
Darren berjalan lunglai masuk ke halaman rumah, wajahnya nampak lesu tak bersemangat. Ia sudah lelah mencari dan berpikir, dimana sang pujaan hati di sembunyikan Papanya.
"Darren ! kamu kenapa ? sakit ?" tanya Yumna, yang sedang menggendong salah satu kucing kesayangannya.
"Sakit hati !" sungut Darren
"Sakit hati kenapa ?" tanya Yumna, mengerutkan keningnya.
"Pinjam kucingnya Kak !" Darren mengambil kucing hitam gemuk dari gendongan Yumna.
"Darren minta satu kucing kak Yumna boleh ?" tanya Darren, sambil tangannya mengelus ngelus kucing manja itu.
"Apa yang membuat hatimu gundah adikku sayang ?, cerita sama Kakak !" tanya balik Yumna.
"Apa gak apa apa kita berdua duaan Kak Yumna ?. Darren ini laki laki yang sudah balik loh !" tanya Darren.
"Ya udah ! kita duduk di halaman rumah aja. Biar ada security yang mengawasi kita dari jauh. Jadi kita tidak berdua duaan, karna ada yang melihatnya" jawab Yumna, melangkahkan kakinya keluar rumah, yang langsung di ikuti Darren.
"Mama kak Sirin dan kak Nay kemana ?, gak kelihatan ?" tanya Darren, karna keadaan rumah mereka sunyi, hanya ada Yumna dan pembantu.
"Mama sama Sirin ke rumah Om Dokter Aldo !, kalau Nay dia seperti biasa mengurung diri di kamarnya" jawab Yumna menghela napasnya.
Yumna dan Darren pun mendudukkan tubuh mereka di bangku panjang yang berada di halaman rumah, dengan jarak kira kira sepuluh jengkal.
"Mama sama Sirin ngapain ke rumah Om Aldo?" tanya Darren lagi
"Membahas acara resepsi pernikahan Sirin dan Arsen !" jawab Yumna lagi.
Darren mengangguk anggukkan kepalanya.
"Apa kak Yumna pernah jatuh cinta sebelum menikah dengan bang Reyhan ?" tanya Darren tanpa melihat ke arah kakak iparnya itu.
"Pernah !" jawab Yumna tersenyum.
"Dengan siapa ?"
"Dengan seorang laki laki yang tidak sengaja bertabrakan dengan kakak" jawab Yumna.
"Trus ?" Darren mengarahkan pandangannya sekilas ke arah Yumna, kemudian kembali lagi ke arah kucing yang berada di pangkuannya.
"Kenapa ? apa kamu memikirkan wanita kekasih hatimu itu. Apa wanita itu sangat cantik ?" cerca Yumna.
"Bahkan hampir setiap malam aku gak bisa tidur memikirkannya !" jawab Darren dengan bibir mengerucut.
"Selain cantik, wanita itu sangat tangguh menurut Darren" ucap Darren lagi membayangkan sosok wanita terhebatnya itu." Dia hanyalah wanita biasa, wanita yang sangat sederhana. Dia seorang janda beranak satu. Tubuhnya sangat kurus, kulitnya coklat karna sering terpapar sinar matahari. Dia seorang wanita penjual es lilin di depan sekolahnya Bilal"cerita Darren dengan mata berkaca kaca. Kawatir dan rindu dengan kekasih hatinya itu, yang endah dimana keberadaannya.
"Satu termos es lilin penuh, harganya cuma lima puluh ribu kak Yumna, itu jika laku semua, wanita beranak satu itu hanya mendapat uang lima puluh ribu. Itu sudah termasuk modal es lilin itu. Kak Yumna bisa bayangkan ! betapa sulitnya kehidupan wanita itu dan anaknya!." Darren menjeda kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi." Saat musim hujan, es lilinnya sering tidak laku, sama sekali tidak ada yang membelinya. Wanita itu dan anaknya sering terkena hujan sampai basah kuyup, karna payung yang mereka gunakan sangat kecil" Darren menjeda ceritanya lagi, menghapus air matanya yang sempat mengalir.
