
Orion dan Queen masuk ke dalam ruangan Dokter kandungan, setelah nama mereka di panggil perawat yang bertugas di ruangan tersebut.
"Silahkan duduk Pak ! Bu !" ucap perawat itu ramah kepada Queen dan Orion.
"Trimakasih suster !" balas Queen dan Orion tidak kalah ramahnya. Kemudian sama sama mendudukkan tubuh mereka di kursi yang berada di depan Dokter kandungan di ruangan itu.
"Setelah seminggu aku menunggu, akhirnya kalain datang juga" ucap Dokter Ghissam, yang bertugas di ruang periksa itu.
"Apak maksudmu ?" tanya Orion, bingung.
Dokter Ghissam mencebikkan bibirnya." Aku sudah curiga pas kita lagi di pesta kemarin, bang Orion yang mual mencium aroma kuah bakso, dan tiba tiba pengen makan rujak" jelas Ghissam.
"Trus ! kenapa gak ngomong kemarin ?" tanya Orion.
"Ayo kakak ipar ! berbaring di sana, kita langsung USG aja" suruh Dokter Ghissam, menghiraukan pertanyaan Orion. Kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Mari Bu !" ucap Perawat itu kepada Queen yang nampak tubuhnya kaku. Karna jantungnya dag dig dung ser !, ini lebih menegangkan saat malam pertama, pikir Queen.
"Rileks sayang !" ucap Orion, mengusap kepala Queen dari belakang, meski ia juga merasakan hal yang sama dengan Queen, jantung mereka sama sama berdebar kencang. Untuk memastikan apa yang di katakan orang tua mereka tadi. Kalau Queen sedang hamil dan dia lah yang memgalami ngidam.
Queen menganggukkan kepalanya, mengulas sedikit senyumnya. Kemudian berdiri dari kursi yang di dudukinya, berjalan dan langsung naik ke atas brankar, , yang langsung di ikuti Orion.
Setelah Queen membaringkan tubuhnya, Perawat yang di ruangan itu pun menutup bagain bawah tubuh Queen dengan selimut, kemudian menyibak baju Queen ke atas, sampai menampakkan permukaan perut Queen yang masih rata. Setelah itu langsung mengoleskan jel ke permukaan perut bagian bawah Queen.
"Ya elah kakak ipar ! tegang banget !" ujar Dokter Ghissam tersenyum, tangannya terangkat mengusap kepala Queen, gadis yang sudah di anggapnya adik sendiri itu.
Queen tidak menjawab, ia hanya mengerucutkan bibirnya. Ia masih berpikir, kenapa ia bisa hamil ?, padahal bang Orionnya sudah pakai balon setiap mereka bercinta.
Orion yang berdiri di samping Queen, pun menyentuh tangan Queen. Orion merasa telapak tangan Queen sudah basah, berkeringat sangking tegangnya.
"Sayang !" panggil Orion tersenyum, lalu mengecup tangan Queen.Queen pun menoleh ke arah Orion.
"I love You !" ucap Orion, Queen memanyunkan bibirnya. Ia pikir, sepertinya Orion menjebaknya, dengan tidak memakai balon saat bercinta.
"Bang Orion ! kakak ipar !, perhatikan ke layar, nanti pulang dari sini, baru kalian cinta cintaan di rumah kalian. Kasihan tuh ! perawatku yang masih jomlo" suruh Doktes Ghissam. Melihat pengantin baru stok lama itu, memperlihatkan ke uwu an mereka.
"Ada kamu ! masa kamu biarkan dia jomlo !" balas Orion." iya kan sus ?" ucap Orion lagi kepada perawat yang berdiri di dekat Dokter Ghissam.
Perawat itu pun hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dia hanyalah seorang perawat, tidak mungkin anak dari pemilik rumah sakit itu naksir kepadanya.
Dokter Ghisaam pun meletakkan alat USG di permukaan perut Queen, dan mulai menggesernya. Dan Refleks Queen menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan, untuk merilekskan tubuhnya.
Setelah menggesernya ke kiri dan ke kanan lalu memutar mutarnya. Dokter Ghissam pun menghentikan gerakan tangannya. Senyumnya mengembang setelah melihat apa yang dia cari.
"Selamat bang Orion ! kakak ipar !. Tuh sudah kelihatan junior kalian" ucap Dokter Ghissam ikut senang.
