mengangkat tubuh Hani, menggendongnya ke arah kasur. Bilal mendudukkan tubuhnya di pingging kasur, membiarkan Hani duduk di atas pangkuannya. Bilal pun menukar posisi duduk Hani dengan kaki kanan dan kiri Hani melingkar di pinggangnya.


Bilal mendekatkan wajahnya ke telinga Hani, menuntun Hani untuk membaca doa bersama. Kemudian mejauhkan wajahnya dari telinga Hani. Bilal memandang wajah Hani yang sudah memerah salah tingkah dengan tersenyum. Kemudian Bilal mengecup kening Hani dengan hikmat dan cukup lama. Ciuman itu pun perlahan terus turun ke bawah mengikuti irama bernada cinta yang mereka ciptakan sendiri. Sehingga berhasil membuat mereka mabuk kepayang dan kehilangan kewarasan di bawah kain selimut yang menutupi tubuh mereka.


Malam panjang itu pun terjadi, sungguh sangat sayang jika di lewatkan. Sepasang suami istri itu pun memilih untuk merengguh surga Dunia mereka malam itu. Mereka tak ingin menyia nyiakan malam itu, karna sungguh terlalu indah.


Setelah menjatuhkan tubuhnya di samping Hani. Bilal mengusap lembut perut Hani, berharap usaha dan doa mereka, segera membuahkan hasil. Tuhan menunbuhkan buah cinta mereka, dari percampuran nutfah mereka.


Kemudian Bilal menarik Hani ke dalam pelukannya, menaroh kepala Hani di atas lengannya, dan mencium kening Hani." Trimakasih sayang !" ucap Bilal setelah melepas pelukannya.


Hani tidak menjawab, ia masih sibuk mengatur pernapasannya yang belum stabil setelah percintaan dasyat mereka.


Setelah rasa lelah mereka hilang, Bilal membawa Hani ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah lelah merengguh surga Dunia, kini mereka berusaha merengguh surga akhirat mereka, semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada mereka. Amin..!


.


.


#Lama gak up , othor lagi sakit. Heheheh !


#Ramaikan novel baru othor yuk !