"Hati ini rasanya sakit kak Yumna, perih melihat penderitaan wanita itu. Rasanya aku ingin memeluknya setiap melihatnya menggigil kedinginan, ingin memberinya kehangatan. Ingin membawanya, memberikan apa yang ia butuhkan. Ingin melindunginya dan menghibur hatinya. Aku bisa melihat, wanita itu sangat kesepian dan menderita. Tapi malah Papa menyembunyikannya."
Yumna menghela napasnya, lalu tersenyum," Tenanglah ! kamu mengenal Papa, dia hanya memindahkan wanita itu dari kota ini supaya kamu bisa pokus belajar. Yakinlah ! Papa tidak akan membiarkan wanita yang di cintai anaknya menderita. Papa pasti memberikan kehidupan yang layak untuk wanita itu" ucap Yumna.
"Dan apa kamu yakin ? yang kamu rasakan itu adalah rasa cinta. Bisa saja kamu hanya kasihan melihatnya, atau kagum dengan wanita itu" tanya Yumna.
"Aku sangat yakin kalau aku mencintai wanita itu Kak Yumna !" jawab Darren.
"Kenapa kamu begitu yakin ?, usiamu masih sangat kecil untuk menghadapi masalah cinta. Dan rasa cinta di hati manusia bisa hilang timbul loh !."
"Maksud kak Yumna hilang timbul gimana ?" bingung Darren.
"Rasa cinta bisa timbul karna mendapatkan perlakuan baik dari lawan jenisnya, atau karna kelebihan yang di milikinya. Rasa cinta bisa hilang, karna mendapatkan kekecewaan dari orang tersebut, atau karna kekurangan dan prilaku buruknya. Contoh ! seperti Om Dokter Aldo dan mantan istrinya. Dan Mama, Papa dan Om Dokter." jawab Yumna.
Darren pun terdiam.
"Jangan memikirkan cinta dan wanita di usiamu yang sekarang. pokuslah dengan pendidikanmu !. Jika wanita itu memang sudah di takdirkan menjadi jodohmu !, Tuhan memiliki beribu cara untuk mempertemukanmu dengan wanita itu" nasehat Yumna.
"Ingat ! jika kamu terlalu memikirkan wanita itu, itu bisa jadi loh ! menjadi zina hati atau pikiran. Karna kamu terus memikirkan wanita yang bukan hakmu. Lambat laun syetan akan menggodamu, untuk menjadikan wanita itu menjadi objek imajinasimu, menghayal ke hal berbau mesum. Hati hati adikku sayang, tidak selalu berzina itu harus bersentuhan fisik !" lanjut Yumna lagi.
Lagi, Darren terdiam memikirkan apa yang di katakan kakak iparnya itu.
"Lalu saat jatuh cinta dengan laki laki yang bertabrakan dengan kak Yumna, apa yang kak Yumna lakukan ?. Apa kak Yumna tidak memikirkan laki laki itu ?" tanya Darren mengerutkan keningnya.
Yumna mengulas senyumnya," Tentu memikirkannya !, tapi tidak berlebihan. Setiap Kakak mengingatnya, Kakak selalu beristigfar, dan meminta kepada Tuhan petunjuk untuk jalan kebenaran. Apakah rasa cinta itu RhidoNYA atau godaan syetan. Dan Kakak juga meminta kepada Allah, untuk memberikan laki laki itu untukku, di saat kakak menyadari kalau kakak benar benar mencintai Laki laki itu" jawab Yumna.
"Allah kabulkan ?" tanya Darren lagi.
Yumna menganggukkan kepalanya sembari semakin melebarkan senyumnya." Abangmu Reyhanlah laki laki itu !" jawab Yumna.
"Setelah berbulan bulan setelah pertemuan tak di sengaja itu. Kami di pertemukan lewat perjodohan" tambah Yumna.
