
Selesai makan malam di rumah Bilal, semua anggota keluarga besar Alfarizqi itu pun pulang ke rumah masing masing. Dan Kini di rumah itu tinggal Bilal, Hani dan Annisa.
Melihat malam sudah hampir larut,Bilal dan Hani pun masuk ke dalam kamar, di sana sudah ada Annisa tidur di atas tempat tidur.
"Ya ampun! anak ini!" Bilal melangkahkan kakinya ke arah ranjang untuk memperbaiki posisi tidur Annisa yang terlentang menguasai kasur.
"Sepertinya kita perlu membeli kasur tambahan di kamar ini"ucap Hani naik ke atas tempat tidur dan langsung membaringkan tubuhnya di sana.
"Sepertinya begitu, Annisa sama sepertiku dulu. Sudah besar masih sering tidur dengan orang tua" Bila menyusul naik ke atas kasur membaringkan tubuhnya di tengah tengah. Bilal melingkarkan satu tangannya ke pinggang Hani, dan memberi satu kecupan di pipi Hani.
"Abang sudah ngantuk?" tanya Hani melihat Bilal memejamkan mata.
Langsung Bilal membuka matanya," Ada apa sayang?, apa kamu menginginkan sesuatu?."
"Mau Abang!" Hani melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas.
Bilal mengangkat satu tangannya, lalu mencepit hidung Hani menggoyangnya ke kiri dan ke kanan.
"Mesum!" ucap Bilal.
"Sama abang!" balas Hani.
Bilal merekahkan senyumnya, kemudian menghujani wajah Hani dengan kecupan. Membuat Hani tertawa cekikikan.
"Ada Annisa, besok aja!" ucap Bilal
"Hani mau di pijat kakinya Abang Ustadz!, bukan mau di mesumin" jelas Hani, berhasil membuat Bilal salah menduga.
Bilal mendudukkan tubuhnya,"kakinya kenapa sayang." Bilal menyingkap gamis Hani, dan langsung memijat kakinya.
"Pergelangannya terasa agak ngilu, sepertinya karna makan ayam tadi, asam uratnya kambuh" jawab Hani.
"Seharusnya tadi kamu gak memakannya" ucap Bilal.
"Harusnya seperti itu, tapi aku tidak bisa menahan selera melihat Ayam goreng tadi."
Bilal pun terus memijat kaki Hani sampai Hani ketiduran. Bilal melepas tangannya dari kaki Hani, dan menarik selimut menutup tubuh Hani dan Annisa putrinya. Bilal turun dari atas tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi untuk berwudu melihat jam sudah masuk sepertiga malam pertama. Bilal akan melakukan shalat malam.
**
'Tante ! Om !'
Bunga dan Arya tersenyum ke arah Hani. Bunga dan Arya saling berpandangan kemudian sama sama melangkahkan kaki mereka mendekati Hani.
'Panggil Mama dan Papa !'ucapBunga lembut.
Hani mengulas senyumnya,'Mama ! Papa!' mata Hani berkaca kaca.
Lagi Bunga mengulas senyumnya, satu tangannya terangkat mengusap kepala Hani yang terbalut hijab. Kemudian Bunga mengecup kening menantu barunya itu.
'Mama punya hadiah untukmu!' ucap Bunga kemudian memberikan sebuah kain ke tangan Hani.
Hani pun mengarahkan netranya ke arah benda yang berada di atas telapak tangannya.
'Apa ini Ma?' tanya Hani melihat sebuah kain serban di tangannya.
'Hadiah sayang!' Bunga mengulas senyumnya lagi, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Arya yang juga tersenyum dari tadi.
'Papa juga punya hadiah untukmu!' ucap Arya kepada Hani.
Arya pun mengulurkan satu tangannya mengusap kepala Hani. Kemudian melambaikan tangannya ke arah seorang wanita tua yang menggendong seorang bayi. Arya mengambil bayi yang di bedong kain putih itu dari tangan wanita tua itu, dan memberikannya kepada Hani.
Hani semakin merekahkan senyumnya, menerima bayi mungil itu dari tangan Arya.' Anak siapa ini Pah?.'
