Brother, I Love You

Brother, I Love You
187. Ingin kangen kangenan



"Ibu Naysila ! suami anda ingin menemui anda !" ujar seorang polisi membuka kunci pintu jeruji besi tempat Naysila di tahan.


Naysila diam tidak menjawab, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tahanannya, berjalan di depan polisi ke arah ruang menerima tamu.


Sampai di ruang besuk, Naysila menghentikan sebentar langkahnya dan menghela napasnya, melihat Elang menatapnya tajam duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Naysila melangkahkan kakinya kembali dan duduk di kursi bersebrangan meja dengan Elang.


"Ini aku membawa makanan untukmu !" Elang mendorong kantong plastik berisi kotak makanan ke arah Naysila.


Naysila pun mengarahkan pandangannya ke arah kantong plastik itu, dan bergantian ke arah Elang yang menatapnya dari tadi.


"Aku akan menjabut tuntutanku, tapi itu bukan berarti aku bisa menerimamu sebagai istriku lagi" ucap Elang kepada Naysila yang hanya diam saja dari tadi." Tapi itu juga bukan berarti kamu akan lepas dari pengawasanku !" ucap Elang lagi." Sampai anakku itu lahir !" tambahnya." Setelah itu pergilah !, dan jangan pernah lagi muncul di hadapanku dan anakku nanti !" timpal Elang lagi.


"Aku ibunya ! aku yang mengandungnya, dan akan melahirkannya bertaruh nyawa. Aku juga berhak atas anak ini Elang !" balas Naysila dengan suara bergetar menahan tangis.


"Aku tidak mau anakku nantinya akan menjadi penipu seperti ibunya !" ucap Elang lagi.


"Apa sedikit saja tidak ada sisa sisa cinta dihatimu lagi Elang ?. Biarkan anak ini bersamaku Elang !, aku janji akan merawatnya dengan baik !. Aku janji akan menjadi ibu yang baik untuknya !" tangis Naysila.


"Gak Nay !"tolak Elang.


"Aku mohon Elang !, aku tidak memiliki siapa siapa lagi selain anak ini !. Aku janji tidak akan mengganggumu dan keluargamu Elang !" mohon Naysila bersimbah air mata.


"Gak bisa Nay !, aku juga ingin anakku bersamaku !. Aku dan kekuargakulah keluarga aslinya. Jika kamu nanti menikah dengan pria lain. Anakku itu akan menjadi orang lain di keluarga suamimu !.Lagian aku yang menginginkan anak itu Nay !. Sedangkan kamu hanya terjebak dengan permainanmu sendiri !. Awalnya kamu tak berniat untuk mengandung anak itu Nay !" kekeh Elang. Mengesampingkan rasa kasihannya melihat Naysila menangis di depannya.


"Kamu lebih jahat dari penipu Elang !, kamu tega memisahkan anak dari ibunya !" ucap Naysila.


"Kamu yang membuat aku menjadi jahat Nay !. Kamu memperlakukanku layaknya laki laki bodoh. Bukan hanya aku yang kamu tipu Nay !, tapi kedua orang tua dan keluargaku Nay !." Elang menyipitkan matanya ke arah Naysila, dengan raut wajah sedih dan kecewa.


"Elang ! aku memang menipumu dalam hal materi. Tapi dalam hal cinta, aku tidak menipumu Elang !. Aku juga jatuh cinta sama kamu Elang !" ungkap Naysila.


"Cinta seperti apa Nay ?."


"Baiklah Elang !, aku akan memberikan anak ini sama kamu setelah lahir nanti. Aku tidak akan bisa membuktikan cintaku kepada orang yang sudah kehilangan kepercayaan sama aku !." Naysila berdiri dari kursinya sambil menghapus air matanya." Tak perlu kamu menarik tuntutanmu !, aku akan menjalani hukumanku di sini sesuai dengan keputusan hakim. Dan aku juga akan melahirkan anak ini di sini. Dan jangan pernah menemuiku lagi Elang !, karna itu sama saja kamu memberi harapan sama aku !."


Naysila langsung melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari ruangan besuk itu, kembali ke sel tahanannya.


Elang yang tinggal di ruangan itu, terdiam, hatinya bimbang dan ragu. Dia masih mencintai Naysila, tapi hatinya ragu untuk percaya lagi dengan Naysila.


.


.


Reyhan keluar dari bandara menyeret kopernya, berjalan ke arah Yumna yang menunggunya di depan pintu kedatangan bandara di kota B.


"Habib !" panggil Yumna berlari ke arah Reyhan, dan langsung memeluknya.


Ternyata bidadari surganya itu juga sangat merindukannya meski baru sehari semalam mereka berpisah.


