Brother, I Love You

Brother, I Love You
170. Menggodaku



Reyhan memarkiran mobilnya di halaman rumah, membuka pintu di sampingnya dan langsung turun. Reyhan melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumah, langsung ke arah tangga. Seharian tidak melihat istrinya, Reyhan sudah kangen. Sampai di depan pintu kamarnya dan Yumna, Reyhan langsun membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Sayang !" panggail Reyhan


Yumna yang duduk di sofa langsung menoleh, dan berdiri berjalan mendekati Reyhan. Yumna pun menyalam Reyhan dan mengecup punggung tangan Reyhan dengan tersenyum.


"Meeeong ! meeeong !"


Reyhan langsung menoleh ke bawah kakinya, kelima kucing Yumna sudah berada di dekat kakinya, mendongak ke arahnya, sambil meong meong.


"Ya ampun sayang ! kucingnya kok di bawa semua ke kamar kita ?."


"Meeeong !" seru si kucing oyen.


"Tadi aku mengunjungi mereka ke belakang, saat aku akan masuk rumah, mereka minta ikut !" jawab Yumna tersenyum.


"Apa mereka sangat menyenangkan ?" tanya Reyhan. Biarlah kucing itu hidup berdampingan dengan mereka. Asalkan kucing kucing itu bisa menghibur istrinya yang kesepian.


"Kucing kucing ini selalu berhasil membuatku tersenyum dengan tingkah lucu mereka" jawab Yumna.


Reyhan langsung mengerucutkan bibirnya, dia cemburu dengan kucing kucing itu.


"Tapi kucingku yang satu ini, lebih menggemaskan, dan lebih mengasyikkan di ajak bermain."Yumna berbicara sambil meletakkan satu telapak tangannya di dada Reyhan . Kemudian mengedipkan sebelah matanya sembari melebarkan senyumnya indahnya.


"Apa istriku ini lagi menggodaku ? Hm..!." Reyhan pun tersenyum senang, kedua tangannya ia lingkarkan ke pinggang Yumna, dan merapatkan tubuh mereka. Yumna pun melingkarkan tangannya ke leher Reyhan.


"Apa suamiku yang tampan dan manis ini tergoda dengan hanya aku mengedipkan mata ?" tanya balik Yumna.


"Tentu sayang !" Reyhan mendekatkan wajahnya ke leher Yumna, lalu mengecupnya mesra.


"Uhh !" desah Yumna.


Reyhan langsung mengangkat kepalanya dari leher Yumna. Reyhan memandangi wajah Yumna yang sudah memerah. Reyhan tersenyum, melihat istrinya sangat menyukai ciumannya.


"Love You !" ucap Reyhan lembut dan pelan tanpa menyurutkan senyumnya.


"Buktikan !" balas Yumna


Reyhan langsung saja mencium bibir Yumna dalam, yang langsung di balas Yumna. Keduanya pun hanyut, dalam permainan lidah dan bibir mereka. Hingga keduanya sama sama kehabisan napas, baru mereka melepas pagutan mereka. Lalu mereka saling pandang dengan mata sama sama memancarkan sinar cinta.


Cup !


Reyhan mengecup singkat bibir Yumna, kemudian melepas tangannya dari pinggang Yumna.


"Sepertinya istriku belum mandi !" ucap Reyhan.


"Maaf ! aku terlalu asyik bermain dengan kucing kucingku, sehingga aku lupa waktu" balas Yumna.


"Gak apa apa sayang !, itu artinya sore ini kita bisa mandi bareng !" ucap Reyhan, merangkul pinggang Yumna dari belakang, menuntunnya berjalan ke arah sofa, dan mereka sama sama duduk di sana.


Yumna pun menuang air minum ke dalam gelas yang selalu ia sediakan di atas meja sofa di kamar mereka. Lalu memberikannya kepada Reyhan.


Reyhan pun menerima segelas air putih dari tangan istrinya itu." Habib ingin minum kopi, apa habib boleh minta tolong di buatkan ?" tanya Reyhan.


Yumna menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Reyhan selalu mengucapkan kata minta tolong untuk menyuruhnya. Reyhan selalu memperlakukannya dengan baik, dengan cinta dan kasih sayang.


"Tentu habib !" jawab Yumna.


"Trimakasih sayang !, hari ini aku sangat lelah, tapi setelah melihat istri Habib yang cantik ini, rasa lelah habib berangsur hilang" ucap Reyhan, melingkarkan satu tangannya ke leher belakang Yumna, menarik kepala Yumna ke bawah ketiaknya.


"Habib !!" pekik Yumna, karna Reyhan sering kali menyuruhnya mencium bau ketiaknya.


Reyhan pun tertawa cekikikan, lalu melepas kepala Yumna.


Bukh !


Yumna memukul dada bidang Reyhan dengan bibir mengerucut.


Cup !


Langsung saja Reyhan mengecup bibir Yumna yang menggemaskan kekita sendang cemberut.