'Cucu kami sayang!' jawab Arya sekali lagi mengusap kepala Hani yang terbalut hijab.
'Lucunya!' ucap Hani seperti melupakan Arya dan Bunga di depannya.
Arya dan Bunga saling berpandangan dengan senyum yang tak luntur dari bibir mereka dari tadi.
'Sayang! ayo kita pergi!' ajak Arya.
Bunga menganggukkan kepalanya, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Hani yang asyik bermain dengan bayi menggemaskan di gendongannya.
'Hani! Mama dan Papa pergi dulu. Jaga cucu Mama dan Papa ya!' ucap Bunga.
Hani langsung mengarahkan pandangannya ke arah Bunga dan Arya.' Mama sama Papa mau kemana?. Kenapa gak tinggal di sini aja bersama kami?.'
Bunga dan Arya saling berpandangan lagi, kemudian sama sama mengarahkan pandangan mereka ke arah Hani.
'Kami tidak kemana mana sayang!, kami masih di sini. Hanya saja Dunia kita sudah berbeda' jawab Bunga.
Hani terdiam dan menatap Bunga dan Arya bergantian.
**
"Mama !!! Papa !!!"
Sontak Bilal yang sedang berzikir menoleh ke arah ranjang, kaget mendengar teriakan Hani. Bilal pum berdiri dari atas sajadah berjalan mendekati Hani yang sudah mendudukkan tubuhnya di atas kasur.
"Ada apa Hani?, kenapa kamu sayang!, kamu mimpi apa?" Bilal mendudukkan tubuhnya menghadap Hani, dan menarik tissu dari atas meja nakas untuk melap keringat Hani yang bercucuran di keningnya.
Malah Hani mengarahkan pandangannya ke sekitar kasur, ke kiri dan ke kanan seperti mencari cari sesuatu.
"Mencari apa?" tanya Bilal heran.
"Bayinya mana?" tanya balik Hani.
Bilal mengerutkan keningnya, bingung.
"Tadi Papa memberiku bayi, kenapa gak ada?. Mana bayiku !" wajah Hani terlihat kawatir dan panik karna tidak menemukan bayinya.
Bilal semakin mengerutkan keningnya, semakin bingung. Bayi mereka belum lahir, kenapa Hani sibuk mencarinya di atas kasur?, pikir Bilal.
"Abang! mana bayiku bang?" tangis Hani." Bayiku mana?, Papa dan Mama menitipkannya padaku!. Mama dan Papa menyuruhku menjaganya!" isak Hani tiba tiba.
"Hei ! sayang !" Bilal menepuk nepuk pelan pipi Hani.
"Abang! Bayiku mana?" tangis Hani semakin pecah.
"Hei! bayi kita belum lahir sayang!. Masih berada di perutmu.Sepertinya tadi kamu sedang bermimpi , sadar sayang, istigfar!" ucap Bilal lembut. Bilal pun meraih air putih dari atas meja nakas dan memberi Hani minum.
"Ayo minum dulu!" Bilal mendekatkan gelas di tangannya ke bibor Hani.
Hani langsung meminumnya.
"Astagfirullohal 'azim!" ucap Hani setelah meminum air putih.
"Ayah! Umi kenapa?" tanya Annisa, terbangun semenjak mendengar teriakan Hani tadi.
"Gak apa apa sayang, Umi kamu hanya bermimpi" jawab Bilal.
Annisa yang masih mengantuk,kembali memejamkan matanya untuk tidur kembali.
"Kamu mimpi apa ? Hm..!" Bilal membantu Hani untuk berbaring kembali.Tangan Bilal terulur mengusap usap perut Hani yang masih rata.
"Mendiang Mama dan Papa mertua mendatangiku..."Hani pun menceritakan mimpinya kepada Bilal. Kedua orang tua Bilal yang menitipkan bayi kepadanya.
Bilal tersenyum mendengar cerita Hani, matanya berkaca kaca menahan rindu berat yang tidak terobati.
"Di sini ! sudah ada cucu mereka!" Bilal membungkukkan tubuhnya mencium perut Hani.
Ma ! Pa ! Bilal sangat merinduka kalian !' batin Bilal menangis dalam hati.
