Brother, I Love You

Brother, I Love You
256. Jangan rusak kebahagiaan ini



Setelah menghabiskan waktu naik odong odong sepanjang dua putaran keliling perumahan. Jhonatan dan bocah Agam kembali masuk ke dalam rumah. Wajah Agam kembali sumiringah, dengan dua bungkus cilok di tangannya. Agam akan memberikan sebungkus cilok itu untuk Mamanya, biar Mamanya gak marah marah lagi sama mereka.


Sampai di kamar, di sana Sabina sedang menonton tv. Sabina menoleh ke arah Jhonatan dan Agam yang baru masuk.


"Mama, Agam beliin cilok buat Mama" ucap Agam.


Jhonatan pun menurunkan anak itu dari gendongannya. Agam langsung berlari ke arah Sabina.


"Maafin Agam sama Papa ya Ma." Bocah itu menatap Sabina teduh.


Tak tega melihat anaknya bersedih, Sabina mengangkat Agam ke atas pangkuannya, lalu mengecup pipinya.


"Mama juga minta maaf" balasnya tersenyum.


"Mama gak marah lagi sama Agam, sama Papa?." Agam melebarkan penglihatannya ke wajah Sabina.


"Tapi Agam harus dengar kata Mama. Agam, kalau mau masuk kamar Mama sama Papa, ketok pintu dulu" nasehat Sabina pelan dan lembut.


Agam mengangguk anggukkan kepalanya." Iya Ma" patunya polos. Besok pasti di ulangi lagi.


Jhonatan mendudukkan tubuhnya di samping Sabina. Mengulurkan tangannya mengelus perut istrinya itu.


"Jangan sering marah marah, tidak bagus untuk kesehatan anak kita" ucap Jhonatan lembut.


Sabina menoleh sebentar, ingat! tanpa senyum.


Jhonatan menghela napasnya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, karna mendengar panggilan Shalat dari masjid terdekat.


Sudah enam tahun menikah, Jhonatan masih sering tidak memahami istrinya itu. Jarang senyum, bicara seperlunya. Kalau marah mulutnya pedas dan galak. Kalau lagi baik, suka cium tiba tiba. Suka suka dia aja.


.


.


Selesai makan malam, Jhonatan beranjak duluan dari tempat duduknya. Jhonatan menyuruh baby sister untuk mengajak Agam bermain di ruang keluarga. Kemudian menyuruh Sabina cepat menyusulnya ke dalam kamar. Ada yang perlu mereka bicarakan.


"Sayang, aku tunggu di kamar" ujar Jhonatan.


Sabina hanya menoleh sebentar tanpa menjawab.


Sampai di dalan kamar, Jhonatan melangkahkan kakinya ke arah teras balkon. Meletakkan kedua tangannya di atas pagar, memandang lurus ke depan. Hatinya sakit, dadanya sesak mengingat perkataan Sabina yang meremehkannya tadi sore.


Bukan kali itu saja Sabina mengatakan itu, sudah sering semenjak mereka menikah. Namun Jhonatan mencoba untuk tetap bersabar.


Bukan Jhonatan tidak berusaha memperbaiki perekonomiannya. Diam diam Jhonatan juga membuka sebuah usaha. Namun membuka usaha itu tidak semudah membalik telapak tangan. Dan juga untuk sukses itu tidak cukup berusaha satu hari, dua hari.


"Ada apa?"


Jhonatan tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke arah Sabina yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sabina" Jhonatan menarik napasnya dan menghembuskannya kasar sebelum mengatakan isi hatinya." Aku sadar dengan kekuranganku, sadar dengan kemiskinanku, sadar kalau aku ini menumpang hidup di keluargamu. Aku gak punya harta apa apa selain tubuh ini" ucap Jhonatan menatap nanar ke wajah Sabina yang terdiam." Jika aku tak berarti bagimu. Tapi tolong hargai aku sedikit saja. Tolong jangan menginjak injak harga diriku" pinta Jhonatan.