"Cantik !" gombal Reyhan.


Wajah Yumna langsung berbinar, meski bibirnya masih mengerucut. Yumna pun berdiri dari tempat duduknya sambil meraih jilbab instan yang terletak di sampingnya, dan langsung memakainya.


"Habib !" Yumna pura pura kesal, Reyhan bisa melihat itu dari raut wajah Yumna yang masih berbinar.


"Cium Habib dulu !" ucap Reyhan," di sini, di sini, di sini, di sini !" Reyhan menunjuk kening kedua pipi dan bibirnya.


Dengan senang hati, Yumna langsung menciup bagian wajah Reyhan yang di tunjuk. Dan memberikan ciuman bonus tambahan di jakun Reyhan, menciumnya sampai berbekas.


"Sayang !" geram Reyhan, merasakan geli, sakit dan nikmat bersamaan.


Yumna pun berdiri dari pangkuan Reyhan dengan wajah sumiringah. Setelah mengecup singkat bibir Reyhan lagi, Yumna langsung berlari keluar dari dalam kamar, berlari menuruni anak tangga ke lantai bawah, ke arah dapur untuk membuatkan kopi untuk Reyhan.


Trimakasih ya Allah atas nikmatMu, sudah memberikanku istri soleha dan istri yang baik hati bisa menerima ke kuranganku. Dan juga istri yang tau cara menghibur suami. Batin Reyhan, penuh rasa syukur.


.


.


"Kak Yumna kenapa ?, itu lipstiknya kenapa belepotan ?" tannya Sirin. Yang lagi sibuk mengupas jeruk nipis untuk Arsenio yang lagi mengidam.


Aduh ! kok aku bisa lupa sih memeriksanya ke kaca ?. Habib sih !, batin Yumna, langsing melap sekitaran bibirnya dengan jilbabnya.


"Kak Yumna ciumankan sama bang Reyhan ?, ayo kak Yumna ngaku !" tanya Sirin lagi, tanpa melihat ke arah Yumna.


"Ya ! kira kira seperti itu !" jawab Yumna, sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia rumah tangganya lagi.


"Aku duluan !, lain kali kak Yumna hati hati !" ucap Sirin, lalu pergi membawa piring yang berisi lima buah jeruk nipis kupas dan satu sendok teh garam halus.


Yumna mengerucutkan bibirnya, kesal sendiri dengan kecerobohannya. Kemudian Yumna pun membuatkan secangkir kopi hitam untuk Reyhan, dan langsung kembali ke kamar.


Sampi di dalam kamar, Yumna sudah tidak melihat Reyhan di dalam kamar. Mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, Yumna yakin Reyhan sedang mandi.


"Katanya tadi mau mandi bareng ! dia malah mandi duluan !" sungut Yumna, meletakkan gelas kopi di tangannya di atas meja nakas.


Kemudian Yumna berjalan ke arah lemari pakaian, untuk menyiapkan pakaian untuk Reyhan dan untuknya. Setelah meletakkanya di atas sandaran sofa, Yumna melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi, menyusul Reyhan untuk mandi bersama.


Di kamar mandi mereka benar benar hanya mandi bersama. Karna Yumna tidak mau melakukan sesuatu yang aneh aneh di kamar mandi.


.


.


Malam hari Elang dan Naysila baru tiba di rumah orang tua Elang. Elang menarik tangan Naysila berjalan masuk ke dalam rumah.


"Gak apa apa !" ucap Elang, karna Naysila melangkahkan kakinya ragu ragu.


Sampai di ruang tamu, Elang menyuruh Naysila duduk. Kemudian Elang melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar orang tuanya. Elang mengetok pintunya sambil memanggil Mama dan Papanya.


"Ma ! Pa !" sahut Elang


"Masuk !" sahut Mama Bunga dari dalam.


Elang pun memutar knop pintu di depannya dan mendorong daun pintu itu sampai terbuka, dan langsung melangkah masuk.


"Ma ! Pa ! aku membawa Naysila ke sini !" ucap Elang. Melangkahkan kakinya ke arah box bayi baby Sabina kecil, mengambilnya dari dalam.


"Iya sayang ! sebentar lagi Mama sama Papa keluar. Sana ! bawa dia istrirahat ke kamarmu !" suruh Mama Bunga tersenyum.


"Iya Ma !, kalau begitu, Elang pergi dulu Ma ! Pa !" balas Elang, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar orang tuanya dengan membawa Sabina kecil di dekapannya.


"Sini sayang !" Papa Arya menarik tangan Bunga yang berdiri tak jauh darinya supaya duduk di pangkuannya.


"Apa ?" tanya Mama Bunga dengan wajah berbinar.


"Lihat ini !" ucap Papa Arya, menunjukkan potongan vidio di laptopnya.


Mama bunga langsung mengalihkan tatapannya ke arah laptop yang terletak di atas meja sofa.


"Ternyata Paman Ali belum meninggal !" ucap Papa Arya.


.


.