Brother, I Love You

Brother, I Love You
143. Sirin lelah Pah !



Jam setengah sepuluh malam, Arsenio sudah sampai di rumah orang tuanya. Ia tak berani begadang pulang larut malam, karna ratu sejagat nanti yang akan menjadi lawannya. Arsenio berjalan ke arah kamarnya, dan langsung membuka pintunya. Arsenio melangkahkan kakinya ke arah ranjang, Arsenio mengerutkan keningnya melihat kening Sirin yang berkeringat.


Apa dia kepanasan ?, batin Arsenio.


Arsenio pun menyentuh kening Sirin. Ya Tuhan ! tubuhnya panas banget !, batin Arsenio lagi.


Kemudian Arsenio menyentuh leher dan tangan Sirin. Yang ternyata istrinya itu benaran demam.


"Sayang !" panggil Arsenio, membangunkan Sirin, dengan menggoyang lengannya.


Sirin langsung terbangun, dan membuka kelopak matanya. Sirin memandang Arsenio dengan tatapan teduh.


"Kamu kenapa ? kok bisa demam ?" tanya Arsenio. Langsung mengangkat tubuh Sirin, membawanya keluar kamar, setelah Arsenio membuka pintu kamarnya terlebih dahulu.


Oek ! oek ! oek !


Tiba tiba Sirin merasa pusing dan mual, dan memuntahkan isi perutnya saat berada di gendongan Sirin.


"Sayang ! kamu kenapa gak bilang kalau kamu sakit, biar aku cepat pulang tadi" tanya Arsenio, kawatir melihat wajah Sirin yang pucat.


"Mama !!! Papa !!! tolong Arsen !!!" teriak Arsen.


"Sayang ! sabar ya ! kita berobat sekarang !" tangis Arsenio. Tak sanggup melihat keadaan Sirin yang lemah.


"Ada apa Arsen ? kenapa kamu berteriak sayang !. Itu Sirinnya kenapa ?"tanya Mama bunga, baru keluar dari dalam kamar bersama Papa Arya.


"Sirin sakit Ma !, dia demam" jawab Arsenio.


"Sayang ! kok gak bilang sama Mama, kalau kamu sakit ?. Tadi mama lihat kamu baik baik saja, kenapa tiba tiba bisa deman ?" tanya Mama Bunga.


Saat makan malam tadi, Siri masih terlihat baik baik saja, dan makannya pun banyak.


Sirin tidak menjawab, ia hanya menatap Mama Bunga sendu.


"Ayo Arsen ! cepat bawa Sirin ke mobil, biar Papa mengantar kalian ke rumah sakit" ujar Papa Arya.


"Iya Pah !" Arsen pun bergegas membawa Sirin keluar rumah, di ikuti mama Bunga. Masuk ke dalam mobil milik Papa Arya.


Papa Arya pun langsung melajukan kenderaannya keluar dari pekarangan rumah mereka, melajukannya menuju rumah sakit milik Dokter Aldo.


Oek ! Oek ! Oek !


Sirin terus memuntahkan isi perutnya, karna merasakan perutnya sangat mual.


"Ya ampun sayang ! apa saja yang kamu makan seharian ini ?. Kenapa kamu bisa muntah muntah ?" tanya Mama Bunga, mengusap kepala Sirin yang berada di pangkuan Arsenio.


Sirin hanya diam, tubuhnya sangat lemah, ia tak bertenaga lagi mengeluarkan suara.


"Sayang ! kenapa kamu bisa seperti ini ?" tangis Arsenio, melap sisa muntahan Sirin dari sudut bibirnya.


"Kepalaku sakit Arsen !" ringis Sirin. Setelah muntah Sirin merasakan kepalanya berduyut deyut.


"Oek oek oek !"


"Sayang..!" lirih Arsenio, melihat Sirin terus mengeluarkan isi perutnya.


Oek oek oek !


"Ma ! Sirin kenapa Ma ?" tangis Arsenio.


"Aaryan ! lebih cepat Aaryan !" suruh Mama Bunga kepada suaminya, melihat keadaan Sirin yang semakin melemah.


"Iya sayang ! tenanglah jangan panik, kita sudah sampai" balas Papa Arya menghentikan mobilnya di depan UGD rumah sakit itu.


Gegas Arsenio membuka pintu di sampingnya, langsung turun membawa Sirin masuk berlari ke ruang UGD.


"Arsen ! Sirin kenapa ?" tanya Dokter Aldo, kebetulan mendapat jadwal piket di ruang UGD malam itu.


"Gak tau Pah, tadi saat Arsen pulang kerja, Arsen mendapatinya sudah demam Pah !" jawab Arsen, meletakkan tubuh Sirin di atas brankar." Dari tadi Sirin muntah muntah terus Pah !" jelas Arsenio lagi.


"Sirin kamu kenapa sayang ?" tanya Dokter Aldo, langsung memeriksa kondisi Sirin. Sirin hanya diam, nampak matanya merem melek, karna hampir tak mampu membuka matanya.


