
Pagi hari, Queen sudah sibuk bersiap siap untuk pergi ke kampus. Setelah melahirkan, hari ini adalah hari pertama Queen kembali sekolah.
Ceklek !
Queen yang sedang memoles wajahnya dengan bedak di depan kaca cermin menoleh ke arah pintu.
"Ayo Momy ! Syauqi sudah siap !" ucap Orion menirukan suara anak kecil, dengan membawa baby Syauqi di gendongannya.
"Baju ganti, popok sama dodot Syauqi udah di siapin bang Orion ?" tanya Queen, kemudian memoleskan lipstik berwarna merah ke bibirnya.
"Sudah Momy !" jawab Orion lagi.
"Momy hari ini sekolah ?, Momy pulangnya gak lama 'kan ?" Tiba tiba Boy datang, yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Gak sayang !" jawab Queen masih merapi rapikan riasan wajahnya.
"Jam berapa pulagnya ?" tanya Boy lagi.
"Siang !" jawab Queen bediri dari kursi meja riasnya.
"Nanti teman Boy di sini siapa ?"tanya Boy lagi, karna sudah pasti dia lebih dulu pulag sekolah dari pada Momy Queen.
"Nanto Boy pulangnya ke rumah kakek dulu, nanti setelah Momy pulang sekolah, baru Momy jemput" jawab Queen.
Queen menurunkan tubuhnya di depan Boy, kemudian merapikan rambut Boy yang belum di sisir.
"Momy pulang sekolahnya benaran siang 'kan ?" Boy menajamkan pandangannya ke wajah Queen.
Queen menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, kemudian mencubit pipi cabi Boy dengan gemas." Iya anak Momy !" ucapnya.
"Sakit Momy !" keluh Boy mengusap usap pipinya yang memerah.
"Ayo ! biar Daddy antar kalian kesekolah !" ajak Orion, kemudian melangakahkan kakinya keluar dari kamar membawa Syauqi.
Cup !
Queen pun mengecup pipi Boy di bekas cubitannya. Kemudian mengangkat Boy ke gendongannya, membawanya keluar kamar.
"Love you Momy !" ucap Boy kemudian mencium pipi Queen.
"Love you too baby Boy nya Momy !" balas Queen, mengecup pipi Boy lagi.
"Kita gak di cium Momy ya Syauqi, merajuk yuk !" ucap Orion kepada bayi yang baru berusia sebulan lebih itu.Berjalan di depan Queen menurini anak tangga ke lantai bawah.
"Love You Daddy !" ucap Queen dan Boy bersamaan, dan sama sama mengecup pipi kiri kana Orion.
Kemudian berpindah mencium baby Syauqi setelah mereka sampai di lantai bawah.
"Love You juga kesayangan kesayangan Daddy !" balas Orion, mencium satu persatu ketiga kesayangannya itu.
Sampai di halaman rumah, Orion pun memberikan baby Syauqi kepada Queen, karna dia harus menyetir. Setelah itu membuka pintu kursi penumpang depan, dan menuntun Queen untuk duduk. Setelah menutup pintunya kembali, Orion baru menyusul masuk dan langsung melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah mereka. Sedangkan Boy, ia sudah duduk manis bersama Bibi Sum di kursi penumpang belakang.
Sampai di kampus, Orion pun memarkirkan mobilnya di parkiran khusus. Setelah mematikan mesin mobilnya, Orion langsung membuka pintu di sampingnya dan langsung turun, di ikuti Queen dari pintu sebelahnya. Queen langsung saja menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya. Mereka memperhatikan penampilan Queen dari atas hingga ke bawah.
"Itu cewek idola di kampus ini ?" tanya seorang mahasiswi berparas cantik kepada orang yang berdiri di sampingnya.
"Iya ! dia juga istri dari Pak Orion, direktur kampus ini" jawab cewek itu.
Mahasiswi baru itu memperhatikan Queen dan Orion dengan memicingkan matanya, seperti menelisik. Tidak di pungkirinya, pasangan suami istri itu tampak serasi, yang satu cantik dan yang satunya ganteng. Tapi tetap saja, mahasiswi baru itu merasa lebih cantik dirinya dan juga lebih keren dari segi penampilan.
Aku rasa dia bukan saingan beratku !, batinnya.