Reyhan pun menjatuhkan satu kecupan di ujung kepala Yumna. Memeluk Yumna dengan satu tangannya.


"Katanya Habib sibuk !, ini kenapa bisa datang ?" tanya Yumna, melepas pelukannya, kemudian melangkahkan kakinya ke arah parkiran mobilnya.


"Kebetulan ada pengusaha menawarkan kerja sama sama Habib di sini !" jawab Reyhan, mengikuti langkah Yumna.


Setelah menikah ! sepertinya Tuhan melimpahkan banyak rezeki kepada mereka. Reyhan banjir job, ada beberapa pengusaha mengajukan kerja sama dengan perusahaan kecilnya. Reyhan merasa istrinya itu adalah pembawa rejeki untuknya.


"Berarti nanti kita bisa sering berkunjung ke sini dong !" ucap Yumna senang.


"Doakan saja semuanya lancar" balas Reyhan. Membuka pintu mobil untuk Yumna, dan menuntunnya masuk duduk di kursi kemudi.


"Yumna yang nyetirin ?" tanya Yumna.


"Siapa lagi ?, Habib gak hapal jalan di sini !" jawab Reyhan menutup pintu di samping Yumna.


Reyhan pun melangkahkan kakinya ke arah belakang mobil, memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Kemudian masuk menuyusul Yumna ke dalam mobil.


"Habib nanti kita singgah sebentar ke butiknya kak Zahra dulu ya !" ucap Yumna, perlahan melajukan kenderaannya keluar dari parkiran bandara.


"Iya Almiraku sayang !" Reyhan menyandarkan kepalanya ke lengan Yumna yang sedang menyetir.


"Kabar kucing kucingku gimana Habib ?, mereka sehat semuakan ?" tanya Yumna.


"Sehat sayang !" kesal Reyhan, istrinya itu malah menanyakan kabar kucingnya terlebih dahulu dari pada kabarnya.


Yumna mengulas senyumnya,"Nanti malam Yumna akan menyapa kabar si burung unta, sehat apa tidak !" ucapnya.


"Habib sakit !" manja Reyhan.


Yumna menoleh sebentar ke arah Reyhan, kemudian menyentuh kening Reyhan dengan punggung tangannya." Gak demam !" ucap Yumna.


"Sakit rindu !" balas Reyhan.


"Nanti Habib !" ucap Yumna lembut, memarkirkan kenderaannya di depan sebuah pertokoan.


"Habib ! mana kartu ajaibnya ?, Yumna pesan baju, Yumna lupa bawa dompet." Yumna menengadahkan tangannya ke depan Reyhan.


"Cium dulu baru di kasih !" Reyhan menunjuk bibirnya dengan telunjuk.


"Nanti nampak orang habib !" tolak Yumna halus.


Reyhan mengangkat kepalanya dari lengan Yumna, lalu menghela napasnya. Begini nih kalau dapat istri terlalu soleha, tidak bisa di ajak romantis romantisan di sembarang tempat, pikir Reyhan.


Reyhan pun mengeluarkan dompetnya dari tas kecil yang menyilang di dadanya, memberikannya kepada Yumna. Istrinya itu sudah di kasih uang jatah bulanan, masih saja memalaknya.


Mereka pun turun dari dalam mobil, masuk ke dalam butik busana muslim milik dari kakak sepupunya Zahra. Putri dari pemilik perusahaan tempat Pak Yudhi berkerja.


"Assalamu alaikum !" seru Yumna, setelah mendorong pintu kaca butik itu.


"Walaikum salam !" balas seorang karyawan butik.


"Kak Zahranya mana ?" tanya Yumna, menarik tangan Reyhan masuk.


"Di ruangannya !" jawab karyawan wanita itu.


Yumna pun menganggukkan kepalanya, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah tangga ruko itu, tanpa melepas genggaman tangannya dari Reyhan.


Sampai di lantai dua butik itu, Yumna pun mengetok pintu ruangan pemilik butik sambil mengucap salam.


"Walaikum salam ! silahkan masuk !" sahut dari dalam.


Yumna pun langsung membuka pintu di depannya.


"Kak Zahra ! apa baju pesananku sudah selesai ?" tanya Yumna, berjalan ke arah wanita berusia tiga puluh Tahunan itu.


Zahra memutar bola matanya malas, Yumna baru memesan bajunya semalam, bagaimana bisa siap dalam sehari ?.


"Sudah ! di dalam mimpimu !" ketus wanita berwajah blasteran cina itu.


Yumna langsung saja mengerucutkan bibirnya di balik cadarnya.