"Memang kenyataannya seperti itu. Seharusnya kamu berusaha bukan malah tersinggung. Aku juga malu harus minta minta terus sama saudara saudaraku. Tapi aku harus melakukannya, karna kamu tidak mampu memenuhinya. Di antara kami enam bersaudara, aku yang paling miskin. Padahal aku anak perempuan satu satunya. Kalau kamu tidak sanggup, setidaknya kamu jangan melarangku untuk bekerja!" cerca Sabina marah.


Jhonatan terdiam dan menggeleng gelengkan kepalanya. Ya! memang dia melarang Sabina untuk bekerja, karna tak ingin istrinya itu kecapean dan anak mereka kurang kasih sayang orang tua karna sering di tinggal.


Dan juga meski gaji Jhonatan tidak setinggi pendapatan saudara saudara Sabina. Tapi Jhonatan rasa gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bahkan menurut Jhonatan hidup mereka termasuk mewah.


Mungkin karna Jhonatan berasal dari keluarga sederhana. Kehidupan dengan gaji di atas sepuluh juta, itu sudah mewah. Berbeda dengan Sabina yang lahir dari keluarga kaya. Bahkan uang sepuluh juta, itu uang jajannya sebulan saat SMA.


"Nafkahmu yang mana yang tidak kupenuhi Istriku?. Kamu tidak pernah kubiarkan kelaparan, atau tidak berpakaian. Dan untuk tempat tinggal, kamu yang meminta kita tetap tinggal di sini. Karna kamu tidak mau kita tinggal di kontrakan kecil" tanya Jhonatan.


Sabina diam, maksudnya dia ingin kehidupan yang lebih. Kehidupan seperti yang di berikan orang tua dan saudara saudaranya. Bisa mengoleksi banyam barang barang mewah.


"Atau kamu menyesal dan bosan dengan pernikahan kita" ujar Jhonatan." Atau kamu malu punya suami miskin sepertiku" tambahnya.


"Aku bosan dengan kehidupan yang kamu berikan" lirih Sabina.


"Lalu mau kamu apa? cerai!" geram Jhonatan, tak bisa menahan air matanya lagi.


Mempertahankan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Rasa jenuh dan bosan di antara keduanya pasti ada. Tapi tujuan menikah adalah berkomitment untuk mencintai pasangan untuk selamanya, bukan untuk sementara.


"Aku ingin kamu untuk tidak menghalangiku untuk berkarir. Kecuali kamu sudah mampu memberikan segalanya untukku" jawab Sabina lantas meninggalkan Jhonatan, masuk ke dalam kamar.


"Oke! kalau memang itu maumu" pasrah Jhonatan.


Jhonatan baru mulai membuka usahanya, tidak bisakah istrinya itu bersabar sedikit. Menikmati hidup mulai dari titik nol. Ya, tapi memang begitulah berumah tangga. Banyak cobaan dan ujiannya. Jika tidak di uji dengan orang ke tiga. Bisa saja di uji lewat kemiskinan, tidak punya keturunan, mertua dan ipar yang jahat, suami yang tidak bertanggung jawab, kasar dan main pukul. Ada juga di uji dengan istri yang penuntut dan sebagainya.


Jhonatan mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di balkon. Menyalakan sebatang rok*k lalu mengisapnya. Jhonatan butuh menenangkan pikirannya sebelum bergabung dengan istrinya di atas tempat tidur.


Setelah pikirannya tenang, baru Jhonatan masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Sabina sudah tidur. Jhonatan pun melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, untuk sikat gigi, cuci kaki dan tangan.


"Maaf, karna aku belum bisa membahagiakanmu" ucap Jhonatan pelan, lalu mengecup lama kening Sabina." Nama kamu yang slalu ku selipkan dalam doaku Sabina. Sampai doa itu terkabul, kamu menjadi milikku. Aku mencintaimu di dalam diamku. Karna aku tak punya keberanian mendekatimu. Kamu kebahagiaanku Sabina, ku mohon jangan rusak kebahagiaan ini" lirih Jhonatan, mengecup kembali kening Sabina penuh perasaan.