Maha sisiwi baru itu pun melanglahkan kakinya ke arak kelasnya dengan anggun dan tampak angkuh.
"Cih ! sok kecakepan !" cibir cewek yang berdiri di samping mahasiswi baru itu, tidak menyuakai cewek itu.
"Sayang ! kamu langsung aja ke kelas, biarkan Bi Sumi yang akan menjaga Syauqi dulu. Nanti setelah pekerjaan abang di luar sudah selesai, abang akan langsung kembali ke sini" ujar Orion, saat akan berjalan ke arah ruangannya.
Queen menganggukkan kepalanya, kemudian menyalam tangan Orion membawanya ke keningnya. Kemudian Queen menganbil baby Syauqi dari gendongan Orion, setelah menciumi seluruh wajahnya, Queen langsung mengembalikannya kepada Orion.
"Momy belajar dulu ya sayang Momy !" ucap Queen, mengecup kembali pipi Syauqi.
"Iya Momy ! yang rajin ya belajarnya ! supaya pintar !" balas Orion.
"Queen udah pintar, malah sudah bisa buat anak !" sungut Queen, rasanya ia masih malas untuk belajar.
"Ingat janji Queen ! harus lulus sampai S1" ujar Orion, memutar tubuhnya langsung masuk ke ruangannya bersama baby Syauqi.
"Bahkan aku sudah lulus S3" sungut Queen lagi, namun Orion sudah tidak mendengarnya.
"S3 itu apa Bu ?" tanya Bi Sumi tertenyum.
"SD, SMP, SMA !" jawab Queen dengan bibir mengerucut.
"Bibi kirain es teler, es doger, es cendol !" balas Bi Sumi, lalu tertawa cekikikan.
"Bi ! Queen ke kelas dulu, tolong jagain Syauqi dulu ya !. Nanti kalau Syauqinya nyari Momy nya. Datang aja ke kelas Queen. Kelas Queen ada di pintu ke tiga dari pojokan sana" ujar Queen.
"Iya Bu Frinces !" patuh Bibi Sum
Queen pun melangkahkan kakinya ke arah kelasnya.
"Hai Queen ! kamu kembali kuliah lagi ?" Queen langsung menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke arah orang yang menyapanya dari belakang.
"Wah ! setelah perutmu kempes, kecantikanmu bertambah lima kali lipat" gombal cowok satu jurusan dengan Queen itu.
plakk !
"Aw !" keluh cowok itu, tiba tiba ada yang memukul kepalanya dengan buku.
"Hehehehe...! Queen 'kan benaran cantik Pak !, yang buta pun tau itu !" cengir cowok yang selalu mengganggu Queen dari awal kuliah.
"Sana pergi !, jangan coba coba merayu istriku lagi, kalau kamu gak pengen kelasmu kupindahin ke atas genteng !" gemas Orion lagi, kepada mahasiswi tengil itu.
Lalu cowok seusiaan istrinya itu pun langsung pergi.
Sepertinya aku salah menyuruh Queen masuk kuliah lagi. Batin Orion
Orion lupa, kalau istrinya itu banyak disukai laki laki lain, banyak yang menggodanya dan merayunya meski waktu hamil dulu.
"Queen ! kamu masuk kuliah lagi ?"
Queen mengalihkan pandangannya lagi ke arah suara cewek yang menyapanya.
"Nimas !"ucap Queen tersenyum ke arah Nimas dan Calixto yang baru datang." Ke kelas yuk !" ajak Queen, melepas tangan Nimas dari genggaman Calixto, menariknya pergi. Kebetulan Queen dan Nimas satu kelas.
"Apa iya ! mahasiswi baru itu satu kelas dengan kita ?" tanya Queen.
"Hm ! dia malah duduk di kursi yang biasa kamu duduki" jawab Nimas.
"Siapa yang mengijinkannya duduk di kursiku ?" bibir Queen sudah mengerucut, dan lobang hidungnya pun sudah kembang kempes.
"Pak Orion !" jawab Nimas.
"Kok bisa ?" heran Queen, Nimas mengedikkan bahunya.
"Pak Orion yang mengantar cewek itu ke dalam kelas" adu Nimas lagi.
Queen langsung menghentikan langkahnya, mengalihkan pandangannya ke wajah Nimas." Kenapa baru bilang sekarang ?."
