
Sampai di kantin, Hani mendatangi setipa stand penjual makanan secara bergiril. Hani mencari makanan yang mana yang kira kira ia inginkan.
"Mau beli apa Bu ?" tanya seorang Ibu penjual batagor.
Hani mengulas senyumnya ke arah Ibu tukang kantin itu. Sepertinya batagornya enak, batin Hani.
"Batagornya satu Bu !" jawab Hani.
Ibu tukang kantin itu membalas senyum Hani ramah. Tentu si Ibu itu senang karna ada yang membeli jualannya. Dan Ibu tukang kantin itu pun langsung menyiapkan pesanan Hani.
"Ibu guru baru di sini?" tanya si Ibu itu. Tentu tukang kantin itu tidak mengenal siapa Hani. Karna pas saat resepsi pernikahan Hani dan Bilal, si Ibu tukang kantin itu tidak di undang.
"Iya Bu!" jawab Hani.
Setelah selesai menyiapkan batagor untuk Hani, si penjual itu pun memberikannya kepada Hani.
"Jus mangga satu ya Bu!" ucap Hani lagi, saat memberikan uang kepada si Ibu tukang kantin itu.
Si Ibu itu menganggukkan kepalanya dan langsung menyiapkan jus magga untuk Hani. Sedangkan Hani, ia berjalan ke salah satu meja kosong di katin itu.
Kemudian Hani melangkahkan kakinya ke arah stand penjual bakso, untuk memesan semangkok bakso. Tidak sampai di situ, Hani juga memesan mie goreng dan gorengan di kantin itu.
Tanpa Hani ketahui, Bilal memantaunya dari cctv kantin itu.
"Ya ampun ! anak itu!, yang benar aja dia mau memakan makanan sebanyak itu!" gumam Bilal.
Bilal terus memperhatikan Hani yang menikmati makanan di meja. Meski terlihat banyak makanan di depannya, namun Hani nampak makan dengan santai.
Tak berselang lama, terlihat Hani melambaikan tangannya ke arah setiap penjual makanan di kantin itu. Hani menyuruh para tukang kantin itu membungkus semua makanan yang sudah di cicipinya, karna Hani tidak bisa menghabiskan semua makanan itu.
Bilal menghela napas melihatnya, Bilal bisa menebak, pasti nanti Hani menyuruhnya memakan sisa makanan itu.
Seperti dugaan Bilal, tak lama kemudian Hani datang ke ruangannya membawa kantong plastik berisi beberapa kotak makanan.
"Assalamu alaikum Abang!" sapa Hani tersenyum.
"Walaikum salam sayang!" balas Bilal tanpa melihat ke arah Hani yang melangkah mendekatinya.
"Abang!" Hani meletakkan kantong plastik di tangannya di atas meja Bilal.
"Hm!" balas Bilal melihat Hani dari sudut matanya.
"Hani bawain makanan buat abang!" Hani mendekati Bilal, menghentikan gerakan tangan Bilal dari atas keyboard laptop dan mendudukkan tubuhnya di pangkuan Bilal.
"Ada apa? Hm..!" Bilal mengarahkan pandangannya ke wajah Hani yang bergelayut manja.
"Hani gak habis makanannya, jadi Hani bungkus buat Abang!" jawab Hani manja. Kemudian menyandarkan kepalanya di dada Bilal.
Bilal yang gemas melihat tingkah istrinya itu, pun menarik hidung Hani." Kenapa memesan banyak sayang? Hm..!."
"Sakit abang !" rengek Hani, mengusap usap hidungnya yang terasa sedikit sakit.
Cup cup cup cup...!
Hani tertawa tawa kecil saat Bilal menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Oh ! sayangku ! kenapa sih kamu selalu menggemaskan dan menyebalkan?, Hm..!" gemas Bilal, dan mengecup bibir Hani sekali lagi.
"Makanan di kantin semua terlihat enak, Hani jadi pengen mencicipinya" Hani melingkarkan tangannya memeluk tubuh Bilal.
"Baiklah! mana makanannya, biar abang makan" Tentu Bilal paham dengan istrinya yang lagi hamil itu. Dan tak masalah bagi Bilal jika harus memakan makanan sisa Hani, Bilal tak kan jijik memakannya.
Hani tersenyum dan mengecup kilas bibir Bilal. Kemudian Hani turun dari atas pangkuan Bilal untuk menyiapkan makanan yang di bawanya tadi untuk Bilal.
"Tapi Abang di suapi ya!" pinta Bilal kembali pokus ke layar laptopnya.
Hani mengangguk anggukkan kepalanya. Hani mendudukkan tubuhnya di atas meja Bilal, dengan posisi menghadap Bilal. Setelah membuka kotak makanannya, Hani pun menyuapi Bilal. Dan sesekali Hani menyuapkan makanan itu kembali ke mulutnya.
.
.
Siang hari, seperti keinginan Hani, Bilal pun membawa istrinya itu ikut ke perkebunan. Sampai di sana, mereka langsung di sambut mandor yang mengurus perkebunan ratu sejagat itu.
"Assalamu alaikum Pak Ustadz !" sapa mandor itu ramah.
