
Waktu terus berlalu, Kini anak yang berada di perut Sirin siap untuk melihat Dunia. Dari tadi Sirin sudah merasakan kontraksi kontraksi kecil. Dan Arsen sudah tidak mengalami ngidam lagi. Pagi ini Sirin dan Arsen jalan jalan pagi keliling keliling komplek, mengikuti anjuran Dokter Ghissam abangnya Sirin.
"Lapar !" ujar Sirin.
"Pengen makan apa ?" tanya Arsen, dari rumah tadi tidak pernah melepas tautan tangannya dari Sirin.
"Sepertinya bubur ayam enak !" ucap Sirin, melihat penjual bubur ayam keliling berhenti di depan salah satu rumah warga.
"Tunggu di sini, biar aku aja yang belikan" ucap Arsenio. Menuntun Sirin duduk di sebuah bangkai kayu besar yang terbentang di pinggir jalan.
"Banyakin ayam sama krupuknya" ucap Sirin, napasnya terlihat ngosngosan karna sudah lelah berjalan dan sesekali menahan rasa sakit ketika kontraksi datang. Keringatnya pun nampak bercucuran.
"Iya sayang !" balas Arsenio, dan langsung melangkahkan kakinya menyebrang jalan ke arah penjual bubur ayam.
Sirin yang di tinggal Orion, terus mengelus elus perutnya, merasakan anaknya bergerak gerak. Sepertinya anaknya lagi mencari jalan lahirnya.
Tak lama kemudian Arsenio sudah datang membawa dua kotak bubur ayam di tangannya.
"Makan disini apa di rumah ?" tanya Arsenio.
"Di sini aja !, disini udaranya segar" jawab Sirin.
Arsenio pun mendudukkan tubuhnya di samping Sirin. Kemudian membuka satu kotak bubur ayam, menyendoknya lalu menyuapkannya ke mulut Sirin. Sirin pun langsung membuka mulutnya, menerima suapan dari Arsenio.
"Anak kita tidak punya bin atau binti nantinya !" Sirin menajamkan pandangannya ke wajah Arsenio dengan mata berkaca kaca.
"Maaf !" ucap Arsenio, membalas tatapan Sirin dengan pandangan meneduh." Seharusnya aku tidak membuatnya di luar nikah !" ucap Arsenio lagi.
"Untung dia anak laki laki !. Jika dia perempuan, nanti dia akan malu saat menikah. Karna orang akan tau kalau dia anak di luar nikah, karna saat di nikahkan, dia tidak bisa memakai binti ayah kandungnya sendiri" ucap Sirin lagi.
"Itu salahku ! anak kita tidak bersalah. Jika nanti ada yang menghinanya, akulah yang akan mengaku bersalah" balas Arsenio.
"Ya sudahlah ! bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Setelah dia lahir, tugas kita adalah mendidiknya supaya menjadi anak yang baik, patuh dengan ajaran agama. Menjaganya supaya jauh dari maksiat. Jangan sampai anak kita meniru perbuatan kita." Sirin menghela napas pasrah penuh penyesalan.
Arsenio mengusap usap perut Sirin dengan sayang." Maafin Ayah ya nak !, Ayah mengaku salah !. Ayah janji akan menyayangimu nak !. Ayah janji akan menjadi Ayah yang baik untukmu !" ucap Arsenio, kemudian mencium perut Sirin.
Sirin mengangkat satu tangannya mengusap kepala Arsenio, ia bisa merasakan penyesalan Arsenio yang mendalam. Tapi bagaimana lagi, semua tidak bisa di kembalikan ke awal lagi, karna waktu tidak bisa di undur ke belakang.
"Kita sama sama memperbaiki diri ya !" ucap Sirin lembut.
Arsenio mengangkat wajahnya dari perut Sirin. Wajah Arsenio basah, karna air mata yang mengalir dari sudut matanya. Sirin pun menghapus air mata itu dengan jari tangannya. Arsenio sangat jarang menangis, jika ia sampai mengeluarkan air matanya, berarti apa yang di rasakannya sudah sampai menyentuh hati kecilnya.
"Maaf !" lirih Arsenio.
Sirin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum." Aku sudah memaafkannya tanpa kamu harus minta maaf. Aku juga bersalah, seharusnya aku menjaga diriku" balas Sirin.
"Tetap saja aku yang memulainya !" ucap Arsenio lagi, menyandarkan kepalanya ke dada Sirin.
"Arsen ! kita di pinggir jalan, gak enak ikh ! di lihat orang !" tegur Sirin. Menjauhkan kepala Arsenio dari dadanya." Dan juga ! semenjak kapan kamu manja ?" ucap Sirin lagi.
"Sesekali aku juga pengen di manja kamu tau !. Tapi kamu gak pernah melakukannya !" jawab Arsenio.