"Dok ! tensinya tinggi Dok !" ucap perawat yang mengecek Sirin.


"Apa yang kamu pikirkan sayang ?, kenapa kamu bisa seperti ini ?. Kamu lagi hamil, tidak bagus kalau kamu banyak pikiran" tanya Dokter Aldo. Mengusap kepala Sirin, setelah selesai memeriksa keadaannya.


Bibir Sirin bergetar, menatap wajah Papanya dengan teduh.


"Kamu kenapa sayang ?, ayo cerita sama papa. Apa yang membuatmu marah, tidak bisa menahan emosi ?" tanya Dokter Aldo. Bisa melihat kalau putrinya itu batinnya lagi tertekan.


"Kenapa Papa sama Mama harus terpisah ?" jawab Sirin menangis.


Dokter Aldo menghela napasnya, ternyata putrinya itu masih tertekan batin dengan keadaan mereka yang sekarang. Perceraiannya dan Shasa yang di penjara.


"Maafkan Papa !" ucap Dokter Aldo, dengan mata berkaca kaca.


Sirin memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing. Tekanan darahnya naik, mungkin hari ini ia terlalu banyak emosi, sehingga energinya terkuras. Kenapa ia harus berada dalam keadaan yang rumit ?. Papa dan Mamanya yang bercerai, Mamanya yang di penjara, suami dan keluarga suaminya yang tidak menyukai Ibunya, karna perbuatan Ibunya. Di tambah tantenya lagi yang selalu mengganggu ketengan rumah tangga orang tuanya.


Sirin tak sanggup menghadapinya, ia tidak bisa berbahagia bersama keluarga suaminya, di atas penderitaan ibunya yang di penjara. Dan Sirin juga tidak bisa memaksakan suami dan keluarganya untuk memaafkan Ibunya. Tapi Sirin sangat menginginkan Ibunya dan keluarga suaminya bisa baikan. Dan bisa duduk di meja makan yang sama nantinya.


"Jangan terlalu banyak pikiran Sirin !, ingat kamu sedang hamil sayang !, bisa berbahaya untuk bayimu, tenangkan pikiranmu sayang !" ucap Dokter Aldo lagi.


"Iya sayang !, pikirkan anak kita. Aku sangat menyayangi kalian. Tenangkanlah pikiranmu, setiap orang memiliki takdir masing masing"sambung Arsenio mengecup kening Sirin dari samping.


"Sayang ! jangan berkata seperti itu !, aku tak suka mendengarnya" Tangis Arsenio, melihat Sirin tak bergerak lagi.


Sudah lama Sirin memendam kegundahan hatinya, semenjak hubungan orang tuanya tak baik. Seharusnya ia tak menghamili Sirin, tak menambah beban pikiran Sirin. Membawa Sirin dalam hidup kemiskinan.


Arsenio pun memeluk erat tubuh lemah Sirin, sambil menangis terisak. Sirin hanya meminta satu kepadanya, untuk bisa memaafkan Ibunya, namun sampai saat ini Arsenio tidak bisa mengabulkannya. Sungguh sangat rumit, ia sangat mencintai Sirin, tapi ia sangat membenci Ibunya Sirin.


"Arsen ! tenanglah ! Sirin hanya tidur karna pengaruh obat yang Papa berikan" ucap Dokter Aldo.


"Arsen sangat kawatir dengan Sirin dan bayi kami Pah !" balas Arsenio.


"Tenanglah ! mereka tidak apa apa" ucap Dokter Aldo lagi.


Arsenio pun berhenti menangis, dan menghapus air matanya. Kemudian mengusap kepala Sirin, dan mengecup keningnya.


Apa mungkin karna Sirin tertekan batin, membuatnya berobah menjadi lebih bayak bicara ?. Gampang marah, sensitif dan emosi tak terkontrol. Batin Dokter Aldo, memperhatikan wajah Sirin.


"Tunggulah di luar, supaya Sirin di bersihkan, agar di pindah ke kamar rawat" suruh Dokter Aldo kepada manantunya itu.


"Iya Pah !" patuh Arsenio, setelah mengecup kening Sirin sekali lagi, baru Arsenio melangkahkan kakinya keluar dari ruang UGD itu.


Di depan ruang UGD, Papa Arya dan Mam Bunga menunggu dudul di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan Sirin Arsen ?" tanya Mama Bunga tanpa berdiri dari bangkunya.


"Sirin tensinya naik Ma !, itu yang membuat dia pusing, demam, sakit kepala dan muntah. Sekarang dia sudah ketiduran Ma !" jawab Arsenio, mendudukkan tubuhnya di samping Mama Bunga.


"Kenapa ?, apa kalian habis berantam ?" tanya Mama Bunga.


"Gak Ma !, hanya saja Sirin sering memintaku untuk menemui Ibunya. Tapi Arsen belum siap Ma !" jawab Arsen.