Sabina, gadis yang di sukainya dalam diam, kini menjadi istrinya.


**


Kilas balik


Di SMA HARAPAN


"Ayo! yang cowok sebelah kiri ya!. Yang cewek sebelah kanan!" seru ketua osis memegang toa di tangannya.


"Maaf Kak, aku terlambat"


Ketua osis itu langsung menoleh ke arah murid baru yang berdiri di sampingnya.


"Nama kamu siapa?" tanya si ketua osis memandangi wajah cantik di sampingnya.


"Sabina Adel Aryana Alfarizqi" jawab siswi itu lantang tanpa senyum.


Ketua osis itu terdiam sejenak, dan langsung mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu.


"Ehem! silahkan berdiri di barisan sana" suruhnya menunjuk barisan sebelah kanan.


"Jhonatan Radeya" Sabina tersenyum kecil setelah membaca papan nama ketua osis itu. Melangkahkan kakinya tanpa melihat jalan. Tiba tiba...


"Aaa...!!!" Sabina menjerit kencang saat merasakan tubuhnya terjengkak ke belakang. Tapi untung saja si ketua osis itu sigap menangkapnya dari belakang.


"Huhuhuuu!!!!"


Mendengar gemuruh suara bersorak, Sabina menjadi malu. Sabina membuka matanya sebelah lalu berbisik pada Jhonatan.


"Kak Jho gendong aku dari sini, Aku akan pura pura pingsan, aku malu."


plank!


Sabina pun melemaskan tubuhnya hingga Jhonatan terpaksa harus mengangkatnya.


Wajahnya sangat cantik, meski terlihat datar, dia juga sangat lucu, batin Jhonatan memandangi wajah Sabina yang berada di gendongannya.


Duk!


"Aw!" keluh Sabina langsung mengusap usap kepalanya yang terbentur kusen pintu ruang UKS.


"Maaf maaf, gak sengaja." Jhonatan menurunkan Sabina dari gendongannya.


Sabina mengerucutkan bibirnya, menatap tajam ke arah Jhonatan.


"Aku gak sengaja, lagian kamu lucu. Padahal kamu tadi gak kenapa kenapa, malah minta di gendong dan pura pura pingsan" ucap Jhonatan.


"Aku malas harus mengikuti MOS, tapi Bang Orion memaksaku" cetusnya.


"Kenapa?, bukankah seharusnya kamu mencontohkan yang baik. Ini sekolah kalian" heran Jhonatan.


"Aku gak pengen sekolah di sini" jawab Sabina.


"Lalu kamu mau sekolah dimana?" tanya Jhonatan lagi.


"Yang penting jangan di sini."


"Hei ngapain kalian berdua duaan di sini?."


Jhonatan dan Sabina refleks menoleh ke arah pintu ruang UKS.


"Ketua osis, sana kau. Kau tak pantas mendekati putri dari pemilik sekolah ini. Kau tidak ada apa apanya. Untuk mendapatkan cewek tidak cukup modal ganteng." Cowok yang sok berkuasa itu mendorong dada Jhonatan kasar, sampai keluar dari ruang UKS." Mending kamu urus saja angkot butut kalian" ujarnya menghina Jhonatan.


"Dan kau juga tak pantas mendekatiku" ujar Sabina mendorong cowok songong itu lalu melongos pergi berjalan dengan angkuh melewati Jhonatan.


Melihat Sabina melangkah semakin menjauh, Jhontana hanya bisa memandanginya dari belakang.


Seharusnya kamu sadar Jho, kamu tak pantas untuk mendekatinya, batin Jhonatan yang sempat berniat ingin mendekati Sabina. Putri satu satunya pemilik sekolah itu.


Sabina, putri dari keluarga ternama, memiliki saudara saudara pengusaha sukses di usia muda.


Dan Jhonatan, hanya anak dari seorang Ayah penarik angkot. Yang beruntung bisa masuk, sekolah di SMA bergengsi lewat jalur bea siswa.


* Bersambung