"Suaminya Yumna ya ?, silahkan duduk !" ucap Zahra ramah, kepada laki laki yang tidak lepas dari genggaman Yumna dari tadi.


"Trimakasih Kak !" balas Reyhan.


Yumna pun membawa Reyhan duduk di sofa ruangan itu.


"Sebentar ya ! biar aku ambil minum dulu. Aku yakin Yumna belum memberimu minum setelah tiba di sini" ujar Zahra Hayatul Qolby El mahfudz itu, keluar dari ruangannya.


Reyhan hanya tersenyum, ia belum begitu mengenal kerabat kerabat dari keluarga Yumna.


"Elang masih linglung dengan masalah yang menimpanya. Kita tidak bisa melakukan itu sekarang, sebelum Elang bisa mengambil keputusan untuk dirinya" balas Reyhan.


"Kasihan kak Zahra harus membesarkan kedua anaknya sendirian.Ya meski secara materi kak Zahra tidak akan kekurangan. Tapi tetap saja anak anaknya membutuhkan sosok Ayah. Dan Kak Zahra pasti butuh sosok suami untuk sandaran hatinya" ucap Yumna lagi.


"Emang suaminya kemana ?" tanya Reyhan penasaran.


" Mereka bercerai, karna suaminya selingkuh dan suka main perempuan !. Ops ! astagfirullah !." Yumna menutup mulutnya dengan telapak tangannya, karna keceplosan menceritakan keburukan orang lain.


Reyhan tersenyum, satu tangannya terangkat mengusap kepala Yumna." Apa itu termasuk gibah ?" tanya Reyhan.


Belum sempat Yumna menjawab, pintu ruangan itu pun terbuka. Zahra masuk membawa nampan berisi makanan dan tiga gelas minuman.


"Silahkan !" ucapnya ramah.


"Trimakasih Kak ! sudah merepotkan !" balas Reyhan. Memperhatikan wajah wanita berhijab itu seksama. Wajah wanita itu sangat cantik, terlihat anggun dan keibuan.


"Habib !" gemas Yumna


"Aw ! sakit Almira !" keluh Reyhan, karna mendapat cubitan di perutnya dari Yumna.


"Jaga pandangan Habib !" gemas Yumna lagi.


"Maaf sayang !" ucap Reyhan, masih mengusap usap perutnya yang di cubit Yumna.


"Kak Zahra ! pakai cadar !" suruh Yumna, dengan wajah cemberut, Yumna cemburu, Reyhan memperhatikan wajah kakak sepupu jauhnya itu.


"Kenapa ?, apa kamu tidak percaya dengan suamimu ?. Aku rasa suamimu tidak berhasrat memandangku. Dia hanya ingin mengenalku !, karna kamu ingin menjodohkanku dengan adiknya. Dan juga aku bukan wanita bercadar." balas Zahra.


"Aku kawatir wajah cantik kak Zahra menimbulkan dosa untuk suamiku !" Yumna berbicara dengan bibir mengerucut.


"Kamu itu posesif sekali !" Zahra mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di samping Yumna.


"Jadi kapan bajunya selesai ?" tanya Yumna.


"Tiga minggu!" jawab Zahra, mencomot sepotong kue dari atas piring lalu menyuapkannya ke mulutnya.


"Lama sekali !" ucap Yumna.


"Katamu acaranya sebulan lagi !" balas Zahra.


"Iya sih !" ucap Yumna


"Ya udah ! tunggu aja, nanti sebelum acara kalian, baju itu sudah saya kirim" ujar Zahra.


"Sayang ! kamu mesan baju untuk acara apa ?" tanya Reyhan.


Yumna mengarahkan pandangannya ke arah Reyhan yang duduk di sebelah kanannya." Buat acara resepsi pernikahan Arsen dan Sirin Habib !" jawab Yumna.


"Oh !" balas Reyhan.


"Ini kak ! aku bayar sekarang !" Yumna menyerahkan kartu ajaib milik Reyhan kepada Zahra.


Zahra pun menerima kartu ajaib itu, dan langsung berdiri membawanya ke meja kerjanya. Lalu menggeseknya di benda kecil milik salah satu bank swasta.


"Total semua harganya 22 juta ya !" ucap Zahra. Kembali lagi ke sofa, mengembalikan kartu ajaib itu bersama struk pembelian.


"Okeh !" balas Yumna tersenyum," Kak Zahra ! kalau begitu kami pulang dulu ya !. Suamiku pasti lelah, karna dari bandara kami langsung ke sini" pamit Yumna mengembalikan dompet Reyhan, setelah ia kuras isi kartunya.


"Mainlah ke rumah bersama suamimu !" tawar Zahra tersenyum ramah.