"Aku pikir kamu gak kuliah lagi !. Kan gak ada salahnya kalau cewek itu duduk dibangkumu !" jawab Nimas.
"Awas kamu bang Orion!" geram Queen, dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Di ikuti Nimas dari belakang.
Yang benar saja, Mahasiswi baru berparas cantik itu berada di kursi yang biasa ia duduki. Melihat itu, Queen menatap sinis cewek yang menatapnya juga. Kemudian Queen mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong di dalam kelas itu.
Ehem !
cewek idola baru kampus itu berdehem,"Aku pikir istri Pak Orion itu ramah dan sopan, Ternyata aku salah" cibirnya.
Queen langsung memutar tubuhnya ke arah cewek idola baru kampus itu." Apa aku harus mengajakmu berkenalan ? gitu !" tanya Queen, menatap cewek itu tak suka.
"Harus !" jawab cewek itu.
"Gak penting !" cetus Queen.
"Kok bisa ya Pak Orion suka sama cewek jutek kanya kamu ?" ujar cewek itu lagi.
"Jangan coba coba cari masalah denganku !" balas Queen.
"Kenapa ?" tanya cewek baru itu santai.
"Kalau tak ingin kulit kepalamu itu lepas dari kepalamu !" gemas Queen, karna cewek itu sangat menyebalkan.
"Oh !" balas cewek itu santai.
Queen merapatkan gigi giginya, rasanya benar benar ingin menarik rambut mahasiswi baru itu. Tapi untung dosen yang akan mengajar di kelas itu sudah datang, kalau tidak mungkin Queen benar benar melakukannya.
Sepertinya cewek itu adalah bibit pelakor !, batin Queen, mengarahkan pandangannya ke arah Dosen yang mulai menjelaskan pelajaran.
.
.
"Ibu Naysila !" panggil seorang polisi wanita.
Naysila langsung berdiri dari tempat duduknya, menghampiri polisi itu.
"Ibu bebas sekarang, suami ibu sudah mencabut tuntutannya !" ujar Polisi itu, sambil membuka pintu lapas Naysila.
Naysila diam termenung memandangi wajah polisi itu. Berpikir, kalau dia keluar dari penjara itu, kemana ia akan pergi dan dimana ia akan tinggal, sedangkan ia tidak memiliki uang sepersen pun. Dan tidak mungkin dia kembali ke rumah yang di beli Elang untuknya.
"Ayo Bu ! silahkan keluar !" ucap Polisi itu lagi.
Namun Naysila masih mematung termenung di tempatnya.
"Bu !" panggil Polisi itu lagi, mengibaskan tangannya di depan wajah Naysila.
" Ah ! iya Bu !" Naysila tersadar dari lamunannya, dan langsung melangkahkan kakinya mengikuti langakah polisi itu.
Kemana aku akan pergi ?, dimana aku akan tinggal ?, Batin Naysila bingung. Berjalan sambil tangannya mengelus elus perutnya yang masih rata. Tanpa sadar Naysila meneteskan air matanya. Sungguh berat cobaan hidup yang ia jalani dan yang akan di jalaninya. Mampukah dia bertahan hidup dengan bayi di dalam perutnya ?.
Kakek !, batin Naysila mengingat mendiang kakeknya yang selama ini membesarkannya.
Kakek ! seandainya kita tidak termakan bujuk rayu kakek Ali. Mungkin Nay tidak sampai berada di tempat ini. Batin Naysila
Sekarang Nay gak tau harus pergi kemana kek. Mau pulang ke kampung pun, Nay gak punya uang sama sekali. Semuanya diambil kakek Ali. Kek ! Nay harus bagaimana ?. Kenapa kakek meninggalkan Nay ?. Nay gak punya teman sekarang, gak punya siapa siapa lagi kek !. Elang dan keluarganya sudah tidak percaya lagi kepada Nay !. Batin Naysila lagi
Naysila pun melangkahkan kakinya keluar dari gerbang kantor polisi itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Naysila bingung ke arah mana ia harus melangkahkan kakinya.
Aku harus mencari pekerjaan, setelah ongkosku cukup, baru aku akan pulang kampung. Batin Naysila lagi, menghapus air matanya, kemudian melangkahkan kakinya ke trotoar jalan.
.
.