Dud dug dug....!
Detang jantung Queen semakin berdebar kencang, mendengar ia akan menjadi orang tua. Meski awalnya ia belum siap, tapi ia sangat senang menerima kehadiran buah hati mereka di dalam perutnya. Tanpa Queen sadari, air matanya mengalir dari sudut matanya.
"Sayang ! aku akan menjadi Ayah !" ucap Orion, ia juga menangis terharu. Orion pun mengecup kening Queen lama." Trimakasih sayang !"ucap Orion lagi.
"Ini benaran bang Orion ? kita akan punya anak.?, Queen gak mimpi 'kan ?" ucap Queen dalam tangisnya. Tidak percaya di usianya yang masih sangat muda ia sudah di percayakan Tuhan untuk menjadi seorang ibu. Meski mereka sempat menunda, tapi Tuhan berkehendak lain dengan kebesarannya.
"Iya sayang kita akan jadi orang tua !" jawab Orion. Menghapus air mata Queen, kemudian mencium pipinya.
"Kenapa Queen masih bisa hamil ?, bukankah bang Orion selalu pakai balon ?" akhirnya Queen tidak tahan memendam rasa penasarannya, semenjak tadi dari rumah.
"Kalau makenya balon yang bocor bisalah !" Dokter Ghissam yang menjawab, kemudian ia pun tertawa terbahak bahak. Ide membocorkan balon itu adalah dari dia, sepertinya Orion melakukannya. Karna Orion tak ingin menunda punya anak.
"Maksud bang Ghissam ?" tanya Queen, bingung. Masa iya !, balonnya bisa bocor.
"Tanya aja bang Orion" jawab Dokter Ghissam, kembali duduk ke kursinya. Kemudian menulis resep vitamin untuk Queen dan Orion.
Queen yang masih terbaring di atas brankar pun, mengalihkan tatapannya ke wajah Orion, meminta jawaban.
"Mungkin balonnya ada yang bocor sayang !" jawab Orion tersenyum.
"Bang Orion gak sengaja bocorin 'kan ?" tanya Queen, memicingkan matanya.
"Nggak cintaku !" Orion semakin mengembangkan senyumnya. Gemas melihat istrinya, Orion pun menarik hidung Queen.
"Yakin ? bang Orion gak bohong ?" Queen berbicara dengan bibir mengerucut.
"Yakin cantik !..yuk ! turun, kita harus mendengarkan penjelasan Dokter Ghissam yang ganteng itu dulu" ajak Orion, senyumnya tidak luntur dari tadi, membuat wajahnya bertambah tampan di mata perawat yang ada di ruangan itu.
"Bang Orion pasti bohong ?" Queen tidak percaya. Queen yakin, bang Orionnya itu yang membicotkan balon milik burung hantunya.
Mereka kembali duduk di kursi yang mereka duduki tadi. Untuk mendengar penjelasan Dokter ahli kandungan itu.
"Nanti saat acara perpisahan sekolah gimana dong ?. Queen 'kan sudah daftar untuk tampil ngadans sama Sirin, Kania dan Diana" Tanya Queen memanyunkan bibirnya.
Pasti kecewa dong ! para fansnya, kalau miss beautiful SMA HARAPAN gak tampil.
"Kan bisa di gantikan orang lain sayang !. Masa iya kamu gak peduli dengan keselamatan anak kita ?" ucap Orion sedikit kecewa. Tapi ia harus bersabar, untuk memberinya nasehat dan pengertian. Istrinya itu masihlah ABG labil, masih perlu di didik ekstra, dan hidupnya di arahkan.
Queen semakin memanyunkan bibirnya.
"Apa kamu gak sayang sama anak kita Queen ?" tanya Orion terdengar kecewa. Queen mengalihkan pandangannya ke wajah Orion yang duduk di sampingnya. Menatap manik mata Orion yang meneduh.
Queen pun menganggukkan kepalanya, tentu ia menyayangi anak yang sudah bersemayam di rahimnya itu. Hanya saja ia tidak menyangka banyak larangan bagi ibu hamil. Terutama membatasi gerakan yang mungkin bisa membahayakan janinnya.
