Brother, I Love You

Brother, I Love You
169. Bidadari dan Sirin



Sirin turun dari taxi online yang di tumpanginya pulang dari kampus, melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah mertuanya yang menjadi tempat tinggalnya beberapa bulan ini.


Tin tin !


Sirin membalik badannya dengan kening mengerut, melihat berwarna pink memasuki gerbang rumah yang belum sempat security tutup.


Sirin mendekati mobil itu, yang ternyata di dalamnya seorang siswi SMA HARAPAN.


"Kak ! Arsen nya ada ?, kenapa dia gak masuk sekolah dari hari sabtu itu ya kak ?" tanya gadis yang berwajah imut dan cantik itu.


"Kamu anak kelas satu ?" tanya balik Sirin, karna Sirin tidak mengenal wajah gadis itu.


"Iya kak !" jawab gadis SMA itu lagi.


"Namamu siapa ?" tanya Sirin lagi.


"Andreena Kak !" jawab gadis itu." Kakak siapanya Arsen ya ?" tanyanya.


"Kamu sendiri siapanya Arsen ?" tanya balik Sirin.


"Pacarnya !" jawab gadis itu.


Langsung saja dada Sirin naik turun menahan emosi. dan menatap gadis yang masih di dalam mobilnya itu dengan tajam.


"Arsennya lagi gak ada, dia lagi di rawat di rumah neneknya !" ucap Sirin, langsung memutar tubuhnya berjalan ke arah pintu rumah.


"Rumah neneknya dimana kak ?" seru gadis bernama Andreena itu.


"Di Benua Antartika !" jawab Sirin, tanpa melihat ke arah gadis itu, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan rahang mengeras, dan kedua tangannya mengepal.


Bisa bisanya kamu berlagak cemburu jika cowok lain menegurku !. Dan kamu sendiri ternyata pacaran dengan cewek lain Arsen !. Batin Sirin, membuka pintu kamarnya dan Arsenio dengan kasar, sampai Arsen yang belajar di meja belajar di kamar mereka terlonjak kaget.


"Sirin !" tegur Arsenio.


Sirin diam saja, wajahnya nampak merah, matanya berkaca kaca. Sirin melangkahkan kakinya ke arah lemari, mengambil kopernya dari sampingnya dan membukanya. Kemudian membuka lemari bajunya, mengeluarkan isinya memasukkannya ke dalam koper.


"Sirin ! kamu mau kenapa ?, Kanapa baju bajunya dimasukin ke koper ?. Kamu mau kemana sayang ?." Arsenio berdiri dari kursi belajarnya, melangkahkan kakinya mendekati Sirin.


"Aku mau pulang ke rumah Papa !" jawab Sirin.


"Kenapa ?" Arsenio mengerutkan keningnya bingung.


"Tanya aja dirimu sendiri !" ketus Sirin, wajahnya nampak merah padam, menahan emosi dan air matanya supaya tidak tumpah.


Arsenio semakin mengerutkan keningnya, tidak paham maksud Sirin.


Setelah Sirin selesai memasukkan baju bajunya ke dalam koper, Sirin pun mengancingnya, dan lansung menarik kopernya ke arah pintu.


"Sayang ! kamu mau kemana ?." Arsenio langsung menangkap tubuh Sirin dari belakang.


"Jangan menyentuhku Arsen !!! kamu sangat menjijikkan !!!" teriak Sirin tiba tiba, membuat Arsenio terlonjak dan melepas pelukannya.


Arsenio terdiam, memandang wajah Sirin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Tidak bisakah kamu mengatakan dimana letak kesalahanku ?" tanya Arsenio datar.


"Kamu selingkuh Arsen !, kamu pacaran 'kan ! dengan cewek bernama Andreena ?" jawab Sirin dengan rahang mengeras.


Arsenio menaikkan satu alisnya, heran, siapa yang mengatakan kepada Sirin dia berpacaran dengan siswi kelas satu yang sering mengganggunya itu.


"Gak Sirin ! kamu salah paham sayang !" ucap Arsenio lembut. Meraih tangan Sirin, yang langsung di tepis Sirin.


"Cewek itu datang mencarimu ke sini !, dan dia sendiri yang mengakui kalau kalian pacaran."


Arsenio menghela napasnya, kenapa pula cewek itu mengaku ngaku pacarnya. Kapan jadiannya pun Arsenio tidak tau.


"Sudah ada kamu ! buat apa aku pacaran lagi ?" Tanya Arsenio. Kembali meraih tangan Sirin lagi, namun Sirin masih menepisnya.


"Sekarang aku 'kan sudah jelek !, kamu tidak berselera lagi. Sekarang tubuhku gendut, perutku besar, kulitku terlihat kusam dan ada bercak bercak hitam di bagian tertentu tubuhku. Bisa saja kamu jijik!, buktinya akhir akhir ini kamu jarang menyentuhku !. Kalau bukan aku yang meminta, kamu gak mau melayaniku" tangis Sirin.


"Aku gak pacaran sama dia atau cewek manapun sayang !" ucap Arsenio lemah, tubuhnya terasa lemah karna tak berselera makan beberapa hari ini.