.
.
Besok harinya
Bilal membawa Hani berjiarah ke makan Papa Arya dan Mama Bunga. Semenjak menikah dengan Hani, Bilal belum pernah membawa Hani untuk berjiarah ke makam kedua orang tuanya karna kesibukannya berdakwah dan mengurus perkebunan, sekolah dan usaha yang di bangun Papa Arya.
Hari ini Bilal menyempatkan diri untuk membawa Hani berjiarah di celah celah kesibukannya.
Di samping pusara Papa Arya dan Mama Bunga. Bilal dan Hani sama sama memanjatkan doa, semoga sepasang kekasih itu di ampuni dosa dosanya, di lapangkan kuburnya dan di terima amal ibadahnya oleh Allah SWT. Dan tidak lupa Bilal sebagai peminpin doa, melantukan ayat ayat suci Alqur'an kepada kedua orang taunya.
"Papa adalah panutan di keluarga kami, Selalu mencontohkan yang baik kepada kami, terutama bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik. Papa mengajarkan kami untuk menjadi laki laki sejati dan bertanggung jawab. Menjadi laki laki setia kepada satu wanita" ucap Bilal setelah selesai berdoa.
Hani mengulas senyumnya," Tapi sayang, aku tidak sempat bertemu mereka" Hani menghela napas seperti kecawa.
Bilal mengulas senyumnya," Lebih baik seperti itu, aku kawatir kamu akan naksir dengan ketampanan Papaku."
"Tidak akan!, karna Abang lebih tampan dari laki laki manapun" sanggah Hani.
"Aku tau itu!"
Hani mengerucutkan bibirnya.
"Jangan mengodaku di sini, kita masih di depan pusara Papa dan Mama" ucap Bilal.
Hani pun berdiri dan langsung melongos pergi menjauhi Bilal.
"Hei ! wanita cantik! kenapa kamu merajuk!" Bilal mengembangkan senyumnya sampai menampakkan gigi giginya dan melangkahkan kakinya menyusul Hani ke arah parkiran mobil mereka.
Hani mengindahkannya, ia pun mengarahkan langkahnya ke arah gerobak penjual air minum yang berada di depan pagar pemakaman umum . Hani membeli dua botol air mineral, kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku dan langsung meneguk air minum kemasan itu perlahan lahan.
"Kenapa tidak menungguku ? Hm..!" tanya Bilal yang sudah berdiri di depan Hani.
"Aku haus!" jawab Hani
"Ayo aku antar pulang" ajak Bilal meraih sebelah tangan Hani, dan menariknya ke arah parkiran mobil mereka.
"Abang mau kemana?" tanya Hani mengikuti langkah Bilal.
"Ke sekolah, ke counter pusat dan ke kebun" jawab Bilal.
"Ikut !"rengek Hani saat mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang depan mobil Bilal.
"Gak! nanti kamu lelah!" tolak Bilal, lalu menyusul Hani masuk ke dalam mobil.
"Ikut !" rengek Hani lagi, manja. Hani menyandarkan kepalanya ke lengan Bilal.
"Gak !"
"Ikut!"
"Gak!"
"Ikut !"
"Gak!"
"Ikut!"
"Gak!"
Hani mendengus, ia pun menjauhkan tubuhnya dari lengan Bilal dan mengarahkan tatapannya ke arah jendela kaca di sampingnya. Bilal selalu menolaknya dari dulu, Hani menjadi kesal di buatnya.
Sedangkan Bilal mengulum senyumnya melihat Hani merajuk. Tanpa membuju Hani, Bilal memilih pokus untuk memperhatikan jalan di depannya.
Hani yang merasa di cuekin pun semakin bertambah kesal.
"Ustadz! berhenti di sini!" ketus Hani.
Sontak Bilal menoleh ke arah Hani sebentar, dan melihat ke arah luar kaca mobil di samping Hani. Ada apa gerangan, kenapa istrinya itu minta di turunin di tengah jalan?.
"Berhenti Ustadz!" sergah Hani
Mata Hani berkaca kaca dan bibirnya nampak sedikit bergetar seperti menahan tangis.