"Apa itu artinya aku harus pasrah kak Yumna ?" desah Darren.
"Pasrah dalam doa !" jawab Yumna." Pasrahkan semua kepada Allah, karna dia tau apa yang terbaik untuk hambanya. Jodoh dan maut adalah ketentuannya."
Darren menghela napasnya, merasa apa yang di katakan kakak iparnya itu bertentangan dengan hatinya. Darren ingin wanita itu, ingin bisa melihat wajahnya setiap hari, sungguh, Darren jatuh cinta setengah waras kepada wanita itu. Bayang bayang wanita itu sudah menguasai lubuk terdalam hatinya dan juga pikirannya. Kemana ia harus mencari wanita yang menguasai waktu siang dan malamnya itu. Bahkan nama dan photonya pun ia tak punya untuk menanyakan itu kepada orang lain. Sang Papa sungguh keterlaluan menyiksa batin anaknya sendiri.
"Ya udah ! kakak ke dalam dulu, nanti jangan lupa kembalikan si manis ke dalam kandang" pamit Yumna berdiri dari tempat duduknya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Manis ! kamu tidur ? keterlaluan kamu ! tidur di atas penderitaanku !" sungut Darren, kepada kucing hitam yang tertidur di atas pangkuannya.
Darren menghela napasnya lalu memejamkan, matanya menengadahkan wajahnya ke arah langit. Darren bingung kepada siapa dia harus meminta tolong mencari wanita pemilik hatinya itu.
'Semaki lama rasa rindu itu semakin menggunung di dalam hati ini. Meski perasaan ini tak wajar menurut orang, tapi aku yakin, kalau perasaan ini adalah sebenarnya cinta. Aku mencintai wanita itu demi Tuhan pencipata alam semesta beserta isinya'.
'Tuhan ! aku mohon jaga wanita itu untukku dimana pun dia berada. Dan juga jaga aku dan hati ini untuk wanita dan putrinya itu, sehingga aku pantas untuk menghalalkannya, untuk menyempurnakan Agamuku.'
'Lindungi dia dan putrinya, hilangkanlah penderitaannya, mudahkan segala urusannya ya Tuhan !.'Batin Darren
.
.
Suara decapan terus bersahut sahutan di kamar lantai bawah rumah itu. Semenjak Diana hamil, Dokter Aldo sangat jarang mendapatkan jatah ranjangnya, karna tubuh Diana yang lemah, Dokter Aldo tak tega jika harus sering sering mengajaknya berolah raga. Hari ini mumpung lagi cuti, Dokter Aldo ingin menikmati yang manis manis dengan istri kecilnya itu.
"By !" ringis Diana manja, saat Dokter Aldo menyentuh nya.
"Apa cinta ? kamu menyukainya ?" tanya Dokter Aldo tersenyum. Diana menganggukkan kepalanya sudah tak bisa berkata kata lagi sangking nikmatnya.
"Nimatilah ! Hubbymu ini akan memuaskanmu !" ucap Dokter Aldo, terus memberikan cintanya yang dahsyat kepada Diana, sehingga membuat Diana berteriak teriak dan menggeliat tak karuan di atas kasur.
Buar buar buar !!!
"Jeyeng !!! ngapain di dalam ?"
Kegiatan memadu kasih itu pun langsung berhenti. Dokter Aldo langsung menutup tubuh Diana dengan selimut.
"Jeyeng !!! cepat keluar !!!"
Buar buar buar !!!
"Sudah tua ! masih saja gak punya sopan santun !" geram Dokter Aldo, memakai kembali pakaiannya, dan memakaikan pakaian Diana.
"Mantan By itu !" sungut Diana
Hampir saja tadi mau meledak, gak jadi, membuat sakit kepala Diana.
"Anaknya juga mantanmu sayang !" balas Dokter Aldo.
"Mantanku itu waras By !, gak kaya mantan By, ada eror erornya !" ucap Diana, turun dari atas tempat tidur merapikan penampilannya.