"Kamu pasti bohong Arsen !, buktinya cewek itu datang mencarimu ke sini !." sanggah Sirin, sambil tangannya menghapus air matanya.


"Arsen !"


Arsenio dan Sirin langsung menoleh ke arah pintu kamar mereka yang tidak di tutup. Arsenio mengerutkan keningnya, siapa yang yang mengijinkan cewek itu masuk ke rumah mereka.


"Kamu masih ingin berbohong Arsen ?" tanya Sirin. Arsenio tidak menjawab, malah Arsenio mendekati cewek yang berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk ?" tanya Arsenio kepada adik kelasnya yang sering mengganggunya itu.


"Kakak itu !" jawabnya menunjuk Sirin dengan dagunya.


"Ngapain kamu datang kesini ?" tanya Arsenio lagi.


"Aku dengar kamu sakit, makanya aku datang menjengukmu" jawab cewek itu lagi." Nih ! aku bawain buah untukmu !" ucapnya lagi, memberikan kantong plastik yang berisi bermacam macam buah kepada Arsenio.


Arsenio menerima kantong plastik itu." Kamu sudah melihatku 'kan ?. Sana pulang!, yang bukan muhrim di larang berdua duaan. Aku mau istrirahat, trimakasih buahnya" ucap Arsenio, lali menutup pintu kamarnya dan Sirin rapat rapat, mengucinya dari dalam.


"Kamu keterlaluan Arsen !, benarankan kamu pacaran sama cewek itu !" tangis Sirin terisak sambil tangannya menghapus air matanya yang sudah membanjiri wajahnya.


"Nggak sayang !" Arsenio menarik Sirin, membawanya ke dalam pelukannya.


"Trus kenapa kamu menerima buah yang di berikannya ?" tanya Sirin di selah selah tangisnya dengan bibir di tekuk ke bawah.


"Biar dia cepat pergi, dia itu orangnya kekeh !. Dia selalu menggangguku di sekolah, tapi aku selalu menolaknya !" jawab Arsenio, tangannya sambil mengusap usap rambut Sirin dari belakang.


"Pasti kamu naksir cewek itu 'kan ?" tanya Sirin lagi.


"Badutku ini lebih cantik dari wanita manapun !, aku hanya naksir sama badut cantikku ini !" gombal Arsenio tersenyum.


Arsenio melepas pelukannya menjauhkan sedikit tubuhnya supaya bisa melihat wajah Sirin. Arsenio melap air mata yang membasahi pipi gendut istrinya itu dengan jari tangannya, lalu mengecupnya.


"Cewek itu cantik, bisa aja kamu naksir sama dia" jawab Sirin.


Arsenio kembali menarik Sirin ke dalam pelukannya."Tapi aku sukanya sama kamu, gadis yang lembut, dewasa dan pintar" jawab Arsenio.


Sirin memang gadis yang lembut dan kalem sebelum mereka menikah. Hanya saja akhir akhir ini entah kenapa sifat Sirin sedikit berobah, menjadi cengeng, lebih banyak bicara dan emosian.


"Bahkan jika aku di tawarkan bidadari pun, aku tetap memilih kamu Sirin !" gombal Arsenio. Entah dari mana kata kata itu ia dapatkan.


Meleleh lah hati Sirin.


Arsenio pun mengagakat tubuh Sirin, membawanya ke arah sofa. Arsenio mendudukkan tubuhnya membiarkan Sirin di atas pangkuannya.


"Aku sudah kangen sama kalian !" ucap Arsenio, mengusap usap perut besar Sirin.


"Kalau kamu berani selingkuh, aku akan pergi ke rumah kakek sama anak kita !" ancam Sirin.


"Iya sayang ! aku gak akan selingkuh !" ucap Arsenio.


Sementara itu di luar kamar, Andreena memberenggut kesal. Lagi lagi Arsenio menolaknya.


Tunggu tunggu tunggu ! kakak yang tadi siapanya Arsen ya ?. Kok tadi dia menangis ?, dan kenapa dia berada di kamar Arsen berdua duaan. Gak mungkin 'kan kakaknya Arsen ?, setau aku Arsen tidak punya saudara perempuan. Dan kakak yang tadi hamil lagi, apa..?. Batin Andreena


"Nak ! kamu ngapain di depan kamarnya Arsen ?"


Andreena langsung menoleh ke arah orang yang menegurnya.


"Selamat siang tante ?, aku Andreena pacarnya bang Arsen !" ucap Andreena tersenyum, mengulurkan tangannya menyalam wanita paru baya yang masih kelihatan cantik dan awet muda itu.


"Yakin ! kamu pacarnya Arsen ?" Mama Bunga menahan senyumnya, melihat kepercayaan diri siswi di sekolah miliknya itu.


"Iya Tante !" jawab Andreena tersenyum hambar.


"Oh ! Sepertinya Arsen nya lagi istrirahat. Nak Andreena pulang aja dulu ya !"ucap Mama Bunga lembut, mengulas senyum keibuan di bibirnya.


"Iya Tante !, tadi udah sempat ketemu sebentar kok !" balas Andreena tersenyum.