"Hei sayang ! kamu kenapa?" melihat wajah Hani bersedih, Bilal terpaksa menepikan kenderaannya. Bilal tidak bisa pokus menyetir melihat Hani merajuk.
"Aku mau turun ! aku gak boleh ikut 'kan?" jawab Hani cetus.
Bilal menarik tubuh Hani supaya dekat kepadanya. Bilal hanya bermaksud menggoda, ternyata istrinya itu memasukkannya ke dalam hati.
"Bercanda Hani ku sayang !"ucap Bilal
Hani menatap tajam wajah Bilal. Hani tidak lupa, dulu Bilal seringkali menolak cintanya. Sekarang, apakah Bilal akan terus menolak keinginannya?.
"Setelah menikah denganmu.. apa Ustadz masih membiarkan aku kesepian?" tanya Hani tanpa melepas netranya dari wajah Bilal.
"Hei sayang ! kenapa kamu begitu sensitif?, Haniku tidak seperti ini. Hani ku gadis yang ceria" Bilal melap cairan bening yang mengalir di pipi Hani dengan jempol tangannya.
"Bawa aku kemana pun kamu pergi Ustadz Bilal. Jangan pernah meninggalkan aku sendirian. Aku sudah cukup lama menunggu Kehadiranmu di dalam hidupku!" Air mata Hani semakin deras mengalir dari sudut matanya.
"Hei !" Bilal menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Hani, lalu mengecup kening Hani lama.
"Jangan berpikir aku melupakanmu selama ini, Tidak sayang !" ucap Bilal setelah melapas ciumannya.
"Sekuat tenaga aku ingin melupakanmu Hani !. Tapi aku tidak pernah berhasil, kamu selalu terlintas di hati dan pikiranku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah dan berserah diri kepada sang Maha Cinta."
Bilal menarik Hani ke dalam pelukannya, Bilal bisa memahami Hani yang gampang tersinggung. Bilal berpikir, mungkin itu bawaan bayi mereka, sehingga membuat Hani gampang bersedih.
Hani diam di dalam pelukan Bilal. Tidak di pungkiri Hani, dia benar kesepian saat Bilal pergi bekerja, apa lagi di tinggal ke luar kota beberapa hari.
Bilal pun mengambil ponselnya dari atas dasboard mobil, kemudian mengetik sesuatu di sana dan mengirimnya kepada seseorang. Bilal harus menunda beberapa urusannya hari ini. Karna tidak mungkin membawa Hani kesana kemari. Apa lagi Hani sedang hamil muda, Bilal kawatir Hani kecapean dan berefek pada kandungannya.
Tanpa melepas pelukan sebelah tangannya, Bilal kembali melajukan kenderaanya dengan kecepatan rendah.
"Jangan menagis lagi ya!, kamu boleh ikut!" ucap Bilal mengecup kilas ujung kepala Hani.
Hani diam, namun ia mengulas senyumnya di dada Bilal. Dan Hani pun melingkarkan satu tangannya di perut Bilal.
Sampai di SMA HARAPAN, Hani dan Bilal turun dari dalam mobil. Bilal mendekati Hani, dan menaril tangan Hani berjalan ke arah ruangannya. Sekolah itu nampak sepi, karna para murid dan guru sedang melakukan proses belajar mengajar.
"Abang! kantinnya sebelah mana?, aku pengen mencari makanan" tanya Hani setelah sampai di depan ruangan Bilal.
Hani baru pertama kali masuk ke sekolah itu, dia sama sekali tidak mengetahui seluk beluknya.
"Di sebelah sana, lurus lalu belok kiri" tunjuk Bilal dengan dagunya.
"Okeh! Hani tersenyum ia pun melangkahkan kakinya ke arah yang di tunjuk Bilal.
Bukankah dia tadi sedang merajuk dan bersedih, kenapa sekarang wajahnya terlihat sumiringah?, batin Bilal.
Bilal heran dengan sifat istrinya yang berobah dalam waktu singkat itu.
Di kantin sekolah, Hani mendatangi setiap stan pejual di kantin itu. Hani mencari makanan yang kira kira dia suka.
.
.