"Walaikum salam Pak mandor!" balas Bilal tersenyum.
"Ayo silahkan duduk Pak Usatadz! Bu Ustadzah!" Pak Mandor itu mempersihkan Bilal dan Hani untuk duduk di bangku yang terbuat dari kayu di bawah pohon kelapa sawit.
"Trimakasih Pak!" balas Bilal.
Sedangkan Hani, ia hanya diam dan mengulas senyumnya saja. Setelah duduk, Hani memutar pandangannya ke sekitar perkebunan. Kelapa sawit di sana terlihat sangat banyak buahnya. Terlihat para pekerja sedang memanen buah kelapa sawit dan ada juga yang sedang membersihkan daunnya yang sudah tua.
"Bagaimana keadaan perkebunan Pak?" tanya Bilal.
"Sampai saat ini baik Pak!, begitu juga dengan para karyawan" jawab si Pak mandor tersenyum.
"Alhamdulillah!" ucap Bilal dan Hani bersamaan.
"Begini Pak!, istri saya memiliki sedikit rezeky untuk para karyawan. Kami minta tolong kepada Bapak untuk membagikannya kepada para seluruh pekerja di sini" ucap Bilal, mengatakan maksud kedatangannya.
Selain untuk melihat langsung kondisi perkebunan, Hani istrinya ingin berbagi rejeki kepada para pekerja di perkebunan itu. lebih tepatnya, membagikan hasil perusahaan peninggalan mantan suaminya kepada orang orang yang membutuhkan.
Pak mandor itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah mobil boxs yang berhenti di belakang mobil milik Bilal. Pak mandor itu pun mengulas senyumnya. "Baik Pak Ustadz dan Ustadzah!, semoga saya bisa amanah!" ucap Pak mandor.
"Saya percaya kepada Bapak!" Bilal tersenyum, tau kalau Pak mandor itu hanya bergurau.
"Silahkan di minum Pak Ustadz dan Ustadzah!" ucap seorang wanita paru baya meletakkan nampan berisi minuman dan sepiring goreng pisang di atas meja yang berada di depan mereka.
Wanita itu adalah istri dari Pak mandor yang tinggal di perumahan di sekitar perkebunan.
"Trimakasih Bu!, jadi merepotkan!" balas Hani berbasa basi. Padahal senang di suguhkan makanan. tangannya pun terulur mencomot pisang goreng dari atas piring dan langsung menyuapkannya ke mulutnya.
"Gak merepotkan Bu Ustadzah!" ucap istri dari Pak mandor itu tersenyum ramah.
Setelah menggigit satu gigitan gorengan di tangannya, Hani pun menyuapkannya ke mulut Bilal.
"Sayang!" tegur Bilal.Lagi lagi istrinya itu memberinya makanan sisa.
"Gak habis!" manja Hani, menatap Bilal dengan pandangan teduh.
Bilal menghela napas pasrah. Setiap melihat makanan, istrinya itu tidak bisa menahan diri untuk tidak memakannya, tapi tidak di makan sampai habis.
Terpaksa Bilal memakan goreng pisang yang sudah di gigit Hani, tidak tega melihat wajah teduh istrinya itu. Dan Bilal juga mengira kalau perubahan sikap Hani itu adalah bawaan bayi mereka.
Hani mengulas senyumnya, wajahnya nampak berubah senang melihat Bilal memakan sisa makanannya.
Melihat itu, tangan Bilal terulur mengusap kepala Hani dari belakang.
Pak mandor itu pun menganggukkan kepalanya, paham.
"Sudah berapa bulan?" tanya istri Pak mandor itu mendekati Hani dan mengelus perutnya.
"Baru empat minggu Bu!" jawab Hani ikut mengelus perutnya.
"Selamat ya Ustadz! ustadzah!" ucap istri Pak mandor itu lagi.
"Trimakasih Bu!" balas Hani dan Bilal bersamaan.
"Bu! siapkan makan siang untuk Pak Ustadz dan Bu Ustadzah !" suruh Pak mandor itu kepada istrinya.
"Gak usah Pak! Bu!, itu terlalu merepotkan. Kami baru makan tadi sebelum ke sini" tolak Bilal halus.
"Tidak merepotkan Pak Ustadz!" ucap Istri mandor itu.
"Benaran Bu! kami baru makan siang!" tolak Bilal sekali lagi.
"Abang! tapi Hani pengen makan!" manja Hani memeluk sebelah lengan Bilal.
"Tadi kita baru makan sayang!, masa pengen makan lagi?." Bikin malu aja istrinya itu!, dan juga pasti nanti Hani hanya menyicip saja, dan nanti dia yang di suruh menghabiskannya.
"Mungkin itu keinginan bayinya Pak Ustadz!" ucap istri mandor itu.
"Pengen makan!" manja Hani lagi.
Bilal menghela napasnya pasrah.
Dan lagi! Hani menyuruhnya menghabiskan makanan sisanya.Hani hanya memakan sedikit makanan di piringnya.
Oek!