"Tante ! cewek hamil yang bersama Arsen di kamarnya siapa ya tante ?" tanya Andreena lagi, dengan rasa penasarannya.


Mama Bunga mengulas senyumnya lagi." Arsen gak kasih tau ! kalau dia sudah menikah ?. Dan wanita hamil itu istrinya ?".


"Hah !" kaget Andreena," menikah ?, i..istri ?." Andreena mengarahkan sebentar pandangannya ke arah pintu kamar Arsen, kemudian kembali ke arah mama Bunga.


"Iya nak !, jadi Tante minta tolong, jangan mengganggu Arsen lagi ya !. Kasihan istrinya yabg lagi hamil" ucap Mama Bunga.


"Kalau begitu Andreena permisi tante !" pamit Andreena, langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Mama Bunga, keluar dari kediaman Alfarizqi itu.


Mama Bunga menghela napasnya, kemudian menggeleng gelengkan kepalanya, lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan untuknya.


.


.


Di tempat lain


Elang memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran pusat perbelanjaan. Setelah mematikan mesinnya Elang membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Di ikuti Naysila turun dari pintu sebelahnya.


Elang melangkahkan kakinya mendekati Naysila, merangkul pinggang Naysila dari belakang, menuntun Naysila berjalan masuk ke dalam mall.


"Makan dulu atau belanja dulu ?"tanya Elang kepada istrinya.


"Makan ! lapar !" jawab Naysila.


Elang melepas tangannya dari pinggang Naysila, berpindah ke leher Naysila. Kemudian menariknya masuk ke salah satu tempat makan di dalam mall.


"Elang !" tegur Naysila, karna Elang seperti mencekik lehernya dari belakang.


Elang pun tertawa cekikikan," makanya jangan pendek !" ucapnya.


"Apa hubungannya dengan leherku yang hampir kamu cekik ?" berenggut Naysila, Elang sering kali mengejeknya. Si pendek lah, si kulit coklat lah, si bibir dower lah.


"Langkahmu selalu ketinggalan, dengan terpaksa aku harus menarikmu !" jawab Elang, mengulum senyumnya.


"Kenapa harus menarik leherku ?" Naysila mengerucutkan bibirnya.


"Ayo duduk ! jangan cemberut !." Elang melepas tangannya dari leher belakang Naysila, menarik satu kursi untuk Naysila. Kemudian menarik kursi di sampingnya untuknya.


Selesai mereka makan siang, mereka pun meninggalkan tempat itu. Mereka pun masuk ke kios penjual pakaian anak anak hingga dewasa.


Sampai di dalam kios, Nayla berjalan ke arah baju baju bayi perempuan. Nanti malam Elang akan membawanya ke rumah orang tua Elang. Jadi Naysila ingin membeli hadiah untuk adik iparnya yang masih bayi. Dan Naysila juga tidak lupa untuk membeli hadiah untuk keponakan Elang yang baru lahir.


"Apa baju baju ini gak kebesaran Nay ?, Sabin, dan Syauqi belum berumur satu bulan" tanya Elang melihat Naysila mengambil baju baju bayi untuk usia lima bulan ke atas.


"Pertumbuhan bayi itu sangat cepat, Nanti kalau beli yang kecil, hanya sebentar saja bisa di pakainya. Dan juga pasti Mama sudah banyak membeli baju yang berukuran kecil untuk Sabin" jawab Naysila.


"Gitu ya ?" ucap Elang.


"Hm..!" jawab Naysila, sambil tangannya memilah milah baju bayi perempuan yang lucu lucu. Jadi gak sabar Naysila ingin segera hamil dan punya anak, pasti seru.


Selesai memilih milih bajunya, Naysila juga membeli topi, dan sepatu untu baby Sabin dan Syauqi. Naysila juga membeli baju untuk mama mertuanya, dan tidak lupa kain shalat untuk Papa mertua.


Sedangkan untuk adik iparnya Bilal, Naysila membeli mainan mobil remot berukuran besar. Dan untuk Darren, Naysila membeli asesoris untuk laki laki anak remaja. Dan untuk para istri ipar iparnya, Naysila dompet untuk ke pesta. Dan setelah semua hadiah hadiah itu di dapat, tidak lupa, mereka juga membeli oleh oleh makanan untuk keluarga besar itu.


"Nay ! kamu tidak perlu memborong ini semua untuk mengambil hati keluargaku !" ucap Elang, melihat belanjaan Naysila untuk keluarganya sangat banyak, troli yang di dorongnya sudah tidak muat.


"Ini gak seberapa Elang !, dibanding kalung yang di berikan mama untukku" balas Naysila." Lagian yang bayar pake duitmu !" ucapnya lagi tersenyum.


"Tapi tidak usah harus sampai membeli hadiah untuk istri istri saudara saudaraku !" ketus Elang. Meski hanya sebuah dompet, tapi harganya cukup mahal.


"Jangan pelit pelit !, nanti kuburannya sempit !. Ayo pulang !, nanti kita kemalaman sampainya !" ajak Naysila.


Elang pun mengacak acak ujung kepala Naysila, kemudian mendorong troli belanja di depannya ke luar dari dalam mall.