Mama Bunga pun menghela napasnya." Lakukanlah demi anakmu jika kamu tak bisa melakukannya untuk Sirin sayang !" ucap Mama Bunga mengusap bahu Arsenio lembut.


"Tapi Ma..


"Demi kesehatan calon anakmu sayang !" potong Mama Bunga cepat.


Arsenio terdiam dengan kepala sedikit menunduk. Sangat berat baginya untuk berdamai dengan Shasa ibu mertuanya. Tapi jika sudah dibilang demi anaknya, Arsenio menjadi dilema.


Mendengar suara brankar di dorong, Arsenio, Papa Arya dan Mama Bunga, refleks menoleh ke arah pintu ruang UGD. Mereka pun berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Sirin yang terbaring di atas brankar dorong. Dan mereka oun mengikuti para perawat yang mendorong brankar Sirin itu dari belakang.


"Kenapa Sirin bisa seperti itu ?" tanya Papa Arya kepada Dokter Aldo yang berjalan di sampingnya.


Dokter Aldo menghela napasnya sebelum berbicara." Tertekan batin dengan perceraianku dan Ibunya, di tambah hormon kehamilannya, membuatnya sensitif dan gampang emosi. Di tambah lagi karna ibunya di penjara" jawab Dokter Aldo.


"Sirin sangat dekat dengan Ibunya selama ini. Meski pun aku dan Shasa sudah lama tidak cocok, Shasa tidak pernah melibatkannya kepada anak anak. Mereka tidak pernah terpisah selama ini. Mungkin Sirin masih shok ! dengan kehilangan kasih sayang ibunya, yang biasa setiap hari ia rasakan" jelas Dokter Aldo lagi.


Papa Arya pun menghela napasnya, apakah dia akan menjabut tuntutannya, demi kebaikan Sirin yang mengandung cucunya ?. Papa Arya memang bisa memaafkan Ibunya Sirin. Tapi hukum harus tetap berjalan, untuk memberikan efek jera bagi siapa yang melanggar hukum.


"Saya tidak menyangka Shasa bisa melakukan kesalahan sebesar itu" desah Dokter Aldo." hanya karna cemburu !" ucapnya lagi.


"Jelas Shasa cemburu, kalau kamu gak bisa move on dari istriku !" cibir Papa Arya.


Dokter Aldo memutar bola matanya jengah." Nyatanya saya bisa Pak Arya yang terhormat !" balas Dokter Aldo.


Jika mantan kekasihnya bernama Bunga itu bisa move on, kanapa dia tidak ?.


Sampai di ruang perawatan Sirin, mereka pun mendudukkan tubuhnya di sofa. Di sana sudah ada Mama Bunga. Sedangkan Arsenio, ia sudah membaringkan tubuhnya di samping Sirin di atas brankar. Memeluk erat tubuh Sirin yang terlelap.


"Bagaimana hubunganmu dengan istri ABGmu itu ?" tanya Mama Bunga kepada mantan kekasihnya itu.


"Kenapa ? apa kamu cemburu ?, aku mendapatkan yang lebih cantik darimu ?" tanya balik Dokter Aldo, mencibir.


"Semoga saja kamu bisa benar benar move on, setelah mendapatkan wanita yang masih segar, renyah, guri guri hot !. Kalau tidak !, aku kawatir istrimu yang baru itu berumah menjadi siluman" cibir Mama Bunga tak berperasaan.


Dokter Aldo mendengus, kalau tidak ada si burung gagak milik mantan kekasihnya terindahnya itu, Sudah pasti Dokter Aldo, menukar kepala Mama bunga dengan kepala badak.


"Sayang ! ayo pulang !, bisa bisanya kalian menunjukkan keromantisan di depanku !" ketus Papa Arya, langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Cih ! cemburu dia" decih Dokter Aldo, melihat kecemburuan rahwana si pencuri dewi sintanya itu.


Mama Bunga pun berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah brankar. Begitu juga dengan Dokter Aldo. Ia juga harus pulang, karna istri cabe cabeannya pasti menunggunya di rumah.


"Arsen ! Mama sama Papa pulang dulu !, jaga menantu Mama baik baik" pamit Mama Bunga, mengusap kepala Sirin yang terlelap.


"Iya Ma ! Pa ! hati hati !" gumam Arsenio dengan mata terpejam, karna sudah mulai ngantuk.


"Sesekali perhatikan Sirin, jangan pula kamu ikut tertidur pulas" oceh Mama Bunga lagi.


"Iya Ma..!"


"Ya sudah ! Mama sama Papa pulang dulu" pamit mama Bunga sekali lagi. Kemudian melangkahkan kakinya keluar ruang rawat inap bersama Papa Arya.


"Arsen ! Papa pulang dulu, kalau ada apa apa, panggil Dokter atau perawat" pamit Dokter Aldo, lalu pergi.


"Iya Papa mertua !" gumam Arsenio lagi.


.


.