"Beruntung aku mendapat istri sepertimu sayang !" balas Dokter Aldo.
Diana mengerucutkan bibirnya," beruntunglah !, Diana yang rugi, dapat kakek kakek !" ucap Diana tanpa berperasaan.
"Kakek kakeknya tampan dan gagah begini !" Dokter Aldo memuji dirinya sendiri.
"Dan juga Hot !" tambah Diana tersenyum.
Cup !
Dokter Aldo mengecup bibir Diana," nanti malam kita lanjut sayang !" ucapnya, menarik Diana ke arah pintu.
"Jeyeng !!!"
Tak !!!
"Aw !" keluh Mama Bunga, karna mendapat sentilan dari Dokter Aldo yang baru membuka pintu.
"Mana si burung gagakmu ?, tumben berani kamu memanggil jeyeng ?. Mau manas manasi istriku ?" tanya Dokter Aldo, melingkarkan satu tangannya ke pinggang belakang Diana, dan menuntunnya berjalan ke arah sofa ruang keluarga.
Malah Mama Bunga mengendus enduskan hidungnya ke tubuh Dokter Aldo dan Diana.
"Hayo ! ngaku kalian ?, kalian baru siap ngapain ?, kalian berdua bau amis" tanya Mama Bunga menelisik pasangan suami istri itu.
Dokter Aldo memutar bola matanya malas, sepertinya mantan terindahnya itu lupa meminum obatnya sebelum datang ke rumahnya, membuat sarafnya ada yang geser.
"Wah ! lihat itu Al !, besar dia !! huahahahaha.....!!! gantung ya ?" tawa Mama Bunga, melihat milik Dokter Aldo di balik celana agak menonjol.
"Begini nih ! kalau di lepas tanpa pawangnya !, berobah jadi topeng m*ny*t !" ujar Dokter Aldo mendudukkan tubuhnya di sofa, kemudian menarik Diana untuk duduk di sampingnya.
"Enak aja bilangin aku topeng m*ny*t ! Gak sadar situ !, mirip ker* ! wajahnya di penuhi bulu bulu !" cibir Mama Bunga. Mumpung gak ada my darling, bisa bebas bercanda dengan mantan. Urusan Diana nanti cemburu, biar itu menjadi urusan si mantan.
"Buah ! gak tau dia ?, kalau bulu bulu ini membuat cewek klepek klepek jika di cium !" bangga Dokter Aldo, mengusap bulu bulu wajahnya.
"Cih ! apa gak lihat hasilnya, bagaimana istriku klepek klepek tanpa bulu di wajah !. Sampai menghasilkan delapan bukti." Tiba tiba Papa Arya nongol membanggakan dirinya begitu gagahnya di atas kasur.
"Bilang aja situ doyan niduri wanita bunting !" cibir Dokter Aldo.
"Cih !, kaya kamu gak aja !"balas Papa Arya.
Papa Arya pun memeluk Mama Bunga yang berdiri dari belakang, mengecup pipinya di depan Dokter Aldo dan Diana.
"Putri kita mana sayang ?" tanya Papa Arya setelah melepas kecupannya. Kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa kosong.
"Lagi tidur di kamar Sirin !" jawab Mama Bunga, mendudukkan tubuhnya di samping Papa Arya. Papa Arya mengangguk kepalanya.
Ehem !
Dokter Aldo berdehem, kemudian berbicara." Ghissam juga mau menikah katanya !" ucap Dokter Aldo.
Mama Bunga dan Papa Arya sama sama mengalihkan pandangan mereka ke arah Dokter Aldo dan Diana.
"Dengan siapa ?" tanya Mama Bunga.
"Suster Elisa !" jawab Dokter Aldo.
"Bagaimana dengan Kania ?" tanya Mama Bunga.
Dokter Aldo menghela napasnya," Bagaimana lagi, mungkin mereka tidak jodoh !" jawabnya.
.
.