"Iya kak Zahra !, nanti kalau urusan suamiku sudah beres, kami pasti datang" balas Yumna, berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah pintu di ikuti Reyhan.


Dan mereka pun segera meninggalkan butik khusus busana muslim itu.


.


.


Kini Reyhan dan Yumna sudah tiba di rumah orang tua Yumna. Setelah Yumna memarkirkan kenderaannya, mereka pun keluar dari dalam mobil, dan sama sama berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamu alaikum Momy !!!" Seru Yumna kencang sambil membuka cadarnya.


"Walaikum salam !" balas Wanita paru baya yang masih nampak cantik, keluar dari kamarnya.


Reyhan langsung mendekati ibu Tika, lalu menyalamnya, menempelkan punggung tangan mertuanya itu ke keningnya.


"Kamu pasti lelah !, istirahatlah ke kamar Yumna"ucap Ibu Tika." Yumna ayo sayang ! bawa suamimu istirahat ke kamar" suruhnya lagi kepada putrinya.


"Iya Momy !" patuh Yumna menarik koper Reyhan ke arah tangga.


"Kalau begitu Reyhan ke kamar dulu ya Bu !" ucap Reyhan sedikit menundukkan kepalanya sembari tersenyum ramah.


Ibu Tika menganggukkan kepalanya pelan," iya nak !"ucapnya.


Reyhan pun melangkahkan kakinya mengikuti langkah Yumna menaiki anak tangga.


"Almira ! ini berat sayang ! kenapa kamu membawanya ?" Reyhan langsung mengambil koper dari tangan Yumna yang sudah sampai di pertengahan tangga.


"Gak berat kok Habib !" ucap Yumna.


"Habib gak mau, tanganmu kelelahan karna membawa koperku ini sayang !." Reyhan melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Yumna.


"Habib terlalu berlebihan !" ujar Yumna, membuka pintu kamarnya. Mereka berdua pun sama sama masuk ke dalam kamar itu.


"Kunci pintunya sayang ! aku ingin kangen kengenan sama kamu !"ucap Reyhan.


Yumna tersenyum dan menuruti perkataan Reyhan. Tentu juga Yumna senang di ajak kangen kengenan oleh suaminya.


Reyhan langsung mengangkat tubuh Yumna, setelah pintu kamar itu tertutup rapat. Reyhan membawa Yumna ke arah kasur dan membaringkannya dengan hati hati. Tanpa aba aba, Reyhan langsung mencium mesra bibir istrinya itu. Dan Yumna pun langsung membalasnya, melingkarkan kedua tangannya ke leher Reyhan.


Setelah puas berciuman, Reyhan pun melepas pagutannya, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Yumna. Reyhan memeluk tubuh Yumna, dan mencium kening Yumna dengan sayang.


"Habib kangen sama kamu sayang !" ucap Reyhan sambil tangannya membuka penutup kepala Yumna.


Yumna tersenyum, menatap Reyhan dengan mata berbinar.


"Kadang Habib gak percaya, kalau Habib sudah jatuh cinta sama kamu dalam waktu singkat" ucap Reyhan lagi."Habib sudah terpikat sama kamu. Habib tidak bisa tidur tanpa kamu !" tambah Reyhan lagi.


"Gom..bal !" gemas Yumna, menarik hidung Reyhan.


"Serius sayangku !" Reyhan menarik tangan Yumna dari hidungnya.


"Selama ini Habib sering pergi ke kota lain !. Membiarkan Yumna tidur sendirian !" Yumna berbicara dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya !, saat tidur tanpa kamu, Habib mana bisa tidur nyenyak" balas Reyhan.


Reyhan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Yumna. Memindahkan kepalanya ke atas dada Yumna, kemudian memejamkan matanya, karna sebenarnya matanya ngantuk.


"Bangunin Habib ya ! nanti jam dua Habib ada pertemuan dengan klien" gumam Reyhan sebelum terlelap.


Yumna tidak menjawab, ia pun mengusap usap kepalanya,supaya Reyhan cepat tertidur. Sepertinya suaminya itu kelelahan dan kurang istirahat. Tapi bukan lelah karna pekerjaan, melainkan sering memperpanjang zikir dan doanya di tengah malam.


Aku mencintaimu Habib !, tak peduli bagaimana keadaanmu !. Tak peduli jika kita tak memiliki anak. Karna bagiku menikah adalah ibadah. Batin Yumna.


Yumna menyadari, di antara mereka berdua, Reyhan lah yang paling merasa bersedih. Reyhan selalu merasa bersalah, selalu merasa penyebab kesediahannya karna belum juga hamil.