"Bagaimana aku mau manjain kamu ?, orangnya sering ngelayapan !" ujar Sirin.
"Kan sesekali sayang !" balas Arsenio.
"Nanti kamu gak boleh ngelayapan lagi. Karna kita nanti harus gantian jagaian adek bayinya malam hari. Kata Queen bayi itu kalau malam tidak tidur" ucap Sirin.
"Iya ! nanti aku begadangnya sama dedek bayi nya aja. Kami nanti akan main gema, atau latihan tinju" balas Arsenio tersenyum, sambil menerawang ke hari esok.
"Issshh !" ringis Sirin saat kontraksi datang lagi. Tangannya mengelua elus perutnya.
"Apa tambah sakit ?" tanya Arsenio, Sirin menganggukkan kepalanya.
Arsenio pun mengusap perut Sirin, kemudian berbicara." Sayang Ayah !, jangan lama lama ya bikin mamanya sakit. Kasihan Mamanya !, cepat lahir ya nak !, Ayah sudah gak sabar melihatmu !, pasti kamu sangat ganteng !" ucap Arsenio kepada anaknya yang akan segera lahir.
"Iya Ayah brondong !" balas Sirin berbicara menirukan suara anak kecil.
"Beda usia kita cuma satu Tahun aja !" dengus Arsenio.
"iya ! bisa bisanya kamu suka sama aku !" ucap Sirin.
"Kamu juga !" balas Arsenio
"Iya padahal dari dulu kamu adalah anak yang nakal, suka brantem. Sampai anak tetangga kalian dulu gak ada yang mau berteman sama kamu !" ucap Sirin, mengenang masa anak anak mereka.
"Dan kamu dulu tukang nangis !, dikit dikit nangis !" balas Arsenio.
"Aku gak suka di gangguin orang !" ucap Sirin lagi mengerucutkan bibirnya. Karna waktu mereka masih balita, Arsenio sangat suka menganggunya, dan membuatnya menangis.
Cup !
"Ayo cepat habiskan buburnya !" ucap Arsenio setelah mengecup singkat bibir Sirin.
"Arsen !, kita lagi di pinggir jalan, gak boleh cium cium di depan umum. Itu gak sopan namanya !" gemas Sirin, tangannya mencubit perut Arsenio.
"Sakit sayang !" keluh Arsenio, mengusap usap perutnya bekas cubitan Sirin. Untung saja bubur di tangannya tidak jatuh atau tumpah.
"Makanya jangan sembarangan !"cetus Sirin.
.
.
"Ada apa denganmu Elang ?, kenapa semenjak kita tinggal di sini, kamu tidak pernah menyentuhku lagi ?" tanya Naysila dengan suara agak tinggi.
Naysila sudah sering kali berusaha menggoda Elang. Tapi sepertinya Elang sudah tidak tertaril dengannya lagi. Naysila menagis menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia merasa sudah tak memiliki harga diri lagi, karna Elang terus menolaknya.
"Kenapa setelah kamu mengambil kesucianku ?, kamu mengabaikanku !" isak tangis Naysila.
"Kenapa kamu tidak bertanya sama diri kamu sendiri Nay ?. Kenapa kamu tidak koreksi diri ?. Ada apa denganmu ?, kenapa suamimu yang sangat mencintaimu bisa mengabaikanmu ?" tanya balik Elang menatap Naysila dengan tatapan kecewa.
Naysila terdiam mengerutkan keningnya sambil berpikir keras.
Elang menyinggungkan senyumnya ke samping, melihat Naysila yang pura pura bodoh.
Malam saat Elang membawa Naysila ke rumah itu. Setelah Naysila ketiduran, Elang keluar dari kamar, menemui Papa Arya, yang sebelummya mengirin pesan ke HPnya.
Elang pun menemui Papa Arya di ruang kerjanya. Papa Arya menceritakan semuanya dan menunjukkan bukti kepada Elang atas penipuan yang dilakukan Naysila dan kakeknya. Dan Elang pun meminta akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tak ingin melibatkan Papanya, karna menurut Elang ia masih sanggup mengatasinya. Dan juga, Elang ingin memastikan kalau Naysila tidak hamil anaknya, baru Elang akan bertindak, dan mungkin akan membawa Naysila dan kakeknya ke jalur hukum, dan yang pasti akan menceraikan Naysila.
"Kamu hanya ingin mengincar hartaku 'kan Nay ?" tanya Elang.
"Aku gak ngerti maksudmu Elang !" ucap Naysila.
"Cih ! kamu jujur aja Nay ! aku sudah tau apa yang kamu sembunyikan."
Naysila terdiam, menundukkan kepalanya. Apa Elang sudah mengrtahui tentang aku dan kakek ?. Berarti seluruh anggota keluarga ini sudah mengetahuinya. Dan dari mana mereka tau ?. Apa yang harus kulakukan sekarang ?, Batin Naysila.