"Iya deh ! Queen gak ikut ngedans" ucap Queen. setelah berpikir apa yang di katakan Dokter Ghissam dan suaminya demi kebaikan buah hati mereka.
"Tapi Queen boleh nyanyi ya ?" tawarnya.
Memiliki kedua orang tua yang sama sama berjiwa seni, di dalam bermusik dan bernyanyi. Bakat itu menurun dengan sendirinya kepada Queen. Meski tak sampai menjadi artis terkenal. Queen dan the gengs, selama ini sudah sering tampil di acara acara besar di kota mereka.
Orion mengembangkan senyumnya sembari menganggukkan kepalanya. Untuk tampil menyanyi tak apalah, pikir Orion.
"Untuk bang Orion"Dokter Ghissam menjeda sebentar kalimatnya." jangan sering sering menggempur kakak ipar di kasur ataupun di kamar mandi. Dan lakukanlah dengan pelan dan hati hati" lanjutnya.
"Kaya kamu sudah berpengalaman aja !" cibir Orion.
"Teori sudah !, praktek nyusul" balas Dokter Ghissam." Apa ada keluhan kakak ipar ?, atau yang mau ditanyakan ?" tanyanya.
"Gak ada !" jawab Queen.
"Bang Orion ?"
"Obat mual ada ?" tanya Orion.
"Tidak ada, itu akan hilang dengan sendirinya. Ini aku sudah buat resep vitamin untuk bang Orion dan kakak ipar. Silahkan kalian tebus di apotek" jawab Dokter Ghissam, menyodorkan kertas resep ke hadapan Orion.
"Ayo sayang !" ajak Orion, mengambil kertas resep itu dari atas meja. Kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Trimakasih !" ucap Orion, menyalam tangan Dokter Ghissam dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Sama sama Pak Orion yang terhormat !" balas Dokter Ghissam bercanda.
"Cepatlah menikah !" ucap Orion lagi, kemudian mengedipkan sebelah matanya, dengan artian hanya mereka berdualah yang tau.
"Tunggu saja kabar baiknya !" balas Dokter Ghissam, juga mengedipkan matanya.
Membuat Queen yang berada di samping Orion mendengus. Paham dengan kedipan mata kedua laki laki dewasa itu, pasti mengode hal mesum. Queen pun melangkahkan kakinya, melongos keluar terlebih dahulu dari ruang periksa itu, setalah ia merampas kertas resep dari tangan Orion.
"Sayang !! jalannya pelan pelan aja !!" sahut Orion, melihat Queen berjalan dengan cepat. Orion menghela napasnya, baru saja di kasih tau, sepertinya istrinya itu lupa.
"Kalau begitu aku pergi dulu !" pamit Orion, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter kandungan itu. Menyusul Queen ke apotek rumah sakit.
Selesai menebus obat, mereka pun segera pulang, para keluarga mereka masih menunggi dari tadi di rumah mereka.
"Gimana hasilnya bang ?" tanya Elang yang dari tadi memunggu mereka di dalam mobil, di parkiran rumah sakit.
Orion yang sudah duduk di kursi penumpamg belakang bersama Queen, tidak lagsung menjawab. Orion menarik Queen ke dalam pelukannya, dengan wajah berbinar, menunjukkan betapa bahagianya hatinya. Dan satu tangan Orion pun mengelus perut Queen dengan lembut.
"Ya elah bang ! susah amat jawabnya, tinggal bilang iya atau tidak aja. Kok harus pake adegan mesra mesraan" cibir Elang. Karna Orion menjawab pertanyaannya dengan isarat. Elang pun melajukan kenderaannya keluar dari halaman rumah sakit itu, untuk mengantar kedua sewa batu itu ke rumahnya.
"Bang Orion ! jadi 'kan beli mobil barunya ?" tanya Queen manja.
"Jadi sayang !" jawab Orion, apa sih yang gak buat istri satu satunya itu.
"Mobilnya yang bagus ya !" ucap Queen.
"Tapi kamu gak boleh nyetir sampai melahirkan !" ujar Orion.
" Kok gitu ?" Queen memanyunkan bibirnya.
"Karna aku gak mau kamu dan bayi kita kenapa kenapa cintaku !, nanti kamu bisa kecapean kalau nyetir sendiri" jawab Orion, mengecup kilas bibir Queen.
"Iya deh !" patuh Queen.
.
.