Bilal langsung menutup mulutnya, dan berlari ke arah kamar mandi di rumah mandor itu untuk memuntahkan isi perutnya. Istrinya itu sungguh keterlaluan memaksanya menghabiskan sisa makanannya terus.
"Abang !" Hani berdiri dari kursinya, berlari menyusul Bilal ke kamar mandi. Hani pun memijat mijat leher belakang Bilal.
"Abang kenapa bisa muntah?, Abang sakit?" tanya Hani.
"Ampun sayang!, jangan menyuruhku menghabiskan sisa makananmu lagi. Abang sudah sangat kekenyangan, perut abang sudah gak muat sayang!" jawab Bilal setelah membasuh mulutnya.
"Maaf!" Hani meneduhkan pandangannya.
Entah?, Hani juga tidak tau kenapa dia ingin selalu makan. Namun baru memakan sedikit dia sudah tidak suka, dan pengen Bilal yang menghabiskannya.
"Gak apa apa sayang!" Bilal mengusap kepala Hani, tidak tega melihat wajah Hani yang merasa bersalah.
Bilal dan Hani pun keluar dari dalam kamar mandi, kembali ke meja makan. Di sana masih ada Pak mandor beserta istri menunggu mereka.
"Maaf!" ucap Bilal merasa bersalah. Pasti selera makan Pak Mandor dan istrinya hilang karna melihatnya muntah.
"Gak apa apa Pak Ustadz, itu biasa jika istri lagi hamil" balas si Pak mandor.
Usai makan siang di rumah Pak mandor itu, Bilal pun membawa Hani berjalan jalan di sekitar kebun.
"Abang ! photoin Hani !" manja Hani.
Bilal pun mengeluarkan handphon canggihnya dari dalam tas kecil yang bergelayut di dadanya. Kemudian Bilal mengarahkan kamera ponselnya ke arah Hani yang sudah bersiap di photo di depannya, dan mengambil beberapa photo Hani.
"Sudah?" tanya Bilal.
"Lagi !" rengek Hani.
Bilal menghela napasnya, melihat penyakit jaman now perempuan. Tidak mengenal usia, dimana pun tempatnya, setiap pergi kemana, jangan lupa photo.
"Sudah?" tanya Bilal lagi setelah mengambil banyak photo Hani.
Hani mengangguk sembari tersenyum, Hani pun mendekati Bilal, mengambil handphon dari tangan Bilal untuk melihat semua hasil photonya.
"Jangan di upload ke sosial media ya!" ucap Bilal, sambil tangannya melap keringat di kening Hani dengan sapu tangannya.
"Aku tau!" balas Hani.
"Ayo kita pulang!, sepertinya anak kita sudah lelah hari ini" ajak Bilal, tangannya mengelus kembut perut Hani.
"Anak kita suka jalan jalan" Hani tersenyum memandang Bilal.
"Uminya atau Anak kita? Hm..!" tangan Bilal masih tidak lepas mengelus perut Hani.
"Aku sangat jarang keluar, bahkan bisa di bilang, aku tidak pernah jalan jalan. Karna tidak ada yang membawaku kemana mana" ucap Hani.
Bilal semakin menajamkan pandangannya ke wajah Hani, kasihan melihat Hani yang hidup menjanda selama 20 Tahun tanpa ada seorang laki laki atau anak menemani hidupnya selama ini.
"Kalau ada waktu luang lagi, aku akan membawamu jalan jalan" Bilal meraih sebelah tangan Hani. Menyematkan jarinya di selah jari tangan Hani. Bilal mengangkat tangan Hani, mendekatkannya ke bibirnya, dan mengecup punggung tangan itu dengan penuh perasaan.
"Abang Janji ya!" Hani mengikuti langkah kaki Bilal. Mereka akan segera pulang, karna hari hampir sore.
"Iya sayang!"
.
.
"Sayang! bawa bajunya sedikit aja, kita oerginya hanya dua hari!" ucap Bilal kepada Hani yang sibuk menyusun pakaian mereka ke dalam koper.
Hari ini mereka berdua akan berangkat keluar kota untuk memenuhi undangan berdakwah. Sesuai permintaan para jamaah, Bilal akan membawa Hani bertemu dengan para jamaah.
"Aku gak mau dua hari" balas Hani. Hani berpikir, perjalanan dakwah kali ini, mereka bisa sekalian liburan.
"Kamu pengen kita jalan kemana?" Bilal memeluk tubuh Hani dari belakang, dan memberikan satu ciuman di pipi Hani.
"Kemana aja!" jawab Hani.
"Apa istriku ini pengen bulan madu? Hm..!" ciuman Bilal pun berpindah ke telinga Hani, dan turun ke lehernya. Dan kedua tangan Bilal juga sudah berpindah ke gunung kembar Hani yang semakin membesar.
"Sepertinya begitu!" jawab Hani tersenyum, senang di mesumi suaminya.
Melihat wajah Hani berbinar senang, Bilal pun semakin menjadi jadi menciumi leher dan pundak Hani. Yang berhasil membuat Hani refleks memejamkan matanya. Dan Bilal pun mengankat tubuh Hani membawanya ke atas tempat tidur.
.
.
.
.