Aku harus menemui kakek !, batinnya lagi.
"Apa yang kamu pikirkan Nay ?" Elang menyunggingkan senyumnya ke samping.
Naysila mendongakkan kepalanya ke arah Elang yang duduk di pinggir tempat tidur, dengan kedua tangan menyangga tubuhnya dari belakang.
"A..aku gak mikirin apa apa Elang !" gugub Naysila.
Elang berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah Naysila yang terduduk di lantai. Elang menurunkan tubuhnya, berjongkok di depan Naysila. kemudian mengulurkan tangannya meraih kalung Naysila dan menariknya kuat sampai kalung itu lepas.
"Berapa harga kalung ini kamu beli ?" tanya Elang, mempergatikan kalung emas putih berbandul berlian yang di berikan mama Bunga. Sudah berganti dengan kalung berbahan perak, dan berliannya sudah di ganti dengan imitasi.
Habislah hidupku !, ini semua gara gara kakek !. Elang dan keluarganya sudah mengetahuinya, Aaakkh !, Jerit Naysila dalam hati.
"Kamu tau Nay ?, seandainya kamu tulus mencintaiku !, lebih dari kalung itu bisa kamu dapatkan dariku dan keluargaku. Bahkan nyawaku pun aku berikan sama kamu Nay !." Elang berbicara dengan merapatkan giginya, dan tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya.
"Apa salah orang tuaku Nay ?, kenapa kamu dan kekekmu menyakitiku dan keluargaku ?. Kamu itu ular berkepala dua Nay !, kamu penipu Nay !, kamu menipuku dengan sikap polos dan manismu Nay !" ucap Elang lagi menekan nada setiap katanya.
"Ma..afkan aku Elang !, a..aku juga tak ingin menipumu Elang !. Tapi kakek Ali selalu mengancam ingin menjualku kepada pria hidung belang jika aku tidak menuruti perintahnya. Aku akan di jadikannya wanita penghibur" ucap Naysila dengan berurai air mata.
"Apa kamu pikir aku percaya Nay ?."
Naysila menghapus air matanya, kemudian berusaha meraih tangan Elang, yang langsung di tepis Elang.
"Bantu aku bebas dari kakek Elang !" Naysila memandang Elang dengan tatapan memohon.
"Aku gak percaya sama kamu lagi Nay !" lirih Elang.
"Aku tau Elang !, setelah itu aku akan berterimakasih sama kamu, dan pergi jauh, tidak akan pernah menampakkan diri di depanmu dan keluarga ini lagi, aku janji Elang !" mohon Naysila.
"Kamu jangan mencoba untuk menipuku lagi Nay !."
Naysila menggeleng gelengkan kepalanya," aku janji Elang !."
Naysila menghapus air matanya yang masih terus mengalir dari sudut matanya." Jika kakek masih bisa menemukanku, dia pasti akan menjualku setelah aku keluar dari rumah ini" ucap Naysila.
"Aku gak percaya Nay !, tidak perlu kamu mengeluarkan air mata buayamu !. Dan aku juga sudah tidak peduli dengan kamu Nay !" ujar Elang.
"Aku mohon Elang !"
"Gak Nay !"
"Kamu hanya perlu memberi aku sedikit ongkos Elang !. Aku akan pergi jauh !. Semua uang yang kamu berikan selama ini, sudah habis di minta kakek !."
"Gak Nay !, aku gak percaya lagi sama kamu Nay !. Aku gak peduli lagi dengan hidupmu Nay. Hati ini sudah terlalu sakit Nay !."
"Aku mohon Elang !, aku hanya butuh sedikit uang untuk ongkos saja !" isak tangis Naysila.
"Kamu pikir aku akan membiarkanmu hidup bebas Nay ?. Gak Nay !, penjara sudah menantimu dan kakekmu !" ujar Elang.
Naysila semakin menangis terisak, betapa malang nasibnya. Tak ada yang membantunya, tidak ada tempatnya bersandar diri. Kakek yang merawatnya dari kecil sudah tiada. Kini tinggal kakeknya yang kep*rat. Yang selalu menyakitinya dan kekeknya sejak dulu.
Ya ! kakek yang menikahkannya dengan Elang itu adalah kakek Naysila dari Ayahnya. Atas perintah kakek Ali. Jika mereka tidak mengikuti permainan kakek Ali. Kekek Ali akan mengancam, menjual Naysila, menjadikannya wanita penghibur. Kakek Naysila yang sudah sangat tua renta dan tidak bertenaga, terpaksa mengikuti permainan kakek Ali si kep*rat. Karna tak ingin cucunya dijadikan santapan pria hidung belang. Dan setelah beberapa hari Naysila dan Elang menikah, kakek dari Ayah Naysila meninggal.
.
.